PART 7 - MENUTUP MATA

1150 Kata
Happy Reading ^_^ *** "Suprise!!" Keenan Hadiwijaya berseru seraya merentangkan kedua tangannya. Pada masing-masing tangannya terdapat paperbag dengan logo yang berbeda-beda. Tapi satu yang pasti, semua itu adalah logo toko oleh-oleh khas Malang. Alia memandangi semua oleh-oleh itu secara bergantian dan agak tersentuh. Alia tidak memintanya, tapi Keenan membelikan oleh-oleh khas Malang. Pria itu hafal kebiasaan Alia yang selalu suka dengan oleh-oleh semacam ini terlepas itu hanya sekedar makanan ringan dengan harga yang tergolong murah. Seorang Keenan yang dulunya jarang membeli oleh-oleh semacam inj berubah hanya karena istri tersayangnya, Alia Agni Sasmita, menyukainya. "Kok nggak dipeluk sih? Aku kangen lho..." Kesadaran Alia pulih. Matanya mengedip beberapa kali, lalu tubuhnya bergerak kaku untuk memeluk Keenan. Perasaan Alia campur aduk, karena adanya serangan memori yang kontras dengan perselingkuhan yang dilakukan Keenan. "Hai..." ujarnya. Demi Tuhan, ini adalah sapaan tercanggung di sepanjang rumah tangganya dengan Keenan. Pada momen di mana Alia menangkap basah Keenan dengan perempuan lain, maka detik itu juga perasaannya untuk Keenan sudah tidak seperti dulu lagi. Dan dia bingung harus bagaimana untuk mendeskripsikannya. "Kok pulangnya nggak ngabarin?" imbuhnya. "Kan kejutan. Kalo aku kasih tahu ya nggak akan jadi kejutan dong." jawab Keenan enteng. Pelukannya dilepaskan dan pria itu menangkup pipi istrinya. "Kok responnya gini doang sih? Mana Alia aku yang selalu ceria, hm?" Kan kamu yang merenggut keceriaan aku, Keenan, batin Alia. Untuk mengalihkan pertanyaan itu, Alia melepaskan tangan Keenan yang berada di pipinya. "Nggak ah. Kayaknya biasa aja." "Nggak, babe. Kamu murung." tukas Keenan sambil mengekori istrinya yang melenggang menuju kamar mereka. "Kamu masih marah ya sama aku? Yang masalah aku ke Malang pas anniversary kita." "Nggak kok." "Coba kalo memang nggak ngambek, mana senyum manisnya buat aku?" Alia menaikkan sudut bibirnya dengan paksa. Tidak ada kebahagiaan di dalamnya. "Mungkin efek mau datang bulan, jadi lagi nggak mood aja. Dan aku lagi capek banget." kata Alia sambil duduk di ranjang mereka. Diperhatikannya sosok Keenan yang menjulang tinggi di depannya. "Kamu... nggak ada sesuatu yang mau disampaikan ke aku?" Alia menatap iris gelap suaminya. Dia menanti sebuah kebenaran untuk dilontarkan dengan sukarela dan penuh rasa tanggung jawab. Tapi kepala Keenan menggeleng, yang kemudian memupuskan harapan Alia. Ke mana sosok Keenan-nya yang selalu jujur dan mau mengakui kesalahannya dengan sukarela? Sebuah perubahan besar tidak terjadi dalam waktu dekat. Lalu apakah artinya Keenan memang sudah berselingkuh dalam waktu lama sehingga hal ini sudah mengubah wataknya yang dahulu? Lalu... apakah artinya dia memang sudah diselingkuhi dalam kurun waktu yang lama sekali? "Tentang apa?" Tentang perselingkuhan kamu, katanya dalam hati. Tentu saja dia tidak akan menyatakannya dengan segamblang itu. Dia... tidak sanggup. Untuk menghindar, Alia mengangkat bahunya sambil mengode dengan kalimat lain. "Tentang apa pun. Mungkin ada yang mau kamu ceritakan ke aku karena aku kan nggak ada di Malang sama kamu. Mungkin ada banyak hal yang udah aku lewatkan." "Kalo itu jelas ada banyak dong, sayang. Bahkan, banyak banget. Saking banyaknya sampe kayaknya nggak akan kelar malem ini. Jadi... gimana kalo aku ceritanya sambil kita makan malem? Aku laper banget ini." Apakah Keenan sedang mencoba menghindarinya? Tidak mungkin kan? Alia pasrah saat tangannya ditarik oleh Keenan untuk makan--seperti keinginannya. Keduanya kembali melintasi tangga. Alia menghela napas. Kalau tahu begitu dia tidak akan naik ke kamarnya. Pikirannya lelah, begitu juga dengan kakinya karena harus naik-turun tangga. Alia pikir ini hanya akan menjadi makan malam biasa, tapi siapa sangka ruang makan mereka sudah disulap menjadi lebih meriah dari biasanya. Ada banyak bunga segar yang memanjakan mata. Aroma sedap pun langsung menguar dan berpadu sempurna dengan aroma wangi masakan. Sempurna. "Aku ngerasa ini sangat nggak proper. Tapi ngeliat mood kamu yang lagi nggak bagus, aku jadi bersyukur. Nggak kebayang kalo aku harus bawa kamu ke restoran dengan mood kayak gini. Bisa-bisa kita malah berantem di jalan." Keenan tergelak sambil menarikkan kursi untuk Alia duduki. Ketika Alia sudah duduk, dia menepuk bahu istrinya sekilas sambil mengecup pucuk kepalanya. "Semoga suka ya, babe." imbuhnya lirih. Keenan mengambil tempat duduk tepat di sebelah Alia--seperti biasanya. Bagi Keenan, duduk seperti ini jauh lebih menyenangkan daripada duduk berhadapan. Duduk berhadapan membuat Keenan seperti sedang makan malam dengan klien dan bukannya makan dengan sang istri. "Ini dari restoran favorit kamu. Makan yang banyak." ujar Keenan sambil memberikan daging lobster berukuran besar ke Alia. Dia mempersilakan sang istri untuk menikmati makanan kesukaannya lebih dulu. Alia menerimanya dengan perasaan yang campur aduk. Semua sikap Keenan hari ini membuat Alia makin mempertanyakan masalah perselingkuhan Keenan. Rasa-rasanya seperti tidak mungkin. Seseorang yang berselingkuh tidak mungkin punya rasa sayang sebesar itu kan? Tapi bagaimana Alia harus mengonfirmasinya? "Kamu udah susun rencana belum buat kita rayain anniversary yang ketunda kemaren? Ke mana pun deh, asal jangan Malang." Perkataan Keenan yang diwarnai oleh sedikit gelak tawa tampak menyinggung Alia. Malang sudah memberikan trauma yang mendalam untuk Alia. "Sebenernya bukan karena apa-apa, cuma kan aku abis dari Malang. Nggak seru dong kalo balik ke Malang lagi. Di sana memang ada hotel yang cozy banget, tapi kayaknya next trip aja deh." Keenan terus bercerita dengan riang. Dia tidak menyadari kalau sejak tadi sang istri sama sekali tidak antusias dengan obrolan mereka. Alia seperti cangkang kosong, di mana fisiknya memang ada di situ tapi pikirannya berada di tempat lain. "Gimana, babe?" Kesadaran Alia kembali. Dia memberanikan diri untuk menatap mata suaminya agar Keenan tidak curiga. "Kayaknya aku nggak pengen ke mana-mana deh. Lagi males." Keenan mengerutkan keningnya. "Kamu serius?" Alia mengangguk sambil memasukkan sesuap nasi dengan tidak nafsu. Dia lelah sekali. "Aku lagi nggak pengen ke mana-mana dan nggak pengen apa-apa. Aku cuma pengen--" Alia tercekat. Dia hanya ingian Keenan untuk peka dan jujur. Tapi itu sangat tidak mungkin terjadi. "--aku cuma pengen istirahat yang nyaman di rumah." Alia mencoba tersenyum di akhir kalimatnya. Meski tampak tidak tulus, tapi setidaknya dia sudah berusaha sebaik mungkin. "Kamu masih marah sama aku." tuding Keenan. Respon Alia tampak datar, hal ini seolah menegaskan kalau tudingan Keenan memang terbukti benar. Dan rasa sedih langsung merayapi hatinya. "Aku minta maaf. Maaf karena aku terlalu workaholic." Keenan berusaha menggenggam tangan Alia. Dia ingin penyesalannya tampak jelas dan Alia bisa memaafkannya. "Maaf karena aku nggak ada di samping kamu di saat momen paling penting kita. Mulai sekarang, aku janji untuk lebih mementingkan keluarga kecil kita. Aku janji." Keenan dan Alia berpandangan. Perasaan Alia mulai campur aduk. Dia akan menangis sebentar lagi. "It's okay. Nggak apa-apa," Alih-alih untuk merespon Keenan, Kalimat Alia terdengar seperti untuk menyemangati dirinya sendiri. Nggak apa-apa--it's mean bahwa semuanya akan baik-baik saja. Dia akan baik-baik saja, Keenan akan baik-baik saja, dan rumah tangganya pun akan baik-baik saja. Dengan syarat... Dia harus melupakannya. Ya, anggap saja apa yang dilihatnya di Malang bukanlah sebuah masalah. Bahwa Keenan tidak bertemu perempuan lain dan perselingkuhan itu tidak benar-benar terjadi. Maka, semuanya akan baik-baik saja. Toh, selain sulit untuk mempercayainya, Alia juga sulit untuk membahasnya dengan Keenan. Jadi daripada mengungkitnya dan membuat masalah baru, berpura-pura untuk tidak tahu adalah pilihan yang baik. Semoga saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN