PART 6 - OBROLAN GELAP SOSIALITA

1419 Kata
Happy Reading ^_^ *** "Suami gue selingkuh." Pengakuan itu membuat semua mata tertuju padanya. Ekspresi marah dan tidak terima tampak jelas di matanya. Tapi selang beberapa detik kemudian, tatapannya melunak, yang mengindikasikan sebuah penerimaan. Orang-orang tampak terkejut dan mulai mengasihaninya. "G-Gue nggak sengaja, Far. Gue pikir laki lo kemaren di Grand Indonesia itu sama lo, ternyata bukan ya..." kalimatnya semakin memelan di akhir. Rasa bersalah menyerangnya. Si perempuan -Faradita Moelia- hanya menatap datar setiap orang yang menatapnya dengan penasaran. Mau bagaimana lagi memangnya? "It's okay. Ini cerita lama, jadi nggak perlu ngerasa bersalah." katanya. "Cuma, gue pikir kalo gue bakal bisa menutupi semuanya sampai kapan pun. Tapi ternyata nggak bisa. Permainan dia terlalu nggak rapi dan bangkai sisanya pun terlalu menyengat. Menyebalkan." Semua orang berpandangan. Mereka tampak kagum dengan ketegaran Faradita yang luar biasa. Mereka tidak percaya ada orang yang begitu tenang saat mengakui perselingkuhan suaminya. Di saat semua orang menatap Faradita Moelia dengan tatapan kagum akan ketegarannya, ada satu orang yang menatapnya dengan datar dan dipenuhi oleh rasa kasihan. Dia adalah Alia Agni Sasmita, yang kemudian merasa bahwa kisah mereka senada. Ternyata dunia memang sempit sekali. Di antara banyaknya manusia, rekan satu arisannya juga mengalami hal yang sama. Apa memang sudah tidak ada pria jujur di dunia ini? "Ini udah lama banget ya?" selidik Alia sambil menyembunyikan ketertarikannya. Faradita mengangguk santai. "Udah. Kayaknya hampir setahunan deh." "Gue tahu lo dan laki lo memang dijodohin, tapi lo seriusan nggak marah gitu? You look so fine at all." Faradita mengangkat bahunya. "Dulu gue marah. Gue sampe absen satu kebun binatang cuma buat menunjukkan kemarahan gue. Tapi kemudian gue sadar kalo kemarahan gue nggak membuat dia merasa menyesal atau pun berhenti. Terus gue sadar, daripada pita suara gue putus dan kewarasan gue tergadaikan, lebih baik gue abaikan. Bodo amat deh, yang penting nggak mengganggu segala kebutuhan gue." Faradita mengangkat gelasnya seperti melakukan cheers. Dan hal ini cukup menegaskan bagaimana dia merasa bangga dengan sikap acuh tak acuhnya tersebut. "Damn, Far!! Lo bukan perempuan miskin yang perlu dikasihani woyy! Tanpa dia pun kebutuhan hidup lo akan tetap terpenuhi." kata salah satu perempuan yang duduk di sebelah Alia. "I know." Faradita menjawab. "Tapi perusahaan kita udah terlanjur merger. Gue nggak rela kalo harus membagi setengah keuntungan hanya untuk harta gono-gini. Nggak sudi gue." "Tapi lo bisa sewa pengacara atau semacamnya yang bakal mampu memenangkan lo. Ini cuma tentang duit." "Gue males ribet, anjir." jawab Faradita enteng. "Lagian gue merasa kalo laki gue masih menghargai gue. Setidaknya dia masih pulang ke rumah dan nemenin gue. Pas acara pun begitu. Jadi nggak yang ngenes banget. Cuma ya gue akui dia memang agak t***l aja karena akhirnya ke gep kalian. Yah, palingan gue bakal suruh dia lebih hati-hati. Lama-lama malu juga gue kalo diskak terus sama fakta itu." Orang-orang fokus pada kehebatan Faradita yang masih berdiri setegak ini kala menceritakan perselingkuhan suaminya. Bahkan dia dengan terang-terangan merelakannya. Tapi di mata Alia, sebagai seseorang yang bernasib sama, Faradita hanya sedang menyemangati dirinya agar tidak terlihat menyedihkan. Merelakan laki-laki yang berstatus suaminya untuk perempuan lain tidaklah semudah itu, sekali pun pria itu di dapat dari hasil sebuah perjodohan kuno. Ini bukan tentang cinta lagi, tapi tentang harga diri yang sudah diinjak-injak oleh si peselingkuh. "Nggak semua kisah cinta melalui perjodohan bisa kayak Alia sama Keenan. Gue iri banget, bahkan mereka masih bisa semesra ini padahal udah empat tahunan." Celetukan salah satu teman arisan Alia membuatnya menyeringai. Di saat orang-orang salah paham dengan seringaian tipis itu, pikiran Alia kembali pada momen tiga hari lalu di mana dia menyerah menyelidiki suaminya dan memutuskan pulang dengan hati yang remuk redam. Mereka tidak tahu saja kalau yang bersangkutan juga tidak jauh berbeda dengan Faradita Moelia yang beberapa detik lalu menjadi pusat perhatian. Dia diselingkuhi. Nyatanya, kisah cintanya dengan Keenan juga tidak seindah itu. "Nggak juga ah. Biasa aja." Respon santai yang terkesan dingin itu begitu kontras dengan cara Alia menjawab di masa lalu. Dulu Alia tidak akan segan memuji Keenan karena di matanya Keenan Hadiwijaya memang sebaik itu. Tapi sekarang... itu hanya kisah lama. "Nggak usah merendah untuk meroket deh, Al. Kita tahu ya gimana harmonisnya hubungan lo sama Keenan." Faradita menambahi dengan santai. "Cuma sayang, kalian belum ada anak. Buruan gih, biar posisi lo makin kukuh di rumah tangga kalian." Circle pertemanannya sangat tidak baik--Alia tahu hal itu. Bahkan dia seharusnya tahu kalau bertemu mereka bukanlah solusi dari hatinya yang butuh teman untuk melampiaskan rasa gamangnya. Mereka tidak akan menjadi teman yang seperti itu. Justru sebaliknya, di belakang Alia, semua hal yang diceritakannya akan menjadi gunjingan. Kisah Faradita pun akan begitu, makanya perempuan itu bersikap acuh tak acuh untuk menyelamatkan sedikit mukanya. Ya, inilah sisi gelap pertemanan sosialita yang sebenarnya. Walau tidak semua, tapi inilah yang Alia jalani. Woman support woman itu tidak ada. Semuanya adalah saingan. "Tapi lo beneran nggak ada niatan untuk cerai, Far?" tanya Alia, mencoba mengorek pendapat perempuan yang senasib dengannya. Dia penasaran apa saja motivasinya sampai memutuskan untuk abai dan tidak meminta cerai detik itu. Karena, jujur saja, hal inilah yang langsung terlintas di kepala Alia saat mengendus kemungkinan perselingkuhan sang suami. Dia tidak sudi bersama pria yang tidak setia padanya. "Untuk sekarang sih nggak ada. Tapi nggak tahu beberapa tahun ke depan." jawab Faradita dengan enteng. "Dari sisi apa pun, gue merasa kalo gue jauh lebih baik dari perempuan itu. Bahkan, gue juga yang duluan ada di hidup laki gue. Terus pas udah kayak gini kenapa gue yang harus ngalah dan bercerai? Enak dong mereka bisa bersama dan gue jadi janda." "..." "Ya walau pun jandanya yang berkelas, tapi ya tetep ogah. Nggak sudi gue." imbuhnya dengan ketus. "Gue setuju sih sama Farah," kata teman Alia yang lainnya. "Dulu kakek-nenek gue ada di kondisi ini. Nenek gue udah hopeless, tapi di sisi lain dia juga nggak mau cerai. Intinya ya udah bodo amat, yang penting semuanya terpenuhi. Beberapa tahun berlalu, eh si kakek gue tobat dan balik dengan sendirinya. Ya mungkin seiring berjalannya waktu kesadarannya balik dan dia tahu kalo nenek gue setulus itu makanya dia nggak doyan jajan lagi." "...." "Jadi kayak semacam ngasih kesempatan untuk menyadari kesalahannya sendiri. Ya walau pun agak lama, tapi sepadan." "Tapi kan nggak bisa dipukul rata bahwa someday semua laki-laki akan sadar dengan sendirinya. Iya kalo sadar, kalo nggak?" "Ya makanya juga gue nggak terlalu berharap, Al. Just... let if flow." Faradita menyela. "Kalo dia berubah ya syukur. Nggak pun nggak ada masalah, yang penting rumah gue nyaman, mobil gue masih keluaran terbaru, koleksi birkin gue aman, diamond, tiket ke eropa--semuanya masih on budget." "Cakepppp!" "..." "Tahta tertinggi tetap di tangan istri sah, jadi santai aja, bestie." Teman-teman Alia yang tadinya mengasihani Faradita berbalik memuji pikiran perempuan itu. Entah itu tulus atau tidak, tapi yang jelas kini mereka tertawa meninggalkan Alia yang masih merenung dengan pikirannya. Bahkan, topik perselingkuhan dibicarakan seringan mereka membicarakan koleksi baju terbaru dari beberapa brand ternama yang akan launching dalam waktu dekat. Tidak ada yang spesial. Bahkan... rasa-rasanya seperti tidak ada empati sedikit pun. Alia sebenarnya tidak mengharapkan sebuah solusi akan permasalahannya dengan pertemuannya ini. Dia hanya sekedar datang untuk mencoba melupakan beban pikiran. Yah, meskipun tidak bertahan lama, tapi setidaknya keramaian membuat Alia tidak depresi dan terus-terusan menangis. Menyudahi arisan rutin bulanan tersebut, semua orang pulang dengan mobil mewahnya masing-masing. Alia pun turut mengendarai BMW-nya dengan pikiran yang masih berkecamuk. Dia bimbang. Sebenarnya tidak terlambat kalau dia mau berpura-pura. Toh, tidak ada yang mengetahui hal ini selain dirinya sendiri. Tapi... bisakah dia? Dalam kekalutannya tersebut, nyatanya Alia mampu sampai rumah dalam waktu kurang dari satu jam. Dia bergegas masuk dan bertemu dengan asistennya yang menyapa di ambang pintu. "Sudah pulang, Bu?" "Hm-hm." Alia meletakkan kunci mobil ke tempatnya dan bergegas menuju kamar. Dia tidak memerhatikan ekspresi asisten rumah tangganya yang seperti menahan senyumnya. Ada yang dia sembunyikan, tapi hal ini luput dari perhatian Alia. "Mau makan malam sama apa, Bu? Biar saya masakin." "Saya lagi malas makan, jadi kamu nggak perlu masak. Atau masak aja makanan yang mau kamu makan, nggak usah peduliin saya." jawab Alia sambil menaiki undakan tangga satu per satu. Fokusnya sepenuhnya tertuju pada anak tangga yang akan dipijaknya. Kebetulan high heels-nya sore ini cukup tinggi makanya Alia terus menunduk untuk memperhatikan setiap langkahnya. Sampai kemudian Alia hampir mencapai undakan tangga tertinggi dan dia melihat sepasang sepatu pantofel bertengger di situ. Pelan-pelan kepalanya terdongak dan dia tahu siapa pemilik pantofel itu. Keenan pulang. Iris gelap keduanya mereka bertemu. Laki-laki yang menyelingkuhinya pulang. Lalu harus bagaimana responnya sekarang? TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN