Happy Reading ^_^
***
Cuaca di Malang sedikit dingin, namun hal ini tak menghalangi Alia untuk keluar dari kamar lebih pagi. Sekitar pukul enam pagi Alia sudah berada di lobby hotel mewah tersebut. Dia duduk menyendiri di sofa yang ada di sudut ruangan dengan kacamata hitam membingkai matanya yang lelah karena terus menangis.
Dengan pakaiannya yang berwarna gelap, Alia tampak menyaru dengan sekelilingnya. Dan memang inilah yang diinginkan oleh perempuan berdarah campuran tersebut. Dia ingin agar Keenan tidak menyadari sekelilingnya sehingga dia bisa menyelidiki hal ini lebih lanjut.
Selama di posisi itu, Alia hanya membeku di tempatnya. Baterai ponselnya terisi penuh, tapi dia tidak berminat untuk memainkannya. Dia tidak mau melewatkan kesempatan untuk mendapati Keenan dan selingkuhannya keluar. Berbagai tindakan brutal memenuhi pikirannya. Mulai dari menghina Keenan sampai menjambak si perempuan--semuanya ada. Tapi saat dia benar-benar menjumpai keduanya keluar secara bersamaan, segala hal yang memenuhi pikirannya menghilang. Semuanya lenyap. Pikiran Alia kosong. Bahkan dadanya terasa seperti berhenti berdetak.
Semalaman Alia menahan diri. Dia berharap bahwa semua itu hanya kesalahpahaman, bahwa Keenan akan menghubunginya di tengah malam anniversary mereka, dan mengucapkan selamat dengan mesra seperti biasanya. Tapi tidak--sang suami tidak menghubunginya. Alia menunggu sampai dini hari dan apa yang dinantinya tetap tidak terkabul. Dan pagi ini dia mendapati mereka berdua keluar secara bersamaan.
Apa yang sebenarnya kamu dan perempuan itu lakukan, Keenan? Tega-teganya kamu bersama perempuan lain di malam anniversary kita?
Berhenti memikirkan rasa sakitnya, Alia pun membenarkan kacamatanya lalu bangkit. Dia melintasi lobby hotel bintang lima itu dengan punggung yang ditegakkan serta langkah yang dimantapkan. Dia akan menyelidikinya lebih lanjut dengan cara mengikuti mereka berdua. Setelah menghabiskan malam bersama, Alia penasaran ke mana pasangan selingkuh itu akan pergi.
Di tengah-tengah ruangan, Alia berhenti sejenak untuk melirik ke arah resepsionis yang berjaga hari ini. Dan orang itu masihlah orang yang sama dengan yang melayani Alia untuk check in kemarin.
"Suami saya kemungkinan besar sedang berselingkuh. Dan saya harus mengetahui kebenarannya." Alia mencoba menegarkan dirinya kala berkata begitu. Bagaimana pun dia tidak boleh terlihat menyedihkan. "Meski kalian tahu siapa perempuannya, saya tahu kalian ngga akan membocorkannya karena ini terkait SOP kalian. Tapi nggak apa-apa, saya bisa cari tahu sendiri. Dan saya pasti akan tahu, cepat atau lambat."
Petugas resepsionis yang berjaga tampak kebingungan untuk merespon hal ini. Mereka bersimpati pada Alia, apalagi mereka semua adalah perempuan, tapi hanya sebatas itu. Mereka tidak bisa menunjukkan perasaan lainnya terkait masalah pribadi pengunjung hotel mereka.
"Oleh karena itu saya harus menginap di hotel ini. Saya bersedia untuk membayar berapa pun. Berapa pun--" Alia menekan kata-katanya dengan tajam. "--agar saya bisa dapat kamar di sebelah kamar suami saya."
"Ibu, saya turut sedih dengan fakta ini, tapi alangkah baiknya untuk menyelesaikan masalah ini di luar. Kami takut--"
"Nggak usah takut. Saya nggak akan membuat kekacauan di sini. Setidaknya saya harus menjaga harga diri saya yang masih tersisa dengan menahan diri saya sebaik mungkin."
Alia paham apa yang ditakutkan sang resepsionis. Karena sudah tahu ada masalah di depan mata, maka wajar bagi resepsionis itu untuk memutus rantainya. Kalau diteruskan, masalah akan semakin kacau dan mengancam, apalagi orang yang berseteru tersebut tampak seperti bukan orang sembarangan. Ini akan jadi masalah besar kalau dibiarkan berlanjut.
"Percaya sama saya--saya nggak akan buat kalian berada dalam masalah. Saya cuma pengen menyaksikan gimana cara pasangan itu berselingkuh di belakang saya. Bisa-bisanya mereka bermain api di belakang saya."
Selesai mengenang obrolannya dengan sang resepsionis, Alia pun kembali memantapkan dirinya untuk menyusul Keenan dan si perempuan.Keenan dan perempuan itu naik mobil yang sama, sedangkan Alia membuntutinya dengan naik taksi yang sudah dipesannya sejak tadi. Seperti halnya hotel, Alia rela mengeluarkan kocek yang besar agar taksi ini berkenan mengikuti seluruh instruksinya.
Sepanjang perjalanan, tubuh Alia menjadi panas-dingin. Bibirnya mungkin tidak mengatakan apa pun, tapi tangannya yang terus memilin ujung blouse-nya cukup untuk menegaskan betapa gugupnya dia saat ini. Benaknya merapalkan doa, berharap semua ini tidaklah seperti yang dibayangkan olehnya.
Tapi bukankah semuanya sudah terlalu jelas? Kalau terus begini, bukankah sama saja dia seperti tidak menerima kenyataan?
Alia masih tidak paham kenapa hal seperti ini terjadi pada rumah tangganya. Hubungan mereka baik-baik saja. Alia menghormati dan menghargai Keenan sebagai suaminya. Segala hal yang hendak Alia lakukan selalu atas izin Keenan--tidak ada hal yang terlewat. Bahkan kalimat cinta Keenan pun masih terdengar memuja seperti biasanya. Lalu celah di sisi mana yang akhirnya membuat Keenan merasa kurang dan akhirnya berpaling? Celah bagian mana yang akhirnya dipenuhi oleh perempuan selain dirinya?
Dalam keputusasaan itu, mobil yang ditumpangi oleh Alia memasuki area sebuah rumah sakit. Alia pun memandangi sekitarnya dengan raut bingung.
"Bapak nggak salah kan?"
"Nggak kok, Bu. Itu mobil yang Ibu suruh ikuti berhenti di depan."
Alia menyipitkan matanya. Dan, ya, memang benar mobil itu berhenti di area untuk drop pasien. Alia pun meminta untuk di drop di tempat yang sama. Setelah berpesan pada sang supir untuk menunggui dirinya, Alia pun bergegas turun. Langkahnya dipelankan agar tidak mengundang kecurigaan siapa pun.
Di saat Keenan dan perempuan itu menyelesaikan proses administrasi, Alia menyelinap di antara pasien yang duduk di kursi yang ada di lobby. Meski tampak membaur, tapi matanya terus mengekori gerak-gerik suaminya dan sang selingkuhan. Sampai kemudian mereka bergegas pergi karena dipandu oleh seorang suster entah ke mana.
Alia pun langsung mengikutinya. Alia sudah khawatir kalau mereka akan naik lift, tapi syukurnya hal itu tidak terjadi. Bersama suster tersebut mereka dipandu menuju sebuah poli khusus yang terpisah dari poliklinik yang lainnya. Alia masih mengekorinya dengan kening berkerut, sampai kemudian dia melihat plakat yang menggantung di atas.
Obstetri dan Ginekologi.
Obgyn.
Kaki Alia berhenti melangkah. Dia mengeja setiap huruf dengan teliti, tapi tidak ada yang salah sedikit pun. Apa yang dibaca dan dia tafsirkan memang benar. Poli kandungan. Keenan dan perempuan itu menuju poli kandungan.
Untuk apa?
Telinga Alia berdenging karena terlalu banyak dugaan yang memenuhi kepalanya. Layaknya timeslape, orang-orang bergerak melewati Alia yang masih mematung di tempatnya. Kakinya terasa seperti dipaku pada posisi ini. Matanya tampak nanar memandangi tulisan dari plakat tersebut.
Selama perjalanan Alia bertanya celah mana yang mampu membuat Keenan berpaling. Dan sekarang dia tahu jawabannya.
Ini tentang anak yang tak kunjung hadir di antara mereka dalam kurun waktu empat tahun pernikahan. Ini adalah celah yang berhasil diisi oleh perempuan itu makanya Keenan berpaling dari dirinya.
Alia kembali ke mobil dengan langkah lunglai. Pundaknya menurun, seperti menahan bobot berkilo-kilo. Dia melepas masker yang dipakainya dan tampaklah wajah yang sudah murung karena tertampar oleh sebuah fakta. Beruntung, kacamata hitamnya masih bertengger, yang mana benda itu berhasil menutupi tatapan kosongnya.
"Lho, kok cepat banget, Bu? Saya pikir ibu mau berobat agak lama."
"Berobat? Apa ini ada obatnya, Pak?"
Alia terkekeh--masih dengan ekstaksi rasa sakit yang tak berujung.
"Hah?"
Di tengah kebingungan supirnya, air mata Alia yang sejak tadi ditahannya menetes. Dia sudah tidak kuat lagi. Tangan Alia tergerak untuk menutupi separuh wajahnya. Dia berharap hal ini akan meredam isakannya yang menyedihkan, namun gagal. Di setiap tarikan napasnya, air mata Alia menetes dengan derasnya.
"Lho, Ibu kenapa? Bu?" panik sang supir. "Ibu saya antar ke hotel ya. Atau Ibu ada rumah lain yang dituju? Saya khawatir Ibu tiba-tiba nangis begini."
"Rumah tangga saya hancur, Pak. Saya udah nggak punya 'rumah' untuk pulang."
TBC