PART 9 - DOA YANG TERLAMBAT.

1495 Kata
Happy Reading ^_^ *** Keenan Hadiwijaya tampak tak fokus dalam pekerjaannya. Pikirannya tertuju pada banyak hal, salah satunya adalah sosok sang istri yang sikapnya belakangan ini berbeda seratus delapan puluh derajat. Keenan bertanya-tanya mengenai apa yang terjadi, tapi sayang, tidak ada satu pun yang terjawab. Fisik sang istri mungkin ada di depannya, tapi jiwanya berada di tempat lain. Rasa-rasanya dia seperti memeluk cangkang kosong yang tak berarti apa pun. Setengah bulan berlalu dan dia masih belum dimaafkan dengan setulus hati oleh sang istri. Dibilang resah ya dia resah. Tapi mau bagaimana lagi, ini memang kesalahannya. Salah siapa dia terlalu menyepelekan kemarahan Alia yang sebelumnya tak pernah bertahan lama. Atau... mungkinkah sang istri tahu sesuatu? batin Keenan berseru pelan. Kekhawatiran mulai merayapinya. Pasalnya, kemarahan sang istri begitu tidak biasa. Yang biasanya hanya sehari atau dua hari -maksimal tiga hari- kini terhitung sudah dua minggu. Bahkan lebih. Dengan rentang waktu yang lama ini maka sudah pasti penyebabnya bukanlah masalah sepele. Lalu... benarkah dugaannya? Kekhawatirannya membuat Keenan tanpa sadar mengusap dagunya dengan penuh pertimbangan. "Pak Keenan," Panggilan itu membuat Keenan menengok ke belakang. Ternyata asisten pria yang sering menemaninya untuk bekerja di luar kantor yang menyapa. Keenan melambai ke kursi duduk yang berada di depan meja kebesarannya. "Gimana?" tanya Keenan yang merujuk pada 'pekerjaan kecil' yang dia berikan pada sang asisten. "Ini tas yang Pak Keenan suruh saya ambil. Boleh dicek terlebih dahulu." Sang asisten menyodorkan paperbag dengan warna orange yang menyala. Logonya sederhana, tapi mampu menggetarkan mata manusia yang melihatnya. Seperti pesan asistennya, Keenan pun memeriksa isinya untuk memastikan kalau semuanya sempurna. Dari bentuknya, sampai warnanya. Ini persis seperti tas yang diinginkan Alia. Semoga saja sogokannya ini akan membuahkan hasil. Demi Tuhan, dia lelah menjaga jarak dengan sang istri, Alia Agni Sasmita. Keenan mengangguk-angguk sebagai pertanda kepuasan. Kemudian dia meliris asistennya lagi. "Yang lainnya lagi?" "Ini, Pak." Sebuah kunci disodorkan pada Keenan. Anggukannya tampak makin puas setelah melihat kunci apartemennya tersebut. "Apartemen Bapak sudah dibereskan. Beberapa furniture yang sudah nggak layak pakai pun sudah diganti sesuai perintah. Intinya, apartemen Bapak sudah siap dipakai dalam waktu dekat." "Oke. Makasih ya." "Baik, Pak." "Oh iya," Kalimat yang tak lengkap itu membuat sang asisten kembali menatap atasannya dengan siaga. Dia siap dengan perintah lain. "Hal ini jangan dibicarakan sama siapa pun ya. Termasuk kamu yang saya perintahkan membereskan apartemen saya semasa bujang. Kamu bisa kan jaga rahasia saya?" Sang asisten yang tadinya berfikir positif langsung berubah menjadi berfikir negatif. Apartemen yang dia bereskan bukanlah untuk ditempati sang atasan dengan istrinya, tapi untuk orang lain. Dan siapakah orang lain tersebut yang berhasil masuk ke dalam rumah tangga atasannya yang terkenal harmonis itu--dia tidak tahu. Sungguh, kenyataan yang terduga. Tapi sang asisten tahu kalau ini bukanlah urusannya. Meski agak terkejut, tapi tatapannya masih sedatar sebelumnya. Kemudian dia mengangguk. "Siap, Pak." *** "Kak, lo belakangan ini kok sering ngelamun sih? Lo mikirin apaan?" Alia tanpa sadar jatuh dalam lamunan dalamnya saat sedang memainkan jari mungil anak laki-laki sang adik, Elea Agni Sasmita. Tak usah ditanya apa yang dipikirkannya. Sudah jelas sekali kalau ini tentang suaminya, Keenan Hadiwijaya. Alia menampilkan senyumnya yang tidak tulus sama sekali. "Nggak ada kok." bohongnya. Sampai detik ini tidak ada orang lain yang tahu masalah Keenan yang bertemu dengan perempuan lain di Malang. Alia merasa kalau semakin sedikit orang yang tahu tentang kemungkinan perselingkuhan Keenan maka akan semakin baik untuk ke depannya. Setidaknya dia tidak perlu dinterogasi berlebihan, apalagi dikasihani. Selain itu Alia juga mengurangi beban pikiran kalau seandainya orang tuanya sampai tahu. Jadi, biarlah hanya dia yang tahu. Biarlah hanya dia yang berprasangka dan menghakimi. Biarlah hanya dia yang hampir gila dengan semua dugaan-dugaan ini. "Kenapa sih? Kejutannya pas di Malang kemaren nggak berhasil apa gimana?" Alia berusaha tersenyum. "Berhasil kok." "Terus?" "Terus apaan?" "Ya terus kenapa lo nggak update sosmed kayak biasanya? Kan lo biasanya yang paling apa-apa harus didokumentasiin." Alia tersenyum getir. "Dokumentasi ada kok, cuma nggak gue posting aja. Makin berumur gue makin pengen private, jadi jangan kaget kalo kamu nggak akan liat postingan kemesraan kita lagi." "Oh gitu ya," Elea menganggukkan kepalanya. "Ya syukur deh kalo berhasil dan lo berpikiran begitu, Kak. Soalnya, entah hanya perasaan gue aja atau gimana, tapi gue merasa lo berubah banget semenjak anniversary kalian kemaren. Kayak senyum lo udah nggak secerah dulu lagi gitu." Alia tertawa dengan hambar. Bahkan Elea pun menyadarinya, tapi Alia masih bersikeras bahwa dia tidak apa-apa. Menipu diri sendiri memang semudah itu. "Belakangan ini marak kasus perselingkuhan. Temen arisan kakak pun terang-terangan mengaku kalo dia diselingkuhi selama setahunan. Jujur, kakak takut, Le. You know-lah, kakak kan belum sempurna sebagai seorang istri." "Jangan ngomong gitu ah. Kesempurnaan itu memang bukan milik manusia, Kak, jadi jangan ngerasa gagal begini. Lagian Kak Keenan juga santai aja kok, jadi lo nggak usah ngerasa khawatir yang berlebihan." Elea meletakkan salah satu tangannya ke atas tangan sang kakak. Dia berharap bisa mentransfer semangatnya untuk sang kakak yang sedang bersedih. "Lagian, dengan cinta yang sebesar itu, gue yakin Kak Keenan nggak bakal sanggup untuk menyelingkuhi. Jadi lo tenang aja." Alia menatap Elea dengan senyum penuh ironi. Waktu itu teman arisannya yang berkata demikian, dan sekarang adiknya sendiri. Alia bertanya-tanya sebenarnya amalan apa yang sudah Keenan Hadiwijaya lakukan sampai sekedar celetukan tentang perselingkuhan tidak pernah menghampirinya. Bahkan, kalau pun ada, hal itu langsung dipatahkan oleh orang lain. Padahal... mereka hanya tidak tahu saja. "Tapi lo tahu apa yang paling lucu, Dek?" Alia kembali melanjutkan. Mumpung ada kesempatan bercerita -meskipun menggunakan nama orang lain- tapi setidaknya Alia bisa mendengar pendapat paling tulus dari anggota keluarganya. Setidaknya dia punya bahan pertimbangan dari anggota keluarganya. "Meski udah diselingkuhi, temen gue tetep nggak meminta cerai. Kayak... gila nggak sih?" "Gila sih, Kak. Tapi ya karena cinta, jadi gila itu nomor dua. Yang penting nggak pisah." Alia disilaukan oleh cahaya fakta yang amat sangat terang. Astaga, apakah dia memang sudah terlalu gila dalam mencintai Keenan sampai lebih memilih menutup mata alih-alih menuntut Keenan atas perselingkuhannya? Astaga... "Gue nggak bisa judge dia karena gue yakin dia pasti ada pertimbangan sendiri. Yah, semoga dia sehat-sehat deh, karena pasti yang begitu hidupnya nggak akan setenang kalo dia memilih bercerai." "Jadi... menurut lo dia harus cerai gitu?" "Bukan menurut gue, Kak, tapi gimana baiknya menurut dia. Soalnya, pertimbangan cerai ini kan banyak. Kalo udah ada anak, ya pertimbangannya anak. Kalo belum ya pertimbangan pasti seputar kenyamanan dan keamanan diri dia sendiri. Karena faktanya, banyak stigma jelek tentang perempuan yang bercerai terlepas si prialah yang bersalah. Udah kenyamanan dari segi finansial hilang, eh masih dihujat sana-sini karena perceraian itu sendiri. Makin nggak aman deh itu hidupnya." Tatapan Elea begitu dalam. Dia teringat masa-masa sulitnya menikahi Matteo yang tidak mencintainya sama sekali. Kalau memilih bertahan, hatinya akan terluka. Tapi kalau pergi, kenyamanannya tergadaikan. Sungguh, pilihan yang sulit. Dan sama seperti Elea, Alia pun turut menatap nanar ke arah depan. Sampai tanpa sadar bibirnya berceletuk pelan. "Jadi perempuan itu sulit ya, Dek..." Elea tersenyum tipis. "Nggak sulit sebenernya kalo kita ketemu orang yang mencintai kita dengan ugal-ugalan. Ya, kayak Kak Keenan-lah. Dia mencintai kakak dengan ugal-ugalan dan itu bikin iri banyak pasangan, termasuk aku dulu." "Sebenernya--" Alia tercekat. Dia tak kuasa untuk membongkar sosok Keenan yang tidak persis seperti bayangan adiknya. Atau.. dia malu kalau orang lain sampai tahu rumah tangganya tidak seindah itu? Alia menunduk dan menelan kalimatnya mentah-mentah. "Sebenernya apaan?" tanya Elea. Alia menggeleng. "Itu... temen Kakak. Dia bertahan karena yang penting porsinya sebagai istri sah tetap sama. Yang penting duit bulanan, liburan, shopping, dan lain-lain terpenuhi. Yang lainnya mah bisa dipertimbangkan." "Temen kakak ini siapa sih namanya? Aku agak kagum, sekaligus sedih sih. Kagum ya karena dia pakai logika banget, tapi sedih juga karena pasti batinnya meraung-raung karena harus membagi suaminya." Alia mengangguk-angguk seraya membuka ponselnya yang berkelip karena sebuah notifikasi masuk. Bukan dari keluarganya, apalagi Keenan. Ini dari orang lain. Nomor tanpa nama itu terbuka dan menampilkan sebuah kolom chat yang isinya sudah lumayan panjang. Di chat paling bawah terlampir sebuah foto dengan keterangan tulisan yang lumayan panjang. +62138913xxxx : Hari ini asisten Pak Keenan mendatangi apartemen Pak Keenan semasa bujang. Info dari petugas yang berjaga katanya dia memang disuruh oleh Pak Keenan untuk beberes. Berberes untuk apa? batin Alia bertanya-tanya. "Kak, lo belum jawab pertanyaan gue." "Hah?" Alia mendongak, menatap sang adik dengan pikiran yang bercabang. "Yang perempuan temen lo itu. Yang kata lo diselingkuhi itu." "Kamu nggak perlu tahu-lah. Memangnya mau apa sih?" "Ish, kan gue penasaran. Siapa tahu gue ketemu lakinya, mau gue sumpahin gitu." "Urus aja anak kamu dengan baik, nggak usah nyumpah-nyumpahin orang. Biar itu jadi urusan temen arisan Kakak sendiri." Elea memanyunkan bibirnya karena tidak puas dengan jawaban kakaknya. "Ya udah deh. Tapi siapa pun itu, aku berdoa semoga dia akan mendapatkan kebahagiaannya dalam waktu dekat." Karena kisahnya sama, Alia pun merasa dikasihani juga. Padahal tadi dia menggunakan kisah hidup temannya, Faradita Moelia. "Dan untuk kita, semoga kita berdua dijauhkan dari hal-hal kayak gini ya, Kak. Pokoknya bahagia selalu deh untuk kita." Alia tersenyum getir. Doa sang adik jelas sangat terlambat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN