1. Pesta Membawa Petaka
Gaun biru pastel itu melekat sempurna di tubuh Zoey, memancarkan kesan anggun. Sayangnya, ketenangan itu sama sekali tidak tercermin dalam hatinya. Di depan cermin besar kamarnya, Zoey menatap pantulan dirinya dengan tatapan datar. Ada keraguan besar yang menggelayuti pikirannya. Logikanya berbisik untuk tetap di rumah, namun bayang-bayang wajah sahabatnya, yang memohon dengan sangat kemarin kepada dirinya dirumah, membuat Zoey tidak tega untuk bersikap egois.
Ting.
Suara notifikasi memecah keheningan. Zoey segera mengecek ponselnya yang tergeletak di atas meja riasnya. Sebuah pesan balasan dari sang Papa terpampang di layar. Senyum Zoey langsung merekah, dia mendapatkan izin yang dinanti-nanti untuk menghadiri pesta ulang tahun Tiara. Zoey sudah bisa menebak Papanya akan memberikan izin bagaimana Papanya tahu dia begitu akrab dengan Tiara.
"Baiklah, ayo kita pergi, Zoey! Jangan biarkan sahabatmu sedih tanpa kehadiranmu malam ini," ucap Lea penuh semangat, mencoba menularkan energi positif pada dirinya sendiri. Zoey tersenyum tipis, menghela napas panjang. Dia memantapkan hati, tanpa pernah menduga bahwa keputusan itu akan menjadi awal dari mimpi buruknya.
Sesampainya dia di tujuan, dengan alamat yang diberikan oleh Tiara, dia sangat terkejut sekali ini bukan gedung biasa tapi gedung yang dikemas seperti konsep seperti hotel.
"Selamat datang mbak, temannya Non Tiara ?"
"Iya saya temannya Tiara."
"Mari saya antar mbak menuju tempat acara pestanya."
Zoey mengangguk dan mengekori petugas resepsionis.
Zoey sampai kaget dengan pesta yang tampak begitu gemerlap dia kira hanya pesta biasa aja, nyatanya dia salah. Musik berdentum keras, lampu-lampu neon warna-warni membius puluhan yang hadir di dalam hotel ini, tawa renyah terdengar di setiap sudut. Zoey langsung speechless menatap orang-orang disini yang tengah sibuk bergoyang mengikuti musik DJ yang di putar.
Melihat kedatangan Zoey, Tiara langsung berlari menyambutnya. Tanpa basa-basi, ia menarik Zoey mendekat ke tempat acara seolah-olah Zoey adalah tamu paling spesial malam ini.
"Tiara, kenapa pestanya mewah sekali? Kenapa kamu tidak bilang kalau acaranya akan seheboh ini dan banyak orang disini ?" protes Zoey, merasa sedikit tertipu. "Pantas saja kamu memintaku memakai gaun seksi ku ini !"
Tiara terkekeh pelan, mencoba meredakan kekesalan sahabatnya ini.
"Maaf, aku terpaksa tidak jujur. Aku takut kamu tidak mau datang, makanya kemarin aku memaksa mu untuk datang Marko juga membawa teman-temannya siapa tahu kamu dapat pacar malam ini teman-temannya pada ganteng lho Zoey."
"Ngaco kamu, aku hanya ingin menghadiri acara ulang tahun mu saja. Malah jadi begini pestanya sangat besar begini aku kurang nyaman."
"Hehe.. aku juga tidak tahu juga ini semua idenya Marko yang merancang semua pestanya sebesar ini. Awalnya aku pikir ini cuma untuk sahabat dekat kita saja, tapi ternyata Marko mengundang banyak sekali temannya aku juga tidak tahu siapa mereka, tapi kebanyakan dari rekan bisnisnya gitu dan teman-teman aku juga. Zoey, Aku juga tidak menyangka di hari ulang tahunku kali ini begitu mewah dan membuat aku bahagia."
Zoey menghela napas panjang dia tahu Tiara anak orang kaya dan orang tuanya sangat mendukung apapun yang Tiara lakukan, lagian ini gedung milik mereka jadi dia bebas melakukan apapun aktivitas di dalam gedung tersebut yang pastinya kedap suara.
Zoey menghela napasnya. Nasi sudah menjadi bubur, ia sudah telanjur sampai di lokasi ini dan tidak mungkin berputar arah untuk pulang lagi, lagian Papa dan Tante Mira juga tidak ada di rumah jadi lebih baik dia disini aja sebentar, walaupun dengan jujur dia merasa tidak nyaman dengan pesta ini, tapi dia akan coba menikmatinya.
"Zoey apakah kamu marah kepada ku ?" Ucap Tiara menatap Zoey hanya diam. "Please jangan pulang ya, coba nikmati aja pesta ini sekalian refreshing Zoey kamu juga bisa istirahat kalau kamu tidak nyaman banyak kamar kosong disini." Ujar Tiara mencoba menyakinkan Zoey.
"Baiklah ini demi kamu, aku akan menikmati pesta ulang tahun mu ini."
"Terima kasih Zoey. Kamu memang sahabat terbaik ku."
Zoey mengangguk dan mencari tempat duduk sedangkan Tiara sudah bergabung bersama kekasihnya yang sedang menari.
Namun, di balik keramahan yang tampak sempurna, ada niat busuk yang telah dirancang dengan rapi. Seseorang di pesta itu nampak gembira dengan kehadiran Zoey ini, yang dia tunggu sejak dari tadi. Rasa iri hati sudah melekat pada dirinya sehingga dia telah menyiapkan sebuah jebakan keji dengan imbalan yang besar.
Saat Zoey mulai larut di tengah kerumunan dan mencoba menikmati musik sambil bermain di ponselnya dia sudah merasa bosan. Dia sesekali melirik kearah bar mini itu, orang-orang sudah mengikuti musik yang kencang. Seseorang tiba-tiba mendekat dan menyodorkan sebuah gelas berisi minuman berwarna manis kepada Zoey.
"Maaf, aku tidak minum alkohol," tolak Zoey dengan sopan sembari melambaikan tangan.
"Tenang saja, Nona. Ini bukan alkohol, kok. Ini hanya minuman soda biasa," yakinkan sang pembawa gelas dengan ramah.
Merasa tenggorokannya mulai kering ditambah suasana pesta yang terasa semakin gerah, Zoey akhirnya menerima gelas itu. Tanpa rasa curiga sedikit pun, ia meneguk minuman manis tersebut untuk melepaskan dahaga. Zoey sama sekali tidak menyadari, bahwa di balik rasa manis itu, sebotol obat perangsang dan sedikit obat tidur sudah dicampur kedalam minumannya yang akan menjatuhkannya ke dalam bahaya.
Hanya butuh waktu lima belas menit bagi obat itu untuk bekerja di dalam tubuh Zoey. Tiba-tiba saja, kepalanya terasa berdenyut sangat pusing. Rasa panas menjalar ke seluruh tubuhnya, bersamaan dengan pandangannya yang mulai mengabur.
Sambil mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya, Zoey meraih tasnya. Ia mencoba bangkit dari kursi, berniat menuju ke kamar mandi untuk membasuh muka. Namun, di tengah kesadarannya yang perlahan-lahan meredup, tanpa Zoey sadari seorang pria sejak dari tadi memperhatikan Zoey.
Zoey memegangi kepalanya yang terasa berdenyut kencang. Langkah kakinya goyah, membuat tubuhnya berjalan sempoyongan seperti kehilangan keseimbangan. Melihat kondisi itu, seorang pria di dekatnya segera mendekat.
"Nona, apakah Anda baik-baik saja?" tanya pria itu dengan suara yang terdengar lembut dan penuh perhatian.
"Iya, aku baik-baik saja," jawab Zoey, mencoba meyakinkan diri sendiri meski suaranya terdengar parau.
Namun, begitu Zoey mencoba melangkah lagi, rasa sakit yang luar biasa kembali menghantam kepalanya. Pandangannya mulai kabur dan berputar.
"Anda mau kemana, Nona?" tanya pria itu lagi, raut cemas mulai tampak di wajahnya.
"Aku mau ke kamar mandi... Kenapa tubuhku panas sekali?" racau Zoey. Kesadarannya mulai menipis, terkikis oleh rasa panas yang tiba-tiba membakar seluruh tubuhnya.
"Mari, saya antar," tawar pria itu sambil mengulurkan tangan, bersiap memegangi lengan Zoey.
"Tidak usah, aku bisa sendiri," tolak Zoey dengan suara lirih.
Ia mencoba memaksakan kakinya untuk melangkah, namun tubuhnya justru kehilangan daya dan mendadak limbung.
"Aduh... kenapa kepalaku mendadak sepusing ini?" bisik Zoey dalam hati, tepat sebelum semuanya terasa gelap, berjuang keras agar tidak jatuh pingsan di tempat itu.
Melihat kondisi Zoey, pria itu kembali menawarkan bantuan dengan nada meyakinkan. "Ayo, saya antar Nona ke kamar saja, untuk istirahat. Nanti saya akan beri tahu Nona Tiara kalau Anda sudah di kamar. Saya juga akan ambilkan obat untuk Nona."
Tanpa rasa curiga, Zoey mengangguk pasrah. Di dalam benaknya yang mulai berkabut, ia mengira pria ini adalah salah satu teman Marko kekasihnya Tiara , meski ia sendiri kesulitan mengenali wajahnya dengan jelas. Pria itu kemudian membimbing Zoey masuk ke kamar.
"Selamat beristirahat, Nona aku akan segera kembali membawa obat untuk Nona," ujar pria itu setelah mengantarnya masuk.
"Terima kasih," jawab Zoey lirih ia bersyukur orang ini berniat baik kepada dirinya. Dia menutup pintu kamar Zoey.
Di dalam kamar, Zoey terus mengibas-ngibaskan tangannya ke wajahnya, Rasa panas yang membakar tubuhnya justru semakin menjadi-jadi dan tak tertahankan.
Belum sempat ia memahami apa yang terjadi pada dirinya, pintu kamar tiba-tiba terbuka. Seorang pria lain masuk dalam keadaan mabuk berat, lalu langsung memutar kunci pintu dari dalam. Rasa bahaya seketika menyengat naluri Zoey.
Pria tersebut sama seperti dirinya dia terlihat membuka bajunya dan membuang bajunya asal-asalan ke lantai.
Zoey ketakutan dan berusaha bangkit dari tempat tidur untuk berontak dan melarikan diri. Sialnya, tubuhnya sama sekali tidak mau mematuhi perintah otaknya, dia justru merasa lemas dan tak berdaya. Zoey merasakan ada yang aneh di dalam tubuhnya ada rasa geli yang mengoda menjalar pada tubuhnya sendiri.
Sembari menahan rasa tidak nyaman yang terus bergejolak, kesadaran Zoey mulai hilang timbul. Ia mencoba sekuat tenaga menahan tubuh pria itu saat menghimpitnya yang kini sudah bergerak maju.
Namun, pertahanan Zoey runtuh saat pria itu menyambar dan melumat bibirnya. Efek obat yang menjalar di dalam darahnya tiba-tiba meledak, memutus akal sehat yang tersisa. Bukannya menolak, tubuh Zoey justru memberikan respons yang berlawanan.
Tanpa sadar, tangan Zoey bergerak naik dan melingkar erat di leher pria tersebut. Pada detik itu, Zoey benar-benar telah kehilangan kendali atas dirinya sendiri.
***