PART 5 - HAPPY WIFE, HAPPY LIFE. IS THAT TRUE?

1061 Kata
Happy Reading ^_^ *** Sepasang kaki jenjang melenggang memasuki kamar hotel yang mewah. Langkahnya tampak berat. Turun dari high heels-nya, perempuan itu meninggalkan sepatu keluaran terbaru Yves Saint Laurent-nya di depan pintu. Kemudian tasnya yang senada dengan brand sepatunya pun di jatuhkan, begitu juga dengan kacamatanya. Meski begitu, langkahnya tetap terseok. Sampai kemudian dia menjatuhkan tubuhnya ke ranjang yang sangat empuk tersebut. Alia Agni Sasmita menatap nanar langit-langit kamarnya. Air matanya sudah kering, pun dengan tenaganya yang sudah seperti terkuras habis. Tapi kenapa mimpi buruknya ini belum juga berakhir? Kenapa dia tidak kunjung bangun? Atau... ini benar-benar nyata? Ini... kenyataan? Sejak menangkap basah suaminya berselingkuh, Alia seperti hilang arah. Ingin mengadu pada keluarganya, tapi dia takut semua ini hanya kesalahpahaman saja. Sedangkan kalau mengadu pada Keenan, dia takut kalau ini tidak seperti ekspektasinya. Dia harus bagaimana kalau Keenan benar-benar berselingkuh? Selama ini Keenan adalah sosok yang lebih dari kata baik. Saking baiknya, dia sampai tidak mempersiapkan diri dengan kemungkinan-kemungkinan semacam ini. Meratapi nasibnya, tanpa sadar langit mulai menggelap. Sosok Alia masih tetap pada posisinya dan bertarung dengan logika serta hatinya. Dia masih belum bisa menerima semua ini. Telponnya berdering dan Alia berusaha meraihnya. Dia tidak antusias sama sekali. Sejak tadi yang mengiriminya pesan hanyalah sang adik -Elea Agni Sasmita- yang terus-terusan menggodanya untuk masalah kejutan. Mengetahui hal tersebut, Alia memilih untuk tidak meresponnya. Biarkan sang adik menerka-nerka bagaimana manisnya kejutan ini. Manis sekali, sampai akhirnya meninggalkan jejak getir yang tak tertahankan ini. Tapi siapa sangka dering telponnya ini adalah dering telpon yang paling dinantikan olehnya. Keenan menelpon. Matanya seperti melihat secercah harapan, bahwa Keenan akan menjelaskan hal ini seperti saat Keenan menjelaskan hal tidak penting lainnya. Ya, saat ada sesuatu yang terjadi, Keenan akan menceritakannya pada Alia agar Alia tidak salah paham. Meski itu berhubungan dengan kliennya di kantor -yang mana Alia sendiri tidak paham dan juga tidak kenal- Keenan tetap akan menceritakannya hanya agar Alia tahu semua hal yang terjadi saat mereka tidak bersama. Keenan dulu selalu sejujur itu dan semoga yang sekarang pun dia tetap sama. "Hai, babe. Lagi apa, sayang?" Hati Alia terasa tercubit. Kalimat sapaannya yang penuh kasih sayang terdengar masih sama. Sungguh, Alia tidak bisa membedakan mana yang benar. Semua sama persis. "Hai juga." "Lho, kok suara kamu serak sih, babe? Kenapa bisa gitu?" Sudah jelas sekali penyebabnya. Sepanjang hari ini Alia hanya terus menangis dan meratap. Suaranya pasti jadi kacau karena hal itu. "Nggak apa-apa. Belakangan ini lagi banyak makanan berminyak makanya suara aku jadi serak." Alia berkilah sambil menggigit bibir bawahnya. "Kamu... lagi apa?" imbuh Alia dengan mata yang kembali merebak panas. Bayangan liar Keenan bersama perempuan lain membuatnya begitu emosional. "Nggak lagi ngapa-ngapain." Pembohong! Alia berharap Keenan menjelaskan sesuatu, tapi saat sang suami memberikan jawabannya, batin Alia meronta tidak terima. Sebenarnya apa yang ingin dia dengar? Kejujuran Keenan? Bahwa saat ini dia sedang bersama perempuan lain, begitu? "Oh." "Gimana kejutan dari aku? Kamu suka kan?" Alia memejamkan matanya. Air matanya menitik pelan. "Luar biasa..." Ketika matanya kembali terbuka, senyum penuh ironi langsung menghiasi wajahnya. Alia mengusap air matanya dengan usapan yang sedikit kasar. "Yang lain dong? Masa cuma luar biasa doang." Luar biasa hancur. Berantakan. Kacau. Kata apalagi yang pas untuk menjelaskan betapa wah-nya kejutan Keenan? Air mata yang Alia pikir sudah kering ternyata masih ada. Bahkan, masih banyak. Berulang kali Alia mengusapnya agar tidak menjadi isakan yang menyedihkan. Keenan tahunya Alia sedang bahagia, jadi tangisannya tidak boleh sampai ke telinga pria itu. Atau semuanya akan berantakan. Menjauhkan ponsel dari telinganya, Alia pun memeriksa isi chat dari asisten rumah tangganya. Alia sudah berpesan agar kepergiannya menyusul Keenan tidak bocor. Dia pun meminta tolong agar apa pun kejutan Keenan, segalanya harus difoto lalu dikirim ke Alia. Dengan begitu Alia tetap tahu apa saja yang terjadi di rumah atas dasar kejutan Keenan tersebut. Dan ternyata Keenan mengiriminya sebuah kue bertuliskan happy anniversary yang keempat dengan slogan Happy Wife, Happy Life. Jangan lupakan juga dua buket yang merupakan inti dari slogan tersebut. Satu buket tersusun dari mawar merah yang tampak segar sekali, sedangkan buket yang satunya lagi tersusun dari rangkaian uang seratus ribuan yang tampak rapat sekali. Orang lain akan tersenyum sumringah, tapi Alia malah menangis. Semua itu sudah tidak berharga lagi. "Keenan, kamu nggak punya sesuatu untuk dijelaskan ke aku?" Alih-alih memuji Keenan dengan nada manja yang biasa dia gunakan, Alia lebih memilih untuk menginterogasi Keenan secara halus. Dia sudah tidak sanggup menunggu sampai Keenan berinisiatif sendiri untuk menjelaskan momennya dengan perempuan yang Alia sendiri belum tahu namanya sampai detik ini. "Sesuatu apa?" Bahkan, dari gerak-geriknya, Keenan sepertinya tidak akan membahas hal itu. Dia... ingin menutupinya. Dan ini semakin memperdalam lukanya. "Ah, aku tahu..." Alia berharap, tapi kemudian harapannya dipupuskan dengan cepat setelah Keenan melantangkan lanjutan kalimatnya. "Aku tahu kamu masih sebel karena aku tinggal ke Malang. Tapi, please, maafin aku ya? Aku janji akan lebih strict dengan jadwal aku ke depannya. Nggak ada lagi tuh judulnya ninggalin kamu sendirian di rumah pas anniversary tahun depan." Tahun depan? Alia tersenyum masam. Bahkan dia tidak bisa membayangkan akan bagaimana rumah tangganya sebulan ke depan. Dan Keenan, si pelaku yang menyelingkuhinya, berharap bahwa masih ada tahun depan untuk pernikahan mereka. "Sayang? Kok diem aja sih? Kamu marah banget ya? Bahkan, buket bunga aku nggak mampu buat nyogok kamu?" "It's okay." Alia kehabisan kata-kata untuk menjawab Keenan. Dia sudah lelah. "Bener ya? Jangan marah dong. Aku nggak tenang banget kalo kamu diginiin." "...." "Setelah pulang dari Malang, aku bakal lebih banyak luangin waktu buat kamu. Bahkan, kalo perlu kita honeymoon lagi. Aku juga bakal nemenin kamu buat jemput tas incaran yang kemaren. Pokoknya kamu tenang aja deh. Aku nggak akan melupakan semua yang udah aku janjikan." Tidak--Alia tidak mau semua itu. Sekarang dia hanya mau kejujuran Keenan. Hanya itu! "Udah ya ngambeknya? Jangan diemin aku lagi. Aku nggak bisa kalo kamu diemin lama-lama." "Hm-hm." Alia berdehem karena tahu kalau dia membuka bibirnya, maka yang akan keluar adalah isakan pilu karena dibohongi oleh suaminya. Lebih baik dia bungkam saja. Alia mengatur napasnya. Sekali, dua kali, lalu hembuskan. Rileks, Alia. Ini hanya permulaan. Masih banyak komedi satir yang akan dia saksikan atas ketidaktahuan suaminya kalau semua kebusukannya sudah terbongkar. "Keenan, makasih ya untuk segalanya." Segalanya yang terburuk, batin Alia menambahkan seraya menelan pil pahit yang bisa membuatnya trauma untuk seumur hidup. Kemudian dia mematikan ponselnya dan memeluknya erat-erat seperti akan meremukkannya. TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN