Bab 22

1815 Kata
Mata kuliah psikologi dasar telah berakhir. Dosen pun keluar ruangan, disusul beberapa mahasiswa yang memiliki jadwal padat. Bagi mereka, waktu adalah harta yang paling berharga. Jadi tak ada waktu untuk bersenda gurau atau bergosip seusai kelas. Seperti layaknya Faya, seusai kelas gadis itu langsung keluar ruangan dan menuju kelas berikutnya. Dia memang termasuk mahasiswa yang memiliki jadwal padat. Gadis itu berniat untuk lulus dengan cepat, oleh sebab itu dia mengambil banyak sks sekalipun di tahun pertama. Faya mengecek jadwalnya, ia pun mengambil ponsel yang ia simpan di saku gamisnya. Melihat jadwal hari ini yang sangat padat, Faya menghembuskan nafas. Jujur saja hari ini ia tidak bersemangat. Padahal sudah satu bulan dia di bangku kuliah, tapi masih saja belum terbiasa. Masih suka malas-malasan, hh tidak baik memang. Dengan perasaan malas, ia pun menuju lantai tiga. Dimana kelas kewarganegaraan berada. Ini lah, yang paling membuatnya kesal. Naik turun tangga dari lantai ke lantai. Yang harus kalian ketahui gedung Fakultas ini memang memiliki empat lantai jadi menderitalah mahasiswa yang memiliki jadwal dengan ruangan yang lantainya berbeda-beda. "Fay, tunggu!" ucap seseorang menghentikan langkah Faya. Ia pun berbalik, "LO UDAH BAIKAN??" teriakan Faya itu mengejutkan, membuat gadis di depannya mendelik kaget. "Biasa aja, Faya." Ucap gadis itu "Satu hari aja udah cukup lah buat bed rest, apalagi ini masih awal kuliah." "Iya sih, tapi lo beneran udah sehat?" "Sudah tuan putri, ayo kita ke kelas!" "KUUUUYY!" seru Faya. Mereka berdua pun berjalan menuju ke kelas. Oh ya, gadis yang bersama Faya itu Raina, teman kemana-mananya Faya. "Eh lu tau gosip baru nggak?" bisik Raina. Faya menggeleng, "Gak, dan gue nggak mau tau!" "Ishh, kenapa sih? Gosipnya hot banget lohh." "Bodo amat! Dosaa!! Dosaa!!" "Haha serius nggak mau denger, ini tentang ketua angkatan kitaaa!" "Siapa? Gema?" "IYA! Ternyata dia sama Seira udah Fix pacaran!" Faya hanya diam, tak mengubris ocehan Raina. Dia muak, dengan Gema. Masih satu bulan kuliah tapi sudah menjadi bintang satu fakultas, banyak sekali mahasiswa yang membicarakan lelaki itu. Tentang siapa pacar Gema lah, tentang rumah Gema dimanalah, andai mereka tau Faya tau segalanya tentang Gema. Eh segalanya? Tidak-tidak dia tidak mengenal siapa Gema. Nama Gema baru ia ketahui saat pengumuman siapa ketua angkatan tahun ini. Yah, mana mungkin sang rembulan mengenal pungguk seperti faya? Selain itu, selama satu bulan ini dia jarang sekali bertemu Gema. Gema memang sangat sibuk, dan Faya tau itu. Jadi pilihan tidak mengenal Gema adalah pilihan yang sangat baik, sekali pun kadang-kadang dia numpang pulang bareng Gema. Untung saja teman-temannya tidak ada yang tau. "Malah ngelamun!!!" "Eh-maaf!" ucap Faya nyengir, "lo tadi ngomong apa?" "Yaelah, manusia ini emang nyebelin banget," ucap Raina seraya cemberut "Gema pacaran sama Seiraa!" "Ha? Serius? Bukannya kata lo mereka Cuma sahabatan ya?" "Nggakk, ternyata mereka lebih dari itu. Gue ada buktinya," ucap Raina seraya mengambil ponsel nya. Faya menatap Raina heran, kalian jangan berpikiran negatif tentang Raina. Temannya ini bukan biang gosip, bukan sesaeng fans, atau semacamnya. Raina hanya penasaran pada sosok Gema yang banyak dieluh-eluh kan banyak gadis itu. "Ini, lihat ini." Raina menyerahkan ponselnya. Layar smartphone itu menampakkan aplikasi i********: milik Seira, di sana ada photo Gema dan Seira tengah tertawa bersama. Dengan caption, ma best (emoticon love). Mereka terlihat sangat bahagia, dan itu cukup membuat Faya makan hati. "Mereka emang serasi," ucap Faya dengan tersenyum getir. "Iya, tapi sayangnya Gema nya nggak nguplod apa-apa," "Ohh, yaudah lupakan tentang Gema dan Seira, sekarang kita ke kelas." "OMAIGAT!! Gue lupa kalau ada kelas!!" ucap Raina heboh, Faya hanya tersenyum dan menggelengkan kepala. Dan mereka pun berjalan menuju kelas. *** Setelah dua jam berlalu, mata kuliah kewarganegaraan pun telah usai. Jam ditangan Faya masih menunjukkan pukul sebelas, dan kelas selanjutnya akan dimulai pukul satu. Artinya ada dua jam kosong, dan Faya bingung harus kemana. Tidak mungkin untuk pulang, karena pasti akan capek di jalan. "Gue pulang dulu ya," ucap Raina dengan raut wajah senang "habis ini lo kemana?" "Nggak tau, gue juga binggung!" ucap Faya dengan wajah lusuh. "Makanya jangan ambil sks banyak-banyak, kalau gini siapa yang repot? Lo sendiri kan?" omel Raina yang membuat raut wajah Faya semakin lusuh, "Pergi ke perpus aja, disana kan ada wifi gratis, terus juga ada musolah, kalau lo laper lo juga bisa beli jajan." "ide yang bagus," ucap Faya seraya bersemangat. . . Setiba di perpustakaan, Faya mencari tempat ternyaman. Perpustakaan kampus ini lumayan besar. Dua lantai. Lantai pertama di bagi menjadi beberapa ruangan. Ruangan paling pojok adalah musollah, di sampingnya ada koprasi yang menjual makanan dan minuman, dan di sampingnya lagi ada ruang bacaa. Disini adalah tempat berkumpulnya para miskin kuota. Karena kebanyakan mahasiswa yang ada di sini adalah mencari wifi gratis. Dan di lantai dua lah lantai yang pantas dijuluki perpustakaan. Karena disana banyak sekali buku-buku dan para kutu buku, bukan para miskin kuota. Dan mirisnya, kini Faya berada di tempat para miskin kuota. Ketika Faya sibuk mencari tempat kosong yang nyaman, mata Faya menangkap sosok yang tadi pagi ia lihat. Mas Galang! Yah, itu benar Mas Galang. Kemeja hitam dengan garis kotak-kotak kuning, tadi pagi Mas Galang mengenakan kemeja itu. Faya tak salah lagi. Itu benar Galang Namun apa yang dilakukan Galang disini? Bukannya Galang sudah lulus kuliah? Atau jangan-jangan Galang adalah dosen muda? Whatt?? Rasa penasaran membuat Faya menghampiri Galang yang tengah sibuk dengan leptopnya. "Mas Galang?" ucap Faya, seirama itu pula Galang mengalihkan perhatiannya pada Faya. Dahi Galang mengkerut, "siapa?" Faya lemas, tetangga nya itu tidak mengenalinya. Wajar saja sih, selama satu bulan setelah perkenalan itu Faya dan Galang memang tidak pernah berkontak sosial lagi. Yang ada hanya Faya yang sering melihat tetangga nya itu masuk keluar rumah dibalik jendela kamarnya. "Kamu siapa? Kita pernah satu kelas?" tanya Galang lagi. Faya menghembuskan nafasnya, "Mas Galang lupa saya? Saya Faya tetangga mas galang, yang rumahnya depan rumah Mas Galang, yang waktu itu perna main ke rumah mas Galang malam-malam. Mas Galang lupa?" Galang terdiam, entah berusaha menginggat atau malas menanggapi gadis dihadapannya itu. "Kalau lupa nggak papa sih, maaf menganggu waktu Mas Galang." Ucap Faya seraya tersenyum getir, melihat Galang masih terdiam dan tak mencegahnya untuk pergi Faya menjadi semakin gemas. Benar kata Oma, lelaki di hadapannya ini benar-benar cuek dan masa bodoh. Tapi Faya masih penasaran, kenapa Galang ada disini. Gadis itu pun mengurungkan niatnya untuk pergi. "Tapi sebelum saya pergi, saya mau tanya boleh?" ucap Faya ragu, gadis itu menunduk tak berani menatap Galang yang ada dihadapannya. "Tanya apa?" ucap Galang yang enggan melihat Faya. Kesal dia, kenapa Gadis itu merecokinya disaat dia sedang asik main game online, Point blank kesukaannya. "Mas Galang ngapain disini? Mas Galang jadi dosen di sini?" Galang diam, wajahnya syok, apa yang barusan Faya katakan? Dosen? Dia dosen di sini? Seketika tawa Galang pecah, "HAHAHAH" Faya kebingungan, kenapa tetangganya ini? apa kesurupan? "Mas Galang kenapa?" "Hahaha" "Mas Galang kesurupan?" "HAHAHA" "Mas Galang ayo baca istighfar," "HAH-" "HEH, POJOK BISA DIEM NGGAK!" seru lelaki memakai kaca mata yang berada tak jauh dari mereka. Seketika itu tawa Galang mereda, ah tidak mereda tapi tertahan. "Mas Galang kenapa sih?" dan Faya semakin kebingungan. "Saya mahasiswa," ucap Galang ketika tawa nya mulai mereda. "LOH? SERIUS?" kini Faya yang heboh "BUKANNYA MAS GALANG UDAH LULUS?" "Ha? Kata siapa?" "Oma, kata Oma mas Galang lulusan Oxford." Lagi, lagi, tawa Galang pecah, kali ini benar-benar pecah. Hingga membuat beberapa pengunjung ruang baca mendelik sebal ke arahnya. "MAS POJOK TAU JALAN KELUAR KAN?" ucap lelaki kaca mata itu dengan raut wajah yang lebih menyeramkan "Eh-maaf semua," ucap Galang. Setelah kondisi kembali normal, Galan mulai bicara. "Kamu salah paham, saya mahasiswa hukum tingkat akhir yang sedang malas mengerjakan skripsi, dan akhir-akhir ini Oma memang sering berhayal. Saya kuliah disini." Faya mengangguk paham, "Berarti semua yang dikatakan Oma hanya hayalan?" "Emang Oma ngomong apa aja?" "Kata Oma, Mas Galang ganteng, pinter sama cuek orangnya." Galang kembali tertawa, namun tawa nya kini lebih pelan "haha, bohong semua itu. kecuaali Gantengnya ya," "Iddiiih narsis!" "Kamu belum dapat duduk? Sini sebelah saya." Ucap Galang seraya menggeser posisi duduknya. Faya bengong, bagaimana Mas Gilang bisa baik begini? Padahal tadi cueknya minta ampun? "Malah bengong, ayo duduk sini!" Faya masih terdiam, bingung dengan sifat para lelaki yang sering berubah-ubah seenak udelnya. Termasuk Mas Galang ini. Seakan tau apa isi pikiran Faya, Galang pun tersenyum, "Kamu mikirin omongan Oma? Kan saya bilang Oma itu sering ngayal, saya nggak cuek dan pintar. Kalau saya pintar saya udah lulus dari kemarin-kemarin, dan kalau saya cuek saya pasti bakal banyak yang suka. Haha" Mendengar ucapan Galang Faya pun turut tersenyum, ia pun duduk di sebelah Galang "makasih Mas." "Oh ya, gimana kalau panggil nama aja? Risih banget denger kamu ngomong Mas, mas, kamu kira sayaa tukang ojek?" "Nggak sopan, kalau Cuma panggil nama" "Yaudaah terserah, pokonya jangan pangil mas." "lalu panggil apa dong? Abang?" "Ya, jangan juga, kamu kira saya abang-abang somay?" "Gimana kalau Kakak?" "Ha? Jijay, kamu kira saya Kakak-kakak ospek?" "yaudah, apa dong?" "Panggil nama!" "Nggak, nggak sopan." "Yasudah terserah!" "Abang aja ya," "Yasudahh terserah kamu," "yasudah Mas aja," "Jangan Mas!" "Kata nya terserah?" "Yasudah terserah kamu," ucap Galang pasrah. Ia pun kembali fokus pada layar leptopnya "jangan ganggu saya pokoknya." "Mas Galang sudah besar kok masih suka main Game?" "Diam!" "Ok!" "Eh kamu kenal sama cowok pakai kemeja coklat itu? dari tadi ngeliatin kita mulu." "Cowok mana sih Mas?" Faya mencari cowok yang dimaksud Galang. Mata gadis itu sibuk mengintari penjuru ruangan. "arah jarum jam satu," Sesuai arahan Galang, Faya pun menatap ke arah jam satu. Dan di sana ada....Gema, benar kan itu Gema? "Kamu kenal? Kayaknya kenal ya? Apa dia pacar kamu? Tatapan nya kayak orang cemburu gitu." "Nggak, nggak kenal." "Bohong," "Udah, Mas Galang fokus sama leptop aja." "dia datang kesini," "Mas, yang bener?" "Tiga langkah lagi, dia akan sampai," Faya semakin menunduk, gadis itu tidak berani. "Dan-" "FAYA!" itu suara Gema. Faya mendongak, menatap Gema ragu. Sementara Galang acuh, masih fokus pada layar leptopnya. "Eh-Gema?" ucap Faya seraya menggaruk tangannya yang tidak gatal "lo kok disini?" "Siapa?" Ucap Gema dingin. "Apanya yang siapa?" ucap Faya bingung. "Dia siapa?" ucap Gema seraya menatap Galang. Yang ditatap masih sibuk menatap layar leptopnya. "Oh ini, kenalin Mas Galang tetangga depan rumah. Mas Galang ini Gema, temen sma" "Udah tau, ini Gema yang muncul di intagram Seira kan?" ucap Galang yang membuat Faya terkejut, "Kok Mas Galang tau?? Mas Galang kenal Seira?" "Nggak kenal sih, Cuma tau aja." Ucap Galang santai. "ohh, kirain." Ucap Faya, gadis itu meirik Gema yang masih betah berdiri "Lo nggak capek berdiri?" "Cepek," "Yaudah duduk," "Ayo," "Apaan?" Ucap Faya heran. Disuruh duduk malah, ayo. Maksudnya apa coba? "Ayo duduk sama gue," "HA?" "Udah kamu sama Gema sana, dari pada kalian disini mengangguku." Ucap Galang, yang masih terfokus pada game online nya. "Gue balik, mau sholat. Jam satu gue ada kelas." Ucap Faya. "Gue mau ngomong," "Kapan-kapan aja," "Penting!" "Nggak ada yang lebih penting dari pada sholat." Faya pun dengan cepat mengemasi barang-barangnya, gadis itu pergi meninggalkan Gema dan Galang. TBC Xoxo, muffnr
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN