Happy Reading ^_^
***
"Fine! Keenan Hadiwijaya, ayo kita bercerai."
Alia mungkin terlihat tegar berkat jawaban lantangnya saat dia menyetujui permintaan cerai Keenan. Tapi bukan berarti dia sudah mati rasa. Tentu saja tidak. Semenit setelah kepergian Keenan, Alia menangis meraung-raung. Dia memaki Keenan dan perempuan yang bernama lengkap Alena Aditya tersebut.
Marah, benci, kecewa--semuanya membaur jadi satu. Tapi yang bisa dia lakukan hanya menangis seorang diri di apartemennya yang masih berantakan. Alia berusaha tegar, tapi ternyata dia tidak mampu. Air matanya selalu luruh tiap kali terkenang Keenan dan keputusan cerainya yang tak terduga.
Hingga keesokan harinya pun Alia masih seperti mengawang. Dia masih tidak percaya kalau Keenan melontarkan ajakan bercerai semudah itu. Tapi realita memang kejam. Nyatanya, empat tahun kebersamaan mereka akan berakhir karena hadirnya orang ketiga. Alia berusaha menerimanya meski dengan air mata yang sesekali masih keluar kala teringat sebab-akibat ini.
Barulah di hari ketiga Alia mampu merelakannya. Dikatakan ikhlas tentu saja belum, tapi Alia sudah mulai mencoba untuk menerima keadaan ini. Dia mulai berhenti berharap kalau Keenan akan muncul dan menarik kembali perkataannya. Dia sudah lelah menjadi orang paling bodoh karena terus membesarkan ekspektasinya. Keenan tidak akan berubah--itulah faktanya. Dan karena akan diceraikan, maka Alia tidak boleh berpangku tangan. Dia mulai mencari seorang pengacara untuk memastikan dirinya mendapatkan apa yang menjadi haknya.
Seperti biasa, di hadapan orang lain Alia selalu berusaha tampil sebaik mungkin. Meski duduk perkara seorang perempuan yang mendatangi kantor pengacara pun sudah jelas, yaitu dia membutuhkan bantuan hukum untuk mengatasi kesulitannya yang sudah tidak mungkin diselesaikan oleh dirinya sendiri.
"Alia Agni Sasmita."
"Bagastya Adisepta."
Alia menjabat tangan Bagastya -atau yang kerap disapa Bagas- tersebut dengan tegas. Keduanya berpandangan sekilas sambil mengangguk. Kemudian Alia dipersilakan duduk oleh Bagas di kursi yang ada di depannya. Keduanya duduk berhadapan dengan meja yang memisahkan.
"Saya mau meminta bantuan Pak Bagastya untuk mengurus masalah perceraian saya dalam waktu dekat."
"Panggil saya Bagas," Bagastya mengoreksi. Senyum sopan dan penuh kredibilitas membingkai wajahnya.
"Karena Ibu Alia sudah memilih saya, maka saya akan berusaha untuk mewujudkan ekspektasi Ibu dalam kasus perceraian ini."
"...."
"Tapi sebelum itu, saya minta bantuannya agar Ibu Alia bisa menceritakan duduk perkara yang membuat Ibu dan suami mantap untuk bercerai."
"Suami saya berselingkuh. Kini selingkuhannya sedang hamil dan dia memilih untuk menceraikan saya daripada berpisah dari perempuan." Alia menelan ludahnya. "Saya tahu dia mungkin merasa harus bertanggung jawab atas bayi itu, tapi menceraikan saya adalah hal yang nggak bisa saya terima."
"Jadi ibu hanya sekedar ingin bercerai atau menuntut pria itu dengan pasal perzinahan?"
"Saya bisa menuntut suami saya?"
Bagas mengangguk. "Bukan cuma suami Ibu, tapi selingkuhannya juga."
"Hukumannya apa?"
"Kurungan penjara selama beberapa bulan dan denda dalam kisaran jutaan. Semua itu tergantung kuatnya bukti serta keputusan hakim nantinya."
"Kalo gitu, apa saya bisa menuntut selingkuhan suami saya saja?" tanya Alia dengan sorot menggebu-gebu. Tampak jelas sekali kalau Alia begitu membenci perempuan itu. Bagaimana tidak, kehadirannya yang membuat Alia tergantikan dan berakhir mengenaskan seperti ini.
"Dari pertanyaan spontan ini saya bisa merasakan kalau sepertinya Ibu Alia masih cinta dengan suami. Iya atau iya?"
Bagas sedikit menggoda kliennya. Tidak ada jawaban tidak. Semuanya tampak jelas di mata perempuan yang ada di depannya karena lebih ingin menuntut selingkuhan suaminya daripada sang suami sendiri.
"S-Saya cuma pengen memberi perempuan itu pelajaran lebih."
Alia tergagap. Sungguh memalukan karena ternyata hatinya memang masih tertaut pada Keenan. Memang tak bisa dipungkiri kalau Alia masih mencintai Keenan. Bahkan kalau seandainya Keenan menjelaskan duduk perkara dengan penuh penyesalan dan memintanya kembali dengan tulus, Alia pun bersedia kembali pada pria itu. Inilah ekspektasinya kemarin saat Alia memutuskan pergi ke apartemennya dan Keenan akan menyusulnya. Tapi siapa sangka semuanya tidak seperti yang dibayangkannya.
"Saya memahami maksud ibu, tapi sayangnya tuntutan semacam ini nggak bisa hanya untuk salah satu pihak. Keduanya harus dituntut bersamaan."
Sanggupkah dia menuntut Keenan? batin Alia meragu. Karena, jujur, Alia masih membuka kesempatan selebar-lebarnya kalau Keenan mau kembali padanya dan berjanji tidak akan mengulanginya. Terdengar bodoh, tapi empat tahun bukan waktu yang singkat untuk menghapus Keenan. Tapi karena Keenan tidak ada itikad baik untuk melakukan hal ini, maka Alia hanya bisa menyetujui perceraian tersebut demi melindungi harga dirinya. Ya, ini bukan tentang cinta lagi, tapi tentang harga diri saja.
"Jadi dalam kasus ini ada tiga hal yang akan saya perjuangkan, yaitu kasus perceraian itu sendiri, harta gono-gini, dan tuntutan hukum pada pihak lawan atas perselingkuhannya. Apa ada lagi yang mau Ibu Alia perjuangkan?"
"Saya cuma pengen bercerai. Saya nggak butuh harta gono-gini atau semacamnya. Saya masih bisa bertahan itu dengan atau tanpa harta itu." jawab Alia dengan nada sedikit sensi. Keluarganya tidaklah kekurangan uang. Jadi janda atau tidak, itu tidak akan mempengaruhi kehidupan Alia sedikit pun.
"Katakanlah memang begitu, tapi harta gono-gini adalah harta bersama selama pernikahan itu berlangsung. Itu adalah hak Ibu, bukan semacam donasi dari suami ibu yang didasarkan pada rasa kasihan. Jadi Ibu Alia nggak perlu merasa tersinggung."
"...."
"Atau apa Ibu rela harta tersebut digunakan sepenuhnya untuk kehidupan suami Ibu dan selingkuhannya?"
Tidak ada jawaban, tapi Bagas tahu kalau kliennya tersebut memendam amarah karena pikirannya dibuka untuk melihat dari sudut pandang lain.
"Lakukan yang terbaik aja. Selama saya bercerai, berapa pun harta gono-gini yang saya dapat akan saya terima. Soalnya ini bukan tentang uang."
"Lalu untuk yang tuntutan ke suami Ibu dan selingkuhannya bagaimana? Kalau memang mau dilanjutkan, kayaknya mulai sekarang Ibu harus mengamankan segala bukti yang membongkar perselingkuhan itu. Foto, video, chat, atau apa pun bisa digunakan selama mengarah ke suami Ibu dan selingkuhannya."
"Untuk tuntutan..."
Alia menjeda dengan keraguan yang tampak jelas di matanya. Ini adalah kesempatan untuk memberi mereka pelajaran, tapi kenapa Alia ragu? Cintanya sudah terkikis, jadi seharusnya tidak akan sebesar sebelumnya. Tapi kenapa dia masih meragu seperti sekarang?
"Masalah tuntutan ke suami saya dan selingkuhannya nanti kita bicarakan lagi. Sekarang cukup dengan perceraian itu sendiri dan harta gono-gini yang bisa didapat saja."
Bagas mengangguk.
***
Kembali ke apartemen berarti mengembalikan Alia ke mode patah hatinya. Langkahnya lunglai. Semangatnya tak menggebu-gebu seperti saat bertemu sang pengacara. Dan inilah kondisi asli seorang Alia Agni Sasmita--patah hati, patah semangat, dan patah harapan.
Sampai detik ini keluarga Alia masih belum terinfo tentang rencana perceraian Alia dan Keenan. Jadi, ya, rasa frustrasi tersebut masih Alia tanggung sendiri. Sakitnya, sedihnya, putus asanya--Alia rasakan sendiri. Entah mengapa hati Alia diliputi keraguan saat mau menceritakan ke keluarganya. Ada rasa takut yang bercampur malu karena semua orang berekspektasi tinggi pada pernikahannya. Bagaimana penilaian orang-orang setelah tahu kalau seorang Keenan Hadiwijaya berselingkuh.
Apakah Keenan akan dihujat, atau justru dirinya-lah yang akan dihujat?
Bagaimana pun semua ini adalah sebab-akibat. Sebab Alia tidak bisa memberikan Keenan keturunan makanya sang suami menghamili perempuan lain. Walau katakan saja awal mulanya tidak ada cinta di dalamnya, tapi dengan perempuan itu hamil dan Keenan akhirnya memilih selingkuhannya, hal itu sudah cukup jadi pukulan telak untuk Alia. Dia memang gagal sebagai perempuan.
Sebenarnya Alia tidak menginginkan sebuah perceraian. Tapi Keenan tidak memberinya pilihan lain sehingga Alia mau tidak mau ya harus menyetujuinya. Begitu juga dengan tuntutan yang hendak Alia layangkan. Sebenarnya Alia tidak menginginkannya, tapi membiarkan Keenan dan Alena berbahagia setelah menginjak-injak harga dirinya juga bukan hal yang bisa Alia terima. Dia ingin mereka merasakan bagaimana sakitnya Alia atas pengkhianatan mereka. Bahkan, kalau seandainya harta gono-gininya bisa ditukarkan dengan penderitaan mereka berdua, Alia pun akan memilih ini tanpa pikir panjang. Sekali lagi, ini bukan tentang uang. Dia tidak kekurangan uang dari orang tuanya. Ini hanya tentang secuil harga dirinya yang masih tersisa.
Atau bisakah dia menukar semuanya demi membuat mereka tidak bahagia? Tapi... bagaimana caranya?
***
Keesokan harinya Alia kembali melenggang ke firma hukum yang dipilihnya. Seperti biasa, langkahnya terlihat ringan namun penuh ketegasan. Dan untuk yang kali ini bukan hanya sekedar kelihatannya saja, melainkan memang berasal dari hatinya. Ya, dia menemukan sesuatu yang paling diinginkannya saat ini, yaitu membuat Keenan dan Alena tidak bahagia.
"Ibu Alia, selamat datang. Ada yang bisa saya bantu lagi?"
Alia menjabat tangan Bagas dengan sumringah. Anggukannya yang diiringi dengan senyum kepuasan membuat aura Alia yang beberapa hari ini menghilang seperti menyala lagi.
"Ya, Pak Bagas. Saya ke sini untuk membahas masalah tuntutan yang mau saya layangkan ke suami saya dan selingkuhan."
"Baik. Kalau begitu kita sudah sepakat ya, Bu. Total ada tiga hal yang akan saya perjuangkan untuk kasus Ibu Alia."
Alia tersenyum lebar. Lalu kepalanya menggeleng. "Nol gugatan. Tidak ada tuntutan perselingkuhan, tidak ada harta gono-gini, dan tidak ada perceraian."
"Maksud Ibu Alia apa?"
"Saya nggak mau bercerai."
"Lalu?"
"Saya mau membuat mereka menderita dalam drama yang mereka buat."
TBC