Hangat

2941 Kata
Sesampainya di kampus, Dini bergegas menuju kantor untuk mengambil formulir guna pengurusan pemberkasan yudisiumnya. “Din” sapa seseorang dari belakang Dini menolehkan wajahnya melihat seseorang yang memanggil dirinya. Terlihat wajah yang sangat Ia kenal “Risa” jawab Dini pada Risa, teman sekampusnya “Ngurus yudisium juga Din?” tanya Risa pada Dini “Iyalah, siap wisuda ini, siap kerja, nyari duit yang banyak” jawab Dini panjang lebar Risa terkekeh mendengar jawaban dari temannya tersebut “Yah, terus nikah dong sama yang di luar pulau” cecar Risa “Hmm, nikahnya masih lama, Sa, santai” jawab Dini perlahan “Lah, jangan lama-lama, nggak baik perempuan nunda-nunda” “Jodohnya juga sudah siap, tinggal bilang “SAH”, beres” kata Risa “Masih lama, Sa” jawab Dini “Pras belum boleh menikah dulu” kembali Dini berkata Risa mulai mengerti jawaban Dini, kewajiban Pras bekerja yang belum mengizinkan pegawainya untuk terikat pernikahan, membuat keduanya menunda untuk menikah “Hmm... nggak apa-apa Din, setidaknya kalian bisa punya banyak waktu untuk nabung buat nikah nanti” jawab Risa menyemangati Dini “Iya, bener kamu, Sa” jawab Dini “Yuk, cuzz diurus nih kertas-kertasnya” kata Dini sambil menggandeng tangan Risa bergegas menuju kantor Hari ini berjalan dengan lancar, meskipun cukup melelahkan mengurusnya. Dini dalam perjalanan pulang menggunakan motor kesayangannya. Menyusuri jalanan kota yang padat di waktu sore, hingga sampai di depan rumahnya. Dini masuk kedalam rumah, menyapa Ibu dan Bi Ismi yang sedang sibuk di dapur “Ibu, Dini pulang” kata Dini sambil mencium tangan Ibunya “Gimana yudisiumnya, Din” tanya Ibu pada Dini “Besok masih harus kembali lagi, Bu” jawab Dini “Begitu ya, sabar, diselesaikan ya” kata Ibu sambil mengelus pundak putrinya tersebut Dini mengangguk dengan ucapan hangat Ibunya tersebut “Ya sudah, mandi dulu sana, disini butuh bantuan tenaga nih” kata Ibu “Siapp” jawab Dini penuh semangat Dini segera membersihkan diri dan bersiap membantu Ibu dan Bi Ismi di dapur untuk perayaan sederhana sidangnya. Rencananya nanti Kak Arka juga bisa video call “Kangen, kamu Kak” gumam Dini Memang sudah cukup lama, Kakaknya Arka tidak menghubunginya. Biasanya dua hari sekali Kak Arka menyempatkan waktu untuk video call keluarga di rumah. Namun beberapa waktu ini sepertinya Kak Arka banyak urusan disana. Selesai membersihkan diri, Dini segera menuju dapur dan membantu memasak disana “Bu, apa yang bisa Dini bantu?” tanya Dini sambil mendekati Ibunya yang sibuk mengiris daging ayam “Terusin mengiris daging ayamnya, ya Din” “Ibu bantu Bi Ismi buat kaldu untuk kuah sotonya” kata Ibu sambil menyodorkan pisau dan daging ayam untuk diiris kepada Dini Aroma masakan mulai tercium di seisi rumah. Satu persatu hidangan pelengkap dan Soto Ayam sudah matang. Terdengar suara kendaraan berhenti di depan rumahnya “Ayah sudah sampai, Bu” kata Dini sambil melihat ke jendela dapur Jendela dapur bisa langsung menuju pagar depan rumah, sehingga terlihat siapa yang datang dari luar “Dini bukakan pagar dulu ya, Bu” kata Dini “Iya Din, tolong bukakan ya” “Ibu selesaikan ini, tanggung tinggal dikit” jawab Ibu Dini bergegas menuju pagar rumahnya, dan membuka pintu pagar rumahnya. Terlihat mobil milik ayahnya. Mobil tersebut melaju dan parkir di garasi rumah “Pulang jam berapa tadi, Din?” tanya Ayah kepada Dini “Jam empat sore, Yah” jawab Dini sambil mecium tangan Ayahnya “Ibu, sudah dirumah?” tanya Ayah kembali “Sudah dari tadi, Yah” jawab Dini “Didapur sama Bi Ismi” kata Dini Keduanya masuk kedalam rumah dan langsung menuju dapur untuk menemui Ibu dan Bi Ismi “Sudah pulang, Yah” sapa Ibu kepada Ayah, sambil mencium tangan suaminya tersebut Ayah mengangguk dan tersenyum melihat dapur dengan aroma masakannya “Ayah jadi lapar ini” “Wanginya sedappp” kata Ayah Ibu tersenyum mendengar ucapan Ayah “Mandi dulu, Yah” kata Ibu “Okeh, Ayah mandi dulu” jawab Ayah sambil berlalu meninggalkan dapur “Din, coba kamu telpon Kakakmu” “Bisa video jam berapa” kata Ibu kepada Dini “Kita bisa siap-siap sambil nunggu Ayahmu selesai mandi” kata Ibu kepada Dini “Siap, Bu” jawab Dini Dini segera mengambil Hpnya di kamar dan menghubungi Kakaknya. Dibawanya Hp tersebut ke dapur untuk bisa didengar oleh Ibunya saat menelepon sang Kakak “Tuuuuutt” “Tuuuuutt” terdengar nada dering panggilan untuk Kakaknya Tidak lama kemudian muncul waja sang Kakak di layar Hpnya “Iya, Dek” kata Arka dari Hp tersebut “Arka, nanti kita bisa ngobrol jam berapa?” tanya Ibu kepada Arka “Ibu” “Arka kangen, Bu” jawab Arka Ibu tersenyum memandangi wajah anak sulungnya di layar Hp tersebut “Ibu juga kangen, kita semua kangen sama kamu Arka” jawab Ibu “Nanti jam tujuh malam ya Bu, kita ngobrol video call an” kata Arka “Iya, Arka, jam tujuh kami tunggu ya” kata Ibu kepada Arka “Iya, Bu” jawab Arka “Dini, mana Dini, Bu” kata Arka “Dekkkkk” teriak Arka dari layar Hpnya, mencari adik kesayangannya “Yesss, Kakak” jawab Dini sambil mendekatkan wajahnya di layar Hp “Sarjana baru, gimana kabarmu Dek” kata Arka sambil tersenyum “Kelihatannya bagaimana” jawab Dini sambil memutar mutar tubuhnya, memperlihatkan dirinya di layar Hp “Sehat, Adekku terlihat sehat” kata Arka sambil terkekeh melihat tingkah adiknya tersebut “Ya sudah, lanjutin dulu kerjaannya, nanti dilanjotttt” kata Dini “Oke Ok, nanti ya” jawab Arka sambil melambaikan tangannya di layar Hp sebagai tanda selesainya pembicaraan mereka di telepon “Aku sayang, Ibu” kata Arka Selesai ngobrol sebentar dengan Arka, mereka kembali menyiapkan masakan di meja makan. Jarum jam sudah menunjukkan waktu pukul enam Bi Ismi datang menghampiri majikannya di meja makan “Bu, maaf, Ismi tidak bisa ikut makan bareng sama Mas Arka nanti” kata Bi Ismi memulai pembicaraan “Lho, kenapa, Bi?” tanya Ibu sambil mengerutkan dahinya “Joko masuk shift malam, Bu, dapat tukar jam dengan temannya yang sedang ada keperluan” “Jadi, Panji dirumah sendirian nanti, Bu, Bapaknya masuk jam delapan” kata Bi Ismi menjelaskan kepada Rumi, majikannya Bi Ismi tinggal bersama putra tunggalnya, bernama Joko, dan sudah mempunyai seorang cucu laki-laki berusia tujuh tahun bernama Panji. Joko putranya Bi Ismi kerja sebagai buruh pabrik sandal, jam kerjanya dibagi menjadi tiga shift. Saat putranya masuk pagi atau siang, Panji cucunya sedang bersekolah, sepulang sekolah biasa dititipkan di yayasan dekat rumahnya. Nanti saat Bi Ismi pulang kerja atau bahkan Joko, ayahnya pulang dari pabrik bisa langsung menjemput Panji pulang ke rumah. “Hmm gitu ya Bi” jawab Rumi “Kalau gitu, bungkus sotonya Bi, buat lauk di rumah, kue-kue nya itu juga, bawakan buat Panji” kata Rumi sambil mengambil plastik dan mengisinya dengan kuah soto. Irisan daging ayam, soun ia bungkus terpisah. Tak lupa Ia bungkuskan beberapa irisan kue ke dalam plastik. Ia siapkan untuk Bi Ismi dan cucunya Panji dirumah. “Ini, Bi, dibawa” kata Rumi sambil menyodorkan tas berisi beberapa makanan untuk dibawa pulang “Banyak banget, Bu” jawab Bi Ismi saat menengok isi tas tersebut penuh dengan makanan “Nanti Bapak sama Non Dini nggak kebagian, Bu” kata Bi Ismi “Kita kan tadi masak banyak, Bi” jawab Rumi “Cukup, Bi” “Tenang aja” kata Rumi “Bener, Bu, nggak apa-apa?” kembali Ia bertanya pada majikannya “Yakin” jawab Rumi mantap “Bu, makasih banyak, saya dibawain makanan sebanyak ini” kata Bi Ismi sambil menciumi tangan Rumi Rumi yang kikuk dengan tingkah Bi Ismi hanya bisa tersenyum “Saya pamitan ke Bapak sama Non Dini dulu ya Bu” kata Bi Ismi berpamitan “Dini kayaknya belum selesai mandi Bi, belum keluar kamar soalnya” “Kalau Bapak, duduk di teras” kata Rumi sambil menuntun Bi Ismi menemui suaminya untuk berpamitan “Bapak, Ismi minta maaf, tidak bisa ikut makan bersama bareng mas Arka juga” kata Bi Ismi menyela “Lho, kenapa Bi?” tanya Bhaskara, Ayah Dini “Joko masuk shift malam, jam delapan nanti, Panji nggak ada yang jagain, saya harus pulang, Pak” jawab Ismi “Hmm, ya sudah, nggak apa-apa Bi” jawab Bhaskara “Sudah dibawain makanan buat Bi Ismi, Bu?” tanya Bhaskara kepada Rumi istrinya “Sudah dong, Yah” jawab Rumi “Ibu bawakan saya banyak makanan,Pak” “Terima kasih, Pak, Bu” jawab Bi Ismi “Ya Bi, hati-hati dijalan, Bi” kata Rumi sambil membukakan pagar untuk Bi Ismi “Bu, tolong sampaikan pamit saya ke Non Dini” kata Bi Ismi sambil berjalan menuntun sepedanya “Ismi pulang dulu, Pak, Bu” kata Ismi sambil menutup pagar rumah majikannya “Hati-hati, Bi” jawab mereka bersamaan Sepulangnya Bi Ismi, Rumi mengajak suaminya masuk ke dalam rumah untuk bersiap dengan acara kecil di keluarganya “Sudah petang, Yah” “Ayo masuk, kita siap-siap” ajak Rumi kepada suaminya “Ayo, Bu” jawab Bhaskara sembari masuk dan menutup pintu rumahnya Kurang lima belas menit, jarum jam tepat di angka tujuh. Dini datang menghampiri kedua orang tuanya “Wah, banyak bener makanannya, ini gimana makannya?” kata Dini takjub dengan meja yang penuh dengan isi makanan “Sedikit perayaan, untukmu sayang” jawab Rumi kepada putrinya Dini mengangguk-angguk dan tersenyum mendengar jawaban dari Ibunya. Ia merasa istimewa malam ini, hangatnya keluarga semoga bisa terus Ia rasakan sepanjang waktu. Gumamnya dalam hati Dini sambil menyiapkan peralatan untuk video call bersama kakaknya “Bi Ismi, mana Bu?” tanya Dini kepada Ibunya “Pulang Din, Panji cucunya dirumah sendirian, Bapaknya masuk shift malam” jawab Rumi “Hmm, gitu ya” jawab Dini Dan yang dinanti pun tiba, suara dering Hp sebagai tanda panggilan telepon dari Arka, sang kakak “Malam, keluargaku yang hangat” sapa Arka dari seberang negeri melalui panggilan video callnya “Malam, Arka” jawab keluarganya kompak “Wah, ada makan besar nih, banyak makanan” kata Arka saat melihat banyaknya makanan di depan layarnya “Perayaan sederhana untuk adikmu, yang selesai sidang skripsinya” jawab Ibunya “Arka, lanangku” “Kabarmu gimana, sayang?” tanya Rumi kepada putranya “Sudah cukup lama kita nggak ngobrol begini” kembali Rumi berkata “Ibuku sayang, Arka sehat, Bu” jawab Arka “Maaf, akhir-akhir ini Arka cukup sibuk dengan praktek di rumah sakit” jawab Arka mencoba menjelaskan kepada keluarganya mengenai kesibukannya “Arka ambil praktek di rumah sakit, sekaligus sebagai bahan untuk persiapan kelulusan nanti, Bu” Putranya Arka menempuh pendidikan kedokteran di Inggris. Kegiatannya yang cukup padat memang sedikit menyita waktunya sehingga jarang ada waktu untuk menghubungi keluarganya “Ayah titip pesan, jaga kesehatanmu dan jangan telat makan, meskipun kamu sibuk” kata Ayah Arka tersenyum mendengar pesan dari Ayahnya. Ia pikir Ayahnya tidak terlalu peduli dengannya, selama ini Ibunya lah cukup sering menunjukkan perhatian dan kasih sayang kepada Arka. Baginya Ayahnya hanya menyayangi adiknya, Dini. Namun kali ini Ia mendengar Ayahnya berpesan kepada dirinya. Arka sangat senang mendengarnya “Tentu, Ayah” “Arka pastikan untuk selalu jaga kesehatan dan menyelesaikan pendidikan disini, sehingga bisa segera pulang ke rumah” jawab Arka penuh semangat Baginya tidak ada yang lebih membahagiakan saat ini, selain mengingat kata-kata dari Ayahnya tadi. Keluarga manis tersebut kembali melanjutkan obrolan santai sambil makan malam. Begitu pun Arka, Ia telah membeli makanan untuk di makan bersama meskipun tidak satu ruangan “Arka tadi beli soto ayam di kedai dekat rumah sakit” “Dekat rumah sakit ada kedai makanan, yang jual orang Indonesia, jadi makanannya khas Indonesia semua. Tiap hari berbeda menu sih, kebetulan ada soto ayam, Arka beli sotonya saja” “Ternyata sama dengan yang dimasak sama Ibu dirumah” kata Arka “Rasanya gimana, Kak” tanya Dini kepada Kakaknya “Lumayan sih, tapi tetap masih enakan masakan Ibu” jawab Arka sambil memuji masakan Ibunya Rumi tersenyum mendengar pujian dari anak lelakinya “Kedai Indonya ramai, disana?” tanya Rumi kepada putranya “Ramai banget, Bu” “Justru yang beli kebanyakan orang asli sini, Bu, jarang ada orang Indonya, ada sih, beberapa” jawab Arka “Berarti orang asli sana banyak yang suka dengan masakan negara kita ya, Kak” tanya Dini kembali kepada Kakaknya “Iya, Dek” “Teman Kakak, juga suka beli makanan disana” “Katanya, masakan disana terasa bumbunya, beraneka rasa” kata Arka “Wahhh, Dini ikut bangga dengarnya, Kak” kata Dini “Iya Dek, Kakak juga bangga pas teman Kakak bilang seperti itu” kata Arka Perbincangan hangat di keluarga tersebut berlangsung dengan tawa renyah. Begitu banyak pertanyaan dan tema yang dibahas dalam obrolan sederhana keluarga tersebut. Hingga waktu sudah menunjukkan jam sembilan malam. Kurang lebih dua jam keluarga Dini saling melepas rindu dengan kakaknya Arka. “Ka, sudah jam sembilan malam, nggak terasa kita ngobrol begitu lama” kata Ibu “Iya juga ya, untung hari ini libur di rumah sakit, bisa istirahat” jawab Arka “Ya sudah, Ka “ “Ngobrolnya di stop dulu ya, sudah malam, kamu juga mesti istirahat” kata Ibu mengakhiri perbincangan “Iya, Bu” jawab Arka “Selamat istirahat Ka, terima kasih sudah meluangkan waktu untuk keluarga di sela sibuknya kegiatanmu disana” kata Ibu “Selamat istirahat juga Ayah, Ibu dan sarjana baru” jawab Arka sambil melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan dalam perbincangan mereka Selesainya obrolan keluarga, Dini dengan sigap merapikan meja makan, menyimpan beberapa sisa makanan ke dalam lemari pendingin. Mencuci peralatan makan yang kotor, dibantu oleh Ibu. Sedangkan Ayah tak canggung untuk menyapu ruangan makan mereka untuk bersiap istirahat “Selesai, bersih semua” kata Ibu “Yuk, lanjut istirahat” “Besok masih harus aktivitas kembali” kata Ibu “Iya Bu, Dini istirahat dulu ya” “Malam Yah, Bu” kata Dini sambil melangkah meninggalkan ruang makan menuju kamar tidurnya “Malam juga sayang” jawab Ayah dan Ibu bersamaan Waktu terus berjalan, tidak terasa dokumen yudisium Dini telah selesai. Dini hanya perlu menunggu waktu untuk wisuda yang sudah dijadwalkan. “Din, seragam keluarga untuk wisuda mu nanti sudah siap, lho” kata Ibu saat selesai sarapan “Berkas yudisium kamu juga sudah beres kan?” tanya Ibu pada Dini “Sudah, Bu” jawab Dini “Dini juga dapat Surat Keterangan Lulus, bisa Dini scan dan mulai cari pekerjaan” jawab Dini penuh semangat “Wah, anak Ibu sudah siap bekerja nih” kata Ibu sambil tersenyum melirik suaminya “Nggak terasa, putri Ayah sudah tumbuh dewasa” kata Ayah sambil mengecup rambut Dini “Dini pengen segera bekerja, bosan juga belajar terus” jawab Dini “Ibu sudah nggak sabar datang saat wisudamu nanti” kata Ibu Perbincangan pagi ini seperti sumber semangat bagi Dini. Dirinya benar-benar merasa puas dengan kerja kerasnya selama ini. Kedisiplinan yang Ia terapkan sangat bermanfaat baginya, waktu yang Ia pergunakan untuk belajar, belajar dan terus belajar, hingga memperoleh nilai maksimal di pendidikannya ini. Ia pun bersemangat untuk segera mendapatkan pekerjaan. Baginya, waktu lima tahun sangat singkat untuk menabung jika tidak bijak dari sekarang. Ia memimpikan pesta pernikahan yang indah bersama Pras nanti. Pastinya Ia harus mengupayakan biayanya dari sekarang, karena itulah semangat nya untuk mendapatkan pekerjaan begitu membara “Hmm hari ini mau scan Surat Keteangan Lulus ini dan foto, lanjut membuat Surat Lamaran Pekerjaan, lanjut buat CV, di pdf” “Sewaktu-waktu ada lowongan yang cocok tinggal edit beberapa, bisa apply lamaran pekerjaan” gumam Dini sambil menyiapkan beberapa berkas yang Ia perlukan untuk di scan Dini begitu sibuk di depan layar Laptopnya, mencari dan memilih lowongan pekerjaan yang dirasa cocok untuknya. Sambil terus mengamati persyaratan dan dokumen yang diperlukan. “Hmm, lowongan sebagai Admin dan Sekretaris cukup banyak rupanya” “Ini sangat menguntungkan, Aku bisa memilih perusahaan yang sesuai” gumam Dini sambil terus sibuk di depan layar laptopnya Dini mengambil pendidikan sarjananya di sebuah Universitas Swasta terkemuka di kotanya. Jurusan Administrasi Perkantoran menjadi pilihannya saat itu, menurutnya pekerjaan sebagai Administrasi bisa dimanfaatkan di semua bidang pekerjaan, baik jasa maupun produksi. Hampir setiap perusahaan membutuhkan tenaga Administrasi. Hal itu Ia buktikan dengan banyaknya lowongan sebagai tenaga Administrasi dan Sekretaris yang Ia lihat saat ini “Dua perusahaan ini menarik, Aku apply lamaran yang ini saja” senyum Dini sambil menyiapkan dokumen yang Ia butuhkan Meskipun Ia belum menerima Ijazah Sarjananya, namun Dini merasa cukup yakin melamar pekerjaan menggunakan Surat Keterangan Lulus dan Transkrip Akademik Sementara miliknya. Dokumen tersebut cukup sah untuk mewakili ijazahnya yang belum selesai. “Sekalian cari lowongan lain, yang mencantumkan alamat perusahaannya” gumannya “Taruh lamaran pekerjaan secara langsung, bisa sekalian keliling kota, cari hiburan” “Cukup bosan juga dirumah nunggu wisuda begini” pikir Dini saat ini “Nah, ini tidak terlalu jauh dari rumah, catat dulu alamatnya dan detailnya, lanjut siapkan berkasnya” kembali Ia bergumam Setelah Dini mencatat beberapa alamat perusahaan yang Ia minati beserta keterangan yang diminta, Dini menyiapkan berkas yang diperlukan. Terdengar suara printer miliknya yang mulai kembali riuh seisi kamarnya. Setelah memeriksa dokumen yang Ia butuhkan, Ia menyiapkan dokumen lainnya sebagai pendukung lamarannya. “Besok ada tiga perusahaan yang menjadi tujuan pengiriman surat lamaran” gumam Dini “Semoga besok dilancarkan” gumam Dini sambil memasukkan amplop coklat ke dalam tas nya dan mencatat alamat yang akan Ia tuju dalam sebuah kertas kecil. Dirinya sudah cukup siap untuk mengirim lamaran pekerjaan. Semangatnya sangat membara. Dini mulai melemaskan otot kedua tangannya yang sudah sangat sibuk seharian menyiapkan dokumen untuk melamar pekerjaan. Hingga Dini merebahkan tubuhnya di atas kasur dan dengan mudahnya tertidur lelap. Tubuhnya sudah sangat lelah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN