PART 12 - AYO BERCERAI

1292 Kata
Happy Reading ^_^ *** Setenang-tenangnya seorang Alia Agni Sasmita, air matanya pun tetap mengalir juga. Namun hal ini terjadi saat dia sudah pergi dari apartemen menjijikkan itu. Setidaknya, demi harga dirinya, Alia tidak akan menangis meraung-raung di depan perempuan yang hendak mengambil suaminya. Air matanya mengalir deras saat Alia memasuki BMW-nya. Tangisannya terdengar menyedihkan dengan raungan yang beberapa kali terdengar. Di setiap raungan tersebut, Alia memukul setir beberapa kali untuk melampiaskan emosinya. Tapi tidak--tidak ada emosi yang tersalurkan. Hatinya masih sakit, pun dengan tangannya yang sampai nyeri dan kemerahan. Kalau bukan karena jalanan yang memang sedang macet, maka saat ini mobil Alia pasti sudah melaju kencang. Meski derai air mata mengaburkan pandangannya, tapi syukurnya tidak mengaburkan logikanya. Kewarasan Alia masih utuh dan membuat perempuan berdarah campuran itu tidak melakukan hal yang sembrono. Mobil yang dikendarai oleh Alia berhenti di depan pelataran rumahnya bersama Keenan yang mewah. Sebelum turun, Alia mengusap wajahnya dengan kasar agar para pelayannya tidak melihat air mata yang menyedihkan tersebut. Kemudian dia bergegas menuju kamarnya. Alia yang biasanya begitu ramah dengan menyapa setiap pelayan yang ditemuinya kini jadi murung. Semua orang dilewatinya tanpa basa-basi. Tujuannya adalah kamarnya dengan Keenan. Kemudian dia masuk ke dalam walk in closet dan menurunkan satu koper besar miliknya dengan kasar. Dengan gerakan yang masih sama kasarnya Alia mengambil baju-baju untuk dipindahkan ke koper. Pakaian, sepatu, beberapa perhiasan--semuanya dia masukkan ke dalam koper tanpa ada penataan khusus. Kebiasaan Alia yang selalu mem-packing segala sesuatunya dengan rapi tidak dia terapkan. Masa bodoh apabila sepatu atau bahkan perhiasannya akan rusak. Semuanya sudah tidak terlalu berarti lagi. "Ibu mau ke mana?" "..." "Bu Alia!" Sopir yang merangkap penjaga gerbang itu panik setengah mati karena dipanggil untuk mengangkat koper yang biasa Alia pakai untuk travelling. Kalau sang majikan memang mau travelling sih tidak apa-apa. Tapi masalahnya, dari raut wajahnya saja ini bukan tentang travelling. "Berisik banget sih Joko!" Alia menggerutu. "Buruan masukin koper saya!" "Jangan begini, Bu. Nanti kalo Pak Keenan nyari Ibu gimana? Semua masalah bisa diselesaikan baik-baik kok, Bu." "Ya bilang aja saya ada di apartemen saya. Suruh dia susul saya ke sana kalo dia memang gentle." "Kalo gitu saya antar aja ya, Bu. Nggak baik lho kalo mengemudi pake emosi." Alia merengut sebal. Dia berusaha mengambil alih kopernya sendiri, tapi ditahan oleh Joko. Alia melotot sebagai peringatan. "Joko, saya cukup paham kalo nyawa saya berharga, jadi kamu nggak usah khawatir saya bakal melakukan hal yang bodoh. Tenang aja, saya nggak akan mati hari ini." Atau setidaknya sampai Keenan dan Alena mendapatkan ganjaran yang setimpal, tambah Alia dalam hatinya. "Joko, masalah saya dan Keenan kali ini nggak sesepele yang kamu bayangkan. Ini rumit. Jadi saya perlu space untuk menenangkan diri saya sebelum berdebat lagi." Joko mulai tidak berkutik. "Oleh karena itu, tolong jangan halangi saya. Dan tolong juga agar koper saya segera dimasukkan ke mobil. Kamu bisa kan bantu saya?" "Baik, Bu." Joko pasrah. Kemudian dia mengangkat koper Alia untuk dimasukkan ke dalam bagasi--persis seperti permintaan sang majikan. "Tapi Bu Alia janji ya hati-hati di jalan. Kadang emosi itu bikin kita gelap mata, tapi Ibu harus tetap waspada." Alia mengangguk. Ini adalah buah dari kebaikan Alia yang selalu royal dan peduli pada pekerja di rumahnya. Mereka semua pun sangat peduli pada dirinya. "Titip pesan untuk Keenan. Saya tunggu itikad baiknya di apartemen saya." *** Alia membuka kain putih yang menjadi pelindung sofanya dari debu. Kemudian Alia duduk dengan pandangan yang mengedar ke seluruh penjuru ruangan yang tertangkap oleh indra penglihatannya. Rasanya asing sekali. Ini adalah apartemen Alia semasa belum menikah dengan Keenan. Tidak terlalu besar, tapi ini adalah tempat yang paling nyaman untuk Alia. Setidaknya dulu, sebelum akhirnya dia menikah dengan Keenan lalu disuguhkan rumah mewah bak istana. Alia pikir dia tidak akan kembali ke apartemen ini lagi, tapi siapa sangka sekarang dia kembali ke sini untuk menghindari Keenan. Sungguh tak terbayang bagaimana jadinya kalau dulu Alia menyetujui saran Keenan untuk menjual apartemen ini. Sekarang dia pasti sedang linglung karena tidak punya tempat untuk menyendiri di momen paling menyedihkannya ini. Ya, meski sudah separah ini, tapi Alia tetap tidak mau memberitahu keluarganya. Dia merasa masih bisa menanggungnya sendiri makanya memilih untuk memendamnya saja. Dalam kesendiriannya, Alia memejamkan matanya. Karena lelah dengan segala beban di pundaknya, tanpa sadar Alia pun terlelap. Sampai sekitar sejam kemudian dia dikagetkan oleh suara bel. Sejauh ini hanya pelayan rumahnya dan juga Keenan yang tahu kalau dirinya berada di apartemen, jadi Alia pun sudah bisa menebak siapa yang datang. Itu pasti Keenan, yakinnya. Berbekal keyakinan itu, Alia pun membuka pintu. Dan benar--sosok Keenan menunggu di depan pintu dengan wajah kuyu. Ini sangat bukan Keenan Hadiwijaya yang biasanya. "Alia..." Kalimat lirih Keenan sempat menggetarkan hati Alia. Dia bisa melihat penyesalan yang dalam di dalam matanya. "Aku minta maaf..." Alia melunak. "Masuk dulu. Aku nggak mau ngasih pertunjukkan gratis ke penghuni apartemen lainnya." Keenan mengekori Alia yang sudah memimpin jalan di depannya. Dia dibawa menuju ruang tamu yang sekaligus ruang keluarga. Di sana dia bisa melihat koper besar Alia yang belum dibongkar sama sekali. "Alia..." "Kamu tahu kan kalo aku nggak butuh permintaan maaf kamu? Aku cuma butuh kamu untuk memilih antara aku atau dia. Cuma itu." "Aku minta maaf..." Alia makin terluka. Dia terkekeh dengan hati yang porak-poranda. "Empat tahun, Keenan. Empat tahun." ujar Alia dengan penuh penekanan. "I do my best! Tapi kenapa kamu sejahat ini sih sama aku? Kamu lupa dengan kata-kata kamu yang selalu bilang kalo kamu nggak bakal ninggalin aku? Mana buktinya?!" Kalau sebelumnya Alia selalu berusaha tenang dan menahan dirinya, kini Alia memilih untuk menumpahkan segala keluh kesahnya. Sorot sedihnya pun tampak jelas dan ini bukan masalah. Keenan adalah suaminya sehingga dia tidak merasa malu untuk menunjukkan sisi terlemahnya. Tapi pada perempuan yang merebut suaminya--Alia tidak sudi. "Aku tahu kalo aku memang nggak sempurna sebagai seorang istri." lirih Alia yang merujuk pada masalah dirinya yang tak kunjung memberikan Keenan Hadiwijaya seorang keturunan. "Tapi nggak gini caranya menyingkirkan aku, Keenan. Setidaknya... setidaknya jangan mencari perempuan lain dengan status suami aku. Tahu nggak sakitnya diselingkuhi itu kayak apa? Sakit banget, Keenan. Sakitttt." Alia memukul dadanya untuk mempertegas rasa sakitnya. "Dan yang merasakan itu adalah aku, bukan kamu." "Aku memang bukan suami yang baik. Tapi aku cuma manusia biasa, Al. Aku juga bisa terjerumus ke dalam lubang dosa tanpa sadar." "Tanpa sadar?" Alia menertawakan alasan Keenan yang sangat tidak masuk akal. "Manusia yang nggak punya kesadaran nggak mungkin bisa menghamili seorang perempuan. Kamu pikir s*x bisa dilakukan sambil merem?" ujarnya skeptis. "Kamu bukannya nggak sadar, tapi memang nggak punya otak. Ralat, kamu punya otak kok, cuma memang nggak terpakai aja saat itu." imbuhnya dengan tajam. Persetan dengan Keenan yang mungkin akan tersinggung. Dia siap dengan Keenan dan segala kemarahannya. "Aku minta maaf karena udah melukai hati dan harga diri kamu. Tapi aku nggak punya pilihan lain." Alia melengos. Dia tidak puas dengan jawaban Keenan yang terkesan ingin membenarkan pilihannya. Pada titik ini Alia tidak merasa kalau Keenan merasa bersalah sedikit pun. Dia salah karena sudah berfikir kalau Keenan datang dengan sebuah penyesalan. "Seperti kata aku, aku nggak punya pilihan. Tapi di satu sisi aku juga nggak mau nyakitin kamu lebih lama lagi. Jadi, Alia Agni Sasmita, ayo kita bercerai." Mimpi buruknya Alia sepertinya belum berakhir. Bahkan... sepertinya ini baru mulai. Kepala Alia bergerak kaku untuk kembali menatap Keenan. Bibirnya yang setengah terbuka karena terkejut perlahan-lahan berubah menjadi terkekeh penuh ironi. Matanya mulai berkaca-kaca. Sejak tadi Keenan terus mendengungkan kata maaf. Alia pikir permintaan maafnya karena pria itu menyesali perbuatannya dan ingin memohon agar Alia kembali. Tapi siapa sangka dia telah salah mengartikan kata maaf tersebut. Itu adalah permintaan maaf karena Keenan lebih memilih perempuan itu dan dia akan diceraikan. Ironis. "Fine! Keenan Hadiwijaya, ayo kita bercerai." TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN