Happy Reading ^_^
***
Alia Agni Sasmita mengamati sebuah foto yang dicetak ukuran sedang dengan sebuah kekehan penuh ironi yang terpatri. Foto yang sudah dilihat, dia jatuhkan begitu saja hingga mengumpul jadi satu di atas meja yang ada di depannya. Tak hanya satu, tapi banyak. Dan rata-rata semua itu adalah foto yang diambil secara diam-diam.
Ada jeda yang lumayan lama saat Alia menatap foto terakhir. Kalau sebelumnya objek foto tampak tidak jelas, maka objek foto kali ini amat sangat jelas. Di foto terakhir ini Alia dapat melihat dengan jelas seperti apa wajah perempuan yang sudah menyelinap ke dalam rumah tangganya tersebut. Wajahnya seperti perempuan baik-baik, tapi siapa sangka ternyata dia cukup nakal juga, batin Alia dengan tatapan mengejeknya yang khas.
"Siapa namanya?"
"Alena Aditya. Teman SMA sekaligus teman kuliah Pak Keenan. Nggak banyak informasi yang saya dapat, tapi intinya mereka memang mengenal dengan baik jauh sebelum anda dan Pak Keenan bersama. Bahkan dari jejak digital yang ada menunjukkan kalau mereka sering berada di projek yang sama semasa kuliah."
"Hanya mereka berdua?"
"Nggak, Bu. Mereka bersama dengan teman yang lainnya."
"Apa mereka pernah berpacaran?"
"Kemungkinan tersebut nggak bisa saya pastikan, tapi dari jejak digital yang ada kebanyakan foto-foto yang diunggah berasal dari kelompok mereka, bukan dari Pak Keenan atau dari pihak Alena sendiri."
"Pekerjaannya sekarang apa?"
"Dia arsitek di salah satu perusahaan yang ada di Malang. Tapi sejauh ini dia sudah mengajukan resign dengan alasan..."
Sang informan yang Alia bayar dengan mahal menggantungkan kalimatnya. Hal ini membuat Alia mendongak dan menuntut lanjutan kalimatnya dengan alis yang dia naikkan sebelah.
"Dan alasannya adalah?"
"Kehamilannya rentan, jadi dia diharuskan untuk bedrest oleh pasangannya."
"Dan pasangannya adalah--"
Alia tercekat oleh kalimatnya sendiri.
"Tidak diketahui. Teman-teman Alena mengaku kalau kehidupan Alena sangat tertutup. Dengan siapa dia berkencan atau siapa suaminya--tidak ada yang tahu. Bahkan tidak ada pencatatan sipil mengenai pernikahan tersebut, yang artinya, pernikahannya tidak didaftarkan pada negara."
Alia memandangi wajah Alena lagi. Tangannya mengusap pipi Alena melalu secarik kertas yang dipegangnya dengan tawa ironi yang menyedihkan. Mungkinkah Keenan...
Tatapannya sulit diartikan, antara kecewa dan marah yang menjadi satu. Selama ini Alia berpura-pura tidak ada hal serius yang terjadi. Bahwa Keenan hanya khilaf, dan akan segera kembali padanya saat sadar nanti. Tapi kalau seperti ini--Alia ragu. Kalau semua skenario buruk di kepalanya terbukti benar, bagaimana mungkin Keenan akan kembali? Bahkan, Alia tidak percaya Keenan akan kembali. Ini bukan lagi kekhilafan. Keenan Hadiwijaya memang sudah kehilangan akalnya!
Bodohnya Alia karena memutuskan untuk menutup matanya dari masalah ini. Seharusnya dia sadar kalau sejak awal keputusannya sudah salah besar. Dia melonggarkan batasan yang dibuatnya hanya agar Keenan bisa kembali padanya dengan mudah, padahal di sisi lain sosok Keenan tidak tampak seperti orang yang ingin kembali.
Bahkan--lihatlah, Keenan kini sudah membawa perempuan itu ke Jakarta dan menempati apartemennya semasa bujang. Lihat juga bagaimana intens-nya Keenan mengunjungi perempuan itu setiap sorenya selama seminggu belakangan. Ini adalah mula dari terciptanya semua foto yang bertumpuk di atas mejanya. Semua ini tercipta dalam kurun waktu seminggu, lantas bagaimana kalau sebulan? Setahun? Atau... bagaimana saat anak dalam kandungan perempuan itu lahir? Apakah dia akan ditinggalkan?
Alia tertawa dengan air mata yang menitik. Tangannya meremas foto terakhir yang dipegangnya. Kemudian dia melemparkannya dengan kasar. Alia sudah menipu dirinya sendiri dengan keyakinan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tapi kalau seperti ini, bagaimana dia bisa melanjutkannya? Tidak bisa.
Alia bangkit dan membuat informan yang disewanya turut panik.
"Ibu Alia mau ke mana?"
"Ke mana lagi memangnya? Tentu saja ke apartemen suami saya. Saya perlu memperjelas sesuatu. Dan kalau sudah jelas, saya perlu mendidik perempuan yang merebut suami saya supaya tahu diri." kata Alia dengan menggebu-gebu.
***
Alia mendatangi apartemen Keenan dengan perasaan marah yang mendominasi. Dulunya apartemen ini menjadi tempat tinggal mereka selama setahunan. Awal rumah tangganya di mulai di sini. Dari yang awalnya terpaksa sampai akhirnya menerima--semuanya di mulai di apartemen minimalis tersebut. Sialan, maki Alia dalam hati karena kini harus menyaksikan apartemen itu menjadi saksi perselingkuhan Keenan dan Alena. Perjalanan cintanya ternodai. Alia muak dengan apartemen ini, terlebih lagi dengan keadaan ini.
Stilleto merahnya menapak lantai dengan mantap. Tidak ada kekhawatiran. Yang tersisa hanya setitik harga diri yang sekarang sedang Alia coba lindungi. Keenan mengkhianatinya dan Alia masih sangat mencintainya. Tapi Keenan tidak seperti orang yang menyesalinya. Alia benar-benar merasa t***l karena sudah membohongi dirinya sendiri demi pria yang tidak takut kehilangannya. Dia pikir Keenan akan kembali dan dia mereka akan mendapatkan happy ending-nya. Tapi ternyata tidak-- mereka akan sad ending.
Jujur saja, sekujur tubuh Alia sekarang ini sedang gemetaran hebat. Bahkan telapak tangannya pun terasa sangat basah. Alia tidak siap dengan keadaan ini, tapi kalau diteruskan dia hanya akan menjadi manusia yang paling menyedihkan. Dia tidak setegar Faradita Moelia yang bisa tutup mata pada perselingkuhan suaminya. Demi Tuhan, dia hanya manusia biasa yang punya harapan setinggi langit pada suaminya. Apalagi selama ini semua orang selalu mengelu-elukan rumah tangganya hingga membuat Alia meninggi karena ekspektasinya.
Dan sekarang saat dia dijatuhkan secara langsung--hatinya remuk redam. Ada perasaan tidak rela yang bercampur dengan rasa malu. Tapi inilah takdirnya.
Alia menekan bel apartemennya dan menunggu dengan jantung yang berdebar dengan amat kencang. Saking kencangnya, Alia sampai merasa sesak dalam penantiannya. Tak lama berselang, tanda bahwa kunci pintu dibuka diikuti dengan knop pintu yang diputar. Tatapan Alia berubah awas. Tidak ada rasa takut atau pun rasa rendah diri. Ini demi secuil harga dirinya yang masih tersisa.
Pintu terbuka dan matanya bertemu dengan mata perempuan itu. Alia pikir perempuan itu akan kebingungan, tapi dari matanya yang membulat panik, Alia tahu kalau perempuan mengenalnya dengan baik. Alia Agni Sasmita--istrinya Keenan Hadiwijaya yang sah.
Tangan Alia yang menggenggam Hermes Kelly-nya di belakang tubuh mengerat. Dia tertampar oleh fakta ini. Keenan melakukannya secara sadar. Pun dengan perempuan itu yang mengetahui semuanya.
Dan Alia berpikir untuk menutup mata untuk berpura-pura tidak tahu? Bukankah ini akan menjadi tertawaan seisi dunia? Kalau begitu tidak perlu berpura-pura lagi.
"Hai, Alena. Kenalin, saya istrinya Keenan Hadiwijaya."
TBC