Suasana ruang kesehatan itu lenggang. Bukan karena tidak ada orang, tapi karena tidak adanya aktifitas.
Gema dan Gendis sibuk terdiam menatap Faya yang masih terpejam. Sudah satu jam Faya pingsan hingga sekarang dan belum juga bangun.
Mereka berdua sangat khawatir, apalagi suhu badan Faya sangat panas. Bu Nia, selaku petugas kesehatan bilang jika Faya demam biasa. Yah, semoga saja hanya demam biasa.
"Gema, bukannya lo hari ini ada ulangan harian?" ucap Gendis.
"Iya," jawab Gema lesuh.
"Jam berapa?"
"Sembilan,"
"Masih ada waktu, lo harus kembali ke kelas."
"Ngg.."
"Faya aman sama gue, Gema."
"Tapi Ndis..."
"Lo ngga percaya sama gue?"
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Gema pun berlari keluar kelas.
Melihat hal itu, Gendis tersenyum. Gema lucu sekali. Ah, sayang cowok itu sudah milik sahabatnya.
Berkisar waktu lima belas menit dari kepergian Gema, Faya membuka matanya.
"Fay, lo masih inget gue kan?" ucap Gendis heboh. Ada perasaan senang melihat Faya sudah bangun
Faya yang belum sadar total pun hanya menghernyit heran, dan hal itu cukup membuat Gendis khawatir.
"Kok lo bisa di sini?" ucap Faya.
Gendis bernafas lega, "tadi ada yang ngasih tau gue, tapi gue ngga tau siapa. Katanya lo sakit di uks."
"Gue nggak papa kali, Ndis."
Gendis tersenyum kecut, "apa suhu badan 41 derajat itu yang namanya nggak papa?"
Sontak Faya pun memeganggi lehernya, "panas."
"Oh ya, sekarang jam berapa Ndis?"
"Sembilan lebih dua puluh," ucap Gendis.
"gawat, gue ada ulangan kimia!" Faya pun turun dari ranjang.
Gendis mencegah gerakan Faya, "gue tau, tapi keadaan lo lebih penting "
Faya berdecak, "gue ngga mau ulangan sendiri, lo tau kan Bu Nanik itu gimana?"
"Gue tau Faya, tapi kesehatan lo sekarang lebih penting."
Tak mau mendengar Gendis, Faya masih bersikap keras kepala. Gadis itu menuruni ranjang dan bergegas keluar ruang kesehatan.
Gendis tak bisa mencegah, Faya selalu keras kepala. Dia pun membiarkan Faya kembali ke kelas. Namun belum juga keluar dari kelas, langkah kaki gadis itu sudah tercekat oleh sosok Ari yang tiba-tiba muncul di depan pintu.
"Mau kemana?" tatapan dingin itu membuat Faya terpaku. Dia sangat terkejut saat sosok Ari tiba-tiba muncul dihadapannya.
"Kelas," rasanya tak mampu Faya melihat mata Ari, gadis itu memalingkan matanya.
"Nggak, lo harus istirahat!" ucap Ari tegas.
"Gue mau ke kelas, gue takut nanti ulangan sendirian, gue nggak bisa kimia, gue mau ke kelas!" teriak Faya. Gadis itu ingin menangis. Ah tidak, Faya sudah menangis!
Ari diam, cowok itu menatap Faya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Dasar cengeng," desis Ari pelan. Senada dengan itu, tangan Ari menyeret lengan seragam Faya.
Faya yang terkejut pun limbung, hal itu pun membuat Ari semakin mudah menyeret tubuh Faya menuju tempat tidur.
"Tidur!"
Faya masih tidak bergeming.
"Tidur nggak?"
Mau tak mau, gadis itu menurut. Kini tubuhnya sudah berada di atas tempat tidur.
Melihat adegan Faya yang dengan mudah menuruti perintah Ari, membuat Gendis bertanya-tanya. Ada apa ini? Kehadiran Ari di sini pun membuat Gendis binggung. Setau Gendis, Faya tidak akrab dengan Ari.
Sementara Faya sibuk memikirkan cara untuk keluar dari tempat ini, Ari sibuk mengeluarkan isi plastik hitam yang sedari tadi ia bawa. Ada sepelastik teh yang masih mengepul panas.
"Minum!" ucap Ari seraya menyodorkan teh hangat itu.
Faya terkejut, gadis itu baru menyadari jika Ari membawa sesuatu. Dia pun menerima teh hangat itu, "terima kasih!"
"Lo istirahat, nggak usah mikir aneh-aneh!" ucap Ari penuh perintah.
Faya yang mendengar hal itu pun mengangguk.
"Ngga usah mikir ulangan, besok nyusul bareng gue."
Deg.
Jantung Faya berdetak dengan cepat. Kini gadis itu menatap Ari penuh arti. Cowok dingin ini, kenapa sekarang terlihat sangat manis?
Faya tersenyum senang, "akhirnya gue bisa bernafas lega."
Tanpa berpamitan, Ari melangkahkan kaki pergi.
"Mau kemana Ar?" ucap Faya panik.
Ari tidak menanggapi, masih berjalan menuju pintu.
"Ari, makasih!" seru Faya yang membuat Arizona menghentikan langkahnya.
Faya berharap, cowok itu menoleh dan memberikan senyuman. Namun sayangnya, tidak. Dia berlalu dan mengabaikan ucapan terima kasih Faya.
Senyum senang masih tergambar di wajah Faya, sekalipun Arizona tidak tersenyum kepadanya. Setidaknya teh hangat yang manis ini, bisa menggambarkan betapa manisnya perilaku Ari padanya hari ini. Dan itu membuat Faya bahagia.
Sudah sekian lama Faya tidak merasakan perhatian dari sahabat kecilnya itu.
Terlalu sibuk tersenyum, Faya tidak sadar jika di hadapannya ada Gendis yang menatapnya penuh selidik.
"Faya.."
"Apa sih Ndis?" ucap Faya.
Gendis menautkan alisnya heran, "lo ada hubungan apa sama Ari?"
Menyadari arah pertanyaan Gendis kemana, membuat senyum itu, hilang dari wajah Faya.
"Gue sama Ari temen sekelas.. " ucap Faya dengan nada yang cukup membuat Gendis semakin curiga.
"Jangan-jangan..."
"Jangan-jangan apa sig ndis!" teriak Faya membuat Gendis terkejut.
"Apa Ari penyebab kenapa Miska suka banget ngebully lo?"
Faya terdiam dan membuat Gendis semakin geram.
"Betul Fay?"
"Faya.."
Masih terdiam. Faya masih membisu.
"Ah, gue capek Fay!" ucap Gendis dengan tersenyum getir, "sebenarnya gue ini sahabat lo atau nggak sih?"
Akhirnya kata itu terucap dari mulut Gendis. Setelah beberapa hari ini dia menganggu pikiran Gendis, akhirnya hari ini dia mengucakannya.
"Kok lo ngomong gitu sih ndis?"
"Gue ngeras ngga berarti di mata lo," air mata Gendis kini turun "lo pacaran sama Gema gue nggak tau,"
"Dan sekarang..sejak kapan lo akrab sama Ari? Lo bahkan nggak pernah cerita tentang Ari ke gue."
"Gendis, lo salah paham."
"Apanya yang salah paham Fay? Gue emang nggak berarti kan di hidup lo?" teriak Gendis seraya bercucuran air matanya.
Faya terdiam. Hatinya sakit sekali melihat sahabatnya menangis seperti ini, apalagi karena dia.
"Tapi yang buat gue sakit bukan itu semua, tapi janji lo Fay! Janji jomblo until akad!"
Faya memejamkan matanya, ini yang ia takutkan.
"Biarlah janji itu menjadi urusan lo dan Allah,"
"Gue nggak merasa dihianati, tapi izinkan gue memberi tahu lo tentang ayat la taqrobuzzina. Tentang Allah melarang kita untuk mendekati zina,"
"Dan juga, pacaran hanya akan membuatmu sibuk dengan hal-hal yang tak berguna, Faya."
"pikirkan lagi Fay, Allah maha pengampun." ucap Gendis, sesaat setelah itu, gadis itu pun pergi meninggalkan Faya sendiri.
Sementara Faya, kini terisak. Dia benar-benar keliru, kebohongan itu benar-benar keliru.
Di luar ruangan kesehatan, Gendis terperanjat kaget. Ada Arizona.
Cowok itu kini terpejam seraya menyandarkan tubuhnya di dinding. Menikmati setiap alunan lagu yang keluar dari earphone yang terpasang di telinganya.
"Kenapa lo masih disini?" ucap Gendis.
"Yang seharusnya tanya, gue." ucap Arizona santai "kenapa lo disini? Sahabat lo sakit di dalam, dan malah lo tinggal?" Arizona tersenyum mengejek dan itu sukses membuat Gendis jengkel.
"Lo siapa nya Faya sih?"
"Gue? Bukan temen atau sahabat, apalagi pacar atau gebetan. Tapi gue akan ada di samping Faya saat dia kesusahan."
Ucapan Ari membuat Gendis binggung. Namun cukup menyadarkan hatinya. Ari yang bukan siapa-siapanya Faya aja perduli, masak dia yang ngaku sahabatnya malah ninggalin Faya kek begini?
Dengan rasa penuh penyesalan, Gendis pun masuk kedalam ruangan kesehatan.
Dia memang marah, tapi dia tak akan jahat hingga meninggalkan Faya sendiri saat sakit seperti itu.
Tbc