PART 8 - RASA YANG SUDAH TIDAK SAMA

1244 Kata
Happy Reading ^_^ *** Berdiri di depan cermin, Alia merasa malu dengan pantulan dirinya. Dia menutup mata pada sesuatu yang bisa jadi bom waktu untuk rumah tangganya. Pada dasarnya, masalah harus segera diselesaikan, bukannya diabaikan seperti sekarang. Tapi benaknya terus meragu untuk membicarakannya secara gamblang. Alia mengatur napasnya dengan berat. Tangannya yang sejak tadi mencengkeram pinggiran meja untuk kumpulan aksesorisnya terulur untuk melepas anting berliannya. Dia harus tenang, karena ketenangan adalah kunci dari sebuah keberhasilan. Dan dia yakin kalau dirinya akan berhasil melewati masalah kali ini. Toh, dia juga sudah bertekad untuk melupakannya, jadi semuanya pasti akan baik-baik saja. Pintu walk in closet-nya terbuka dan sosok Keenan masuk. Alia semakin merilekskan tubuhnya agar Keenan tidak mencurigai apa pun. Ketika perhiasan terakhirnya sudah tertata rapi di tempatnya, sosok Keenan langsung memeluk Alia dari belakang. Alia pun mencoba biasa saja dan menerima kemesraan kecil dari Keenan dengan tenang. "Coba bilang sama aku gimana caranya supaya kamu bisa cepet maafin aku. Aku nggak bisa kalo kamu diemin begini, baby." Keenan masih bersusah payah membujuk Alia. Di amati sang istri melalui cermin yang ada di depan mereka. Alia pun melakukan hal yang sama sehingga keduanya saling tatap melalui beda tersebut. "Nggak perlu, Keenan. I'm fine." "Bohong." Keenan semakin manja. Dia meletakkan kepalanya ke bahu sang istri sambil mengeratkan pelukannya. Dia bergelayut manja seperti anak kecil pada ibunya. "Kamu tanya, aku jawab. Aku udah jawab, tapi kamu nggak percaya. Terus aku harus gimana?" tanya Alia dengan menghela napas lemah. "Aku cuma pengen kamu semanja biasanya. Kamu nggak akan sungkan untuk keluarin to do list yang super panjang supaya kamu bisa maafin aku dengan cepat. Kamu yang seperti ini malah kayak menjaga jarak banget dari aku. Dan aku nggak suka." Alia menghela napas sekali lagi. Dia melepaskan tangan Keenan yang ada di perutnya, lalu berbalik dengan legowo. Dikecupnya bibir Keenan untuk menenangkan suaminya yang mulai gelisah pada perubahan sikapnya. "Aku nggak punya to do list yang super panjang, tapi aku punya satu permintaan." Alia menatap mata suaminya lekat-lekat. "Jangankan satu, seratus atau bahkan seribu pun aku janji bakal memenuhinya. Semuanya akan aku lakuin buat kamu, sayang." Alia bisa mendengar ketulusan Keenan. Astaga, hatinya terus terombang-ambing karena sikap Keenan yang bertolak belakang sekali dengan apa yang dilihatnya di Malang. "Aku cuma minta supaya kamu bisa tetep mencintai aku dengan sabar apa pun kondisi aku. Aku tahu kalo aku kadang tuh jengkelin banget, tapi semoga kamu nggak lelah ya dalam mencintai aku beserta kekurangan aku. Tolong jangan tinggalin aku." pinta Alia dengan suara tercekat. Keenan meraup pipi Alia. Diremasnya dengan gemas. "Apa sih, babe? Ngawur banget ngomongnya." jawabnya. "Ini bukan sesuatu yang perlu kamu bahas dengan suami kamu. Ke pacar di masa lalu memang mungkin, tapi ke suami--aku rasa sih nggak perlu. Karena apa? Ya karena di detik aku menerima kamu sebagai istri ya itu artinya aku udah menerima kamu beserta kekurangan kamu. Jadi kamu nggak usah khawatir, sayang." Alia juga berharapnya begitu, hanya saja... "Aku tahu. Tapi aku pengen denger pengakuan kamu secara langsung. Nggak tahu kenapa, tapi aku pengen denger aja." Karena hanya inilah penguat Alia. Bahwa dia tidak akan ditinggalkan, bahwa Keenan akan tetap memilihnya apa pun yang terjadi. Katakanlah dia egois, tapi wajar kan seorang istri menginginkan diri sang suami sepenuhnya? "Astaga..." Keenan melumat bibir istrinya dengan gemas. Ternyata Alia hanya butuh pengakuan. Ini tidak jauh beda dengan Alia yang terus melantangkan 'aku cantik nggak' dan Keenan harus selalu menjawabnya terlepas sudah sesering apa pertanyaan itu dilontarkan. "I will always loving you, babe. No matter what it is, aku bakal selalu ada di samping kamu. Kamu bakal terus jadi istri kesayangan aku." Alia merasa lega. Setidaknya dia sudah mengantongi janji Keenan. Dan semoga saja Keenan tidak mengingkarinya. Di lumatan Keenan yang sudah berubah menjadi kecupan-kecupan gemas, tangan Alia turun ke bawah dan menarik lepas ikat pinggang suaminya. Kaitannya dilepas, begitu juga risletingnya yang langsung diturunkan. Menyadari hal ini, Keenan langsung menyeringai karena tak menyangka kalau pengakuannya barusan langsung akan dibalas oleh sang istri. Begitu celana Keenan merosot, tanpa merasa malu Alia langsung menggenggan milik suaminya. Kedua bolanya dimainkan dan Keenan menggelinjang keenakan. Ciuman mereka terhenti karena Keenan dilanda ekstaksi. Kemudian Alia berinisiatif untuk menurunkan tubuhnya agar sejajar dengan kejantanan sang suami. Menggantikan tangannya, Alia pun mengocok milik suaminya dengan mulutnya. "Ahhhhh, baby!! Faster, please!" Keenan menunduk dan mengamati pemandangan paling sexy ini. Sambil terus terengah-engah Keenan mengambil rambut Alia agar mengumpul di tangan kanannya. Kemudian dia mengencangkannya lalu ikut mengocok. Kini Alia hanya pasrah menerima kejantanan Keenan yang dikocok di dalam mulutnya. Meski semakin ke sini kocokan Keenan semakin tak terkendali, tapi Alia tidak keberatan. Malah dia dilanda kepuasan karena berhasil membuat seorang Keenan Hadiwijaya blingsatan dengan posisi seerotis ini. Alia merasa bangga. "Aku mau keluar, babe!" Raungan itu diikuti dengan keluarnya sebuah cairan yang langsung memenuhi mulut Alia. Bukannya menghindar, Alia malah semakin memantapkan posisinya hingga dia bisa merasakan beberapa kali 'tembakan' yang langsung mengenai tenggorokannya. Melihat raut kepuasan suaminya hingga kakinya gemetar, Alia semakin merasa bangga. Tidak ada rasa terhina sedikit pun. "Woaahh, babe!" Keenan terbata karena masih dilingkupi rasa puas. Tangannya mencengkeram tepian meja aksesoris sang istri. Keenan Hadiwijaya mengulurkan tangannya untuk membantu sang istri yang masih bersimpuh di posisinya. Tangan kanannya membantu sang istri untuk bangun, sementara tangan kirinya mengusap sudut bibirnya yang ternoda oleh s****a. Dia menyeringai puas. "Udah siap untuk menjerit sampai pagi, sayang?" Alia mengangguk. Tubuhnya diputar hingga dia kembali menghadap meja aksesoris. Cermin di depannya semakin memancarkan aura sexy Alia terlepas pakaiannya yang masih utuh dan rapi. Keenan menyeringai nakal. "Kamu nggak membebani aku dengan beragam permintaan unik kamu, jadi malam ini aku pasti bakal memperlakukan kamu dengan sangat baik. Aku bakal puasin kamu..." bisik Keenan di telinga sang istri. Tubuhnya rapat sekali dengan tubuh sang istri. Tangannya merambat ke paha dan memainkan celah di tengah pahanya yang sudah membara. Alia siap untuk dimasuki. "Arrggghhh!!" Dan desahan itu adalah awal mula dari desahan-desahan panas lainnya. Di mulai dengan posisi berdiri, menungging, lalu berakhir dengan posisii duduk di atas meja yang eksotis. *** Alia dibaringkan Keenan dengan hati-hati ke atas ranjang. Percintaan mereka telah usai dan ini adalah waktunya untuk beristirahat. Alia sudah bersiap memejamkan matanya, tapi kepergian Keenan membuat kening Alia berkerut. Mata Alia mengekori Keenan yang berjalan menuju walk in closet dengan kondisi telanjang bulat. Tidak ada rasa risih sedikit pun. Beberapa waktu kemudian Keenan kembali. Masih dengan kondisi yang sama, hanya saja senyumnya lebih cerah. "Aku punya kejutan lagi buat kamu." katanya seraya menaiki ranjang dan memeluk Alia dengan manja dari samping. "Kejutan apa?" "Mana tangan kamu." Alia menurut. Dia menunjukkan tangannya seperti pertanyaan Keenan. "Ini tangan aku. Kenapa?" Dan dengan gerakan secepat kilat Keenan Hadiwijaya menyelipkan sebuah cincin berlian ke jari manis sang istri. Senyumnya melebar seperti remaja nakal yang berhasil menggoda seorang perempuan dengan sebuah hadiah. "Buat kamu." jawab Keenan cuek. Dia tidak berniat membuka obrolan apa pun karena begitu selesai memberikannya, Keenan langsung memejamkan matanya sambil memeluk tubuh istrinya dari samping. Dia yakin Alia pasti paham. Itu adalah kado anniversary dari Keenan. Berbeda dengan Keenan yang bisa langsung memejamkan matanya setelah memberikan hadiahnya, Alia malah termenung melihat cincin yang baru dipasangkan Keenan tersebut. Dan dalam renungannya itu Alia kembali meyakinkan dirinya bahwa semuanya akan baik-baik saja. Bahwa Keenan hanya khilaf semata, bukan tidak mencintainya lagi. Ini hanya tentang waktu sampai Keenan akan kembali ke sisinya lagi. Dia hanya perlu berpura-pura saja. Yah, meskipun rasanya sudah tidak sama lagi, tapi dia akan baik-baik saja selama Keenan tetap bersamanya. TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN