bc

Payung

book_age18+
0
IKUTI
1K
BACA
others
drama
spiritual
like
intro-logo
Uraian

Syandini menjalani kehidupannya dengan baik dan sempurna. Namun semuanya berubah, ketika dengan mudahnya Dia melepaskan harta terbesarnya sebagai wanita kepada pria yang Dia percaya. Namun, pria tersebut menghindar dari tanggung jawab, bahkan keluarga nya pun meninggalkannya. Setelah perubahan besar yang Dia alami dalam hidupnya, mampukah Dini bertahan

chap-preview
Pratinjau gratis
Pilihan
Hujan deras mengguyur malam ini, terasa segar. Aroma yang menenangkan, namun tidak bisa menghentikan betapa galaunya hatinya saat ini. Kemana ku akan pergi, tak tahu arah. “Tuhan, inikah hidupku yang Kau gariskan?” bisiknnya lirih “Tuhan” pekiknya dalam hati “Nak, Nak, kenapa hujan-hujan di luar malam-malam begini?” terdengar suara seorang wanita “Nak, ada apa?” tanyanya lagi “Ayo ikut saya.” Ajak perempuan tersebut, sambil menarik lenganku perlahan, menuntunku berjalan, berbagi payung bersamanya. Wajahku tertunduk, tidak tahu harus kemana lagi, entah mengapa kakiku begitu ringan ketika melangkah di dekapannya. Tangannya basah terkena hujan, namun begitu hangat di kulitku. Tidak berani ku menatapnya, hanya menikmati hangat dekapannya. Sesaat ku merindukan Ibu. Sedangkan perempuan tersebut terus berjalan, berbagi payung dengan gadis yang ia temui di jalanan, pinggir trotoar yang sepi, terdengar jelas suara tangisannya, beradu dengan suara derasnya hujan. Dengan susah payah Dia menarik seorang gadis muda yang menangis di tengah guyuran hujan. Tak tahu apa sebabnya, yang Ku tahu gadis ini harus segera berteduh di tengah guyuran hujan yang deras. Menuntunnya berjalan, menyusuri hujan, berbagi payung, kami terus melangkah. Sampailah di rumah sederhana. Kududukkan ia di kursi teras, segera kuambilkan handuk kering untuknya. “Boleh ku keringkan rambutmu? Tanyaku padanya Gadis ini terdiam, tanpa mengeluarkan suara, hanya anggukan sebagai tanda setuju. Tangan wanita ini terasa hangat, mengelap lembut rambut basahku. “Ayo, kuantar ke kamar mandi, bersihkan tubuhmu” suaranya begitu lembut “Sudah kusiapkan baju ganti, tidak bagus, namun bersih, kau bisa memakainya” kembali wanita itu berucap. Suara wanita ini begitu lembut, sesekali ku menatap wajahnya, teduh, itu yang bisa kutangkap. Dengan sesekali senyum yang mengembang. Ku menuruti perkataannya, melangkah mengikutinya ke kamar mandi. Kamar mandi ini sederhana, namun sangat bersih, terlihat pemilik rumah sangat mencintai kebersihan, meskipun rumahnya sederhana. Aku pun sudah berada di kamar mandi. Spontan Ku nyalakan kran air, spontan mata ini kembali menangis, air mataku mengalir. “Hancur” saat ini perasaanku begitu hancur Kubiarkan air mengaliri rambutku, dengan terus duduk di lantai kamar mandi, masih menangis. Cukup lama ku berada di kamar mandi, dengan terus menangis. Tok, tok, tok. “Apakah belum selesai?” Tanya suara di depan kamar mandi Kusudahi tangisanku, segera mengelap tubuh dengan handuk. Tatapanku nanar tertuju pada perut. Kutahan air mata ini, hatiku pedih. “Sudah, Bu” jawabku sambil membuka pintu kamar mandi Senyum kembali mengembang, di wajah teduhnya. “Kemarilah, mari kita makan bersama” ajak nya kepadaku Kulihat meja makan, ada sayur bayam dan potongan jagung, terlihat lezat. “Silahkan, makanlah” tawarkan ia kepadaku “Tidak perlu sungkan, ayo makanlah” kembali ia berkata padaku Ku ambil sedikit nasi dan menambahkan sayur bayam serta potongan jagung. Rasa kuahnya segar, persis dengan masakan sayur bayam, Ibuku. Ah, Ibuku, ku merindukanmu. Dengan hati-hati ku makan, dan menggigit potongan jagung. “Kamu, sepertinya suka jagung ya, atau kamu sedang lapar, sehingga masakan sederhana ini begitu lezat untuk dimakan?” tanya nya kembali Hanya anggukan dan sedikit senyuman, untuk menjawab pertanyaannya.  “Bolehkan, ku bereskan, atau apakah ada yang akan makan lagi?” tanyaku memulai percakapan Sungkan rasanya, wanita ini begitu baik padaku, memberi tempat berteduh, berbagi makanan, tapi ku hanya diam dan sedikit anggukan setiap kali ditanya. “Kau bisa melakukannya, silahkan, lagipula Aku juga sudah cukup lelah, dapurnya di sebelah kamar mandi, bisa tolong simpan dengan baik beberapa makanan yang tersisa, ya?” Jawabnya “Tentu” jawabku “Terima kasih” jawab perempuan pemilik wajah teduh Rumah ini sederhana, namun sangat rapi dan bersih, tidak sulit bagiku untuk menemukan dapur dan membereskannya. Selesai membersihkan meja makan, ku duduk di teras, terlihat lantai dan kursi masih sedikit basah karena tubuhku yang basah saat datang tadi. “Siapa, namamu?” tanyanya membuyarkan lamunanku “Dini, Bu” jawabku singkat “Kamu bisa memanggilku, Bu Asri” sambil senyum dia memperkenalkan diri “Baik, Bu. Maafkan aku, Bu Asri, kursi Anda menjadi basah” kataku mencoba meneruskan percakapan kami “Ah, tidak masalah. Nanti juga kering” jawabnya “Ini sudah malam, bermalamlah disini, ayo ikut aku” kata Bu Asri Kami berjalan melewati samping rumah, dan tidak kusangka rumah ini ternyata besar, halamannya lapang. Bangunan rumah sederhana, namun memiliki halaman yang lapang, bisa untuk bermain sepak bola, pikirku. Terlihat bangunan rumah lainnya, kami memasukinya. “Assalamualaikum, anak-anak” kata Bu Asri saat membuka pintu “Walaikumsalam, Ummi” terdengar jawaban yang begitu ramai Terlihat banyak anak kecil, beberapa anak remaja, mereka bergantian dengan rapi menyalami Bu Asri. Apakah anak-anaknya? Atau, apakah tempat ini panti asuhan? “Anak-anak, perkenalkan, Ini Mbak Dini, untuk sementara Mbak Dini menginap disini” “Kalian masih ingat, bagaimana memperlakukan seorang tamu?” tanyanya “Ingaattt, Ummi” jawab anak-anak ini kompak “Pintar sekali, anak-anaknya Ummi” jawab Bu Asri “Sarah, bisa kah kamu berbagi kamar dengan Mbak Dini?” tanya Bu Asri pada gadis muda nan ayu “Bisa, Ummi” jawab pemilik nama Sarah tersebut “Tolong antarkan ke kamar untuk beristirahat ya, Sarah” kata Bu Asri “Anak-anak yang lain, langsung persiapan tidur, sudah jam delapan lhooo” kata Bu Asri sambil menghampiri anak-anak kecil yang asyik bermain Tatapanku begitu sibuk melihat sekelilingku, bangunan ini memiliki kamar yang cukup banyak. Dinding penuh dengan coretan yang sudah pasti coretan tangan anak kecil. Ada yang bergambar, ada pula yang tulisan abjad, bahkan ada tulisan tangan berupa tabel perkalian di satu sisi dinding bangunan ini. Terlihat sekali, anak-anak disini diberi kebebasan mengekspresikan tingkah polahnya. Ada banyak rak buku lengkap dengan tumpukan buku-buku yang berjajar rapi, lengkap pula dengan tumpukan mainan di dalam wadah plastik besar. Namun, tatapanku tertarik pada lemari kaca, dimana terlihat barisan piala dan piagam, dan foto-foto di dalamnya. Sepertinya anak-anak disini berprestasi. “Dini, ikutlah dengan Sarah, beristirihatlah” suara Bu Asri membuyarkan pandanganku yang terpukau dengan lemari isi piala tersebut “Kamu bisa sekamar dengannya. Ibu harap kamu nyaman dan bisa menenangkan diri disini” Kata Bu Asri, selalu dengan senyum dan wajah teduhnya. Mari Mbak Dini, kuantar ke kamar” jawab pemilik nama Sarah tadi “Baik, Bu Asri. Terima kasih, Bu” jawabku dengan senyuman. Ku mencoba tersenyum, meskipun hatiku pedih. Namun setidaknya, sementara ku bisa menjernihkan pikiran di sini Aku dan Sarah berjalan melewati lorong dimana sisi kiri dan kanan penuh dengan kamar-kamar. Sampailah kami di sebuah kamar dengan pintu bercatkan coklat. Sarah membuka pintu tersebut “Kamarnya disini, Mbak” kata Sarah “Berisitirahatlah, Mbak Dini, namaku Sarah” katanya sambil mengulurkan tangan menawarkan jabatan tangan “Terima kasih, Sarah” jawabku sambil menerima jabatan tangannya “Mbak Din, kutinggal dulu ya, tugas menidurkan adik-adik” jawab Sarah sambil tersenyum, manis “Iya, Sarah, terima kasih” jawabku Pintu kamar tertutup, aku seorang diri di kamar sederhana ini. Kamarnya tidak luas, namun barang-barang tertata rapi. Ada tumpukan buku, sebuah foto dan tas ransel di meja tersebut. “Tas sekolahnya sudah siap” pikirku saat melihat sebuah tas ransel di meja tersebut. “Sarah sudah menyiapkannya untuk sekolah besok” kataku dalam hati Melihat barang-barang di kamar ini, ingatanku kembali saat di bangku sekolah dulu. Akupun melakukan hal yang sama seperti Sarah, menyiapkan buku dan peralatan sekolah di meja belajar. Tanda siap untuk sekolah keesokan harinya. Tanpa disadari aku melamun seorang diri. Hingga terdengar suara pintu terbuka “Lho, Mbak Dini belum tidur?” tanya Sarah sesaat setelah kembali ke kamar “Belum, Sarah, belum mengantuk” jawabku pada Sarah “Ah masa iya!” kata Sarah menimpali “Matanya sudah merah merona begitu?” kembali Sarah bersuara Spontan ku tersenyum mendengar kata-katanya “Adik-adik sudah pada tidur, Sarah?” tanyaku mencoba mengakrabkan diri dengan Sarah “Beres donk” jawabnya lepas sambil merebahkan diri di kasur “Capek ya, Sar?” tanyaku pada Sarah kembali “Ah, sudah biasa, mbak, tiap malam ya begini” jawabnya “Adik-adik mu gampang tidurnya ya?” kembali ku bertanya “Nyatanya enggak” jawabnya sambil senyum “Ada yang harus dongeng dulu sampai 100 episode, baru merem” kata Sarah “Ada yang pakai digendong sampai pundak rasanya syahdu aduhai” kembali Sarah berkata “Ada juga yang dengar langkah kakiku masuk kamar, langsung bergerak tarik selimut, baca doa, merem” jawabnya sambil senyum “Namanya juga anak kecil, ada saja tingkahnya” kata Sarah Senyumku mengembang mendengar Sarah bercerita. Sesaat lupa akan kesedihan di hatiku. “Sarah tidur dulu ya, Mbak Din” ucap Sarah sambil perlahan memejamkan mata “Iya, Sar” jawabku pelan Perlahan ku amati wajahnya, gadis muda bernama Sarah yang ramah, mengajakku ngobrol riuh. Sifatnya ceria, masa mudanya pasti membahagiakan, pikirku Perlahan kubaringkan tubuhku diatas kasur, mencoba memejamkan mata, disamping Sarah yang sudah tertidur pulas. Keesokan harinya Dini tertidur pulas semalam, Dia begitu lelah setelah cukup lama menangis. Tidurnya terbangun setelah mendengar suara riuh. Matanya perlahan terbuka “Ramai sekali, suara apa sih” pikir Dini sambil mencoba bangun dan melihat sekelilingnya, mencari jam “Jam 4, masih jam 4 sudah ramai begini” batin Dini terheran mendengar suara riuh dari luar kamarnya. Dini menyadari, Sarah sudah tidak ada dikasurnya “Sarah sudah bangun jam segini” kata Dini Dini mencoba berdiri meskipun kepalanya terasa pening, membuka pintu kamar, mencari tahu dari mana asalanya suara riuh tersebut. Dari lorong kamar ini, langkahnya asal berjalan dan berhenti di sebuah ruangan yang cukup luas dan terlihat pemandangan yang mengusik hatinya. Pemandangan sholat berjamaah. Anak-anak berbaris rapi dan melakukan sholat berjamaah. “Sholat?” gumamnya “Suara riuh tadi mungkin karena mereka harus bangun dan melakukan Sholat ini” pikir Dini “Aku bahkan sudah lama tidak melakukannya, meskipun itu ibadah agamaku” gumam Dini dalam hati Dini terus memandang anak-anak yang sedang sholat berjamaah, sampai selesai. Setelah selesai, anak-anak pun bergantian meninggalkan tempat tersebut. Terlihat mereka berkerumun sambil membawa handuk. “Mbak Din sudah bangun” sapa seorang gadis lembut padanya sambil menepuk pundak Dini Dini menoleh ke sumber suara, dan melihat wajah seseorang yang baru dikenalnya semalam, Sarah. “Eh, iya, Sarah” jawab Dini “Mbak Dini kenapa juga duduk disini, di kamar saja nggak apa-apa”kata Sarah “Dikamar sepi, Sarah, sendirian” jawab Dini Mendengar jawaban dari Dini, lantas Sarah menawarkan sesuatu pada Dini “Hmm, mau ikut Sarah?” tanya Sarah pada Dini “Boleh Din” jawab Dini “Hayuk kalau gitu” kata Sarah sambil meraih tangan Dini, mengajaknya melakukan sesuatu Mereka berhenti di sebuah ruangan yang cukup luas, lengkap dengan peralatan memasak, Dapur. “Mbak Dini bisa duduk disini, atau kalau mau membantu kita memasak, ya ayo aja” kata Sarah sambil memberi Dini kursi untuk duduk Terlihat beberapa remaja perempuan sibuk menyiapkan masakan, ada yang memotong sayuran, menggoreng lauk dan menyiapkan alat makan “Masak apa, Sarah?” tanya Dini penasaran “Menu hari ini Sayur Asem, Mbak Din” jawab Sarah sambil memotong daun kangkung “Asemnya lebih enak kalau pakai Belimbing Wuluh, seger” kata Dini Tiba-tiba muncul dari belakang suara hangat yang dikenal oleh Dini “Lha ini Belimbing Wuluhnya siap, Din” kata Bu Asri sambil menunjukkan keranjang berisi penuh Belimbing Wuluh “Bu Asri” sapa Dini kepada Bu Asri “Dini suka masak ya di rumah?” tanya Bu Asri “Iya dulu, sama Ibu” jawab Dini “Sayur Asem banyak pilihannya, ada yang suka pakai Asem saja, ada juga yang suka pakai belimbing wuluh, sesuai selera” kata Bu Asri “Kalau Ibu, memang biasanya pakai Belimbing Wuluh, Din” “Terasa seger” kata Bu Asri “Dan Asem” sahut Sarah sambil senyum “Disini, jam 4 subuh sudah ramai, Din, jangan kaget ya” kata Bu Asri sambil tersenyum “Anak-anak sholat Subuh jamaah, lanjut mandi, yang remaja bergiliran, ada yang bersih-bersih, ada yang memasak, ada pula yang mengurusi balita, setelah itu lanjut sarapan bersama, dan siap-siap sekolah” cerita Bu Asri tentang anak-anak di rumahnya “Nanti kalau sudah jam 7 pagi, lumayan sepi, pada berangkat sekolah, tinggal yang bocil-bocil” senyum Bu Asri “Bu, incip-incip, sudah asem atau bagaimana” sahut Sarah Bu Asri mengambil sendok, dan mengincipi masakan di panci tersebut “Hmmmm, segar sekali, sudah pas” jawab Bu Asri “Tahu tempenya apa sudah matang?” tanya Bu Asri pada gadis remaja yang sibuk menggoreng sesuatu di wajan “Tinggal satu gorengan ini, Bu” jawab remaja tersebut “Ok, nasinya?” tanya Bu Asri kembali “Siap, Bu” jawab gadis muda lainnya yang sibuk mengisi termos dengan nasi “Siap, lanjut mandi dan siap-siap sekolah ya” kata Bu Asri kepada gadis muda di dapur tersebut “Siap, Bu” jawab mereka serempak Kumpulan remaja tersebut bergantian meninggalkan dapur dan melanjutkan kegiatan lainnya. Bu Asri menyiapkan piring dan peralatan lainnya. “Boleh Dini bantu, Bu?” tanya Dini menawarkan bantuan kepada Bu Asri “Silahkan Dini, bisa disiapkan sendok bersihnya, Din” jawab Bu Asri “Siap Bu” kata Dini sambil menyiapkan beberapa sendok diletakkan di wadah plastik Tiga puluh menit kemudian, kerumunan anak-anak mulai masuk ke meja makan besar. Meja makan yang sangat besar, cukup untuk menampung anak-anak di sini untuk sarapan bersama. Terdengar riuh suara anak-anak tersebut. Sayup-sayup Dini mendengar percakapan mereka. Ada yang membahas tugas sekolah dan ada yang membahas pertandingan sepak bola. Mendengar suara anak-anak tersebut, hati Dini menjadi lebih hangat. “Anak-anak ini mungkin tidak memiliki keluarga lengkap seperti diriku, namun mereka bisa bahagia dan tersenyum manis, kenapa aku tidak?” gumam Dini dalam hatinya “Terserahlah, apa yang akan terjadi nantinya” “Yang pasti, ini keputusanku” “Aku juga tidak akan menyerah dan terus bahagia seperti anak-anak didepanku saat ini” “Aku pasti bisa” Dini mencoba bertahan dan menyemangati dirinya sendiri. Seolah tak peduli dengan apa yang akan Dia hadapi kedepannya setelah ini. Ini keputusanku.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

FATE ; Rebirth of the princess

read
36.0K
bc

Rise from the Darkness

read
8.6K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.0K
bc

Rebirth of The Queen

read
3.7K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
41.1K
bc

TERNODA

read
198.9K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook