Rintik hujan mulai membasahi bumi, angin bertiup kencang melewati jendela yang sedikit terbuka. Aroma syahdu sangat kental mengiringi malam ini. Mas Daniel mulai mencumbui tengkuk leherku. Bisa kurasakan hasratnya kian menggelora, deru nafas mulai menggebu, kini wajahnya berada tepat didepanku. Membuka mata, kulihat wajahnya mendekati bibirku dengan mata yang terpejam. Hati menerima segala perlakuan manisnya malam ini, namun logika memaki keras sudut hatiku. Aku menghindar saat bibir ini hampir tersentuh olehnya. Mas Daniel menatapku syahdu, kedua tangannya membingkai wajahku. Kembali menutup mata, mencoba menciumku kembali. Aku menahan gerakannya, hingga dia tersadar lalu membuka mata. "Maaf.. aku ga bisa," ucapku lirih dengan hati yang tergores perih. Mas Daniel menghela nafas, lalu

