Happy Reading ^_^
***
Kesan Alia saat bertemu langsung dengan Alena adalah sederhana. Perempuan yang sederhana. Hanya saja kesan itu langsung dicoreng oleh Alia saat ingat tujuannya kemari. Perempuan itu tidak sesederhana yang dia pikirkan. Dia terlalu rumit, sampai memberanikan diri untuk masuk dalam rumah tangga seseorang.
Tanpa perlu menunggu dipersilakan, Alia pun masuk ke dalam apartemen. Dan selayaknya istri sang pemilik apartemen, Alia pun memimpin jalan menuju ruang tamu. Tidak ada rasa sungkan. Bahkan, rasanya tubuh Alia seperti kebas.
"Saya buatin minum dulu untuk kamu."
Entah itu untuk membuat minum atau hanya alasan untuk mengadu pada Keenan--Alia tidak peduli. Matanya lebih tertarik pada interior apartemen yang berbeda sekali dengan yang dulu. Bahkan kursi yang didudukinya pun sudah berubah. Apa Keenan sudah membuangnya hanya agar Alena merasa nyaman? Maklum saja, semua itu kan sudah usang. Mungkin perlu pembaharuan--persis seperti dirinya, batin Alia dengan mencemooh.
"Silakan diminum, Alia."
Alena tidak canggung untuk melafalkan namanya. Apakah artinya dia memang sudah menyiapkan diri sejak lama untuk momen ini? Alia tersenyum kecut seraya mengambil cangkir teh lalu menyesap isinya dengan perlahan.
"Apa kita pernah ketemu sebelumnya? Kamu nggak keliatan seperti canggung saat menyebutkan nama saya." tanya Alia untuk memulai interogasinya. Mencecar perempuan itu secara brutal akan membuat Alia hilang kendali, dan dia tidak mau itu terjadi. Alia harus bisa mengendalikan dirinya sendiri agar semua maksudnya tersampaikan dengan baik.
"Pernah. Pas kamu dan Keenan menikah, saya turut datang untuk menyelamati kalian."
"Oh ya, saya nggak tahu kamu ada di antara orang-orang yang menyelamati kami. Thank you," kata Alia. Kemudian mimik wajahnya berubah seratus delapan puluh derajat. "Terus kalau kamu memang ada di sana waktu itu, lantas kenapa sekarang kamu berbalik untuk merebut suami saya?"
Meski emosi, tapi Alia tetap mempertahankan ketenangan dirinya. "Apa kamu juga pengen merasakan kebahagiaan yang dulu saya rasakan, Alena? Bahkan, dengan pria yang sama juga, Alena?" imbuhnya dengan penuh sarkasme.
Ponsel Alia berdering. Dia merogoh ke dalam tasnya untuk kemudian menemukan kalau si penelpon adalah suaminya. Alia menyeringai sambil menunjukkan layar ponselnya ke arah Alena.
"Keenan nelpon. Well, reaksinya cepet banget. Tapi akan lebih bagus kalau dia ke sini, jadi nggak akan saya angkat." ungkap Alia secara terang-terangan. Dia mematikan ponselnya dan meletakkannya ke meja dengan acuh tak acuh.
"Saya memang minta Keenan untuk datang. Soalnya saya nggak berani untuk menjawab apa pun di luar kapasitas saya."
"Kapasitas kamu sampe sama? Apa menjelaskan kapan kalian bertemu dan memulai hubungan di belakang saya juga nggak termasuk kapasitas kamu? Sama-sama bertindak, tapi nggak berani mengakui. Agak terdengar pengecut nggak sih?" decih Alia. Dia mulai sebal dengan sikap tenang Alena. "Kalau kamu nggak mau ngomong, ya sudah diam saja. Kita tunggu sampe Keenan dateng dan menjelaskan."
Alia melipat kedua tangannya di depan d**a. Dia mengabaikan sosok Alena yang kini tertunduk dalam. Demi Tuhan, dia tidak akan tertipu oleh wajah penuh pertimbangan Alena tersebut. Dia tidak akan mempercayai perempuan yang hampir menghancurkan rumah tangganya tersebut.
Sekitar lima belas menit kemudian, sosok Keenan datang dengan terburu-buru. Wajahnya panik. Apalagi saat dia melihat Alena dan Alia duduk berhadapan dengan tenang. Di momen seperti ini sebuah ketenangan adalah hal yang mustahil terjadi. Ini adalah ketenangan yang menghanyutkan.
Melihat Keenan sepanik ini seperti menaburkan garam di atas luka Alia yang masih menganga. Perasaan sedih dan kecewa berbaur menjadi satu.
"Seumur-umur baru kali ini aku ngeliat kamu sepanik ini, Keenan. Dan sedihnya, ini bukan karena aku. Ini karena perempuan lain." kata Alia mati-matian menahan dirinya. Pasalnya, Keenan adalah pemain utamanya. Dan siapa yang tidak meradang kalau pemain utamanya lebih mengkhawatirkan pemain pengganti? Harga diri Alia sebagai pemain utama perempuan selama beberapa tahun belakangan tercoreng dalam sehari.
"Aku bisa jelasin semua ini, Alia."
"Oh, silakan, silakan. Tapi yang perlu kamu catat adalah jangan pernah ada kebohongan dalam penjelasan kamu. Aku nggak butuh kebohongan kamu, Keenan."
Alia memperingati Keenan. Dia ingat bagaimana Keenan yang masih tidak mau jujur saat Alia bertanya apakah ada yang mau dia ceritakan atau tidak. Keenan memilih menyembunyikan apa yang sedang dia lakukan dan sedang bersama siapa. Sehingga kesaksiannya yang sekarang pun bisa tidak valid kalau Keenan tidak memiliki kesadaran diri untuk jujur.
Jujur--hanya itu. Apakah kejujuran sudah tidak begitu berarti?
"Aku nggak ada hubungan apa pun sama Alena."
"Okay," Alia mencoba tenang--entah untuk yang ke sekian kalinya. Padahal di saat seperti ini perempuan mana yang bisa tenang, hm? "Kalau kamu memang nggak ada hubungan apa pun, lantas apa maksud semua ini? Apa maksud kamu yang membawa perempuan ini ke hotel kamu saat di Malang? Apa maksud kamu yang membawa dia ke dokter kandungan saat di Malang? Apa maksud semua itu, Keenan Hadiwijaya?!" ujar Alia dengan penekanan di setiap suku katanya.
Keenan terkejut karena Alia tahu semuanya. Matanya membola, antara terkejut sekaligus tidak percaya.
"Kejadian di Malang--"
"Bagaimana aku bisa tahu?" seloroh Alia dengan cepat. "Mudah, Keenan. Yang sulit itu cuma kamu dan kejujuran kamu." Alia menunjuk Keenan dengan penuh emosi. "Aku udah kasih kesempatan ke kamu untuk jujur. Aku tanya apakah kamu punya sesuatu yang mau kamu kasih tahu ke aku. Nggak hanya sekali, tapi berulang kali. Dan jawaban kamu masih sama--nggak ada. Sebenernya mau sampai kapan kamu akan membohongi aku, hm?"
"...."
"Kalo aku nggak melihat semuanya secara langsung, apa kamu bakal menutupinya sampai aku mati? Kamu jahat banget tahu nggak?!"
Keenan panik. Sungguh, dia tidak menyangka kalau akhirnya akan begini. Ini... benar-benar di luar rencananya. Keenan berusaha mendekat dan meraih tangan Alia, tapi Alia mengangkat tangannya. Wanita itu tidak mau skinship apa pun.
"Kamu pilih aku atau dia?" tukas Alia tanpa perasaan. Dia tidak peduli apakah perempuan itu sedang hamil atau tidak, tapi yang jelas Keenan harus membuat pilihannya sore ini. Dia tidak akan berpura-pura lagi. Hampir sebulanan ini dia sudah berpura-pura dan mentalnya berantakan di setiap harinya.
"Aku pilih kamu, tapi untuk sekarang aku nggak bisa ninggalin dia begitu aja."
Alia mengerutkan keningnya. Dia menertawai jawaban Keenan yang dinilainya terlalu egois. "Aku nyuruh kamu memilih, bukannya bernegosiasi, Keenan Hadiwijaya." Alia memperingatkan.
"Tapi dia lagi hamil, Alia."
Alia menelan salivanya dengan berat. Akhirnya fakta ini keluar dari bibir Keenan. Ya Tuhan, ini benar-benar mimpi buruk yang menjadi kenyataan. Apa yang dia takutkan memang terjadi. Perempuan itu memang hamil--persis seperti dugaan Alia.
"Alena lagi hamil dan kondisi fisiknya sedang lemah. Nggak mungkin untuk aku ninggalin dia seperti permintaan kamu."
Alia memejamkan matanya untuk menenangkan dirinya. Emosinya sudah di ubun-ubun, tapi Alia tetap tidak boleh berubah menjadi perempuan brutal hanya agar kemarahannya dapat dilampiaskan.
"Trus kamu mau gimana? Kamu mau punya dua istri gitu?" seloroh Alia tidak terima.
"Pulang dulu dan aku bakal jelasin detail-nya. Ini bukan hal yang bisa dibicarakan sambil marah."
"Mau di sini, di rumah, atau di mana pun, aku pasti akan tetap marah. Perempuan mana yang nggak marah kalau berada di situasi ini, hm? Cuma orang gila yang selapang itu saat mendengar suaminya nggak bisa memilih antara istri sahnya dan selingkuhannya!" maki Alia. Kesabarannya habis karena Keenan lebih memilih membujuk Alia daripada menjelaskannya secara gamblang.
Memangnya apa sih yang membuat Keenan nggak bisa memilih dirinya sepenuhnya? Alia akui kalau dia memang kurang sempurna sebagai perempuan. Dia tidak bisa memberi Keenan anak. Tapi apakah empat tahun belakangan tak membuat keberadaannya punya arti tersendiri untuk Keenan? Apakah dia tidak berarti?
"Aku bodoh saat berfikir kalau apa yang terjadi hanya kesalahpahaman. Bahwa Alena bukan siapa-siapa dan kalian tidak menjalin hubungan apa pun. Aku pun bodoh karena menipu diri sendiri. Meski udah melihat sedikit bukti, tapi aku tetap percaya kalo kamu nggak mungkin begitu. Dan sekarang pun aku bodoh banget karena masih memberi kamu pilihan. Padahal, demi Tuhan, jawabannya udah jelas. Hadirnya Alena adalah bukti kalau pilihan kamu udah jatuh ke perempuan lain. Aku udah nggak punya tempat di hati kamu."
"...."
"Dan kalau udah begini, lantas untuk apa kita masih bersama?"
TBC