Jarum jam menunjukkan pukul 10.00 tepat. Rumah terlihat sepi, tidak terdengar suara riuh para balita yang sebelumnya begitu riuh bermain bersama para pengasuh. Dini berjalan melihat tiap sisi rumah yayasan milik Bu Asri ini. Ada banyak kamar untuk anak-anak di yayasan. Di tengah bagian terdapat mushola, dapur yang menyatu dengan ruang makan dan deretan kamar mandi. Maklum penghuninya banyak, biar tidak antri pas mandi. Terbayang di benak Dini bagaimana riuhnya anak-anak disini saat jam mandi.
"Mbak, kok bengong" sapa seseorang dari belakang
Dini yang asyik membayangkan suasana yayasan menjadi kaget ketika disapa oleh seseorang dari belakangnya
"Eh iya, Bu" jawab Dini
"Jangan panggil Bu, Mbak saja, saya belum menikah" kata perempuan tersebut sambil tersenyum manis
"Iya, Mbak" jawab Dini mengiyakan permintaannya untuk memanggilnya dengan sebutan Mbak
"Namaku Ajeng, Mbak" jawab perempuan tersebut memperkenalkan diri
"Aku Dini, Mbak Ajeng" jawab Dini
"Mbak, saudaraanya Bu Asri ya" tanya Ajeng kepadanya
"Iya, saya saudara jauh nya Bu Asri" jawaban Dini tidak jujur, padahal Dia baru mengenal Bu Asri namun dijawab saudara
"Mbak Ajeng sudah lama di yayasannya Bu Asri?" tanya Dini penasaran
"Lumayan, Mbak Din"
"Setahun" jawab Ajeng
"Disini kerja, Mbak?" tanya Dini lagi penasaran
" Iya, mengasuh bayi disini"
"Balita disini ada enam, pengasuhnya tiga, masing-masing pengasuh mengawasi dua balita"
"Jam segini dua bayiku lagi tidur, bisa sambil cuci bajunya"
"Jadi tidak cuma sekedar mengasuh balita"
"Sambil cuci bajunya juga"
"Saya senang kerja disini, Mbak"
"Kerja disini enak, daripada jadi pembantu di tempat lain"
"Bu Asri orangnya baik, soal gaji memang kalah, pembantu di tempat lain gajinya poll, disini ya seadanya gajinya, tapi tempatnya nyaman, kerja jadi enak" jawab Ajeng menjelaskan
"Sabar juga Bu Asri orangnya, jadi betah yang kerja sama Dia" kembali Ajeng menjelaskan
Dini mendengarkan dengan baik penjelasan dari Ajeng, sambil kembali bertanya
"Mengasuh dua balita apa tidak repot, Mbak?"
"Ya tergantung Mbak Din, kalau nangisnya barengan, lumayan, salto dulu aku" jawabnya sambil terkekeh
"Kalau pas main gitu ya kadang akur, kadang berantem"
"Yang satu usia dua tahun, yang satu usia satu tahun setengah"
"Belum bisa diajak ngalah, taunya ya maen, minta s**u, pup, makan"
"Pas main kadang barengan sama balita-balita lainnya, rombongan, ricuh"
"Persis kayak Posyandu di kampung-kampung itu" kata Ajeng menjelaskan
Dini kembali penasaran, ingin mengetahui suasana di yayasan ini
"Mbak Ajeng kerja sampai jam berapa?" tanya Dini
"Sampai jam lima sore, Mbak Din"
"Balita wajib sudah mandi dan makan sebelum ditinggal pulang"
"Jam tiga sampai empat sore waktunya mandi, barengan biasanya"
"Sepulangnya pengasuh, yang remaja bisa gantian jagain adik-adik balitanya"
"Sekalian bantu adik-adik lainnya untuk belajar" Ajeng menjelaskannya dengan panjang lebar
Dini mulai bisa menikmati berbicara dengan Mbak Ajeng, penjelasannya mudah dipahami
"Mbak Ajeng betah kerja disini, Mbak?" tanya Dini
"Betah banget mbak, juragannya baik sih"
"Biarpun gajinya sedikit, tapi saya nyaman, Mbak Din" jawab Ajeng semangat
"Bu Asri juga sering bawain kita makanan, buah, camilan buat dibawa pulang kerja"
"Bu Asri sepertinya orang baik, ya Mbak" tanya Dini pelan
"Lhooo, ya buaikkk banget Mbak Din, juara baiknya" jawab Ajeng penuh semangat
Dini tersenyum mendengar jawaban penuh semangat dari Ajeng tentang Bu Asri
Dini kembali berifikir
"Sepertinya, Aku bisa berbagi cerita sama Bu Asri"
"Sepertinya Bu Asri bisa menerima keadaaanku ini" gumam Dini
Di tengah lamunannya, Ajeng menepuk pundak Dini dengan lembut, membuyarkan lamunanya
"Mbak Din, nglamun deh" sapa Ajeng
Dini terkejut dengan suara Ajeng
Heh, iya Mbak Ajeng, maaf" jawab Dini sambil senyum
"Ngobrolnya dipending dulu, Mbak, dapat jadwal masak buat anak-anak nanti siang" kata Ajeng
"Oh, iya Mbak Ajeng"
"Dini boleh bantuin, Mbak?" tanya Dini menawarkan tenaganya
"Ah, nggak usah, Mbak Dini"
"Mbak Dini tamu disini, liat-liat saja"
"Kapan-kapan boleh deh, disumbang tenaganya buat masak di dapur" jawab Ajeng
"Siap Mbak Ajeng, colek saja" jawab Dini semangat
"Beresss, tak tinggal dulu, Mbak Din" kata Ajeng sambil berlalu meninggalkannya
"Iya, Mbak" jawab Dini
Dini kembali seorang diri di teras depan rumah, Ia melihat jarum jam menunjukkan saat ini tepat jam sepuluh siang.
Henning, tidak ada suara
"Kemana balitanya?" gumam Dini
Dini mencoba mencari jawaban dengan suasana sepi dirumah ini. Berkeliling melewati lorong rumah yayasan milik Bu Asri. Terdapat banyak kamar milik anak-anak yayasan, di setiap kamar ada jendela sehingga bisa dilihat dari luar bagaimana kondisi tiap kamar disini. Dini mengintip isi salah satu kamar dari luar, terlihat kasur yang rapi, tatatanan buku rapi, sprei nya pun rapi, terlihat ada baju muslim tergantung rapi di tembok.
"Rapi sekali" gumam Dini kagum melihat isi kamar tersebut
Dini melanjutkan langkahnya, kembali Dia penasaran, dan meluangkan untuk mengintip kamar lain dari luar jendela. Mendapati isi yang sama seperti kamar sebelumnya. Rapi, tidak ada yang nampak berantakan. Dini kembali berjalan menyusuri setiap sudut di rumah ini, langkahnya berhenti pada ruangan yang cukup besar, terlihat deretan box bayi didalamnya, di lantainya ada karpet dengan tumpukan mainan tertata rapi. Pintunya terbuka, ada dua perempuan didalam ruangan tersebut sibuk melipat baju-baju anak kecil.
"Sepertinya balitanya tidur, sepi banget" gumam Dini
"Lanjut ahh, kapan-kapan saja masuk kamar balitanya, takut ganggu si kecil bobo" pikir Dini sambil melanjutkan langkahnya
Dini kembali berjalan menyusuri rumah yayasan ini, dan tercium aroma masakan yang lezat, dapur. Dini melihat Mbak Ajeng sibuk mengiris daging ayam.
Niat hatinya ingin masuk kedapur dan membantu Mbak Ajeng memasak, namun tiba-tiba tubuhnya melemas. Perutnya terasa mual, pening, seketika Ia berlari mencari kamar mandi.
Selesai mengeluarkan isi perutnya, badannya pun terasa begitu lemas.
"Dia terus bertumbuh besar, Aku harus segera melakukan sesuatu" gumam Dini
Diusapnya lembut perutnya.
"Perbuatan Ibu dan Ayah yang salah, Nak"
"Kamu tidak bersalah, Ibu akan berjuang, kita kuat bersama ya" gumam Dini sambil mengusap lembut perutnya
Dini berjalan menyusuri lorong rumah Bu Asri, mencari kamar yang semalam dia tempati. Membuka pintu kamar tersebut dan merebahkan tubuhnya di ranjang.
"Aku harus segera mencari pekerjaan"
"Untuk biaya kebutuhan sehari-hari dan menabung keperluan lainnya"
"Aku pasti bisa" semangat Dini dalam hati
"Tuhan, Aku sadar, Aku sangat hina, Aku berpaling dari Mu"
"Tuhan, bantu Aku, kuatkan langkahku, Aku harus menebusnya dengan menjaganya dengan baik"
"Tidak peduli berapa banyak orang yang mencela, mencaci, Aku masih memiliki-Mu, Tuhan"
"Hanya kepada-Mu, Tuhan, Aku bersandar" doa Dini dalam hati