Setiba di rumah, Faya menyusuri penjuru rumah mencari Bibi Hana. Namun tidak ada, rumah sangat lenggang. Hanya suara jangkrik dan angin malam yang memecahkan kesunyian.
Dengan langkah gusar, Faya pun keluar rumah. Mencari Bibi Hana di sekitar rumah, belum sempat Faya melangkahkan kaki keluar dari pekarangan. Faya melihat Bibi Hana tengah berjalan bersama seorang laki-laki. Kedua tangan laki-laki itu dipenuhi kantong belanja dengan nama supermarket yang ada di ujung komplek. Dan lelaki itu Galang. Yah, itu benar Mas Galang. Terbukti dari khas rambut awut-awutannya. Malam ini Mas Galang terlihat tampan, apalagi dengan dua kantong belanja di kedua tanganya. Sempat membuat Faya tertegun untuk sesaat.
"Faya kamu baru pulang?" Seru Galang saat menaiki tangga menuju teras rumah.
"Kemana aja kamu Nak?" Ucap Bibi Hana, dengan raut wajah khawatir.
Faya tidak menjawab, gadis itu hanya tersenyum dan bergegas membukakan pintu yang tadi ia kunci. Mereka bertiga pun memasuki rumah.
"Faya, kamu bawa kantong belanjaan itu ke dalam," pintah Bibi Hana.
Faya menurut, tangan gadis itu mencoba meraih kantong plastik yang ada di tangan Galang. Namun dengan usilnya Galang mengangkat salah satu kantong belanja itu tinggi, membuat Faya kesusahan mengambilnya. Apalagi postur tubuh Galang yang tinggi dan Faya yang pas-pasan.
"Tsk, siniin kantongnya Mas." Ucap Faya.
Galang hanya tersenyum jahil, "ambil dong!"
"Jangan kayak anak kecil," ucap Faya sebal.
"Usaha dong, jangan ngomel."
"Iiihhhh Mas Galang, siniin kantongnyaaa"
"Ayo dong ambil," ucap Galang menampakkan wajah konyolnya.
Faya hanya mendengus, sementara Bibi Hana hanya menggeleng melihat kelakuan kedua remaja tua di depannya.
"Senyum dulu, baru aku kasih"
"Ihhh, apaan sih."
"Senyum, satu...dua...lah kalau gitu kan cantik!"
"Yaudah siniin kantongnya,"
Galang pun memberikan kantong belanja itu.
"Senyum itu ibadah, lagian kamu kenapa sih badmood ya?" Ucap Galang penuh selidik.
"Nggak papa," ucap Faya seraya memasuki rumah.
"Kamu jahil banget si Lang," ucap Bibi Hana sepeninggal Faya.
Galang tersenyum lebar, "biarlah Bi, kalau nggak gitu Faya mana bisa senyum. Dia kayaknya suntuk banget gitu."
"Haha, iya. Entah apa yang menjadi beban pikirannya."
"Jangan khawatir, palingan juga cuma tugas kuliah yang banyak banget."
"Iya, Bibi tau. Eh kamu mau minum apa?"
"Nggak usah, Galang langsung pulang aja."
"Yasudah, makasih ya sudah bantu Bibi,"
"Ok, salam ke Faya ya Bi, bilangin senyum dulu baru bahagia."
"Haha, iya nanti Bibi salamin."
Galang pun menuju rumahnya. Sepeninggal Galang, Bibi Hana menuju dapur, tempat dimana Faya berada.
Terlihat Faya tengah sibuk memasukkan beberapa keperluan dapur ke dalam lemari dingin. Bibi Hana mendekat kearah gadis itu.
"Kamu kenapa?"
Faya diam, mengabaikan ucapan Bibinya.
"Kata Galang, senyum dulu baru bahagia." Ucap Bibi Hana, seraya menampakkan senyumnya "ayo senyum biar bahagia.."
Ucapan Hana lagi-lagi Faya abaikan. Gadis itu masih sok sibuk dengan isi kantong belanja.
"Fayaa..."
"Fay,."
"Kalau ada masalah cerita dong ke Bibi,"
"Nggak mau, emang Bibi kalau ada masalah cerita ke Faya?" Ucap Faya.
"Cerita, Bibi kan sering cerita ke kamu,"
"Bohong,"
"Bibi nggak-"
"Bibi sakit kan?" Ucap Faya membuat suasana diantara mereka menjadi hening.
Tidak ada yang ingin bicara, apalagi Hana. Wanita berumur itu kini tengah berusaha menahan segala kesedihannya "iya,"
"Kenapa ngga bilang Faya sih?"
"Karena Bibi ngga mau buat Faya khawatir, Bibi ngga papa kok."
"Ngga papa tapi sudah merencanakan hal-hal seolah akan meninggal,"
"Maksud kamu?"
"Perjodohan, kenapa harus dilanjutkan?"
"Kamu tau juga?"
"Kenapa? Memangnya Faya nggak boleh tau?"
"Ngga gitu, tapi perjodohan adalah hal yang terbaik yang bisa Bibi lakukan untuk kamu Faya."
"Faya-"
"Kamu cinta kan sama Gema?"
"Nggak!"
"Bohong,"
"K-k-kenapa Bibi bisa bilang begitu?"
"Kamu kira Bibi tidak tau? Siapa selama ini yang selalu menganggu hari-harimu? Dan membuat kamu menjadi kuat seperti sekarang?"
"Bibi so tau,"
"Gema kan? Sudah lah, Faya. Kamu seharusnya bahagia bisa menikah dengan lelaki idaman mu."
"Tidak Bibi, Faya tidak mau."
"Kenapa?"
"Aku tidak mau menikah dengan orang yang tidak mencintaiku,"
"Cinta itu terbiasa, lama kelamaan Gema akan mencintaimu,"
"Faya nggak bisa, semua tidak semudah pepatah itu Bibi."
"Tapi kalian harus menikah,"
"Kenapa Bi?"
"Karena..."
"Kenapaa??"
"Agar Bibi bisa tenang meninggalkanmu,"
Tiba-tiba tubuh Faya terjatuh, gadis itu jatuh lunglai.
"Kamu nggak papa?"
"Bi-bi ngomong apa sih?" Seketika tangis Faya pecah. Hana memeluk tubuh Faya turut menangis.
"Maaf kan Bibi,"
"Bibi akan baik-baik saja kan?...hiks.."
"Tentu sayang,"
"Faya akan melakukan apapun demi Bibi senang,"
"Kamu serius?"
"Faya sayang Bibi, Faya ngelakuin apa aja agar Bibi bangga,"
"Kamu mau kan menikah dengan Gema?"
Faya mengangguk ragu, hati dan pikirannya tengah berusaha agar yakin. Semoga ini keputusan yang benar, sekalipun menyakiti dirinya sendiri.
***
Sebenarnya, saat ini Faya sudah berada di gerbang kampus. Gadis itu akan segera pulang, karena dosen yang seharusnya mengajar seusai dhuhur membatalkan kelas. Namun, Faya teringat janji dengan kelompoknya untuk mengerjakan tugas mengurungkan niatnya untuk pulang. Oleh sebab itu kini ia berjalan menuju perpustakaan. Sesekali mulutnya mengumpat atas ketidak ingatannya. Syukurlah, Faya ingat jika ada kerja kelompok. Jika tidak, mungkin dia akan dimarahi habis-habisan oleh Imam, ketua kelompoknya.
Setiba di perpustakaan, Faya melihat Imam dan teman-temannya yang lain sudah menunggunya di lobby. Dengan senyuman tanpa dosa, Faya menuju ke arah mereka.
"Kemana aja Fay??" Teriak Imam dengan mata melotot.
Faya menghindari mata Imam, gadis itu hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal "Maaf ya, gue lupaaa!"
"Yaudah ayo cepat, gue nanti jam dua ada kelas," ucap gadis berkaca mata yang bernama Adel.
"Yaudah yuk,"
.
Setiba di dalam perpustakan, mereka berempat pun memulai membagi tugas kerja. Ada yang mencari reverensi di internet, di buku umum atau bahkan sampai buku tandon.
Bagi yang mencari reverensi di internet ya tetap di ruang baca, sementara yang mencari reverensi di buku harus naik ke lantai dua. Untung saja Faya dan Angel mendapatkan tugas mencari reverensi di internet, jadi mereka berdua tetap di ruang baca. Sementara Imam dan Adel entah sudah pergi ke penjuru perpustakaan bagian mana.
Ketika Faya sibuk mencari tugas, tiba-tiba ponsel yang ia letakkan di samping leptopnya itu berbunyi. Ada panggilan, dari nomor yang tidak dikenal. Faya pun menghernyit heran, nomor siapa?
"Halo Assalamu'alaikum, ini siapa?"
"Wa'alaikumsalam, ini Bibi Faya"
"Bibi Hana? Pakai nomernya siapa?"
"Mas galang,"
"Kok bisa Bibi telepon pakai hpnya Mas Galang?"
"Iya bisa lah, kamu pulang jam berapa? Hari ini di rumah Mas Galang ada syukuran. Kamu cepat pulang,"
"Syukuran apa? Oke lah, nanti Faya pulang jam 3,"
"Kamu sekarang dimana sih?"
"Di perpustakaan, lagi kerjakelompok."
"Oh, yaudah. Bibi tutup ya, Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumslaam,"
Faya pun meletakkan kembali ponselnya, kembali sibuk dengan tugasnya. Namun ada sedikit pikiran yang menganggu, bagaimana bisa bibi menelpon dengan handphone milik Mas Galang? Apakah mas Galang datang ke rumahnya? Atau Bibi ada di rumah Mas Galang? Em, sepertinya kemungkinan ke dua adalah yang benar, karena siapa tau Bibi nya itu kini tengah bantu-bantu di rumah Mas Galang.
Sedari tadi, Angel memperhatikan Faya. Namun Faya baru menyadarinya.
"Ada apa ngel?"
"Ngga,"
"Ada apa sih? Ada yang salah ya dari gue?"
"Nggak ada kok," ucap Angel seraya mengalihkan pandangannya.
"Udah nggak usah sungkan, ngomong aja" ucap Faya seraya tersenyum.
"Nggak ada Faya, gue cuma kaget aja waktu lo ngomong Mas Galang,"
"Kenapa emang?"
"Gue juga kenal yang namanya Galang, anak kuliah sini semester akhir, dan dia itu jahat banget. Jadi gue langsung gimana gitu waktu lo ngomong mas Galang, tapi yang namanya Galang nggak cuma dia doang kan?"
"Ha? Ehm...ini juga Galang kuliah sini btw,"
"Oh ya? Ah, palingan juga Galang yang beda," ucap Angel seraya tersenyum tak yakin.
"Iya kali ya," ucap Faya seraya mengangguk setuju.
Angel nampaknya masih penasaran, gadis itu pun meraih ponselnya. Entah apa yang dilakukan gadis itu dengan ponselnya. Setelah beberapa menit, layar ponsel itu beralih ke hadapan Faya.
"Ini, Mas Galang yang gue kenal"
Faya menoleh, dilayar ponsel Angel terlihat seorang lelaki yang tengah tersenyum manis. Faya mendelik, "ini juga Mas Galang yang gue kenal!!"
"OH YAA?" teriak Angel seraya menatap Faya tak percaya.
Faya mengangguk tak paham, kenapa Angel sampai seheboh itu.
"Lo harus jauhin diaa Faya,"
"K-kenapa?"
"Dia itu.."
"Mas Galang kenapa??"
"Pokoknya dia itu jahat banget! Penipuu!"
"Ha? Masak sih?"
"Yaudah terserah kalau nggak percaya, pokoknya gue udah ingetin."
"..." Faya diam. Gadis itu masih berpikir ucapan Angel. Benarkah?
Jarum jam sudah menunjukkan pukul setengah tiga. Faya menutup leptopnya, kini hanya tertinggal Faya dan Angel. Karena Adel dan Imam sudah cabut duluan ada kelas.
Faya akan bergegas pulang, sementara Angel sepertinya masih sangat betah di sini. Katanya jarang-jarang dia mendapatkan wifi gratis. hem, dasar miskin kuota memang. Setelah memasukkan barang-barangnya kedalam tas, Faya pun pergi meninggalkan Angel yang sibuk dengan ponselnya.
Tiba di lobby perpustakaan, betapa terkejutnya Faya menemukan Mas Galang tengah duduk. Faya bahkan mengucek matanya karena tidak percaya, baru tadi Mas Galang ada di pikirannya sekarang sudah ada di matanya. Ia pun menghampiri Galang, sekedar untuk menyapa.
"Mas Galang ngapain disini?"
Galang menoleh, sedikit terkejut menemukan Faya di depannya.
"Jemput kamu lah,"
"Ha?"
"Udah ayo pulang, Bibi udah nunggu di rumah."
"Ada apa sih?"
Tanpa menjawab pertanyaan Faya, Galang pun berjalan menuju luar area perpustakaan. Sementara Faya membututi lelaki bertubuh tinggi dan lumayan kekar itu.
Namun tiba-tiba jalan Faya terhenti saat melihat pemandangan tak sedap mata. Di depan gedung Fakultas, terlihat Gema tengah berdua dengan perempuan. Faya tidak tau siapa perempuan itu. Yang Faya tau, mereka terlihat sangat akrab. Saling bertukar obrolan, tawa bahkan sentuhan. Karena sesekali perempuan itu memukul bahu Gema.
Set..tiba-tiba saja Gema menoleh ke arahnya. Membuat pandangan Gema dan Faya bertemu. Sontak saja, Faya mengalihkan pandangan dan melanjutkan langkahnya. Gadis itu berlari kecil, mengejar Galang yang sudah lumayan jauh darinya.
Tanpa Faya sadari, Gema dibelakang Faya menejar langkah Faya dan Galang yang terlampau jauh. Untung saja Faya dan Galang berhenti di sebuah motor yang sepertinya milik Galang. Gema pun dnegan cepat menuju ke arah mereka.
Galang menyadari kehadiran Gema. Namun Faya tidak, karena gadis itu memungunggi Gema.
"Faya!" Teriakan Gema itu membuat Faya menoleh ke belakang, tubuhnya sedikit menegang saat melihat Gema sudah dibelakangnya.
"Gema?" Ucap Faya lirih.
"Pulang bareng gue aja," ucap Gema yang membuat Galang mendelik kaget.
"Nggak, Faya pulang sama gue!!" Ucap Gema panik.
"Maaf Gema, untuk kali ini saja." Ucap Galang dengan wajah melas.
Gema menatap Galang penuh selidik, ada apa dengan lelaki ini?
"Nggak, pokoknya gak boleh, Faya harus pulang sama gue." Ucap Gema tegas.
"Ayolah Gema," rengek Galang.
Diantara kedua lelaki yang bersikeras mengantarnya, ada Faya yang masih bingung mengartikan keadaan ini. Gadis itu hanya menatap datar kedua lelaki di depannya. Ada apa dengan mereka? Kenapa bersih keras untuk mengantarnya? Biasanya saja tidak begini, ucap Faya dalam hati.
"Yaudah kita tanya Faya aja!" Usul Gema.
"Gimana Fay? Kamu mau pulang bareng siapa?" Ucap Galang.
"Maaf Gema, tapi gue sudah terlebih dahulu mengiyakan ajakan Mas Galang." Ucap Faya yang membuat Gema terbelalak kaget.
Gema kira Faya akan memilihnya, "apaa?"
"Maaf ya Gema," ucap Faya pelan.
Gema menatap Faya tak percaya, sementara itu Galang hanya terkikik geli melihat ekspresi Gema yang sangat kecewa.
"Gema, kita pulang dulu ya.." ucap Galang dengan wajah menggoda. Seolah mengejek Gema maksudnya.
Lagi dan lagi, Gema hanya bisa mengumpat seraya melepas kepergian dua orang yang tidak ingin dia liat secara bersamaan itu.
***
Setiba dirumah, Faya bingung karena Galang malah menyuruhnya untuk tidak masuk ke rumah dulu. Kata Galang, dirumah Faya habis dilakukan penyemprotan nyamuk demam berdarah, oleh sebab itu masih dilarang untuk dimasuki karena gas yang disemprotkan bisa menganggu pernafasan.
Sekali pun itu alasan yang aneh, Faya pun mengangguk saja, menurut saja, gadis itu pun mengikuti Galang yang membawanya entah kemana.
Dan yang lebih mengherankan, Galang menyuruhnya untuk menutup mata.
"Ayo Fay, tutup mata dulu." Ucap Galang.
Faya masih menatap Galang heran, "ada apa sih?"
"Kamu nurut sama Mas Galang, ini kamu tutup mata kamu sama ini." Ucap Galang seraya menyerahkan sapu tangan bewarna hitam.
Tanpa banyak tanya, Faya pun mengenakan sapu tangan itu untuk menutupi matanya. Galang tersenyum menang saat melihat Faya nurut begitu saja.
"Sudah ya, kamu pegang tali ini," ucap Galang seraya menyerahkan tali rafia "mas Galang akan membawamu ke suatu tempat, kamu harus nurut."
Faya hanya diam, dia masih bingung ada apa ini??
Setelah melewati jalanan yang lumayan panjang, akhirnya Galang menghentikan langkahnya. Otomatis Faya pun ikut berhenti.
Tali yang tadinya mengubungkan Faya dengan Galang kini jatuh, tanda jika ada yang melepaskan diantara mereka berdua. Sontak saja Faya tergopoh, "mas Galang kemana?"
Tidak ada sautan, hanya ada suara tanda seseorang tengah berlari.
"Mas? Mas Galang???" Ucap Faya panik, seketika Faya teringat ucapan Angel. Tentang Galang yang jahat.
Jangan-jangan...seketika itu Faya semakin panik, "TOLONGG!!"
"TOLONG!!"
Tangan Faya pun membuka sapu tangan yang menutup matanya. Belum juga sapu tangan itu terbuka sempurna..
"SELAMAT ULANG TAHUUUN!!!"
Faya terharu, dimata gadis itu kini menampakkan pemandangan yang sangat mengesankan. Semua orang ada disini, Ari, Gendis, Haru, Nadira, semuanya ada disini. Orang-orang yang Faya sayang.
"Selamat ulang tahun, Faya!!"
"Bibi..."
"Sini sayang," ucap Bibi Hana, Faya pun menghambur ke pelukan Hana "selamat ulang tahun, Bibi sayang Faya."
Tbc
Xoxo, muffnr