Cerita

1888 Kata
Sesampainya di rumah, Dini bergegas membersihkan diri dan menuju ruang makan. Perutnya sudah terasa lapar. Sebenarnya sudah lapar sejak berkeliling tadi, namun Dini memilih untuk makan di rumah daripada jajan di luar. “Bi Ismi, masak apa hari ini?” tanyanya pada Bi Ismi yang masih sibuk bersih-bersih di dapur “Masak cap jay, Non Dini” jawab Bi Ismi “Ada Ayam Asam Manis, juga” kata Bu Ismi “Hmm, lezat semua Bi, Dini mau?” kata Dini semangat Dini mengambi es batu di dalam freezer dan meracik minuman segar untuk melepaskan dahaganya setelah lelah berkeliling mengirim lamaran pekerjaan “Iya, Non Dini, lauknya masih hangat semua” kata Bu Dini Dini segera mengambil alat makan, nasi dan lauk untuk Ia nikmati. Dini makan dengan sangat lahap. Bi Ismi tersenyum melihat tingkah Dini yang makan dengan sangat lahap, terlihat sangat lapar “Pelan-pelan Non Dini, makannya, nggak usah terbutu-buru” “Bi Ismi nggak minta kok” kata Bi Ismi sambil senyum ke arah Dini yang masih sangat menikmati makanannya dengan sesekali meminum es sirup racikannya “Hari ini panas banget, Bi” “Dini laperrr bangett” jawabnya di sela makannya “Gimana, Non, kata Bu Rumi Non Dini hari ini mengirim lamaran pekerjaan, ya?” tanya Bi Ismi “Iya Bi, hari ini seharian muteri kota buat ngirim lamaran pekerjaan” jawab Dini “Ketemu semua perusahaannya, Non?” “Kesasar nggak?” kembali Bi Ismi bertanya kepada Dini “Kesasarnya sih enggak, Bi, tapi capeknya ini, mana panas banget tadi” jawab Dini Bi Ismi tersenyum mendengar jawaban anak majikannya tersebut “Baru permulaan Non, baru juga ngirim-ngirim lamaran?” “Belum kerja beneran, Non”? jawab Bi Ismi kepada Dini “Nanti kalau sudah kerja beneran, Non Dini bisa merasakan suka dukanya” “Kerjaan numpuk, diomeli Bos, belum lagi kalau ada teman yang iri, sirik dan dengki” “Hmm... syahdu Non” kata Bi Ismi “Memangnya Bi Ismi dulu pernah kerja selain disini, Bi?” tanya Dini penasaran dengan penjelasan Bi Ismi tadi, seolah Bi Ismi dulu pernah bekerja di tempat yang banyak pegawainya “Duluuuu sebelum nikah, Bi Ismi pernah kerja di pabrik sepatu Non” jawab Bi Ismi “Hmm, cerita dong Bi, gimana kerjanya Bi Ismi dulu?” tanya Dini kembali pada Bi Ismi “Di pabrik itu Bi Ismi bagian jahit pola sepatunya” “Senangnya itu pas nerima gaji” “Dulu kalau gajian, sebagian Bi Ismi berikan ke Ibunya Bi Ismi, sebagian Bi Ismi pakai untuk kebutuhan Bi Ismi sendiri, sisanya ditabung” “Dulu hasil kerja di pabrik Bi Ismi bisa beli kalung emas 7 gram, Non” “Tapi kalung nya sudah Bibi jual pas nikahannya anak Bi Ismi” “Sedihnya kerja itu kalau ada salah jahit, pasti kena marah bos, dimarahain di depan teman-teman yang lain” “Malu banget kan Non” cerita Bi Ismi tentang pengalaman kerjanya di pabrik kepada Dini Dini mendengarkan dengan penuh perhatian saat Bi Ismi bercerita “Terus... terus... Bi Ismi kenapa bisa sampai kerja di rumahnya Dini?” tanya Dini penasaran “Hmm... sedih kalau ingat itu Non” “Setelah tiga tahun kerja disana, Bi Ismi kerjanya bagus, berprestasilah intinya” “Bi Ismi di pindah Non, nggak di bagian produksi lagi, nggak jahit-jahit lagi” “Pindah di kantornya Non, Bi Ismi kan lulusan SMA waktu itu” “Jaman dulu, lulusan SMA itu juara Non, gampang untuk nyari kerjaan” “Karena itu Bi Ismi pindah di kantor, pegang keuangan di sana, diajari sama yang senior” “Bi Ismi seneng banget bisa kerja di kantornya, karena itu Bi Ismi bertekad untuk benar-benar serius pas kerja, teliti, dan hasilnya Bi Ismi dalam waktu dekat bisa menguasai kerjaan baru itu Non” “Bi Ismi disukai sama atasan karena kerjanya Bi Ismi bagus, teliti, jarang ada salahnya” cerita Bi Ismi penuh semangat “Tapi di setiap ada yang bahagia, pasti ada yang syirik Non” Bi Ismi mulai melemah suaranya saat itu “Ada pegawai yang syirik sama Bi Ismi, Dia nggak suka liat Bi Ismi yang awalnya kerja di produksi, bisa pindah di kantor, disukai atasan juga” “Bi Ismi difitnah Non” “Pegawai itu berusaha untuk jatuhin Bi Ismi” “Dia sengaja mengambil beberapa uang milik kantor dan disembunyikan di lacinya Bi Ismi, untuk fitnah Bi Ismi” “Pas rapat, laporan keuangan bulanan ada selisih” “Pegawai itu langsung nuduh Bi Ismi ambil uang pabrik di depan banyak orang Non” “Awalnya Bi Ismi nggak khawatir, karena Bi Ismi memang nggak ambil uang itu” “Atasan Bi Ismi juga percaya kalau Bi Ismi nggak mungkin sampai mengambil uang pabrik” “Tapi, pegawai sirik itu tetap kekeh menuduh Bi Ismi, bahkan berani nantang ke atasan Bi Ismi untuk membuktikannya, memeriksa laci Bi Ismi” “Atasan Bi Ismi akhirnya terpengaruh juga, dan setuju untuk memeriksa lacinya Bi Ismi” “Di luar dugaan, ternyata di lacinya Bi Ismi memang ada uang yang selisih itu, Non” “Atasan Bi Ismi marah besar saat menemukan uang tersebut di lacinya Bi Ismi” “Seketika Bi Ismi langsung dipecat, Non” cerita Bi Ismi sambil mengusap air matanya Terlihat wajahnya yang sangat sedih saat menceritakan hal tersebut kepada Dini. Dini merasa bersalah dengan pertanyannya yang ingin tahu pengalaman kerja Bi Ismi sebelum bekerja di rumahnya Dini, Bi Ismi menjadi sedih. Dini tidak menduga jika Bi Ismi mempunyai pengalaman yang sedih tentang pekerjaannya dulu “Bi Ismi dipecat tanpa mendapat gaji terakhir Non” “Bi Ismi jadi trauma Non, untuk kerja di kantor lagi” “Nggak kuat fitnahnya, Non” “Sejak saat itu Bi Ismi pilih kerja lain, selain pabrik, Non” ungkap Bi Ismi “Keluar dari pabrik, pernah kerja jaga toko sembako, tapi lumayan capek, Non” “Wira wiri ngelayani pembeli, nimbang beras, nimbang telor, belum kalau ada yang kirim barang, angkat-angkat juga” “Akhirnya K.O deh Non” cerita Bi Ismi sambil senyum “Sempat sakit seminggu pas kerja di toko dapat sebulan” kembali Bi Ismi bercerita “Tapi dari kerja itu, Bi Ismi ketemu jodoh” kata Bi Ismi “Wah, suaminya Bi Ismi gitu, maksudnya, Bi?” tanya Dini kepada Bi Ismi “Iya Non, suaminya Bi Ismi kerja sopir di agen, suka anter barang ke tempat kerjanya Bi Ismi, karena sering ketemu, sering bantu angkat-angkat, jadi suka ngobrol, dan dilamar deh” erita Bi Ismi dengan senyumnya yang malu-malu “Nggak pacaran, Bi?” kembali tanya Dini kepada Bi Ismi “Nggak Non, ya sempat ragu sih Non” “Kenalnya pas di toko itu, ketemunya ya pas Bapak kirim barang, ngobrol, lama-lama jadi suka” “Pas dilamar, Bi Ismi tanya ke orangtua, cerita-cerita gimana orangnya, aslinya dari mana, ketemunya dimana” “Anehnya Bapak Ibu Bi Ismi ngerasa cocok walaupun cuma dengar dari cerita Bi Ismi, dan minta ketemu” “Suami Bi Ismi waktu itu ya menyanggupi untuk ngomong langsung sama orangtua Bi Ismi” “Ketemu pertama, orangtua Bi Ismi setuju kami menikah” “Ketemu kedua keluarga, juga saling menyetujui” “Enam bulan kemudian, Bi Ismi menikah sama Bapak” “Bi Ismi sempat ragu, Bi Ismi doa aja waktu itu, jika memang berjodoh, kita dimudahkan” “Syukurlah, semua berjalan dengan baik dan lancar, kendala bisa diatasi” “Rumah tangga kami adem ayem, sampai Bapak meninggal lima tahun yang lalu, jadi jodoh sampai maut” kenangnya sambil tersenyum Dini ikut terharu dengan cerita Bi Ismi, dari pekerjaan berlanjut sampai cerita pernikahannya “Senangnya Bi Ismi dapat suami seperti Bapak, tanpa pacaran lagi nikahnya, bisa langgeng sampai akhir hayat” puji Dini kepada Bi Ismi “Ya yang namanya ujian pasti ada Non, semua pasangan pasti mengalami, cuma bagaimana setiap pasangan untuk mengatasinya, berbesar hati dan saling memaafkan” pesan Bi Ismi “Non Dini juga bisa kok dapat jodoh orang baik, yang saling melengkapi” kata Bi Ismi kembali pada Dini “Berdoa Non, dan jangan lelah jadi orang baik, Bi Ismi percaya, jika Bi Ismi berbuat baik, Tuhan juga akan memberi yang baik kepada Bi Ismi” “Bi Ismi terus belajar memaafkan orang-orang yang pernah jahat sama Bi Ismi, Bi Ismi jalani saja apa yang ada di depan, sambil terus berdoa meminta kebaikan untuk kehidupan Bi Ismi” cerita Bi Ismi “Percaya pada setiap ketentuan dari Tuhan, meskipun terkadang kita harus sakit dulu, sedih dulu, berprasangka baik kepada Tuhan” “Dulu Bi Ismi sempat sedih banget Non, pas Bibi difitnah, di PHK, nggak digaji, sedihnya luar biasa Non” “Bi Ismi merasa sudah bekerja dengan baik, bekerja dengan jujur, melakukan yang benar, baik pada semua teman di kantor, kenapa Bi Ismi harus dapat fitnah keji seperti itu, kehilangan kepercayaan” “Sempat Bi Ismi nganggur sebulan dirumah, malas mau bergerak, malas cari kerja lagi, takut difitnah lagi” “Sampai akhirnya Ibunya Bi Ismi, berpesan pada Bibi” “Sesedih apapun kita, kita wajib untuk terus berprasangka baik kepada Tuhan” “Semua kesedihan, kesulitan pasti ada hikmahnya, untuk melatih kita menjadi pribadi yang lebih baik” “Dan memang benar, andai Bi Ismi masih kerja di kantor, mungkin Bi Ismi nggak bakal ketemu sama suami yang baik, seperti Bapak” “Bi Ismi nggak bakal kerja di rumah Non Dini dan bisa bercerita seperti sekarang ini sama Non Dini” kata Bi Ismi sambil senyum “Iya juga ya Bi” kata Dini membenarkan ucapan Bi Ismi kepadanya “Hmm... terus berprasangka baik kepada Tuhan” ucap Dini “Gitu ya Bi?” tanya Dini kepada Bi Ismi “Heem Non” “Terus belajar jadi orang baik, Non” pesan Bi Ismi kepada Dini “Iya Bi, Dini akan ingat terus pesan Bi Ismi tadi” “Terus belajar jadi orang baik, jangan lelah jadi orang baik, Non” pesan Bi Ismi Dini mengangguk mendengar pesan dari Bi Ismi, di dalam hatinya ada rasa lega bisa berbicara santai seperti ini dengan Bi Ismi “Wah seru banget cerita begini sama Bi Ismi” “Seneng deh punya Ibu yang bisa diajak cerita begini kayak Bi Ismi” kata Dini kepada Bi Ismi “Saling bertukar pengalaman” “Bisa jadi teman cerita yang seru menyenangkan” kembali Dini berkata “Lah, memangnya sama Ibu nggak cerita-cerita begini Non?” tanya Bi Ismi kepada Dini “Dini sama Ibu, selama ini cerita nya tentang sekolah, nilai, ujian” “Dini pernah coba mengawali cerita tentang teman-teman di sekolah, responnya Ibu datar, biasa saja” “Beda kalau Dini cerita tentang nilai-nilai sekolah, lomba cerdas cermat, cita-cita, responnya langsung baik, perhatian sama Dini” “Sejak saat itu, Dini nggak pernah cerita-cerita hal lain selain sekolah dan nilai, Bi” kata Dini bercerita “Ibu juga tidak pernah tanya tentang teman-teman Dini, bagaimana Dini hari ini, ada kejadian apa, cerita tentang pengalaman dulu juga tidak pernah” “Cukup tahu, sekolah Dini baik, dapat nilai bagus, jadi kebanggan orangtua, lainnya Ibu tidak mau tahu sepertinya” ungkap Dini tentang isi hatinya yang selama ini Ia pendam Bi Ismi cukup terkejut dengan penuturan Dini. Selama ini, majikan dan anaknya terlihat dekat, akur, saling sapa, saling peluk. Ia tidak menduga jika anak perempuannya mempunyai perasaan canggung kepada Ibunya sendiri
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN