Kembali Teringat

1025 Kata
Cahaya langit sore menembus sela-sela jendela. Mencoba menembus sudut mata, seolah berusaha mengganggu pandangan. "Jam setengah lima?" "Aku ketiduran" pekik Dini bergegas bangun setelah melihat jarum jam menunjukkan sudah setengah lima "Mbak Dini sudah bangun?" sapa seseorang dengan lembut "Sarah" "Mbak ketiduran" "Sudah sore banget lagi" kata Dini Sarah mendekati Dini di ranjangnya "Mbak Dini kelihatannya lelah, tidurnya tadi pulesss banget" kata Sarah "Sambil sedikit ngorok" bisik Sarah di telinga Dini Dini terkejut mendengar ucapan Sarah "Yang bener, Sar" "Masa sih, ngorok?" pekik Dini tak percaya dengan ucapannya Sarah Sarah tersenyum menahan tawa "Sedikit" ucap Sarah "Ihhhh, malu dong" kata Dini sambil menutup mukanya dengan bantal "Ah, ngapain malu sih, mbak" "Wajar lah orang tidur, ngorok, ngiler" kata Sarah menimpali "Sangat Alami" kembali Sarah berucap "Sudah, Mbak Din" "Debatnya nanti lanjut lagi, mandi dulu sana" "Kamar mandinya sudah sepi, sudah pada mandi semua, tinggal Mbak Dini yang belum" kata Sarah "Ih tambah jorok dong, sudah ngorok belum mandi lagi" jawab Dini sambil berdiri merapikan kasur nya, dan mengambil handuk untuk bergegas mandi Dini melangkah menyusuri lorong menuju kamar mandi. Terlihat ada sepuluh kamar mandi saling berhadapan. Tercium aroma wangi sabun. "Anak-anak kalau pas jam mandi pasti riuh, sayangnya Aku malah tertidur" gumam Dini Selesai membersihkan diri, Dini kembali kamar dan melihat Sarah masih di kamar "Ngerjain apa, Sar" sapa Dini "Biasa, PR" jawab Sarah "Nggak dikerjain nanti aja Sar, pas malem" tanya Dini "Nanti malam jamnya belajari adek sambil jaga bocil" jawab Sarah sambil membereskan buku-buku di mejanya "Lho, sudah selesai, Sar?" tanya Dini "Beres, dong" jawab Sarah "Kamu kelas berapa Sar?" tanya Dini "Kelas tiga SMA, Mbak Din?" "Hmm, lulus sekolah mau lanjut, Sar?" tanya Dini kembali "Pengennya Mbak Din, tapi kasihan Ummi, biayanya pasti mahal" jawab Sarah "Berjuang, Mbak Din, biar dapat beasiswa" "Jadi, tetap bisa kuliah, biayanya ringan" kata Sarah "Yakin?" tanya Dini "Beasiswa itu susah banget, lho" kata Dini "Dicoba dulu Mbak Din, kalau gagal, Sarah bisa kerja saja" "Nanti perlahan Sarah bisa kuliah swasta sambil bekerja, jadi tetap nggak beban di Ummi" jawab Sarah Dini tersenyum melihat semangat Sarah yang begitu besar dalam pendidikan "Nanti kalau sudah kuliah, jaga diri baik-baik ya, Sar" "Fokus saja dulu sama kuliahmu, jangan biarkan godaan datang" pesan Dini kepada Sarah sambil mengusap pundaknya "Jangan seperti Aku, kuliah belum beres sudah begini" gumam Dini dalam hati "Siap, Mbak Din" jawab Sarah sambil berdiri dari tempat duduknya "Mbak Din, Sarah kedepan dulu ya" kata Sarah sambil melangkah pergi meninggalkan Dini Kamar terasa sepi setelah Sarah keluar. Pikiran Dini melayang, teringat sesuatu Minggu pagi, Dini melihat bayangan dirinya dalam pantulan kaca. Tersenyum, membayangkan betapa indahnya hari ini. Hari ini Dia ada janji bertemu dengan seseorang. Seseorang yang membuat senyumnya begitu manis. Setelah berpamitan pada kedua orang tuanya, Dini menuju mobil yang telah Ia pesan melalui aplikasi online menuju tempat bahagianya. Begitu sampai, kakinya melangkah mencari seseorang. Tatapan mataku berhenti pada sosok pria gagah dengan kaos berwarna navy dan celana jeansnya, seseorang yang sangat Ia kenal. “Senyum tak bisa disembunyikan, tak bisa ku tutupi kebahagiaan melihat wajah pria idamanku” gumam Dini “Mas Pras” panggilku riang “Dini, sini sayang” jawabnya lembut sambil melambaikan tangan Ku menghampirinya, Haph! Pria tampan itu berdiri dan langsung memelukku. “Mas, kangen, Din!” bisiknya di telingaku “Dini juga, Mas” jawabku “Mas Pras, kenapa tidak bilang dulu jika pulang?” tanyaku “Sedikit kejutan, tidak apa-apa kan?” jawabnya Kejutan dengan datang tiba-tiba, bagi Dini, sangat istimewa. Pekerjaan Pras cukup menguras waktu. Terlebih ada aturan mengenai ijin cuti yang tidak bisa dilakukan mendadak dan jatah cuti yang terbatas. Pras, bekerja di perusahaan pertambangan, jabatan yang diterima sebagai supervisor, sehingga banyak dilakukan di lokasi pertambangan. Lokasi tambang yang berada di pedesaan menjadi suatu tantangan tersendiri. Disediakan mess bagi para karyawan, lengkap dengan jatah makan sehari tiga kali. Sangat membantu bagi Pras untuk menghemat gajinya, karena untuk kebutuhan makan dan tempat tinggal telah tersedia, sehingga ia bisa menabung sebagian gajinya untuk diberikan kepada Ibunya. Bahkan dari gaji yang Pras peroleh selama dua tahun bekerja, bisa Ia pergunakan untuk merenovasi rumahnya menjadi lebih layak untuk Ibu dan adiknya. Dini mengenal Pras empat tahun lalu, Pras adalah kakak kelas sewaktu SMA. Dipertemukan dalam persiapan Lomba Kegiatan Sekolah, Dini dan Pras satu tim. Kedekatan itulah yang menjadikan mereka sebagai sepasang kekasih hingga saat ini. Dini menyukai pribadi Pras yang sopan dan tenang. Nilai plusnya, Pras, murid berprestasi dan berasal dari keluarga sederhana, dibesarkan seorang diri oleh Ibunya. Prestasi yang diperoleh menjadikannya bisa bersekolah dengan beasiswa sampai tingkat perguruan tinggi. Setelah lulus kuliah, Pras mengikuti tes pekerjaan di sebuah perusahaan pertambangan dan lulus semua tes yang diberikan, namun diharuskan bekerja di lokasi perusahaan yang berada di luar pulau selama dua tahun. Bagi Dini, kehadiran Pras saat ini terasa sangat istimewa, mengingat jam kerja Pras yang padat dan sulitnya pengajuan untuk cuti, adalah sebuah perjuaangan hingga sampai datang di hadapannya. “Tentu saja, aku sangat bahagia” jawab Dini Pras tersenyum mendengan jawaban Dini. Dia begitu bersyukur memiliki Dini yang bisa menerimanya selama ini. "Mau pesan apa sayang?" tanya Pras pada Dini "Minuman sama camilan gitu" kata Pras pada Dini "Hmm, Mas Pras saja yang pesan" jawab Dini Pras melambaikan tangan pada seorang pelayan, memesan sesuatu untuk mereka berdua. Tidak lama kemudian pesanan mereka datang. Dini mengambil Jus Jeruk yang sudah dipesan oleh Pras untuknya "Ahh, segarnya" kata Dini sambil tersenyum setelah meminum Jus Jeruk tersebut "Mas Pras, pesan apa" tanya Dini "Biasa, Es Blewah" jawab Pras "Wah, Dini boleh minta" kata Dini sambil melirik gelas milik Pras "Nggak boleh, blewahnya langka ini, di tempat kerja Mas nggak ada yang jual ini?" jawab Pras sambil mendekap gelasnya erat-erat "Ya udah, habisin, ntar Dini pesenin yang baru, sekalian Dini bungkusin, kalau perlu nanti kita pergi cari buah Blewah, buat oleh-oleh disana" ucap Dini sebal "Hahahahaha" tawa Pras terdengar renyah "Ini, ini, minum yang banyak" kata Pras sambil mendekatkan gelasnya ke tangan Dini Tak terasa gelas mereka berdua telah kosong, camilan pun sudah habis. “Kita cari tempat nyaman untuk ngobrol, ya!” ajak Pras “Ayoooo !” jawabku girang "Eittss, Mas bayar dulu, tunggu di parkiran ya" kata Pras "Siap" jawab Dini
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN