Bab 5

1728 Kata
Saat keluar dari toko, Faya baru menyadari jika langit malam itu hujan. Gadis itu mengeratkan blezer yang ia kenakan, udara malam itu sangat dingin. Tidak ada pilihan, selain menunggu. Apa lagi yang bisa dilakukan saat hujan deras begini selain menunggu. Ide konyol jika dia harus menerjang hujan malam-malam begini. Sekalipun Faya sangat menyukai hujan tapi kesehatan tetap nomor satu. Faya pun mencari tempat yang nyaman untuk menunggu, di pintu utama toko buku itu sesak dipenuhi beberapa orang yang senasip dengannya. Faya pun memutuskan untuk pergi ke area samping toko, yang kelihatannya lebih nyaman disana. Setelah melakukan gerakan kecil menghindari hujan, Faya pun kini berada di samping toko. Gadis itu menghembuskan nafasnya lega, setidaknya jika di sini dia bisa bernafas dengan lega dari pada di pintu utama tadi. Yang sesak dan pengap. "Faya ya?" Faya pun menoleh ke sumber suara tersebut. Dahinya mengkerut, siapa cewek berambut kriting ini? dia tak pernah pelihatnya. "Oh jadi ini, pacarnya Gema." ucap cewek berambut pirang yang berada di samping cewek berambut kriting tadi. Sepertinya dua cewek yang berada di sebelah Faya adalah teman sekolahnya. Atau mereka berdua adalah penggemar Gema? Jika iya, maka celaka lah Faya. "Nggak ada cantik-cantiknya," ucap cewek pirang itu dengan senyum sinis yang membuat Faya memutar bola matanya. sepertinya malam ini akan menjadi malam yang panjang. "Apa gue bilang, kayaknya dia pakai susuk deh." imbuh cewek kriting seraya tertawa kecil "atau dia pakek santet?" "Gema pasti cuma manfaatin elo!" mata cewek pirang itu menatap Faya tajam, jarak diantara mereka pun semakin dekat "jauhin Gema atau nggak lo akan..mati di tangan gue." Bulu rambut Faya merinding, suara cewek itu mampu membuat Faya sedikit ketakutan. ya, hanya sedikit karena menurut Faya ini lucu sekali. Apa kata cewek itu? Gema manfaatin dia? setau Faya dialah yang manfaatin Gema. Jauhin Gema? memang siapa yang ingin dekat-dekat dengan Gema? Tanpa di ancam pun, Faya rela menghilang dari kehidupan Gema. Apalagi semenjak peristiwa di koridor sekolah itu. Peristiwa kebohongan itu. "Maaf kalian siapa ya?" ucap Faya seraya tersenyum ramah. Tangan cewek berambut pirang itu pun menarik kerudung biru Faya, Faya yang tidak siap dengan serangan mendadak itu pun gelagapan. "Ngga usah sok polos ya Fay, gue tau kebusukan lo!" "Awh!" Faya merintih kesakitan, semua orang yang ada di situ menatap mereka. Faya malu sekali, sangat! Dan dia tak habis pikir, kenapa cewek berambut pirang itu tidak merasa malu. Padahal mereka berdua sudah menjadi tontonan sekarang. "Lo harus rasain, gimana sakitnya hati gue." Tarikan itu semakin kencang "gue udah suka Gema selama lima tahun tapi kenapa dia harus jadian sama cewek kayak lo FAYA!!" Faya masih diam, dia ingin sekali membalas, tapi melihat keadaan dimana mereka berdua sudah seperti orang gila yang menjadi bahan tontonan, Faya pun hanya berusaha melepaskan tarikan itu. "Lepasin," Faya meronta. "ADA APA INI?" suara bariton milik satpam itu mengintrupsi gerakan tangan cewek berambut pirang. seketika tangan itu terlepas dari kerudung Faya. "Mbak nggak papa?" ucap seseorang mendekati Faya. Faya tersenyum, "nggak papa kok!" "Mbak nggak papa kan?" tanya Pak satpam yang dijawab anggukkan oleh Faya. Cewek berambut pirang itu pun salah tingkah, karena sekarang semua orang tengah menatapnya penuh selidik. Dengan gayanya yang tak tau malu, dia dan cewek berambut keriting itu pun pergi, menerobos hujan yang turun deras. Kini faya pun mengucapkan terima kasih, kepada beberapa orang yang membantunya. sebenarnya orang-orang itu tidak tau siapa yang salah dan yang benar, namun saat melihat tingakah cewek berambut pirang yang kabur sebelum dimintai penjelasan, mereka menjadi tau jika Faya adalah korbannya. Dan malam itu semakin larut, namun hujan masih saja turun dengan irama yang sama. yang tak sama adalah orang yang sedari tadi menunggu redanya. Kini mereka tak lagi menunggu, mereka sudah jenuh dan memutuskan untuk menerobos hujan. Mau tak mau, itulah yang dilakukan Faya. Sekalipun nanti dia akan sakit. Namun itu lebih baik dari pada harus bermalam disini. ~Kekasih Halal~ Senin adalah pusat kemalasan berada. Semua orang akan merasa malas untuk mengawali aktifitasnya kembali. Termasuk Ari, pagi itu setelah sholat shubuh dia tidur kembali. Hingga tanpa ia sadari jam sudah menunjuk angka enam lebih lima belas menit. Dengan The power of kepepet cowok itu pun bisa sampai sekolah pada pukul tujuh lebih lima belas menit. Padahal jarak rumah dan sekolahnya lumayan jauh. Sekali pun begitu, dia masih saja terlambat. Untungnya, Senin ini tidak ada upacara bendera. Karena di Aksara upaacara bendera dilakukan dua minggu sekali. Dengan begitu, Arizona pun memiliki sebuah rencana untuk menyelinap masuk ke dalam sekolah. Baginya, meneylinap masuk lebih baik ia lakukan dari pada harus dihukum oleh Bu Saila. Ia masih teringat hukuman minggu lalu, Bu Saila menyuruhnya menghafal surat An-naba. Bagi Arizona hukuman itu sangat berat, namun syukurlah dia masih bisa memenuhi tugasnya. Dan dia tidak mau lagi mendapat hukuman seperti itu. Lebih baik dia mendapat hukuman skors, atau membersihkan halam belakang sekolah. Sayangnya semenjak ruang BK dikuasai oleh Bu Saila, semua hukuman macam itu sudah ditiadakan. GREP! Arizona pun berhasil melalui pagar belakang yang memang menjadi pintu rahasia para siswa-siswi Aksara. Dengan santai, cowok itu menyusuri koridor kelas yang sepi. Karena pelajaran memang sudah berlangsung sejak tiga puluh menit yang lalu. Ya, sekarang pukul tujuh lebih tiga puluh menit. Setiba dikelasnya, Arizona bersorak bahagia. Karena Pak Adit tidak masuk dikarenakan sakit, oh beruntungnya Arizona hari ini. Dia pikir dia akan mendapatkan hukuman telat dari Pak Adit. Tapi ternyata, ah..jam kosong memang paling menyenangkan dalam cerita putih abu-abu. Lima menit Arizona masuk kedalam kelas dan meletakkan pantatnya di atas kursi. Lima menit kebahagiaan itu baru saja terjadi. Lima menit keberuntungan ia yakini, namun.. teriakan Bu Saila mengganggu semuanya. "ARIZONA!!!" ucap Bu Saila dengan kilatan kemarahan yang terpancar di matanya. Kondisi kelas yang awalnya sangat ramai dengan ocehan-ocehan manusia yang ingin didengar, kini menjadi sangat sepi, semuanya terkejut dengan teriakkan Bu Saila. "ARiZONA!" Dengan gelagapan, Arizona pun menuju meja depan. Menemui sang pemilik suara yang tak lain dan tak bukan adalah Bu Saila. "Ada apa Buk?" ucap Arizona polos. "Kamu itu ya!!!" "CEPAT SANA, KE RUANG BK!!!" Arizona menggaruk tengkuk seraya menampakkan senyum tak bersalahnya. Dan itu semakin membuat Bu Saila marah. Tiba di ruang BK, Arizona dikejutkan dengan ketiga sosok manusia yang sepeprtinya senasip dengan dirinya. Gema, Dado dan Faya. JIka Gema dan Dado berada di ruang Bk dia bisa maklumi, namun Faya? kenapa gadis itu berada di sini? Apa dia juga telat sepertinya? "Arizonaa!!!" ucap Dado yang dihadiahi senyuman manis Ari. Jika saja Dado adalah perempuan, mungkin dia akan mimisan sekarang. "Kita nggak janjian kan telatnya, kok bisa barengan sih" ucap Arizona seraya duduk di samping Dado. Kursi yang meraka duduki adalah kursi panjang, dimana Faya berada di pojok kanan, sebelah Faya ada Gema dan di sebelah Gema adada "Gara-gara lo nih gue telat," sungut Gema. Dia sedikit kesal dengan sahabatnya satu ini-Ari, bagaimana tidak, tadi saat Gema sudah akan berangkat sekolah dia mendapat Line dari Ari. Line itu berisikan perintah untuk menjemput Dado. JIka saja rumah Dado dan arah sekolah mereka searah, mungkin tidak masalah bagi Gema. Namun, kenyataanya, rumah Dado sangat jauh apalagi jika dari rumah Gema. "Lo sebenarnya ikhlas ngga sih?" ucap Dado seraya menatap kesal Gema. Gema pun gelagapan "Ikhlas lah, ikhlas kok, sumpah gue ikhlas." "Yaudah kalau ikhlas jangan maarahin Arizona, dia ini supir kesayangan gue." "Sialan lo," ucap Ari seraya memiting kepala Dado. "Aww, sakiit!" "Tapi kenapa Faya di sini? Dia juga telat?" tanya Ari. Faya yang tau namanya disebut pun hanya tertunduk, gadis itu masih tidak enak badan. Kemarin malam setelah insiden hujan-hujanan, benar dugaannya, dia masuk angin. Dan di hari Minggunya badannya sangat panas, dan tadi pagi rencananya tidak masuk namun mengingat jika hari ini ada pengumpulan tugas kimia, dia pun memaksakan diri untuk masuk. "Yaiyalah, kan tadi Faya nebeng kita." Mendengar ucapan Dado, Ari sedikit terkejut "Ha? Kok bisa?" "Ternyata gue sama Faya satu kampung," "Ha?" "Dan berkat gue, Gema bisa ketemu sama Faya," ucap Dado seraya mencubit pipi Gema "ciyee Gemaaa." Gema yang dicubit pun hanya mengerucutkan bibirnya kesal, "apaan sih lo!" "Halah, lo seneng kan bisa nebengin Faya?" "Atau lo seneng udah tau alamat rumahnya Faya?" "Wah, jangan-jangan setelah ini lo akan apelin Faya terus!" yang heboh disini hanya Dado, sementara ketiga manusia lainnya entah kemana. Raga mereka memang disini, namun pikiran ketiga anaka manusia itu entah pergi kemana. Dan kehebohan Dado itu terhenti saat Bu Saila bersama korban-korban baru yang senasip dengan mereka itu datang. Ruang BK yang tadinya riuh dengan gelak tawa kini berubah menjadi mencekam. Semua nya diam, tat kala Bu Saila memberikan wejangan-wejangan yang setiap hari disampaikan. Entah saat dikelas, atau saat di atas podium penyambutan. Wejangan itu berisikan agar para siswa selalu menaati peraturan sekolah. Kata beliau, jika kita tidak menaati peraturan sekolah maka ilmu kita tidak akan bermanfaat. Jika ingin bermanfaat ilmunya, maka taatilah peraturan sekolah ~Kekasih Halal~ "Kok hukumannya kayak gitu sih? mana bisa gue ngapalin surat An-nahl?" teriak Dado seraya mengacak rambutnya frustasi. Kini mereka berempat tengah berjalan menuju kelas. Urusan dengan Bu Saila telah selesai, dan hukuman akan keterlambatan mereka adalah menghafal surat An-nahl. Melihat tingkah Dado yang frustasi, Ari hanya tertawa lebar. Sementara dibelakang Arizona dan Dado, ada Gema dan Faya yang saling terdiam satu sama lain. Sedari tadi, Faya hanya diam. Jika ditanya Gema, jawabnnya hanya mengangguk dan menggeleng. Dan itu membuat Gema binggung. Selain binggung, sebenarnya Gema juga khawatir akan kondisi Faya yang sepertinya tengah sakit. "Fay, lo ngga papa kan?" ucap Gema mendengar ucapan Gema, Arizona dan Dado pun menoleh. "Faya kenapa?" ucap Dado heboh. "lo pucet Fay!" "Gue nggak papa," ucap Faya. "Gue anter ke UKS!" tanagn Gema menyeret tanag Faya, jika tidak begini Faya pasti tidak mau. Langkah mereka pun mendahului Dado dan Ari. Melihat tingak Gema, Dado pun tersenyum sendiri, "kayaknya Gema beneran udah move on deh." bisik Dado pada Arizona. Menanggapi hal itu, Arizona hanya terdiam. Rahangnya menggeras tat kala melihat tangan Gema menggandeng tangan Faya. Dan tiba-tiba, Faya terjatuh. Gadis itu pingsan, untung di belakang ada Arizona dan Dado. Dan untungnya lagi, Ari bisa cepat menolong Faya. Jika tidak, mungkin Faya akan jatuh ke lantai. "Faya!" Gema terkejut, dengan cepat cowok itu berupaya untuk mengambil alih Faya, berusaha membawa Faya ke UKS. "Biar gue yang gendong," ucap Arizona. "Nggak! Biar gue aja," "Nggak boleh!"teriak Arizona dengan cepat. Dado dan Gema pun menatap Arizona heran. "Biar Gema yang bawa Faya, Ar. Gema kan pacarnya," ucapan Dado itu sukses membuat Arizona mati kutu. Dan dengan cepat Gema pun menggendong Faya ke UKS, dia sangat khawatir dengan keadaan Faya. tbc!!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN