Rumah Bu Asri mulai sunyi setelah anak-anak berangkat sekolah, hanya ada beberapa balita yang terlihat asyik bermain dengan para pengasuhnya. Dini duduk di teras rumah, memandangi halaman yang penuh dengan tanaman bunga, terlihat beberapa kupu-kupu beterbangan di sekitar taman bunga tersebut. Saat sedang asyik memandangi taman tersebut, Bu Asri tiba-tiba menepuk pundaknya.
“Kok ngelamun, Din?” tanya Bu Asri sambi menepuk pelan pundak Dini
“Eh, Emmh, Bu Asri, bunga-bunganya sedang mekar, Dini senang melihatnya” jawab Dini sambil tersenyum
“Bu Asri boleh duduk disampingmu, Din?” tanya Bu Asri kembali
“Boleh, Bu” jawab Dini sambil menggeser letak duduknya
Bu Asri pun duduk di sebelah Dini, ikut memandangi barisan bungan di depan nya.
“Rumah ini, tempat yayasan Din, rumah untuk untuk anak-anak yatim” Bu Asri memulai percakapan dengan Dini
“Jangan panik ya, jika mendengar suaranya yang riuh dan ramai” kata Bu Asri sambil tersenyum
“Jam sekolah begini, lumayan sepi, Din, pada sekolah, sisa yang mungil-mungil ini” kata Bu Asri sambil menunjukkan sekumpulan balita sedang bermain di ruang tengah
“Yang mungil-mungil ini ada asisten yang membantu mengurus nya, tapi asisten membantu sampai jam 5 sore, selebihnya anak-anak yang sudah remaja bergantian menjaganya, termasuk saat jam tidur malam” kata Bu Asri kembali menjelaskan rumah yayasannya
Suasana hening sesaat Bu Asri berhenti bercerita mengenai rumah yayasannya. Dini mencoba menolehkan kepalanya dan bisa melihat Bu Asri nampak memandang tanaman-tanamannya. Dini ragu ingin memulai berbicara dengan Bu Asri, namun bisakah Bu Asri menolong nya saat ini?
Dini pun terdiam, sibuk dengan pikirannya
“Bu?” sapa Dini
“Iya, Din” jawab Bu Asri dengan tatapan yang teduh, membuat Dini rindu dengan Ibunya
“Din, ni, izin Bu” jawab Dini ragu-ragu
“Izin apa, Din?”
“Kayak sekolah saja, pakai izin!” jawab Bu Asri
“Dini, hmmm”
“Dini, izin sementara menginap di rumahnya Bu Asri, apakah diperbolehkan?”
Entah dari mana kekuatan itu muncul, kekuatan yang meyakinkan Dini untuk mengatakan niatnya tinggal sementara di rumah Bu Asri
Bu Asri tersenyum hangat mendengar pertanyaan Dini
“Tentu saja boleh, Din”
“Dini mau menginap berapa lama?”
“Tarifnya empat ratus ribu semalam, belum termasuk makan sehari tiga kali, ya” jawab Bu Asri sambil tersenyum
“Baik” jawab Dini mantap
“Bu Asri hitung saja berapa malam Dini menginap, nanti Dini bayarkan uangnya” jawab Dini mendengar kata-kata Bu Asri
“DP di depan ya, buat bayar listrik” sahut Bu Asri
“Siap, Bu” sahut Dini kembali
Percakapan mereka diam sesaat, lalu tiba-tiba
“Hahahaha” Bu Asri tertawa renyah
“Kamu serius Din, mau bayar sewa ke saya” tanya Bu Asri sambil tersenyum manis
“Serius, Bu” jawab Dini
“Emmm, tapi”
“Kalau tarifnya semalam segitu, kemahalan Bu, ndak mampu saya”
“Hitung perbulan saja ya, Bu, anggap Dini kos disini” tawar Dini
“Hahahahah” Bu Asri kembali tertawa renyah
Bu Dini memegang tangan Dini dan berkata
“Din, Ibu ndak tau, Dini ini anak baik atau tidak”
“Tapi, Dini boleh menginap disini”
“Tidak perlu memikirkan biaya sewa, ini dan itu”
Dini bingung mendengar jawaban Bu Asri. Bingung bagaimana menyikapinya. Ada perasaan lega, setidaknya untuk sementara Dia tidak terlantung-lantung, Dia sendiri bingung mau kemana lagi. Namun, ada perasaan ragu dihatinya. Hatinya berkata, Dia harus jujur pada Asri, tidak peduli setelahnya apakah Bu Asri bisa menerima nya atau tidak
“Bu, ada yang harus Bu Asri ketahui tentang saya” kata Dini mencoba memulai kejujurannya pada Bu Asri
“Apa itu, Din” tanya Bu Asri
Dini kembali ragu untuk mengungkap kisahnya pada Bu Asri, mungkinkah Dia kembali terbuang?
“Yang penting, aku harus jujur pada Bu Asri, gumam Dini dalam hati
“Hmm, sebenarnya”
Dini menarik nafasnya dalam-dalam, mencoba kembali mengatur bibirnya, menyusun kata-kata untuk mengungkapkannya
“Dini, bingung dari mana memulai ceritanya, Bu”
Bu Asri menatap Dini dengan perlahan, mencoba mendengarkan dengan baik apa yang akan diucapkan oleh Dini, mencoba menguatkannya
“Jika belum bisa mengatakannya, lain waktu saja, Din”
“Sekarang, tenangkan dulu pikiranmu, beristirahatlah”
“Kapanpun Dini siap berbagi cerita, Bu Asri siapkan sepasang telinga untuk mendengarkannya” kata Bu Asri mencoba menenangkan Dini yang ragu-ragu untuk berbagi cerita
“Semoga suasana di rumah ini bisa menenangkan pikiranmu, ya Din” kembali Bu Asri berkata kepada Dini
Dini tertunduk, kembali termenung. Bu Asri sepertinya mengetahui keraguan dihatinya untuk bercerita.
“Din, jangan dijadikan beban”
“Baru juga ketemu semalam, ajaib dong kalau langsung curhat-curhatan”
“Pedekate aja dulu”
“Nanti juga akan datang waktunya bagi kita untuk bisa saling nyaman satu sama lain”
“Romantis gitu, Din” ucap Bu Asri sambil tersenyum
“Hehehe, Bu Asri” jawab Dini
“Din, Bu Asri keluar dulu ya, mau ke toko”
“Bu Asri mau belanja, perlu Dini temani?” tawarkan Dini pada Bu Asri
“Bukan belanja Din, Bu Asri dagang di pasar, cari rejeki buat anak-anak”
“Sampai jam berapa Bu?” tanya Dini
“Jam lima sore, Din, kasihan anak-anak kalau lama-lama ditinggal” jawab Bu Asri
"Ngobrol-ngobrol sama mbak pengasuh, Din, biar tidak bosen"
"Nanti jam dua belasan anak-anak sudah pada pulang sekolah"
"Keramaian di rumah ini pun dimulai" kata Bu Asri sambil senyum
"Din, yuk kenalan sama mbak pengasuh" kata Bu Asri sambil menarik tangan Dini, mengajaknya masuk ke ruangan tengah
"Mbak-mbak, kenalin, ini Dini"
"Saudara saya"
"Dini tinggal disini"
"Ajak ngobrol ya, Mbak"
"Biar melekat gitu" kata Bu Asri sambil memperkenalkan Dini kepada pengasuh balita di yayasan ini
Seorang perempuan paruh baya berdiri mendekati Dini sambil mengulurkan jabatan tangan
"Mbak Din, saya Rinda" sapa seorang wanita bernama Rinda
"Saya Isti, Mbak" sapa wanita lain memperkenalkan diri pada Dini
"Kalau saya, Nurul, mbak"
"Saya Lusi"
Satu persatu para pengasuh balita tersebut memperkenalkan diri pada Dini
"Iya, mbak, salam kenal, sementara saya belum hafal nama-namanya, tolong saya diingatkan ya, Mbak" jawab Dini sambi tersenyum ramah dan berjabatan tangan dengan pengasuh balita tersebut
"Nah,sudah pada kenal begini, enak kan, jadi nggak canggung" kata Bu Asri sambil tersenyum melihat keramahan yang ditunjukkan Dini kepada para pengasuh balitanya
"Ya sudah, waktunya jaga toko"
"Saya pamit dulu ya"
"Saya sudah siapkan beberapa lauk untuk makan siang nanti, seperti biasa ya Mbak" kata Bu Asri
"Siap, Bu Asri" seorang pengasuh menjawab perkataan Bu Asri
"Bu Asri pergi dulu ya Din"
"Iya, Bu, hati-hati di jalan" kata Dini
Bu Asri terlebih dulu mengecup kening satu persatu balita nya
"Bocil-bocil sayang, Ummi dagang dulu ya, buat beli s**u" kata Bu Asri sambil menggendong salah satu balita dan mengecup lembut pipi balita tersebut
"Assalamualaikum" sapa Bu Asri sambil berlalu meninggalkan rumah yayasan
"Walaikumsalam" jawab kami serempak
"Baik, Bu, hati-hati di jalan, Bu" jawab Dini
"Iya" Bu Asri berlalu meninggalkan Dini dan berpamitan dengan pengasuh balita