Suasana cukup menegangkan pagi ini, Anitta bahkan tidak sanggup untuk sekedar menganggkat kepalanya. Sepertinya dia sedang mengutuk dirinya sendiri.
Tanpa suara, Anitta bangkit dari kursi lalu berjalan menuju kamarnya.
"Paman, sepertinya dia sedang menunggumu," ucapku dengan kekehan kecil. Kulihat Anitta melambatkan jalannya, lalu menghentak kaki dan berjalan dengan langkah lebar.
Kita lihat. Apa Anitta akan bertahan lama tinggal disini?
Laki-laki berkulit hitam dengan bekas luka diwajahnya itu, hanya menggeleng-geleng kepala sambil tersenyum tipis kearahku. Mungkin aku terlihat konyol didepannya.
"Aku sudah selesai, ayo Mas jalan," aku menepuk pundak Mas Daniel.
Mas Daniel nampak melamun dan salah tingkah, dengan cepat tangannya meraih tisu lalu mengelap sudut bibirnya.
"Mas antar ya?" Tawarnya sambil bangkit dari kursi.
Aku menatapnya sekilas, lalu menyungging senyum. "Mas ga kesiangan?" Balasku.
"Enggak kok," jawabnya sambil menggandeng lenganku.
"Oke.." ucapku sambil meraih tas, lalu mengedipkan sebelah mata kearah Paman.
Sepanjang perjalanan, tangan Mas Daniel terkadang menggenggam tanganku. Wajahnya dipenuhi binar kebahagiaan. Apa kau sebahagia itu berada di sampingku?
Aku bahkan tidak mengenali suamiku sendiri, dia seperti punya dua kepribadian ganda. Masih jelas dimataku Mas Daniel menatap Anitta dengan pandangan khawatir. Namun saat berdua denganku dia bisa melupakan itu semua. Apa saat berdua dengan Anitta, dia tak mengingatku, atau mungkin tak mengenaliku.
Ahh.. banyak sekali pertanyaan menjejal difikiranku. Yang aku sendiri sudah tau jawabannya. Menyakitkan!
"Nanti Mas jemput ya," ucapnya saat tiba didepan dealerku.
"Oke.." sahutku dengan senyum tipis.
"Fi.." ucap Mas Daniel saat aku hendak turun dari mobil.
"Ya," aku menoleh kearahnya.
"Kamu, cantik sekali."
Aku tersenyum miring menanggapinya lalu keluar dari mobil.
Mas Daniel menurunkan setengah kaca mobil, lalu melambaikan tangan kearahku. Setelahnya mobil melaju perlahan, dan menjauh dari pandangan.
Menghempaskan b****g dikursi kerja, aku memijat pelipis yang terasa pusing. Akhir-akhir ini aku memang kurang tidur, lebih tepatnya bahkan tidak bisa memejamkan mata, karna banyak fikiran yang terlalu rumit.
Tring.. gawaiku menyala, satu pesan masuk diterima.
{Pagi Nyonya Fiona, belum ada tanda-tanda uang receh masuk dalam rekening sih} Sandra.
Cih.. dasar ular, mata duitan. Awas aja kalo sampai gagal. Dengan cepat tanganku, mengirim uang dalam bentuk M-bangkin.
{Satu bulan semua harus udah beres!} balasku, sambil menunjukan bukti transfer.
{Siap.. sekarang juga aku beraksi} balasnya cepat.
Hm.. bayangan kepedihan menari-nari diotakku. Tak sabar rasanya.
Pukul 18:30 Mas Daniel sudah tiba dikantorku. Dua kali mengetuk pintu, lalu kepalanya menyembul dibalik pintu. Tangannya terlihat membawa sesuatu.
"Sayang.." sapanya riang.
"Ya," jawabku singkat lalu kembali fokus dengan buku dan deretan angka.
"Makan dulu yuk.. aku bawa pitza nih," ucapnya sambil menunjukan bingkisan.
Aku menghela nafas, lalu tersenyum kearahnya.
Dia sibuk membuka kardus makanan, lalu menaruh dua botol minuman dingin diatas meja.
"Hm.. wanginya bikin laperkan?" Tanyanya sambil mengambil satu potong pitza, lalu menyodorkannya kemulutku.
"Gimana? Enak?"
Aku mengangguk dengan mulut penuh makanan. Mas Daniel nampak tersenyum puas lalu menggigit pitza bekas gigitanku.
"Gimana kafe dan resto. Aman?" Tanyaku sambil membuka tutup botol.
"Ya, aman." Sahutnya sambil mengunyah.
"Syukurlah," balasku.
"Kamu masih banyak kerjaan?"
"Enggak sih, bentar lagi beres."
"Habis makan, langsung pulang yuk," ajaknya.
"Oke," jawabku sambil meneguk minum.
***
Memasuki rumah dalam keadaan sepi, Bik Inah pasti sudah pulang kerumahnya. Aku berjalan sambil melirik kamar Bik Inah yang ditempati Anitta, kulihat lampu kamarnya masih menyala.
Kamar Bik Inah bisa dibilang cukup nyaman, terdapat springbad no 2, TV 32inci dan kamar mandi didalamnya. Kalau Bik Inah tidak pulang kerumah pun, kurasa mereka bisa berbagi ranjang tidur berdua.
"Say.. mau minuman hangat?" Tawar Mas Daniel.
"Ya.. boleh, teh hijau ya."
"Oke," Mas Daniel langsung menuju dapur, mencari gelas dan membuka laci tempat menaruh bahan makanan. Aku kembali melanjutkan langkah menaiki tangga.
Badan terasa lengket dan kaku, aku langsung menuju toilet guna menyegarkan badan dan membersihkan diri.
Selesai mandi, kulihat Mas Daniel sedang duduk ditepi ranjang dan memainkan gawainya.
"Duh.. wangi banget istriku," ucapnya sambil berjalan mendekatiku.
Tangannya mencoba merengkuh tubuhku, namun dengan gesit aku langsung menghindar.
"Kamu bau, mandi dulu," ucapku sambil menutup hidung.
Mas Daniel tertawa gemas, lalu menjawil hidungku.
"Tunggu sebentar," ucapnya sambil mencium pundak polosku lalu memasuki toilet.
Aku melanjutkan activitas memakai baju tidur, lalu berjalan mendekati minumanku diatas nakas. Menyesapnya perlahan, rasa pahit dan getir langsung mengecap lidahku.
Drett.. gawai Mas Daniel bergetar diatas bantal. Sesaat mataku melirik bilik toilet, lalu meraih gawai Mas Daniel.
Satu pesan baru, dari Itta.
{Kembalilah seperti kemarin, ranjang ini sepi tanpamu,}
Emot menangis berjejeran diakhir kalimat.
Ah.. bodohnya aku, pesan receh seperti ini mampu membuat d**a menjadi sesak.
Kau ingin kembali bermain bersamaku, apa tidak cukup, tongkat baseball melayang diwajah tampanmu?
Krek.. aku menoleh kesumber suara, pintu toilet hampir terbuka, dengan gerakan cepat aku langsung menghapus pesan tadi dan menaruh kembali diatas bantal.
Tanganku meraih minumankan, pura-pura meminumnya.
Aroma sabun menusuk hidung saat Mas Daniel berjalan kearahku. Tubuhnya hanya berbalut handuk dari pusar kebawah, memamerkan roti sobeknya dihadapanku.
Hm.. miris sekali, roti sobek itu pasti sering dicicipi Anitta.
"Lelah?" Tanya Mas Daniel sambil menaruh bokongnya disampingku. Tangannya mulai memijit pundakku.
"Lumayan," sahutku sedikit grogi.
"Aku mencintaimu," bisiknya sambil menaruh dagu dipundakku. Hembusan nafasnya terasa hangat menembus telinga.
Tangannya mulai menyelisip memeluk tubuhku, bibirnya mulai nakal meniupi tengkuk dan daun telingaku.
Mataku terpejam, detak jantung berdetak semakin kencang. Bisaku rasakan badanku membeku ditempat.
***ofd
Dasar Buaya kamu, Mas Daniel.
Jangan lupa tinggalkan komen dan lopenya yak