Bab 21

1128 Kata
"Lo kemana aja Fay?" tanya Gema seraya menyeimbangi langkah Faya. Kini Faya dan Gema tengah berjalan menyusuri jalanan kampus. Ospek hari ini selesai. Tadi sewaktu acara berlangsung, Gema terus saja berisik. Bertanya ini itu pada Faya yang membuat Kak Cindai, pendamping kelompok marah-marah pada Gema. "Gue di rumah Nenek," jawab Faya. "Oh, kenapa nggak ngasih kabar sih? Harus ya pergi diem-diem kek gitu?" Faya diam, mengabaikan ucapan Gema. Gadis itu malah sibuk melihat-lihat gedung yang menjulang tinggi. "Lo nggak kasian apa ama Ari yang nyari lo macem orang gila," "Maaf," "Jangan minta maaf sama gue, gue nggak masalah kalau lo pergi tanpa kabar. Tapi Ari, kakak lo? Dia khawatir banget!" Lo nggak masalah kalau gue pergi tanpa kabar? Apakah gue nggak berarti di mata lo Gema? Bisik Faya dalam hati. Ia pun tertunduk, sepertinya dia terlaluu berharap. "Katanya gue temen lo, tapi lo kok nggak pernah cerita si kalau punya masalah?" ucap Gema lagi, Oh ya, Cuma temen Faya, Cuma temen. "Kalau diajak ngomong nyaut kek, sariawan?" "Eh-" "Pokoknya, mulai sekarang kalau lo butuh apa-apa ngomong sama gue. Kalau ada apa-apa cerita ama gue. Oke?" "I-ya," "Yaudah, pulang sama siapa? Bareng gue oke?" "Eh nggak, gue naik Bis aja." "udah bareng gue aja nggak papa," Faya mengangguk dan tersenyum senang. Hatinya sedikit lega, ternyata Gema baik sekaii. Makin baik malah, yah sekalipun dianggap teman. Tapi tidak masalah, berawal dari teman siapa tau jadi istri. Eh?? "Kita nunggu Seira dulu disini," ucap Gema seraya menghentikan langkahnya. Mereka kini berhenti di depan taman. "Seira kuliah disini?" ucap Faya kaget. "Iya, dia jurusan hukum." "Wah, keren." "Gue malah nggak suka," "Kenapa?" "Menurut gue, manusia nggak bisa menghukumi orang lain." "Lah terus siapa yang bisa?" "Ya Allah lah, Dia adalah Dzat yang Maha Adil. Dan hanya Dia lah yang pantas menghakimi sesuatu, karena dia yang maha tau." "tapi kita butuh sosok hakim di lingkungan dunia," "Iya, gue tau. Makanya jadi hakim itu berat, kalau salah menghakimi dia akan berdosa." "Iya juga sih," ucap Faya. "RAAAA!" teriak Gema membuat sosok Seira menoleh. "Faya?" ucap Seira kaget. Faya tersenyum, "Halooo Raa!" "Lo kemana aja Fay?" kini mereka berdua berpelukan "Lo baik-baik aja kan?" "Iya, gue baik-baik kok." "Bagus deh, hhh gue capek banget, ayoo cepat pulangg gue pengen tidur!" rancau Seira pada Gema. Melihat tingkah Seira Gema tersenyum, "Yaudah yuk pulang, tapi kita nganterin Faya dulu ya?" "Ohh—sama Faya? Oke, tapi nanti kalau gue bocan di mobil nggak papa ya?" "Dasar Kebo, molor mulu idup lu!!" "Asem, lo ketiak kebo!" "Lo bulubulu ketiak kebo!" "Lo kutu di bulubulu ketiak kebo!" Di saat Gema dan Seira sibuk melempar olokan, Faya terdiam seraya merutuki situasi ini dihati. Jadi obat nyamuk(lagi). faya nggak papa kok. *** Sudah sampai dirumah, kini Faya merebahkan dirinya di atas kasur. Ingatannya kembali menginggat kedekatan Seira dan Gema yang membuatnya iri. Ternyata selama Faya pergi, Gema baik-baik saja. Dan Seira adalah sumber kebahagiaan Gema. Yah, Faya tau. Mata Gema yang selalu menatap Seira dengan tatapan sayang, tidak perna Faya rasakan saat menatapnya. Dan kenyataan itu cukup membuat Faya frustasi dan sedih. "Fayaa udah pulang?" itu suara Bibi Hana. Faya pun bangkit dari tidurnya. Menuju kesumber suara. Bibi Hana ada di dapur tengah menyelesaikan beberapa masakan. "Bibi di rumah? Faya kira ada di luar," "Iya, ini Bibi mau buat makanan nanti kamu anter ke para tetangga ya," ucap Bibi seraya memasukkan garam dan beberapa rempah-rempah lainnya. "Okey, Faya mandi dulu." "Oh ya, kita punya tetangga baru." "Tetangga baru?" "Iyaa, rumah kosong depan rumah udah ada yang nempatin." "Serius Bi? Rumah serem gitu ada yang nempatin?" "Iya, tadi Bibi udah nyapa mereka." "Palingan satu bulan lagi mereka akan pindah, di rumah itu kan berhantu. Dulu aku sama Ari sering main uji nyali di situ." "Kamu itu ada-ada aja, nanti kamu mampir ke sana sambil bawa makanan ini ya." "yaaa...oke deh" "ya sudah, cepat sana mandi!!" Mendengar teriakan Bibi Hana, Faya pun segera memasuki kamar mandi dan membersihkan badan. Selepas mandi Faya pun menjalankan tugas yang diberikan Bibi Hana. Gadis itu berkunjung ke rumah-rumah tetangganya. Memberikan makanan seraya menyapa mereka. Terutama ke tetangga baru mereka, rumah yang berada di depan rumah Faya. Dan di sinilah Faya, di depan rumah yang terlihat menyeramkan itu. Rumah tetangga baru mereka. KNOCK..KNOCK.. Setelah menunggu lama, terbukalah pintu rumah itu. Menampakkan seorang wanita paruh baya dengan senyum hangatnya. "Assalamu'ala—" salam Faya terhenti saat melihat kalung salip di leher wanita tua itu. "Eh, selamat siang Nenek. Saya tinggal di seberang, ini ada makanan syukuran untuk Nenek" Wanita paruh baya itu tersenyum senang, seraya menerima rantang yang berisi makanan dari Faya itu "terima kasih, ayo masuk dulu." Mau tak mau, Faya pun mengangguk dan duduk di ruang tamu, "Nenek tinggal sendiri?" "Tidak, Nenek di rumah sama cucu dan anak Nenek. Kamu mau minum?" "Eh nggak usah Nek, Faya balik aja" "Tinggal lah sebentar, Oma ingin berincang dengan—eh siapa namamu Nak?" "Faya Nek, eh Oma." "Iya, Faya. Oma ambilin Teh dulu ya," Faya mengangguk, wanita tua yang menyebut dirinya Oma itu pun masuk kedalam rumah. Dan kini Faya sendiri. Gadis itu sibuk melihat-lihat bingkai Foto yang terpajang didinding-dinding ruang tamu. Di antara bingkai foto itu ada satu foto yang besar. Yakni foto keluarga. Disana ada wanita tua atau Oma tengah tersenyum. Sepertinya beliau sangat bahagia. Disamping Oma ada anak laki-laki yang tengah tersenyum manis, sepertinya itu cucu Oma. Dan dibelakang Oma ada sepasang suami istri yang Faya tebak adalah anak dari Oma. Ketika Faya sibuk meneliti satu persatu foto yang ada di dinding, tanpa Faya sadari ada orang yang berdiri di sampingnya. "Kamu siapa?" "Astaghfirullah—ngagetin aja," ucap Faya seraya memeganggi dadanya, "Lah Mas sendiri siapa?" melihat wajah lelaki dihadapannya membuat dia teringat wajah sese-- "Mas ini cucu Oma?" Lelaki itu menatap Faya heran, "Kamu siapa?" "Eh kenalin, saya Faya tinggal di rumah seberang." "Oh, saya Galang." "Galang, sudah pulang kamu Nak?" seru Oma seraya berjalan, ditangannya sudah ada dua cangkir teh dan cemilan. "Iya, Oma." "Kenalin Faya, ini Galang cucu Oma." "Iya Oma, udah kenalan kok." "Galang masuk dulu Oma, capek," ucap Galang seraya meninggalkan ruang tamu. "Ehh nggak sopan kamu, pamit dulu sama Faya," ucapan Oma dibaaikan oleh Galang. Melihat hal itu, Oma hanya menggeleng heran "udah besar tapi sikapnya kayak anak kecil." "Hehe nggak papa kok Oma," "Sikapnya emang gitu, cuek. Tapi ganteng kan cucu Oma? Dia itu lulusan Oxford loh." Faya tersenyum canggung, dihatinya gadis itu sudah memuji dan mengumpat Galang secara bersamaan. Memuji karena memang benar jika Galang itu tampan sekali dan mengumpat karena sikap Galang yang tidak ramah pada nya. Eh galang? Ralat, Mas Galang. Karena bisa Faya tebak jika Mas Galang sudah berumur. Yah, sekitar dua puluh empatanlah. "Ayo, teh nya diminum Fay," ucap Oma memecahkan lamunan Faya. "Iya Oma," dan Faya pun meminum teh yang ada dimeja. TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN