bagian 68 - Perasaan Ayah.

1931 Kata

"Bawa masuk saja Fiona kedalam kamar, Yas." suara barinton milik Ayah terdengar ditelinga. Memaksa aku menghentikan, sengatan tanganku. Mas Yasir meringis, saat aku melepaskan tangan. Lalu mengusap- ngusap pipinya yang terlihat memerah sebab ulahku. "Ish ... sakit tahu," rengeknya dengan bibir yang mencucut, sangat menggemaskan. "Biarin! Wee ..." ucapku sambil menjulurkan lidah. Mas Yasir, menyipitkan mata menatapku tajam. "Jahat kamu, awas aja!" ancamnya. Tak kuhiraukan ucapannya, tanganku meraih sendok, menyendok nasi goreng lalu memasukkannya kedalam mulut. "Maklum pengantin baru ..." goda Ayah, sambil melirik Bik Inah. Bik Inah hanya terkekeh melihat expresi Ayah, yang menurutku menyebalkan itu. "Sarapan, Tuan?" tanya Bik Inah sopan. "Iya ... mau nasi goreng juga, seperti Fio."

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN