Rumah Faya kini ramai gelak tawa. Mereka semua tengah menikmati makan malam yang sudah di siapkan Bibi Hana. Hari ini ulang tahun Faya, oleh sebab itu Bibi membuat banyak makanan. Bibi juga mengundang beberapa teman lama Faya, yakni Gendis, Diandra, dan Haru. Tak lupa juga ada Ari. Artinya, ini adalah pertama kali Ari melihat Faya lagi setelah kepergian Faya satu tahun lalu. Dan Faya senang sekali bertemu Ari lagi.
Selain senang bertemu Ari, Faya juga senang bertemu ketiga sahabatnya, siapa lagi jika bukan Gendis, Nadira dan Haru. Gendis dan Nadira kuliah di dekat kampus Faya, jadi mereka bertiga sering meet up bertiga. Namun Haru, gadis itu harus menahan cemburu, karena memang hanya dia yang kuliah diluar kota. Oleh sebab itu, momen ini benar-benar momen langka, dimana semua orang yang Faya sayang berada didekatnya.
"Nasinyaa ngga akan berubah jadi emas sekalipun lo liatin terus," bisik Ari yang membuat Faya sadar dari lamunannya.
"Lo kenapa sih?" Ucap Ari penuh selidik.
"Nggak papa,"
"Gimana kabar Gema?"
Sontak Faya menatap Ari heran, "kenapa nanya Gema ke gue?"
"Lo kan satu kampus sama dia,"
"Tapi lo kan sahabatnya,"
"Udah lama lost contact sama dia,"
"Kenapa?"
"Gue line jarang dibales, diajak kumpul juga sibuk terus."
"Dia emang sibuk, Ar. Lo ngga tau aja seaktif apa dia di kampus, ikut kajian inilah, ikut rapat itulah, ikut organisasi inilah, ikut ukm itulah, hhhh."
"Kenapa dia sesibuk itu?"
"Mana gue tau,"
"Yaudah, nggak usah cemberut gitu dong,"
"Siapa yang cemebrut?"
"Gema belum ngucapin selamat ulang tahun ya?"
"Gue ngga butuh ucapan Gema,"
"Seriuuus?"
"Iya, lagian dia mana tau tanggal ulang tahun gue,"
"Iya juga sih, lo siapanya juga," Ari terkikik geli melihat Faya menatapnya sebal.
"Iya, iya, gue sadarr!! Gue mah apa atuhhh," Faya beranjak dari duduknya, menuju dapur dimana ada Diandra dan Bi Hana tengah mencuci piring. Lebih baik dia membantu mereka berdua dari pada mendengar ocehan Ari yang entah kenapa membuat Faya kesal.
Melihat tingkah Faya, Ari hanya menggeleng heran. Apa susuahnya ucapkan cinta sih? Batin Ari. Sejurus dengan itu, Ari mengambil smartphone miliknya yang ada di saku kemeja hitamnya. Mencari kontak milik Gema dan menuliskan pesan singkat untuk Gema.
Di sisi lain, di kamar bercat hitam terdapat seorang laki-laki yang tengah tertidur pulas. Saking pulasnya, bahkan tidak terganggu dengan bunyi ringtone dari ponselnya yang sedari tadi berbunyi. Hingga ketukan yang berasal dari pintu kamarnya, yang cukup keras itu membangunkannya.
"A..paaan sih laann?" Ucap lelaki itu yang tak lain tak bukan adalah Gema.
"BUKA PINTU NYAAAA!!" Dan suara teriakan ini milik Ulan yang tengah menahan amarahnya. Entah apa yang membuat Ulan marah pada Gema.
"Apaan si mak lampir ini, ganggu tidur gue aja." Umpat Gema dalam hati. Dengan malas, Gema pun menuju pintu yang tengah diriuhkan dengan ketukan tangan Ulan.
"GEMAAAA!!"
"Apaan sihh?" Pintu kamar itu terbuka, menampakkan wajah Gema yang baru bangun dengan rambut acak-acakan.
Ulan menggeleng, "gue tau lo pasti molor."
"Ada apa?"
"Lo ngambil power bank gue kan? Balikin!"
"Power bank apaan?"
"Gausah pura pura b**o, lo semalem pinjem tapi nggak gue bolehin. Terus lo ambil kan?"
"Ha?"
"Gausa pura pura b**o, cepet balikin!!"
"Gue ngga ambil ulan,"
"Kok ngga ada di kamar gue?"
"Mana gue tau!!"
"Serius nggak lo ambil?"
"Enggakk Ulan!!!"
"Makanya beli power bank sendiri dong!!!!"
".."
"Uang banyak tapi nggak mau beli sendiri," omel Ulan seraya meninggalkan Gema, langakah Ulan terhenti, teringat sesuatu "oh ya tadi lo dicariin Ari."
"Ari?"
"Iya, tadi dia telpon gue katanya dia bm lo ngga lo bales-bales."
"Hmm, ada apa?"
"Mana gue tau, cepet sana cek hape lo! Siapa tau penting!!"
"Bawel banget sih lo! Udah sana pergi!"
"Tanpa lo suruh gue juga oga di sini, "
Dengan gerakan cepat Ulan berlari menuju kamarnya yang berada tak jauh dari kamar Gema. Mereka berdua memang selalu bertengkar. Entah apa saja yang menjadi bahan pertengkaran. Kadang hal sepele, kadang juga hal yang tidak bisa disepelehkan. Untung saja Ali, Abi mereka selalu bisa melerai dengan adil.
Selepas kepergian Ulan, Gema pun mencari ponselnya. Dia menemukan benda tipis bewarna emas itu di atas nakas lampu dekat ranjang tidurnya. Setelah benda itu ditangannya, betapa terkejutnya ternyata ada dua puluh sembilan panggilan dari Ari. Sontak saja Gema mengecek beberapa pesan, dan cowok itu semakin terkejut tat kala dia tau jika Ari pulang, ada apa?
Tanpa ragu, Gema pun menghubungi Ari, dia yakin jika pasti ada hal yang penting sehingga sahabatnya itu menelponnya hingga dua puluh sembilan kali.
Tanpa menunggu lama, suara Ari sudah terdengar diujung sana.
"HALO AR!"
"Iya, Gema, lo cepet kesini"
"Kemana? Rumah lo?"
"Rumah Faya, cepet!"
"Ngapain ke rumah Faya?"
"Lo beneran nggak tau?"
"Nggak tau apa?"
"..."
"Ar, lo masih disana kan?"
"Faya ulang tahun Gema,"
"Ha?"
"Gue pulang buat ngerayain ulang tahun Faya, dan sekarang gue lagi dirumah Faya sama Vano, Gend-"
"Terus gue ngapain harus ke sana?"
"Ha?"
"Titip salam aja buat Faya,"
"Lo nggak mau kesini? Beneran?"
"Gue emang siapanya Faya? Ada hak gue disana?"
"Lo--"
"Udah ya Ar, besok gue hubungi lagi. Gue ngantuk,"
Tut!
Tiba-tiba saja amarah Gema membuncah, apa yang sedang Gema rasakan? Kenapa dia marah? Apa yang salah dengan ulang tahun Faya yang dirayakan dan mengundang Ari, Vano, dan teman-temannya? Ah, atau karena Gema tidak diundang di acara hajatan itu? Sekali lagi, sepertinya Gema harus bercermin, dia siapanya? Di mata Faya memang dia bukan siapa-siapa.
Ketika Gema sibuk dengan pikiran-pikiran negatifnya, di ujung telepon yang terputus sepihak oleh Gema ada Ari yang tengah mengucapkan sumpah serapah. Dia kesal, ternyata Gema dan Faya sama saja. Jika mereka terus saja begini, Ari yakin kata bersatu tidak akan ada di antara mereka.
"Ar,"
Ari menatap ke sumber suara, ada Haru.
"Hmm?"
"Kita photo bareng yuk," ucap Haru seraya menunjuk kearah ruang tamu.
Kini Ari tengah berada di teras, tanpa berucap Ari mengangguk dan memasuki rumah. Di susul Haru dibelakangnya.
***
Acara sudah selesai, semua orang sudah pulang. Setelah membersihkan rumah, kini waktunya Faya untuk tidur. Jarum jam menunjukkan angka sebelas, tapi entah kenapa mata gadis itu tidak mau terpejam dan larut dalam mimpi. Gadis itu malah sibuk sesekali melihat ponsel yang ia letakkan di balik bantal empuknya. Beberapa kali mengecek aplikasi chat, entah chat siapa yang gadis itu tunggu. Padahal ada beberapa chat yang belum ia baca, tapi ia abaikan. Hingga akhirnya rasa kantuknya tak bisa dikalahkan. Faya pun terlelap dengan rasa kecewa yang benar-benar membuncah, cowok sialan itu benar tidak tau tanggal lahirnya. Dan itu cukup membuat Faya kesusahan menelan, karena kenyataan itu terlalu pahit.
***
Satu minggu setelah ulang tahun Faya berlalu, semua nya berjalan seperti biasanya. Yang tidak biasa hanya kelanjutan perjodohan itu. tanpa sepengetahuan Faya dan Gema, Abi dan Bibi Hana sudah merencanakan semua. Dari mulai menentukan tanggal hingga menentukan gaun yang akan Faya gunakan. Semuanya memang terkesan buru-buru, alasannya adalah karena faktor kedua mempelai. Akan semakin sulit jika diantara Faya dan Gema ada yang merubah pikiran dan menolak perjodohan.
Disaat Abi Gema dan Bibi Hana sibuk mempersiapkan pernikahan secara diam-diam, ada hubungan yang semakin merengang. Yakni antara Gema dan Faya, sudah seminggu semenjak ulang tahun itu, Gema tidak pernah muncul di depan faya. Di media sosial pun Faya tidak bisa melihat tanddaa-tanda kehidupan cowok itu. Yang Faya tau Gema benar-benar bukan calon suami yang baik. Oke, dia memang bisa baik, tapi tidak pada dirinya, orang yang tidak Gema cintai. Membayangkan hal itu membuat Faya sedikit ragu, masih kah ia akan melanjutkan rencana perjodohan yang ah.....membingungkan sekali.
Bipp..Bipp...
Ponsel berdering, telepon dari Ari. Dengan satu gerakan telepon pun sudah tersambung, suara Ari terdengar ceria di ujung sana.
"Assalamu'alaikum Fayaaaa,"
"Wa'alaikumsalam, tumben telpon, ada apaa?"
"Gue mau telpon aja, kenapa? Nggak boleh?"
"Hhh, bilang aja kangen,"
"pede gila, lagi nggak ada jam?"
"Iya, nih lagi di kantin, sendiri, huaaaa"
"Jones amaat, kantin sendiri, hauauhhahaha"
"DIEMMM!"
"HAHAHA, emang pangeran lo kemana?"
"Pangeran gue belum datang, entah datangnya kapan,"
"perlu gue telponin biar datang cepet?"
"Emang bisa? IYAIYA, telponin donggg,"
"Beneran?"
"Beneran lah, bosen gue Ar sakit hati terus dengan cinta yang salah, gue pengen ketemu pangeran halal gue,"
"elah, tata akhlak dulu, udah bagus belum? Usia hampir dua puluh belum bisa ngendaliin hati dengan baik, bebenah diri dulu lah Fay!"
"Bawel luh, tau gue tau."
"Tau aja tapi nggak ngelakuin ya percuma dodol!"
"Oh, jadi lo nelpon gue Cuma mau cacimaki gue?"
"Tuh kan jadi lupa, gue mau beri tahu,tentang..."
"Tentang apa?"
"Gue udah punya kado buat lo,"
"JINJAA? Waah, aku sudah tidak sabar."
"Mau gue paketin yah nggak mungkin, gue antar pakai gojek ya kejahuan, jadi lo harus sabar ya, kira-kira Minggu depan gue ke rumah,"
"Emang apa sih kadonya? Jangan-jangan lo ngasih gue mobil ya??"
"Lo pikir gue sekaya itu, gue bukan Gaga ya, yang anak orang kaya terus mobilnya gonta ganti macem ganti baju,"
"Gaga siapa?"
"DASAR NORAK! Udah gue tutup, bye!"
"Eh...nyeselin, wa'alaikumsalam dulu kek!"
Dengan kesal, Faya pun menutup mengakhiri percakapan jarak jauh itu. Ari selalu saja bisa membuat mood Faya membaik. sekali pun isi percakapan jarak jauh itu kebanyakan berisi caci dan maki, tapi harus Faya akui hal tersebut mampu membuatnya bisa tersenyum lagi. dan membuat Faya tersadar, kenapa harus mikirin satu orang yang nggak perduli padahal ada banyak orang yang perduli? Hem, hembusan nafas panjang terdengar dari sosok Faya.
Tbc
thx you, xoxo muffnr