Kami berboncengan menaiki motor. Berkeliling kota, sesekali Mas Pras menggenggam tanganku. Hingga motor kami berhenti di halaman parkir sebuah gedung bertingkat, kulihat papan namanya. Hotel Saturnus
“Hotel?”pikirku
“Din, kita ngobrol di dalam, ya?” ajak Mas Pras
“Didalam hotel, Mas ?” tanyaku
“Iya, disini tenang!” jawabnya
Kami melangkah melewati lobby hotel dan langsung menaiki lift. Lantai 7 kamar 788.
Kami memasuki kamar hotel tersebut. Selama ini aku tidak pernah masuk ke Hotel,
dan pandanganku takjub melihat ruangan di kamar ini.
“Mas Pras mengajakmu kesini, supaya kita bisa ngobrol-ngobrol santai. Disini tenang,
tidak terganggu dengan ramainya orang.” Katanya sambil membuka pintu kamar, menuju balkon, membuka pintu balkon dan duduk di kursi balkon
“Kemari, Din, duduklah disini!” ajaknya
Aku menurutinya, duduk di teras balkon, sambil melihat pemandangan kota.
“Bagaimana sidangmu kemarin?” tanyanya sambil tersenyum padaku
“Lancar, Mas, aku cukup tenang saat presentasi, pertanyaan bisa kujawab dengan jelas.
Aku puas dengan sidangku kemarin” jawabku sambil tersenyum
“Mas, ikut senang mendengarnya” Kata Mas Pras
“Mas, kenapa tiba-tiba datang ke Surabaya?” tanyaku perlahan
“Hmm, Mas kangen kamu, Din?” jawabnya lembut
“Gombal!” jawabku sambil mencubit pipinya
“Mas dapat promosi menjadi Supervisor, Din!”
“Namun, dengan jabatan ini, Mas jadi tidak bisa mengajukan mutasi ke Surabaya. Mas, harus disana sampai lima tahun kedepan dan bersedia tidak menikah” kata Pras mencoba menjelaskan nya kepada Dini
“Mas ragu dengan keputusan tersebut” kata Pras
“Karena itu, Mas putuskan untuk menemuimu, dan membicarakan ini baik-baik denganmu” kembali Pras berkata
"Apakah tidak masalah bagimu, menungguku?” tanya Pras pada Dini
Dini termenung mendengar pertanyaan Pras. Ada keraguan di hatinya. Hingga Ia mantap menjawab pertanyaan Pras
“Hmm..tidak masalah sepertinya, Mas. Aku bisa menyibukkan diri dengan bekerja sambil menunggu Mas Pras” jawab Dini
“Apakah tidak terlalu lama bagimu, Din?” tanyanya kembali padaku
“Tidak apa-apa. Kita jalani saja dulu, selama ini juga bisa kan” jawab Dini
“Hmm..umurku sekarang 22 tahun, lima tahun kedepan usia ku 27 tahun, sangat matang
untuk menjadi istrimu, Mas!” jawab Dini mantap
Dini dan Pras memang sudah merencanakan pernikahan, setelah Dini menyelesaikan studinya, waktu itu belum ada situasi dimana Pras belum mendapat keputusan seperti ini. Lima tahun waktu yang cukup lama, namun demi pekerjaan Pras, Dini menerima permintaan Pras untuk menunggunya, lagi. Ya, menunggu lagi. Namun Dini sangat percaya pada Pras, selama tiga tahun ini hubungan mereka berjalan dengan lancar, komunikasi berlangsung baik, antara tiga sampai enam bulan sekali mereka bisa bertemu untuk melepas rindu. Saling percaya, pengertian dan menjaga komunikasi adalah kunci hubungan manis untuk mereka.
“Eh, tapi, usia 27 tahun, apa aku nanti akan muncul keriputnya, ya Mas?” tanya Dini
“Ha Ha Ha ....” suara tertawa Pras terdengar renyah. Terlihat begitu lega ekspresi wajahnya.
“Dini-nya Mas Pras, yang terbaik, tidak ada bandingannya” Jawab Pras sambil mengelus mesra pipi Dini.
“Disana apa tidak ada perempuan cantik, Mas?” tanya Dini curiga
“Sekelilingku adanya barisan lembah dan deretan pohon, teman kerja semuanya laki-laki. Ada satu perempuan, dia yang paling cantik disana!” Jawab Pras
“Hmm...paling cantik, ya?” tanya Dini semakin curiga
“Iya, paling cantik. Karena dia satu-satunya perempuan yang sering terlihat disana”
“Dannnn.... bersuami” jawab Pras sambil tersenyum
“Yah, kalau sudah bersuami, bisa saja kan disukai?” tanya Dini
“Ya, bisa, rasa suka kan bebas, hak setiap manusia!” jawab Pras
“Tapiii... siapa yang berani suka sama istrinya Bos!” kata Pras
“Heh, istrinya Bos!” jawab Dini sambil nyengirr
“Iya, istrinya GM, General Manager, atasannya Mas, beliau menyewa rumah di kota, ditempati istri dan anaknya. Sesekali istri dan anak-anaknya datang ke lokasi kerja kami” kata Pras menjelaskan
Dini mendengarkan dengan seksama penjelasan dari Pras.
“Kalau begitu, apa setelah lima tahun, Mas Pras boleh menikah?” tanya Dini
“Boleh, bahkan kalau Mas Pras tidak bisa mutasi, Mas akan mengajak kamu, Ibu dan adikku
untuk tinggal disana, sehingga bisa tetap dekat dengan keluarga” jawab Pras
Menikah dan membawaku tinggal disana. Bahkan, Mas Pras sudah memikirkan pernikahan kami. Ahh.. pasti menyenangkan tinggal di tempat baru.
“Mau, Mas, Dini Mau!” kata Dini riang
Melihat jawaban riang dari Dini, Pras pun tersenyum lega. Selama ini ia cukup khawatir jika Dini tidak bersedia menerima pekerjaannya yang mengharuskan berada di Luar Pulau. Dini wanita terbaik yang ia temui, begitu sabar menjalani hubungan jarak jauh seperti ini. Kelegaan ini membuat Pras spontan memeluk Dini dengan erat.
“Terima kasih sudah menerimaku, sayang” bisik Pras di telinga Dini
“Sama-sama, Mas” jawab Dini
Pras melepaskan pelukannya, ia terpukau melihat bibir merah milik Dini, tanpa disadari wajahnya begitu dekat dengan Dini, dan perlahan kedua bibir mereka beradu mesra
“Mas” bisik Dini perlahan disela saat bibir mereka beradu
“Mas, sayang kamu, Din!” jawab Pras, dengan terus melanjutkannya
Dalam benak Dini, ini pertama kalinya kami beradu bibir, selama tiga tahun
perjalanan, belum pernah kami melakukannya.
“Pelukan, yang sering, tapi bibir ini.. yang pertama bagiku, lembutt, nyaman” benak Dini
berkata
Pras melepaskan lumatan bibirnya pada Dini, sambil mengusap lembut bibir Dini yang basah
“Maafkan, Mas, Din” ucap Pras
“Tidak apa-apa, Mas, Dini cuma kaget, langsung aja situ nyosor” jawab Dini sambil memasang wajah cemberut
“Mas, mau lagi, boleh?” tanya Pras
Dini melongo mendengar pertanyaan dari Pras, namun mengiyakan, kali ini Dini yang mendahului mendekatkan bibirnya ke bibir Pras. Peraduan yang lembut ini membuat Pras tidak terkendali, perlahan tangan Pras meraba tubuh Dini, menuju di kancing kemeja Dini, berusaha membuka satu kancing kemeja Dini. Dini menyadari gerakan tangan Pras, memilih menghentikan peraduannya. Mengajak Dini masuk kedalam kamar, mengunci pintu balkon dan memastikan kamar yang Ia tempati dengan Dini sudah terkunci. Menarik tangan Dini, dan mengajaknya duduk di pinggir ranjang.
“Mas, ada apa?” tanya Dini polos
“Mas, tidak bisa menahannya, Din!” jawab Pras
“Apakah boleh, Din” kata Pras, sambil kembali membuka kancaing kemeja milik Dini
Terlihat gundukan yang menyembul, menarik pandangan mata Pras
“Indah” gumam Pras, takjub melihat milik Dini yang menyembul indah, kuning langsat.
Dini tak tenang, kemejanya sudah terbuka, terlihat buah miliknya, melihat mata Pras yang fokus dengan pandangan itu, namun Ia juga tidak ingin mengecewakan Pras yang telah meluangkan waktu untuk datang menemuinya jauh-jauh dari tempat
kerjanya, memberinya kejutan padanya. Dini cukup lama termenung, dan terus menatap wajah Pras. Mata keduanya beradu, tak bisa menyembunyikan sifat dewasanya.
“Bisakah, ku mempercayai mu, Mas, jika Aku mengizinkannya?” tanya Dini perlahan
“Masihkah ada ragu dihatimu, Din?” jawab Pras dengan memberikan pertanyaan pada Dini
“Kamu mencintaiku, Mas?” tanya Dini
“Sangat, mencintaimu, Din” jawab Pras
“Aku mengizinkanmu” jawab Dini perlahan
Dini tak bisa menghentikan Pras, tangan nya sudah terlebih dahulu menikmati buah miliknya. Pras pun tidak ingin menyiakan kesempatan. Tangannya datang menuju buah tersebut, meremasnya perlahan, mendekatkan lidahnya dan menikmati halusnya
kulit Dini. Gerakan lembut tersebut membuat Dini tak tahan. Ada rasa saat Pras memainkan buah miliknya itu. Dini pasrah, membiarkan suara desahannya terdengar perlahan.
“Suara ini, tak mampu aku menahannya” gumam Pras
Semakin lembut suara desahan Dini, semakin tak mampu ia menahan diri. Seketika ia melepas semua pakaian yang melekat pada tubuh indah Dini, begitu juga dengan pakaiannya sendiri. Sesuatu tak bisa ditahan, miliknya menegang. Dini melihat sesuatu yang berdiri tegak, gagah, milik Pras.
“Mas, gak kuat, Din” bisik Pras, sambil mengelus lubang milik Dini.
Pras mengawalinya dengan sentuhan lembut di mahkota milik Dini, perlahan dengan lidahnya, sambil terus memainkan buah kuning langsat yang indah milik Dini. Begitupun dengan Dini, Ia benar-benar pasrah, namun menikmatinya. Suara desahannya terdengar nyaring. Pras mencoba masuk perlahan, pelan, sempit, namun tak gentar ia mencobanya. Sudah ada kesempatan, harus maksimal, pikirnya.
“Krek” terdengar suara saat Pras memasukkan miliknya
Pertahanan Dini koyak, ia telah memberikan hartanya pada Pras. Ia biarkan tubuhnya
berguncang, mengikuti setiap gerakan, sentuhan dari Pras, sambil terus
melepaskan suara indahnya.
Pras, tak ingin menyiakan kesempatan, menunjukkan miliknya, menunjukkan permainannya yang lembut pada Dini, menyentuh lembut milik Dini, dan terus melanjutkan permainannya. Sesekali mereka mengubah posisi, mencari letak kenyamanan dan terus melanjutkan peraduan yang indah. Suara indah keduanya terdengar begitu nyaring. Keringat meluncur deras di tubuh keduanya. Dini sesekali menatap wajah lawan permainannya. Otot kekar milik Pras, d**a bidang miliknya, dan sentuhan gesekan ini begitu menggoda rasa dewasanya. Takjub dengan pemilik tubuh kekar ini, permainannya begitu lembut. Hingga, sesuatu memaksa keluar, Pras tak bisa menahannya, membiarkan keluar di dalam milik Dini.
“Ahh” pekik Pras saat menikmati puncaknya.
Lelah, namun melegakan, peruaduan yang membuatnya puas.
Mereka terbaring kelelahan, sambil sesekali mengatur nafas. Pras tak melihat noda merah, sebagai tanda kesucian Dini.
“Namun tadi itu terasa begitu sempit” gumam Pras
“Din, apa Mas yang pertama?” tanya Pras perlahan sambil mengelus rambut Dini, ia
takut jika Dini tersinggung
“Apa, Mas tidak percaya jika, Mas yang pertama” jawab Dini
Masih sempat berpikir kalau aku tidak suci setelah puas? Gumam Dini setelah mendengar pertanyaan Pras
“Mas, percaya” jawab Pras sambil mengecup kening Dini
“Sakit, Mas” kata Dini sambil memegang miliknya. Percobaan pertama, terasa nyeri, pikir Dini
“Mas, juga sedikit sakit, mungkin yang pertama terasa sakit” jawab Pras
“Terima kasih, sayang” bisik Pras di telinga Dini
Keduanya kembali merebahkan diri di atas kasur, masih sesekali mengatur nafas yang tersengal. Hingga Dini pun terlelap tidur. Pras memandangi wajah Dini yang sudah tertidur pulas.
“Lelah ya Din” gumam Pras sambil mengelus rambut Dini perlahan Pras menaikkan selimut yang menutup tubuh keduanya. Memeluk tubuh Dini perlahan dari belakang. Meregangkan tubuhnhya yang terasa lelah
Pras terbangun dari tidurnya. Namun masih dalam posisi di samping Dini, merebahkan tubuhnya. Melihat jarum jam, berada di angka dua.
“Jam dua siang” gumam Pras. Sambil memandangi wajah Dini yang masih tertidur. Mereka berdua tidur selama dua jam.
Dini pun membuka matanya perlahan. Dan melihat wajah Pras yang begitu dekat dengan wajahnya.
“Mas, aku ketiduran” bisik Dini
“Mas tahu, lelah ya” jawab Pras
Dini menganggukkan kepalanya, mengiyakan pertanyaan Pras, mengiyakan jika Ia memang lelah setelah peraduan tersebut.
Lima belas menit berlalu dengan sambil memandangi wajah masing-masing.
“Din, mau lagi, boleh?” tanya Pras sambil tersenyum
“Mas sudah cukup punya tenaga untuk main lagi” kata Pras
Kening Dini berkerut mendengar pertanyaan Pras.
“Apa seenak itu, sampai mau diulangi lagi?” pikir Dini
“Lanjutkan lagi, Mas” jawab Dini mantap
Kali ini Dini mencoba untuk mengawali peraduan. Menyetuh terlebih dulu bibir milik Pras. Tubuhnya kembali berguncang mengikuti permainan hebat milik Pras. Keduanya larut kembali dalam peraduan yang syahdu. Hingga Dini merasakan sesuatu yang beda dari tubuhnya. Sesuatu yang tidak bisa Ia tahan.
“Hmmmmm” suara Dini begitu nyaring saat melepaskan sesuatu dari tubuhnya
Pras merasakan ada yang keluar dari dalam mahkota Dini, terasa hangat, membuat gerakannya menjadi syahdu. Hingga Ia sendiri tidak bisa menahan diri, Pras pun mengeluarkan sesuatu dari tubuhnya. Hampir bersamaan dengan milik Dini. Setelah kedua hajatnya terlepas, mereka pun berbaring bersama sambil mengatur nafas yang begitu tak beraturan. Dini tersenyum melihat wajah Pras, mengusap lembut keringat yang mengucur di keningnya
“Kamu menikmatinya, sayang?” tanya Pras pada Dini
“Rasanya beda, Mas” jawab Dini
“Kamu memuncak, sayang, mengeluarkannya terasa lega, bukan?” kata Pras
“Heem, enteng di badan” jawab Dini perlahan
Keduanya saling tersenyum. Jarum jam menunjukkan angka tiga.
“Sudah sore” gumam Pras
“Din, mandi bareng, yuk?” ajak Pras pada Dini
“Siap” jawab Dini sambil bergegas bangkit dan meraih handuk di gantungan
Mereka mandi bersamaan, Pras menggosok lembut tubuh Dini, mengusap rambut Dini dengan sampo. Sambil sesekali mereka tertawa renyah, nampak bahagia dan lega.