Rumah

3134 Kata
Jam enam malam, Dini dan Pras sampai di bandara. Keduanya akan kembali berpisah setelah pertemuan singkat tersebut. Pras tidak bisa mengantar Dini pulang, Ia hanya dapat cuti satu hari. Berangkat pesawat subuh, malam pun langsung kembali, mereka berpamitan di Bandara. Dini melepas Pras dengan pelukan hangat. Perjalanan pulang dari bandara, perasaan Dini begitu campur aduk. Ada perasaan bersalah setelah perbuatannya melepaskan harta kepada pria yang memang sudah dia kenal, tapi, mengapa disaat seperti ini, disaat tidak ada ikatan pernikahan diantara mereka. Miliknya masih terasa nyeri, digunakan berjalan pun sakit. “Tuhan, Aku telah berbuat dosa” gumam Dini “Tuhan, lindungi Aku” pinta Dini dalam lamunannya Jam tujuh malam, Dini sampai di rumah “Malam, Ayah Ibu” sapa Dini saat membuka pintu rumahnya. Dilihatnya Ayah dan Ibu duduk santai di depan TV. “Hai, sayang, sudah makan, Nak?” jawab Ayah “Sudah, Ayah” jawab Dini sambil duduk mendekati Ayah Ibunya Dini menatap wajah kedua orangtuanya, hancur hatinya, Ia telah mengecewakan Ayah dan Ibu dengan perbuatan buruknya tadi bersama Pras. “Dini, sebentar lagi wisuda, Ayah, Ibu, apakah kalian bahagia?” tanya Dini “Tidak hanya bahagia, tapi juga bangga, kami bangga dianugerahi putri yang begitu sempurna” jawab Ibu sambil tersenyum “Ibumu benar, Din, kamu putri kebanggaanan kami” jawab Ayah “Kakakmu kuliah di luar negeri, beasiswa, bisa sambil bekerja, kamu pun lulus dengan prestasi yang membanggakan” kata Ayah menceritakan betapa bahagianya dikaruniai anak-anak yang berprestasi. Dini memiliki seorang kakak laki-laki. Saat ini sedang menempuh pendidikan S3 di luar negeri, London, melalui beasiswa, bahkan saat ini kakak bisa sambil bekerja, sering sang Kakak mengirimkan uang saku kepada Dini. “Aku gagal membanggakan Ayah dan Ibu, tidak sepertimu, Kak” gumam Dini sambil mengingat Kakaknya “Dini akan selalu membanggkan Ayah dan Ibu” jawab Dini sambil memeluk kedua orangtuanya, Kedua orang tua Dini menyambut pelukannya dengan sesekali mengusap rambut anak perempuannya tersebut “Lelah ya, Din?” tanya Ibu, dijawab anggukan oleh Dini “Istirahatlah, Nak” Kata Ayah sambil mengelus rambutku “Baik, Yah, Bu, Dini ke kamar dulu ya” Jawab Dini “Jangan lupa bersihkan dirimu, sayang” Kata Ayah dengan memberikan senyuman teduhnya Dini segera beranjak menuju kamarnya. Setelah membersihkan diri, Dini meerebahkan tubuhnya di atas kasur empuknya. Pikirannya melayang, mengingat apa yang telah terjadi. Begitu cepat, dan begitu mudahnya itu terjadi. Dini meraih sesuatu di tasnya. Sebuah kotak kecil mengkilat berwarna hitam. “Mas Pras memberikan ini sesaat sebelum pergi” Gumam Dini Dini membuka kotak hitam tersebut. “Cincin?” Dini terkejut melihat isi dari kotak kecil tersebut “Cincin, Mas Pras memberiku sebuah cincin?” Gumam Dini sambil tersenyum melihatnya Sebuah cincin emas, dengan permata putih mengkilat di tengahnya, dan sebuah jepit rambut berwarna silver “Bagusnya, cincin ini” kata Dini, mengagumi bentuk cincin yang ia terima dari Pras “Jepitnya juga, Mas Pras, pilihanmu sangat cantik” gumam Dini Ingatan Dini kembali saat di Bandara, mengantar kepergian Pras untuk kembali bekerja di Luar Pulau. Perpisahan yang selalu terjadi setiap kali kami bertemu melepas rindu, dan begitu berat saat kembali berpisah demi pekerjaan. “Mas, punya sesuatu untukmu, Din” kata Pras sambil meletakkan sebuah kardus terbungkus kertas kado di telapak tangan Dini “Apa ini, Mas?” tanya Dini “Bukalah saat di rumah saja, Mas harap Dini suka” Jawab Pras “Simpanlah di tasmu, Din” Kata Pras Dini mengangguk, menuruti permintaanya, Pras memeluk hangat tubuh Dini. Berat baginya kembali berpisah dengan Dini, namun Ia memiliki tanggungjawab untuk bekerja “Sabar, ya Din” bisik Pras di telinga Dini “Iya, Mas, Dini percaya pada Mas Pras” jawab Dini Dini kembali memandangi cincin emas pemberian Pras, memakainya di jari manis. “Pas, bisa pas di jari manisku” tanya Dini dalam hati “Bagaimana Mas Pras bisa tahu ukuran jariku” gumam Dini Dini pun mencoba jepit rambut pemberian Pras, Dia selipkan di rambut hitam mengkilatnya. “Manis sekali, Mas Pras, seleramu bagus juga” senyum Dini memandangi wajahnya di kaca dan lirikan matanya terus tertuju pada cincin dan jepit rambut pemberian Pras. Pandangannya teralih pada kotak hitam tadi, terlihat sesuatu mengganjal di sisinya. Dini mencoba menarik lembaran kertas yang terjepit di sisi kotak tersebut. Sebuah kertas dengan tulisan tangan yang sangat rapi, Dini sangat mengenali tulisan tangan tersebut “Surat, tulisannya Mas Pras” gumam Dini Dini membuka dan membaca isi surat tersebut Dini, sayang Mas menulisnya saat kamu berganti baju tadi Terima kasih untuk waktu yang indah hari ini Terima kasih telah begitu baik menerima Mas, dengan semua kekurangan Mas Mas minta maaf sudah berani dan lancang melakukan dosa terindah denganmu Mas tidak bisa menahannya Din, kerinduan yang dalam Mas, terbayang-bayang indahnya hari ini Mas, tidak bisa lupa Mas jadi lebih semangat untuk bekerja, demi mimpi indah kita bersama, Mas akan terus berjuang Mas ada hadiah untukmu, Din, semoga kamu suka Mas harap kamu mau memakainya, cincin dan jepit rambut Jepit perak itu, Mas pesan kepada seorang teman saat berada di Luar Negeri Mas sengaja memesan jepit itu untukmu, dan menulis inisial nama kita di balik jepit itu Sabar, ya, Nanti Mas belikan sepasang cincin dengan tulisan nama kita saat pernikahan nanti Pras & Dinira Mas sudah menghayal indah setelah hari ini, semoga Tuhan mudahkan, Amin Mas menulis surat ini saat kamu tidur, sambil memandangi teduhnya wajahmu saat tidur Sabar ya, Sayang. Oktober 2020 Tanpa disadari, air mata Dini menetes saat membaca tulisan Pras. Dini melihat sebuah ukiran huruf di jepit rambut pemberian Pras. “D - P” Dini dan Pras, gumamnya sambil tersenyum, saat melihat ukiran huruf depan namanya dan nama Pras di jepit rambut itu Dini kembali membaca selembar kertas dengan tulisan tangan Pras “Tidak hanya kamu yang berjuang, Mas, Aku juga akan berjuang” gumam Dini “Hari ini aku telah kehilangan yang berharga dari diriku, namun ku yakin, ku menyerahkannya pada orang tepat, pada pria yang kupercaya” bisik Dini dalam hati Dini terlelap dengan menggenggam surat dari Pras Subuh menjelang, Dini telah bangun dari tidurnya, Ia meraih Handphone di meja, melihat sebuat notifikasi pesan dari Pras “Sayang, semoga kamu suka dengan kado dari Mas” tulis Pras di pesan internet tersebut “Maaf, Mas, baru membalas, aku kelelahan semalam” tulis Dini untuk menjawab pesan singkat dari Pras Setelah membalas pesan singkat dari Pras, Dini bergegas membersihkan diri, bersiap-siap ke kampus pagi ini “Hari ini jadwal pemberkasan Yudisium, berangkat pagi biar segera selesai” gumam Dini sambil menyiapkan beberapa perlengkapannya di tas “Bip,Bip,Bip” bunyi getar Handphone Dini melirik pesan notifikasi dari layar handphone nya “Sayang” sebuah nama kontak yang Ia simpan untuk Pras Ia membuka pesan dari Pras “Kelelahan ya, Mas juga Dini, tapi Mas nggak bisa tidur semalam, terbayang-bayang wajahmu” pesan singkat dari Pras Dini berpikir sejenak, memikirkan kata-kata untuk membalas pesan dari Pras “Terbayang-bayang wajahku, ya, wajahku tak bisa kutahan mas, merem melek” tulis Dini untuk membalas pesan singkat dari Pras “Tapi, Mas suka” Balas Pras “Mas bersiap kerja ya sayang, nanti kita lanjut lagi” “Hari ini ada acara apa, sayang” pesan singkat dari Pras Dini sibuk membalas pesan tersebut, dan memikirkan kata-kata yang tepat untuk Pras, meskipun pertanyaan Pras sangat mudah untuk dijawab “Dini hari ini ada jadwal pemberkasan yudisium, Mas” “Semoga pekerjaan Mas Pras hari ini lancar dan mudah, semangat selalu” tulis Dini untuk menjawab pesan singkat dari Pras Ia kembali meletakkan Hp nya di dalam tas, dan bersiap untuk berangkat ke kampus. Suka? Dini termenung sesaat setelah membaca pesan dari Pras yang mengatakan bahwa Pras suka dengan peraduannya kemarin “Tapi, batinku menyesalinya, Mas” gumam Dini dalam hati Tak bisa dipungkiri, ada rasa bersalah di dalam diri Dini, setelah perbuatan dosa nya bersama Pras. Sesuatu yang tak bisa Dia bendung, penyesalan yang mendalam, perbuatan yang tidak seharusnya Dia lakukan sebelum ada ikatan pernikahan. “Aku harus segera bergegas ke kampus, mengurus pemberkasan” pikir Dini mengalihkan pikirannya tentang dosanya bersama Pras. Dini menuju meja makan, menemui Ayah dan Ibunya “Ayah, Ibu” Sapa Dini kepada kedua orang tuanya “Sayang, Ibu masak sayur bayam dan dadar jangung, lho” Jawab Ibu sambil masih sibuk memasak “Dini bantu, Ya Bu” kata Dini sambil bergegas mengiris bawang putih sebagai bumbu memasak sayur bayam “Temu kunci nya apa sudah, Bu” tanya Dini kepada Ibunya “Belum, masih di rak bumbu” jawab Ibu Dini segera mengambil bumbu temu kunci sebagai andalan dalam memasak sayur bayam. Temu kunci dan bawang putih ditumbuk halus, setelah halus, tumbukan bumbu tersebut dimasukkan ke dalam air mendidih yang sudah ada jagung manis di dalamnya. Setelah mendidih, siap masukkan daun bayam, beri garam, incip-incip, matang. Sayur bayam adalah makanan favoritnya, Dini sudah sangat hafal cara memasak sayur bayam. “Coba, Bu, apa yang kurang” tawarkan Dini kepada Ibunya setelah sayur bayamnya sudah dirasa cukup empuk Ibu mengambil sendok, dan menyeduh kuahnya “Hmm.. segar sekali, rasanya pas” jawab Ibu sambil tersenyum “Benarkah, Bu” tanya Dini penasaran “Coba, gantian Ayah yang mengincipinya” kata Ayah tiba-tiba mendekati dua wanitanya spesial di dapur, sambil mengambil sendok dan menyeduh kuah sayur bayam buatan Dini “Hmm” jawab Ayah sambil mengerutkan dahinya Dini sudah cemas melihat waut wajah Ayahnya. Apakah rasanya tidak enak, Dini mulai menerka sambil terus mengamati wajah Ayahnya. “Lezatttt” jawab Ayah sambil mengembangkan senyum bahagianya “Lezat dan sehat” kata Ayah “Sungguh, Yah?” tanya Dini “Gurihnya pas, bayamnya kriuk, lezat” jawab Ayah “Baik, siap dihidangkan” kata Dini sambil mematikan kompor dan memindah sayur bayamnya di mangkuk besar yang ada di meja makan “Dadar jagungnya juga sudah matang” kata Ibu sambil menata makanan di meja makan “Ayo, makan, sayang” kata Ibu kepada putri dan suaminya Dini, Ayah dan Ibunya segera mengambil makanan, berdoa sebelum makan, dan menikmati makanan sayur bayam lengkap dengan dadar jagungnya. “Din, hari ini rencananya mau kemana” tanya Ayah kepada Dini setelah selesai makan “Ke kampus, Yah, hari ini jadwal pemberkasan untuk Yudisium” jawab Dini “Sampai jam berapa, Din” tanya Ibu “Hmm.. mungkin sore sudah selesai, Bu” jawab Dini “Jika begitu, Ibu akan pulang sore, dan memasak soto” kata Ibu “Dini, bisa bantu Ibu memasak nanti” tanya Ibu pada Dini “Siap, Bu, Dini usahakan selesai sebelum sore” jawab Dini Dini senang sekali hari ini bisa memasak bersama Ibunya, akhir-akhir ini Dini begitu sibuk menyelesaikan skripsinya, kuliah berangkat pagi dan pulang senja, sampai rumah sudah sangat lelah, jarang bisa membantu Ibunya memasak. Ia tak ingin menyiakan kesempatan ini, rindu kebersamaan dengan keluarganya. “Memangnya apa ada tamu, Bu” tanya Ayah kepada wanita spesialnya “Tidak ada, Yah, Ibu hanya ingin sedikit merayakan keberhasilan Dini menyelesaikan skripsinya. Sedikit waktu bersama sambil menikmati soto” jawab Ibu “Begitu ya, baiklah, kubawakan buah-buahan segar sebagai pelengkapnya” kata Ayah Melihat Ayah dan Ibunya begitu bangga, Dini menjadi semakin sedih. Memikirkan kembali dosanya. Tiba-tiba suara langkah kaki memasuki rumah mereka, terdengar suara teduh yang mana sudah hafal dengan suaranya “Pagi, Pak, Bu, Non Dini” sapa Bi Ismi Bi Ismi adalah wanita separuh baya yang bekerja membantu membersihkan rumah keluarga Dini, kecuali mencuci baju dan memasak. Memasak, biasa dikerjakan berbarengan antara Dini dan Ibunya, untuk urusan cuci baju, sudah tersedia mesin cuci, bisa dikerjakan oleh semua anggota keluarga. Meskipun ada Bi Ismi, bukan berarti anak-anaknya tidak bisa beberes rumah, tanpa menunggu Bi Ismi, anak-anaknya bisa bergantian menyapu rumah, atau sekedar mencuci peralatan makan nya masing-masing. Diajarkan mandiri sejak kecil oleh Rumi, sebagai Ibunya, meskipun anak-anaknya mendapatkan fasilitas yang memadai, Ia tetap memberikan pelajaran kemandirian. “Pagi, Bi” jawab Ibu “Bi Is, hari ini Rumi masak dadar jagung, dan Dini masak sayur bayam, Bi Ismi cicipi ya, nanti” kata Rumi Aruminda, nama lengkapnya, wanita yang melahirkan Dini, Ibunya Dini “Wah, Non Dini masak ya, sudah lama Bibi tidak melihat Non Dini masak” jawab Bi Ismi sambil tersenyum ke arah Dini “Iya, Bik, Dini suuuiiibukkkk sekali” jawab Dini sambil membantu Bi Ismi menyuci piring kotor di wastafel dapur “Dapat nilai berapa, Non Dini, ujiannya?” tanya Bi Ismi “Seratusss, Bik” Ayah tiba-tiba menjawab pertanyaan Bi Ismi “Lah, kok malah Bapak yang menjawab, memang yang ujian Bapaknya ya?” tanya Bi Ismi sambil terkekeh Seisi rumah tertawa renyah mendengar pertanyaan Bik Ismi “Maklum, Bik, Bapaknya sekolah cukup SMA, anak-anaknya bisa sampai kuliah, Bapaknya buanggaaa, Bi” jawab Bapak sambil tersenyum, raut wajah yang begitu sumringah menunjukkan betapa bangganya Ia memiliki putri seperti Dini “Wah, Non Dini, Bibi ikut senang, hebat Non Dini!” sahut Bi Ismi “Terima kasih, Bi” jawab Dini “Bik Ismi, Rumi ada daftar belanjaan, tolong nanti Bi Ismi pergi belanja sesuai daftarnya ya, Bik” pinta Ibu “Apa mau ada tamu, Bu Rumi?” tanya Bi Ismi “Nggak, Bik, sekedar perayaan untuk sidangnya Dini” jawab Ibu “Oh, begitu, siappp Buk” sahut Bi Ismi “Bik Ismi, nanti ikutan juga ya!” pinta Dini “Iya, Bik, Bik Ismi ikutan makan-makan sekalian, biar rame” sahut Ayah “Ayah, juga sudah bilang sama kakakmu, untuk ikutan video call saat perayaan nanti” kata Ayah “Arka, bisa video call, Yah” tanya Ibu “Apa nggak sibuk?” tanya Ibu kembali “Sudah Ayah tanyakan, Bu, Arka bisa meluangkan waktu, Kakaknya juga kangen bisa berkumpul bersama kita, Bu” jawab Ayah “Terakhir telepon, cuman sebentar, Yah, Arkanya sibuk waktu itu” sahut Ibu “Ibu kangen Kakak, ya Bu?” tanya Dini “Ya, kangen, ya, khawatir” jawab Ibu “Disana sibuk kuliah sambil bekerja, Ibu khawatir jika Kakakmu kurang istirahat, sedangkan studinya juga sangat melelahkan, terakhir telepon Ibu minta untuk fokus studi saja, urusan biaya hidup disana, Bapak dan Ibu siap mengupayakan” Ibu menjelaskan kekhawatirannya mengenai Arka, putra sulungnya “Bu, anak lelakimu itu sangat bertanggungjawab, kamu juga sangat mengenalnya” jawab Ayah “Dari dulu juga, lelakimu itu rajin membantu kita, waktu sekolah sampai kuliah S1 tidak pernah malu untuk berjualan, sekiranya menghasilkan uang dan halal, Ia lakukan” kata Ayah “Ibu masih ingat tidak, waktu kita membujuknya untuk fokus sekolah?” tanya Ayah “Masih, Yah” jawab Ibu “Arka bilang, Ayah Ibu, izinkan Arka untuk tetap jualan, Yah, Bu, hasilnya bisa Arka tabung” jawab Ibu “Waktu kenaikan kelas, Arka bisa beli sepatu dan tas baru dari hasil jualannya yang Ia tabung” kata Ibu Ingatan Rumi kembali saat Arka, putra sulungnya berjualan untuk pertama kali. Rumi ingat betul, bagaimana Si Sulungnya, Arka, saat itu meminta sejumlah uang kepada nya, cukup banyak, dan memintanya untuk diantar ke Toko Alat Tulis. Disana Arka membeli beberapa bolpoin, pensil, penghapus , stipo, penggaris dalam jumlah banyak. Rumi sempat bingung, anaknya membeli cukup banyak peralatan sekolah, namun Ia pikir waktu itu sebagai cadangan, jadi sekalian membeli banyak. Waktu berlalu, Arka kembali meminta diantar ke Toko Alat Tulis dan membeli peralatan sekolah dalam jumlah banyak. Rumi memberanikan diri menanyakan kepada putranya “Ka, beberapa minggu lalu bukannya Arka sudah beli semua ini?” tanya Ibu “Iya, Bu, sudah habis” jawab Arka “Habis?” sahut Ibu “Sebanyak itu sudah habis beberapa minggu” tanya Ibu “Arka jual ke teman-teman, Bu!” jawab Arka “Dijual?” tanya Ibu kebingungan “Iya, Bu, awalnya Arka Cuma coba-coba, ternyata banyak teman-teman yang beli” jawab Arka “Mereka bilang, daripada jalan ke Koperasi, lebih mudah beli di kamu, Ka, harganya juga sama” kata Arka “Arka jual dengan harga sama dengan yang ada di Koperasi Sekolah, Bu, harga beli di Toko Alat Tulis dibagi dengan jumlah satu dusnya, masih dapat laba” kata Arka menjelaskan bagaimana ia memulai berjulan alat tulis di teman-teman sekelasnya Rumi keheranan mendengarkan penjelasan anak sulungnya, usianya baru dua belas tahun, kelas tujuh SMP, namun sudah pandai mencari uang. “Arka jualannya halal, kan Bu” tanya Arka kepada Ibunya “Arka dapat laba lima ratus rupiah per barangnya, Bu” kata Arka “Ka, yang Arka jual itu halal, sayang” jawab Ibu sambil memelus rambutnya “Namun, bagaimana Arka bisa berani berjualan seperti itu?” tanya Ibu “Apa Arka tidak malu sama teman-teman” tanya Ibu “Apa tidak ada teman yang mengejekmu, sayang?” tanyanya kembali kepada sulungnya “Tidak, Bu, Arka tidak malu kok berjulan di sekolah, Guru juga tahu, dan diperbolehkan” jawab Arka “Kalau teman-teman, ya ada sih yang mengejek, tapi Arka nggak sakit hati kok, Bu, Arka senang melakukannya”kata Arka mencoba menenangkan Ibunya “Arka, diizinkan berjualan kan Bu?” tanya nya kepada Ibunya “Hmm... gimana ya” Rumi ragu menjawab pertanyaan sulungnya “Arka cuma pingin bisa menabung Bu, dan kalau mau beli-beli bisa pakai uang Arka sendiri” jawab Arka “Ayah dan Ibu sudah bekerja keras untuk Arka, dan adik” kata Arka menjelaskan “Arka ingin membantu Ayah dan Ibu” kata Arka Rumi melihat mata polos sulungnya, Ia bisa melihat jiwa pejuang dari tatapan mata indah sulungnya “Boleh, sayang” kata Rumi menjawab permintaan sulungnya  Rumi termenung mengingat masa itu. Ada rasa bangga mengingat perjuangan anak sulungnya. Tak henti Ia bersyukur kepada Tuhan dengan karunia anak-anak yang begitu membanggakan. Arka dan Dini segalanya baginya. Selesai sarapan, Dini dengan sigap merapikan meja makan dan menyimpan sisa makanan untuk dimakan nanti. Memindahkan alat makan kotor di wastafel dapur untuk dicuci bersih. Melihat Dini merapikan meja makan, Bi Ismi berkata “Bi Ismi lanjutkan Non, Dini” “Non Dini siap-siap berangkat” kata Bi Ismi sambil menggeser tubuhnya mendekati tubuh Dini untuk menggantikannya mencuci peralatan makan kotor “Ah nanggung Bi, ini sudah mau selesai” jawab Dini sambil terus melanjutkan pekerjaannya “Selesai, sudah kinclong semua” kata Dini sambil mengelap tangannya yang basah “Wah, Non Dini, Bi Ismi jadi nganggur deh” kata Bi Ismi sambil cemberut “Bi Ismi istirahat aja, nanti kan mau belanja banyak, capek lho” jawab Dini sambil tersenyum “Dini siap-siap dulu, Bi” kata Dini sambil berlalu meninggalkan dapur “Iya Non” jawab Bi Ismi Dini melangkahkan kakinya menuju kamarnya dan mengambil tas nya, siap untuk berangkat. Dini menuju kedua orangtuanya untuk berpamitan “Ayah , Ibu, Dini berangkat dulu” kata Dini sambil meraih tangan kedua orangtuanya, untuk bergantian ia cium “Naik motornya hati-hati, Din” jawab Ibu “Siap, Bu” jawab Dini “Semoga beres semua urusannya, Din” kata Ayah sambil mengecup kening putrinya “Amin” jawab Dini sambil berlalu meninggalkan kedua orangtuanya menuju garasi rumah dan mengambil motor kesayangannya. Melajukan motornya untuk bersiap mengurus pemberkasan yudisium
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN