[Line]
Gema dzikrullah: di mana?
Fahriyatul F: halte
***
Setelah membaca line dari Faya, Gema memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya dengan wajah gusar.
Jika Faya sekarang sudah di halte, seharusnya dia sudah bertemu dengan Gema di loby. Karena sudah hampir dua jam Gema duduk di loby fakultas. Hanya untuk menunggu Faya. Namun sialnya, sekalipun Gema sudah memperhatikan dengan jeli setiap orang yang keluar masuk gedung, dia masih saja kecolongan. Faya sekarang sudah di halte. Sia sia dia menunggu, dengan malas Gema pun bangkit dari duduknya. Belum juga melangkah, Gema melihat sosok Faya berjalan di depannya. Faya berbohong, dia masih di kampus.
"Sejak kapan tempat ini jadi halte?" Ucap Gema pelan, namun mampu membuat Faya menghentikan langkanya.
Sepersekian detik dari itu, Faya menoleh ke sumber suara yang ia yakini suara Gema. Dan benar saja. Ia mendapati Gema tengah berdiri dibelakangnya.
"Lo bohong?" Ucap Gema lagi, senyuman kecil dibibir Gema membuat Faya ngeri, "kenapa?"
"Gue ngga bohong, habis ini juga kan gue di halte."
"Lo hindarin gue?"
Ucapan Gema itu membuat Faya mendongak, menatap wajah Gema "enak aja, siapa yang ngehindar-"
"Yaudah, gue anter pulang."
"Gue-"
"Gue anter pulang atau gue cium disini?"
"APA? LO GILA?" ucap Faya menutup mulutnya.
"Bagus, ayo pulang!" Gema tersenyum jail.
Mereka berdua pun menuju mobil. Gema berjalan di depan Faya. Dari belakang, Faya melihat sosok Gema dengan tatapan heran, sejak kapan Gema sebrutal itu? Mencium Faya? Apa Gema memang sering mencium para wanita sehingga kata 'mencium' gampang sekali diucapkan? Atau memang Gema tidak tau jika dalam islam, berpegangan tangan saja dilarang apalagi ciuman. Tidak mungkin tidak tau, Gema pasti tau. Tapi entah diamalkan atau tidak.
.
.
Suasana dalam mobil itu sunyi, hanya ada lagu dari Tulus yang memecahkan kesunyian. Faya menikmati lagu itu, sesekali gadis itu memejamkan matanya untuk meresapi setiap lirik dan mencerna cerita yang terdapat di dalamnya. Faya memang penyuka Tulus, karena di setiap lagunya pasti mempunyai cerita tersendiri. Apalagi lagu baru Tulus yang berjudul Langit abi-abu, yang mampu membuat Faya terbawa perasaan dan akhirnya nyesek sendiri.
Terlalu larut dengan lagu yang ia dengarkan, Faya baru sadar jika ini bukan jalan menuju rumahnya. Gadis itu pun panik, "lo mau bawa gue kemana?"
Gema diam, masih sibuk dengan jalan yang sangat ramai.
"LO MAU CULIK GUEE?"
Tangan kiri Gema menutup telinga kirinya, teriakan Faya sangat keras.
"Gema jawab gueee!!" Rancau Faya tak jelas.
"Rumah," jawab Gema santai.
Mata Faya terbelalak, dia sangat terkejut "ke rumah lo? Ngapaiin?"
"Abi mau ketemu,"
"Ha? Ngapain?"
"Mana gue tau,"
"Jangan-jangan.."
"Jangan-jangan apa? Kita dijodohin lagi?"
"Idiiiiih siapa juga yang mikir kek gitu, maksud gua jangan-jangan Om Umar kangen gua!!"
"Pede gila,"
"Lo tuh yang kepedan, masih ngarep dijodohin sama gue lagi."
"Gue kapok dijodohin sama lo, pasti akhir-akhirnya ditolak!"
"Lo sakit hati gue tolak?"
"Ha? Ya nggak lah, maksud gue, gue kapok itu karena-"
"Alesan, bilang aja lo suka sama gue."
"Gue? Suka sama lo?" Tawa Gema seketika pecah.
"Oh ya lupa lo kan udah punya Seira,"
Tawa Gema seketika terhenti, "Ngapain si bawa-bawa Seira?"
"Kenapa? Kalian emang udah pacaran kan?"
Gema diam, tidak menggubris pertanyaan Faya. Padahal Faya sudah mati penasaran ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi diantara Gema dan Seira.
"Seira adalah salah satu alasan kenapa gue nggak mau dijodohin sama lo, karena gue tau lo suka banget sama Seira. Dan gue nggak mau orang yang jadi kekasih halal gue ternyata hatinya nggak untuk gue!"
"Seira itu sahabat terbaik gue, dan gue harap calon istri gue nanti selain menerima gue juga menerima Seira. Karena selain menikah dengan tubuh gue, dia juga bakal menikah dengan kehidupan gue. Dan Seira adalah bagian dalam hidup gue."
"Sepenting itu kah Seira?"
"Karena dia bukan cuma sahabat, tapi layaknya adik yang selalu menghibur gue kalo ada masalah."
"Oh jadi kaka-adik zone nih?"
"Udah deh Fay, kalau lo terus ngomong, lo mirip istri yang lagi cemburu tau nggak!"
"Ngaco!"
"Yaudah, makanya diem. Gausa ngurusin hidup gue, urusin aja Galang lo itu."
"Kok bawa-bawa Mas Galang sih?"
"Berasa manggil suami ya, pakek sebutan Mas segala,"
"Kan dia lebih tua Gema,"
"Bilang aja lo suka sama Galang,"
"Lo ngomong apa sih? Gue baru kenal sama Mas Galang, masa iya langsung suka aja."
"Terus lo sukanya siapa? Lo suka Imam temen sekelas lo itu? Yang sering banget anterin lo ke perpus?"
"Imam siapa lagi, udah deh diem. Sekarang lo yang kayak suami rempong yang lagi cemburu."
"Idihh, ngapain juga cemburu. Lo deket sama siapa aja gue masa bodohh!"
"Yaudah nggak usah banyak bacot, pusing gue."
"Turun!!" Bentak Gema, membuat Faya menaikkan alisnya. Gadis itu bingung, turun?
"Udah nyampe, b**o!!"
Seketika Faya pun sadar jika mereka sudah sampai di rumah Gema. Faya mendengus sebal, bisa-bisanya dia tidak konsen. Dengan kepala tertunduk Faya pun mengekori Gema menuju kedalam rumah.
Suasana rumah Gema terlihat sepi, tidak ada satu pun aktivitas di dalamnya.
"Bibi Aisyah kemana?"
"Nganterin adek ke TPQ,"
"Kak Ulan?"
"Kuliah mungkin,"
"Terus Abi lo ini dimana?"
"Bentar, tunggu sini. Gue panggilin." sosok Gema pun berlalu. Menyisahkan Faya yang tengah duduk di ruang tamu.
Setelah beberapa menit, Umar pun muncul dari dalam rumah, namun tidak diikuti Gema.
"Assalamu'alaikum Om," sapa Faya.
"Wa'alaikumsalam, Faya kamu baik-baik Nak?"
"Alhamdulillah, Om sendiri bagaimana?"
"Om sekeluarga baik baik, kamu sudah makan? Kita makan dulu ya?"
"Nggak usah Om, Faya sudah makan tadi di kampus."
"Kamu selalu begitu, kalau ditawari makan disini selalu nolak."
"Hehe, bukannya apa-apa Om, Faya sudah makan beneran."
"Yasudah, langsung saja. Kamu pasti bertanya-tanya kenapa Om ingin bertemu kamu,"
"Iya om," ucap Faya seraya mengangguk ragu.
"Jadi gini Fay, kemarin Om di wa sama Bibimu."
"Bibi hana?"
"Iya, dan isi wa nya cukup mengejutkan Om. Tiba-tiba aja, dia nanyain rencana perjodoban kamu dan Gema. Apakah masih berlanjut atau tidak. Om bilang Om tidak tau, semuanya terserah kalian berdua. Namun Mba Hana malah ngotot, harus berlanjut, sekalipun kamu nggak mau atau Gema nggak mau. Dan jujur saja, o*******g. Ternyata bukan hanya Om yang ngebet jodohin kalian, tapi Mbak Hana juga. Dan kami berdua yakin, kalian juga menginginkan perjodohan ini. Jadi, kami sekarang sudah sepakat untuk melanjutkan perjodohan ini."
"Tapi Om-"
"Om tidak menerima bantahan, keputusan perjodohan ini sudah bulat Faya."
"Faya masih-"
"Masih belum siap? Siap itu bukan ditunggu Faya, tapi diharuskan. Jadi mau tak mau kamu harus siap."
".."
"Om minta kamu jangan marah-marah ya sama Bibi mu, dia ngelakuin ini semua karena dia sayang kamu. Ini jalan terbaik untukmu Faya!"
"Tapi ini semua nggak adil Om, aku nggak mau dipaksa!"
"Andai kamu tau Fay,"
"Tau apa Om? Pasti ada yang Om sembunyikan kan?"
Umar terdiam, menatap nanar anak gadis dihadapannya.
"Bibimu sakit Faya,"
"APA??"
"Tadi pagi Om temani dia check up, dan ternyata penyakitnya sudah parah. Masih bisa di obati, kamu tenang saja. Hanya saja Bibi mu sudah membayangkan yang tidak-tidak,"
Faya kini terisak, kenyataan apa lagi ini?? Jerit Faya dalam hati.
"Kamu jangan khawatir, Bibi mu pasti baik-baik saja."
"Faya ingin pulang,"
"Tenangin diri kamu dulu Faya, dan jangan nangis didepan Bibimu. "
Faya pun mengangguk.
"Om panggil Gema, biar kamu dianter dia."
Faya masih diam, pikiran gadis itu dipenuhi dengan Bibinya. Faya tidak bisa membayangkan dia kelak akan bersama siapa jika Bibi nya tidak ada. Ah, tidak Bibj nya pasti baik-baik saja.
Tbc
Xoxo, muffnr