Selepas menerima telepon dari Ari, Faya meletakkan smart phone nya. Kembali sibuk dengan makanan yang tadi sempat ia lupakan. Sekali pun tidak ada nafsu makan, Faya harus tetap makan. Karena pura-pura bahagia itu butuh energi yang banyak.
Suasana kantin yang tenang, karena masih jam kampus membuat mood Faya membaik. Apalagi semilir angin yang diikuti gerakan daun-daun di pohon yang ada di area kantin yang rindang. Membuat Faya cukup merasakan kebahagian kecil. Sekali pun sendiri, dia bisa merasakan kuasa Tuhan yang benar-benar nyata.
Dan mulut Faya tak hentinya mengucap syukur, Tuhan memang tidak sejahat yang Faya pikirkan. Semuanya akan baik jika Faya bisa memandang masalah yang hadir dalam hidupnya dengan sudut pandang yang berbeda. Bukan hanya dari sudut pandang dimana dirinya merasa tersakiti, karena sesungguhnya semua yang terjadi dalam hidupnya adalah rencana Tuhan yang sangat indah.
Drtt..drt...
Ponsel Faya bergetar, tanda jika ada pesan masuk. Tangan kiri Faya pun meraih smart phone bewarna emas itu, menggeser layar dan melihat siapa yang mengiriminya pesan di siang bolong seperti ini, tak biasanya, wajar lah jomblo.
Reina: lg dmn? Gua ud di kmpus.
Ternyata Raina, Faya menghernyit heran. Kenapa sahabatnya ini ada di kampus? Seharusnya kan masih ada di Belanda. Sejak beberapa minggu ini Raina memang ada di Belanda untuk studi banding. Dan itu akan berlangsung selama satu bulan, tapi ini...baru dua minggu lebih, dan Raina sudah di kampus? Faya pun sedikit cemas, jangan-jangan Reina membuat masalah di Belanda, sehingga dia harus segera pulang.
Dengan raut wajah gelisah, Faya pun mengetik beberapa kata balasan untuk Raina. Memberi tahu jika dia ada di kantin. Dan beberapa menit kemudian, Raina pun datang dengan raut wajah yang diluar ekspetasi Faya. Faya kira, Raina datang dengan raut wajah suram atau lesu. Tapi nyatanya, gadis itu malah muncul dengan senyum kegirangan, kedua tangannya tengah menenteng tas plastik warna putih yang entah apa isinya.
"Faya! Gue kangeeen!" Raina memeluk Faya erat, membuat Faya kualahan.
"Gue nggak bisa nafas b**o!" Umpat Faya.
Sontak saja, Raina melepas pelukannya itu "sory, kok lo makin kurusan? Lo kenapa? Mata lo juga? Ya Allah lo kayak kucing nggak keuurus!"
"Sialan, gue manusia! Bukan kucinggg," ucap Faya frustasi.
"Uu, lo pasti kesepian ya ngga ada gue? Kan temen lo gue doang," goda Raina.
"Idiiih, eh tapi lo kok udah balik? Bukannya satu bulan ya?" Tanya Faya.
"Lo kayak ngga paham kampus kita aja Fay, pengajuan satu bulan ehh di accnya dua minggu, t*i banget kan?" Ucap Raina tanpa menyadari jika mereka sekarang ada di kantin.
"Kok gitu?"
"Entah, gue juga males banget kalau bahas itu. Udah ah, yang penting gue udah ke sana," ucap Raina seraya meletakkan dua kantong plastik itu di meja "ini buat lo!"
"Apa ini?" Faya menghernyit heran, "lo habis belanja di pasar ya?"
"Sialan! Ini oleh-oleh dari belanda ya!" Teriak Raina seraya menimpuk Faya dengan botol air minum yang ada di hadapannya.
"Aw! Sakit b**o!" Faya menghindar, "oleh-oleh dari belanda tapi kantong plastiknya kok dari pasar, jangan-jangan...."
"Yaelah Faya! Cek ajaaa, ori dari Belanda, cuma gue tadi buru-buru makanya nggak sempet nyari tas, yaudah gue comot aja plastik di dapur!"
Mendengar penjelasan Raina, Faya tersenyum geli. Jari jemari Faya kini membuka plastik putih yang ada di hadapannya, gadis itu mendapati sebuah gantungan kincir angin kecil khas belanda yang sangat lucu. Faya tersenyum senang, "sukaaaa! Makasihh Raina cintaku, cimitcimitku, i love yuu"
"Kalau dikasih beginian aja baru bilang i love you, basi!" Ucap Raina.
"Haha, lo kenapa sih? Nggak ikhlas? Yaudah, gue balikin"
"Ikhlas gue, ikhlas Fay, kantong satunya isinya kado, jangan dibuka disini gue malu, buka dirumah aja!"
"Kado?" Dahi Faya menghernyit heran.
"Iya, satu minggu yang lalu, lo kan ulang tahun"
"Ciyee inget ulang tahun guee,"
"Gue kan emang sahabat yang baik,"
"Tapi ini isinya apa? Jangan-jangan bom?"
"Bom gundul mu,"
"Hahahaha" tawa Faya pecah.
Sekarang Faya menyadari, dua minggu ini dia benar-benar kehilangan sosok Raina.
"Lo ngapain masih di kampus?" Ucap Raina setelah meminum jus wortel milik Faya.
Faya menatap Raina heran, bagaimana bisa gadis ini lupa dengan jadwal kuliahnya? "kan jam satu nanti ada jam, gimana sih"
"Jangan bilang lo nggak punya kuota buat liat chat di group, hari ini bapak dosen nggak bisa datang, asdos uda ngasih tugas, jadi kita nggak usah maduk kelas," jelas Raina yang membuat Faya sedikit kecewa.
"Sialan," umpat gadis itu. Bagaimana tidak sialan, jika kita sudah menunggu namun malah tidak bertemu?
"Makanya, gue bilang apa, kuota itu penting," ucap Raina.
"Tapi kuota membuatku stalking,"
Kini tawa Raina yang pecah, "emang stalking siapa sih? Elah lu mah, nggak pernah terbuka sama gue. Padagal gue udah b***l,"
"Emang lo pernah pakek baju?"
"Sialan, oh ya cabut yuk?"
"Cabut?"
"Kita jalan-jalan fay, nggak bosen lo kampus-rumah, kampus-rumah mulu?"
"Eng..."
"Nggak boleh nolak! Mumpung gue bawa mobil nih, ayo dong FAYAAAA"
"Tapi ini beneran bapaknya nggak hadir?"
"Iya,"
"Oke lah, yuk"
"Yeyyy!"
Setelah Faya menghabiskan makanannya, mereka berdua pun bergegas menuju tempat parkir yang lumayan jauh dari kantin. Mengharuskan mereka melewati lapangan basket dan taman yang ada di sana.
Suasana taman yang ramai menarik perhatian Faya. Mata gadis itu pun menelusuri setiap orang yang ada di sana, berharap ada sosok lelaki yang akhir-akhir ini jarang ia temui.
Dan benar saja, lelaki itu ada di sana. Duduk di kursi panjang yang juga dipenuhi mahasiswa lainnya. Padahal dia menggunakan kaos bewarna coklat, namun sosoknya tetap menjadi pusat perhatian. Mungkin karena ada yang salah dalam dirinya, atau lelaki itu terlalu tampan? Ya, itu kesalahannya. Terlalu tampan.
Pada umumnya, disamping lelaki tampan pasti ada perempuan cantik. Dan itulah yang Faya lihat, di samping Gema kini sudah ada Seira. Mereka berdua terlihat sangat serasi. Ya, lelaki yang sedari tadi Faya perhatikan itu Gema.
"Whattt? Jadi mereka beneran?" Ucap Raina. Ternyata Raina juga memperhatikan apa yang Faya lihat.
Faya menghendikkan bahu, "mungkin." Mata gadis itu pun menatap kearah lain, terlalu lama melihat kenyataan yang menyakitkan itu pedas juga ternyata, buktinya mata Faya ingin menangis.
"Wiuehh mereka pegangan tangan, Fay!" Ucap Raina yang mengharuskan Faya untuk semakin kuat menahan tangisnya agar tidak keluar.
"Lohloh, kok Seira main nyosor aja?" Ucap Raina panik, "kan gue belum abadikan ciuman mereka? Aduhh!"
Faya tak tahan, gadis itu pun menengadah kan wajahnya. Menatap awan yang ada di atasnya. Jika saja tidak begini, mungkin air mata itu akan jatuh. Jika jatuh, dia harus bilang apa ke Raina? Bilang jika Faya adalah calon istri Gema? Tidak mungkin. Raina pasti akan menertawakannya.
"Fay lihat Fay! Setidaknya gue punya saksi jika harus nyebarin nih gosip," ucap Raina seraya menepuk bahu Faya.
Bukannya malah menuruti ucapan Raina, Faya malah berlari dari temapatnya. Dan bergegas pergi dari taman terkutuk itu. Mengabaikan teriakan Raina yang cukup keras. Masa bodoh tentang Raina yang akan marah kepadanya, yang terpenting Faya harus pulang dan menumpahkan semua kesedihannya.
Setiba di rumah, dia mendapati Bibi Hana tengah menyiram bunga di depan rumah.
"Loh, Faya kok pulang cepat?" Ucap Bibi Hana.
"Dosen tidak ada Bi," ucap faya seraya mencium dengan penuh kasih tangan Bibinya.
"Oh, kamu sudah makan?"
"Sudah," jawab Faya dengan raut wajah yang kesal. Entah gadis itu kesal pada siapa, pada Gema dan Seira atau dengan perasaannya yang tidak berhenti juga?
Melihat Faya yang tidak ceria seperti biasanya, Bibi pun menuntun keponakannya itu untuk masuk ke dalam rumah.
"Kamu kenapa?"
"Faya ke kamar dulu, Faya capek" ucap Faya.
"Iya kamu istirahat," ucap Bibi Hana seraya mengelus punggung Faya "oh ya, nanti malam Abi Gema akan datang kerumah,"
"Ngapain?"
"Katanya mau ketemu kamu," ucap Bibi hana.
Faya pun mengangguk pasrah, Abi Gema saja kan? Tidak masalah, asalkan bukan Gema.
***
Langit yang gelap, membuat sang rembulan terlihat terang. Hari sudah malam, namun keadaan rumah sederhana itu masih saja ramai. Suara anak kecil lari kesana kemari menjadi back sound yang pas untuk suasana kekeluargaan itu. Seolah tak mau kalah, orang dewasa pun turut adil meramaikan suasana, mereka sibuk melempar canda yang menghasilkan sebuah tawa.
Itu rumah Faya. Ternyata malam ini tidak hanya Abi Gema yang datang, namun seluruh keluarga Gema ada di sini. Mereka membawa beberapa hantaran yang tidak diperkirakan. Abi Gema bilang, malam ini hanya temu keluarga. Namun ternyata, beliau membawa hantaran dan juga cincin yang kini sudah tersemat di jari manis Faya dan jari manis Gema. Kini mereka berdua sudah terikat, dalam satu pasang cincin yang diciptakan untuk saling melengkapi.
Semuanya bahagia, apalagi Bibi Hana, sebentar lagi tugasnya akan selesai. Dia yakin ini keputusan terbaik, sebelum dia meninggal dia harus melihat Faya menikah dengan lelaki yang dicintainya. Eoh, benarkah Gema adalah lelaki yang dicintai gadis itu? Lalu kenapa kini Faya malah cemberut kesal, meremas kain gamis bunga-bunga nya seolah menahan sesuatu? Nampaknya Faya masih kesal jika mengingat kejadian tadi siang.
Apalagi jika melihat tawa bahagia Gema yang layaknya seorang pria, yang berhasil mendapatkan perempuan idamannya. Membuat Faya semakin muak dengan lelaki itu. Faya sangat yakin, pasti itu tawa palsu. Pasti Gema sekarang tengah berpura-pura bahagia. Dia pasti sebenarnya snagat tersiksa dan enggan menikah dengan Faya. Ya, Faya tau itu. Apalagi jika mengingat kejadian tadi siang, ahhh membuat Faya marah. Kenapa Gema sepengecut ini. Jika dia mencintai Seira, seharusnya dia membatalkan perjodohan konyol yang mereka lakukan. Karena hal itu lebih baik dari pada membuat Faya semakin berharap.
Ketika sibuk meremas kain gamis yang ia kenakan, Faya tidak menyadari jika Galang sudah ada di sampingnya. Galang tentu saja ada di acara keluarga itu, entah sejak kapan Bibi Hana menganggap tetangga barunya itu menjadi keluarga, mungkin sejak acara ulang tahun itu. Atau sejak Oma Galang rajin mengirimi kue enak ke rumah Faya? Ah entahlah, yang author tau, mereka benar-benar seperti keluarga.
"Kenapa?" Ucap Galang seraya menyenggol bahu Faya dengan bahunya.
Mata gadis itu membulat, terkejut saat melihat Gema sudah di sampingnya, "mas Galang kok ada di sini?" Ucap Faya heran.
Galang memutar bola matanya sebal, "dari tadi juga Mas Galang di sini, bantuin Bibi Hana cuci piring, ngatur parkir juga tadi, kamu aja yang nggak perhatian,"
"Ishhh, apaan boong,"
"Serius, ini cium tangan Mas Galang kalau nggak percaya, pasti masih bau sabun," tangan Galang pun seolah-olah membekap wajah Faya, sontak saja Faya menghindar.
"Ihhh Mas Galang, jorok!" Ucap Faya sebal.
Melihat hal itu Galang tertawa terbahak, pria itu suka sekali menggoda perempuan yang ada di depannya. Menurutnya, ekspresi Faya jika tengah kesal itu sangat lucu. Seperi saat ini.
Tawa Galang yang renyah itu terhenti tat kala Gema datang dan duduk disebelahnya. Faya pun turut membatu, omelannya pada Galang pun seketika terhenti. Gadis itu tertunduk, enggan melihat calon suaminya itu.
"Boleh pinjem Faya nya bentar?" Ucap Gema memecahkan keheningan diantara mereka bertiga. Hanya mereka bertiga, karena para orang tua masih sibuk melempar guyonan yang berbau masa muda mereka.
Sontak saja, Galang pun berdiri dari duduknya, "tentu saja! Kalian kan udah mau halal!"
Gema tersenyum, "makasih Bang"
"Santai aja," ucap Galang seraya mengedipkan satu matanya pada Gema "gue ke dapur dulu ya Faya, cucian di dapur masih numpuk!"
Faya baru saja ingin membuka suara, memohon agara Galang tidak meninggalkan mereka berdua. Namun sosok Galang sudah melesat berlari menuju dapur. Faya pun tertunduk kesal.
Hanya dia dan Gema. Sialan, Faya tidak suka jika jantungnya berdetak sangat cepat seperti ini.
Hampir lima menit jika dihitung dengan mesin waktu, namun tak kunjung juga Gema membuka suara. Faya yang menunggu pun sudah merasa jengah. Gadis itu pun berdiri,
"Mau kemana? Duduk!" Pintah Gema, suara nya tidak seberapa keras, namun terdengar sangat keras di telinga Faya. Bahkan mampu membuat jantungnya berdetak diluar iramanya.
"Lo sapa? Nyuruh-nyuruh?" Ucap Faya seraya menatap Gema kesal.
"Duduk!" Ucap Gema semakin tegas.
"Sori, gue mau boker," ucap Faya seraya berjalan meninggalkan Gema.
Langkah kaki Faya terhenti, jari jemari Gema meraih lengan Faya. Menahan gadis itu untuk tidak pergi dari hadapannya.
"Kenapa?" Faya semakin kesal.
"Ini," Gema memberikan sebuah kotak kecil yang dibungkus kertas kado bewarna pink, itu hadiah.
Faya menghernyit heran, "apa ini?"
"Terima ini, dan lo boleh pergi," Ucap Gema.
Faya pun menerima kado itu dan kembali berjalan, namun langkahnya terhenti lagi. Jemari Gema kembali menahan lengannya.
"Kenapa lagi sihhh," ucap Faya kesal.
"Selamat ulang tahun,"
Gema tersenyum canggung. Lelaki itu menahan rasa malunya. Menahan ego yang selama ini ia rasakan. Untuk malam ini saja, biarkan Gema melakukannya. Melakukan hal yang satu minggu ini ia ingin lakukan.
"Semoga semua cita-cita dan harapan lo terkabulkan."
Mendengar hal itu, seketika Faya lupa tentang kejadian tadi siang. Gadis itu pun tertunduk malu, "thanks Gema!"
Dan biarlah, untuk malam ini saja. Faya berlaku egois. Yang hanya mementingkan perasaannya tanpa perlu memikirkan perasaan orang lain. Terlepas dari Gema mencintai siapa, yang terpenting Faya menyukai hal ini. Ucapan singkat ini, dan kado kecil ini.
Karena dari banyaknya umat manusia di bumi, hanya ucapan ulang tahun dari kamu lah yang selalu kuingat dalam hati. Selamat ulang tahun, kamu!
Tbc!
Xoxo, muffnr