"Kado dari siapa?"
Faya menoleh, mendapati Bibi Hana menatapnya penuh selidik. Senyum menggoda pun tercetak di wajah Bibi Hana, membuat Faya menunduk malu.
"Nggak dari siapa-siapa," ucap Faya seraya membenamkan wajahnya kedalam bantal yang ada di sampingnya, kado kecil itu pun kini sudah bersembunyi dibalik selimut "bibi ada apa? Sudah malam, Faya mau bubuk."
"Bibi mau ngomong sebentar," Bibi pun kini duduk di tepian ranjang Faya. Namun Faya masih saja mengabaikan Bibi nya itu, "Faya..."
Mendengar suara Bibi Hana yang menjadi serius, membuat Faya mau tak mau harus bangun dari tidurnya. "Ada apa Bi?"
"Emm..kamu nggak kangen Ibu kamu?" Tanya bibi Hana pelan, tangan wanita tua itu pun menyentuh punggung Faya dan mengelusnya.
Mendengar kata Ibu, membuat Faya menegang. Namun gadis itu sudah harus berdamai dengan kenyataan. Pahit atau manis hidup, pasti ada hikmahnya.
Lagian, dalam hati yang paling dalam mau tak mau Faya harus mengakui jika dia merindukan Ibu nya. Faya juga penasaran, wajah Ibunya yang kata Bibi Hana sangat cantik. Terlepas dari bagaimana perilaku Ibunya, Faya ingin seperti anak lain, yang bisa bercanda dan berbagi cerita dengan Ibu. Ah ibu? Jarang sekali Faya mengucapkan kata itu.
Faya mengangguk, "Faya rindu Ibu,"
"Besok kita ke pusaranya ya, sudah lama kita tidak ke sana," ucap Bibi hana yang ditanggapi anggukan oleh Faya.
"Sekalian ajak Gema," imbuh Bibi Hana, namun kali ini Faya tidak mengangguk, gadis itu menatap Bibi Hana ragu.
"Kenapa ajak Gema?"
"Ibu kamu juga harus tau siapa calon imammu Faya,"
"Tidak," ucap Faya dengan lantang.
"Kenapa? Gema pasti juga senang jika kita ajak ke pusara Ibumu,"
"Pokoknya Faya nggak mau kalau sama Gema," ucap Faya dengan wajah cemberut.
"Kamu kok kayak anak kecil sih," ucap Bibi Hana seraya mengelus kepala keponakannya itu, "Bibi sudah bilang ke Gema tadi, katanya dia mau."
"YAKK BIBI!!!" Teriak Faya heboh, "pokoknya Faya nggak mau kalau ada Gema"
Melihat tingkah Faya yang seperti anak-anak, Bibi Hana tersenyum kecil.
"Kamu kenapa sih?"
"Pokoknya Faya nggak mau!"
"Yasudah, Besok Bibi saja yang ke pusara sama Gema kamu nggak usah ikut,"
"Iihhh nyebelin," ucap Faya dengan wajah yang semakin kesal.
Bibi Hana pun merasa masa bodoh, dengan sikap Faya. Dengan senyuman yang masih tercetak diwajahnya dia pun beranjak dari ranjang Faya, "bibi ke kamar, kamu tidur yang nyenyak ya!"
"Bibi jahat!"
"Haha, jangan lupa wudhu dan doa!"
Pintu kamar Faya pun tertutup. Kini Faya pun sendiri di kamarnya. Gadis itu masih merasa kesal dengan keputusan Bibi hana yang tetap kekeuh mengajak Gema ke pusara Ibunya.
Sebenarnya tidak masalah Gema datang ke pusara Ibunya, hanya saja Faya masih merasa malu pada Gema. Faya yakin Gema pasti masih mengingat gosip di sma waktu dulu. Yang menyatakan jika ibu Faya adalah seorang p*****r. Dan tentang kebenaran jika Faya adalah anak haram dari ayah Ari. Artinya dia adalah saudara tiri Ari. Gema pasti masih mengingat itu semua, dan Faya malu. Apalagi jika mengingat Gema dari keluarga baik-baik, sementara Faya? Ah, garis keturunannya saja tidak jelas. Jika begini, apakah pantas Faya bersanding dengan Gema? Sedari dulu pertanyaan inilah yang Faya takuti.
***
Sepertinya Bibi Hana tidak merubah keputusannya. Dia masih saja kekeuh mengajak Gema ke pusara Ibu Faya. Padahal Faya sudah merengek untuk tidak mengajak lelaki itu. Terbukti saat ini Gema sudah duduk di sofa ruang tamu rumah Faya.
Hari ini Gema terlihat tampan. Padahal lelaki itu hanya mengenakan kaos oblong dan celana jins hitam kesukaannya. Namun ada yang berbeda di jari kanannya, tepatnya di jari manis. Disitu tersemat cincin tidak emas tentunya, dan tidak memiliki mutiara. Mungkin itu yang membuat Gema terlihat tampan. Apalagi dimata Faya. Gadis itu kini hanya menunduk, melihat kakinya sendiri. Tidak kuasa melihat objek yang ada di depannya.
"Lo suka kadonya?" Ucap Gema memecahkan keheningan. Faya pun mendongak, wajah gadis itu menunjukan ekspresi bingung, "kado yang gue kasih semalem," jelas Gema.
Faya pun mengangguk, "oh, kado itu..." ucapan gadis itu terhenti, berfikir dimana dia meletakan kado kecil itu. Faya lupa, gadis itu terlalu sibuk mengkhawatirkan hari ini.
"Lo udah buka kadonya kan?"
"Be..lum," Ucap Faya ragu.
"Ha?" Gema pun terkejut,"kenapa? Nggak suka gue kasih kado?"
Faya pun menggeleng, "bukan gitu, gue suka kok," suka banget malah, imbuh faya dalam hati.
"Tapi kenapa nggak dibuka?" Tanya Gema lagi.
"Gue.."
"Kenapa? Atau jangan-jangann..."
"Gue lupa naroh kadonya dimana!" Ucap Faya cepat.
Mendengar hal itu, Gema pun terdiam. Rahang lelaki itu mengeras, ingin rasanya ia meminum kopi didepannya dan memakan cangkirnya juga sekalian.
"Gema," ucap Faya yang menyadari perubahan sikap Gema "jangan marah,"
Gema tidak menyaut, lelaki itu masih terdiam. Matanya kini tidak lagi menatap Faya dengan hangat.
"Gue minta maaf," ucap Faya berkali-kali, namun tak kunjung mendapat respon dari Gema.
"Semalem kadonya gue simpan, tapi gue lupa nyimpan dimana," jelas Faya.
"Ya udah nggak papa, nggak penting juga kok, dari dulu emang gue nggak pernah penting dimata lo,"
"Bukan gitu Gema--"
"Udah diem, gue males denger suara lo!"
Faya pun semakin salah tingkah. Gadis itu memukul kepalanya pelan. Bisa-bisanya lupa, seingatnya dia menaruh kado itu di nakas dekat ranjang. Namun tadi pagi hari, saat Faya mencarinya sudah tidak ada lagi.
"Gema sudah datang?" Ucap Bibi Hana memecahkan keheningan di antara mereka. Gema pun tersenyum dan mengangguk.
"Udah dari tadi, Bibi aja yang lama dandannya," saut Faya cepat.
"Oh ya? Duhh maaf ya Gema,"
"Nggak papa kok Bi," ucap Gema dengan tersenyum manis.
"Ya sudah, biar nggak lama-lama ayo kita berangkat sekarang, nanti keburu maghrib," ajak bibi hana yang disetujui Gema dan Faya.
Mereka pun bergegas menuju pusara Ibu Faya yang letaknya tak jauh dari area komplek perumahan.
***
Setiba di komplek pemakaman, mereka pun menuju pusara Ibu Faya. Gundukan tanah yang terdapat nama Ibu Faya itu ternyata sangat terawat. Tidak ada rumput liar yang hidup diatasnya. Jangankan rumput liar, binatang-binatang composer atau semut bahkan tidak terlihat batang hidungnya. Mungkin binatang-binatang tersebut tengah bersembunyi.
"Gema pimpin doa ya," ucap Bibi Hana.
Gema pun mengangguk, dia sudah memperkirakan itu. Oleh sebab itu dia sudah menyiapkan kitab yasin yang biasanya ia bawa jika ziarah kubur.
Setelah membaca doa, tangan Bibi Hana mengelus nisan yang bertuliskan nama Ibu Faya, yakni Dini.
"Dini, mbak kesini bareng Faya," ucap Bibi Hana dengan tangan yang masih mengelus batu nisan itu, "dia sudah tumbuh besar, sudah menjadi seorang perempuan, bahkan bulan depan dia akan menjadi seorang istri, kamu pasti senang kan Faya datang? Dia bilang dia merindukan mu, boleh lah sesekali kamu muncul di mimpinya. Agar kalian bisa bertemu, ya kan Fay?"
Faya mengangguk, tangisnya pecah seketika, "Faya rindu Ibu."
"Oh ya, Mbak kesini juga sama calon suami Faya. Namanya Gema, dia tampan sekali. Bahkan lebih tampan dari Hilman, Kakakmu. Dia sangat baik dan pintar, insya Allah dia bisa membimbing Faya," ucap Bibi Hana seraya menatap Gema.
Gema pun mengangguk, "Ibu ini saya Gema, lelaki yang akan menjadi suami anak Ibu. Saya akan menjadi teman hidup Faya hingga ke surga sehingga kita bisa bertemu Ibu di sana, iya kan Faya?"
Faya tak mampu lagi berkata, gadis itu masih saja menangis. Apalagi mendengar ucapan Gema barusan. Membuatnya tidak bisa berhenti menangis.
"Lihatlah anakmu Dini, saking bahagianya mendengar janji calon suaminya sampai-sampai tidak mau berhenti menangis," goda Bibi Hana.
Yang membuat Faya tersenyum malu disela-sela isakan tangisnya. Sementara itu Gema sudah gemas sedari tadi, ingin mengelus kepala Faya agar gadis itu merasa tenang. Namun tidak bisa, dia dan Faya masih belum mahram.
"Sudah ya Dini, hari sudah malam. Kami pamit pulang dulu, dan kami janji akan ke sini lagi," ucap Bibi hani seraya beranjak dari duduknya.
"Faya pulang ya, bu" ucap Faya, seraya mencium nisan Ibunya.
"Gema juga, janji akan jaga Faya selalu," saut Gema.
"Ihh lo apaan si Gema?"
"Apanya yang apaan sih?"
"Gausah nebar janji mulu deh,"
"Sudah-sudah, jangan bertengkar, ayo kita pulang," lerai Bibi Hana mendengar percekcokan dua remaja itu. Dan mereka pun meninggalkan pusara Dini.
Adzan maghrib pun berkumandang, tepat setelah mereka bertiga tiba di rumah.
"Gema, kamu sholat disini saja," ucap Bibi Hana.
"Iya Bi," jawab Gema santun.
"Nanti sekalian makan malam,"
"Kalau makan malam di sini Gema nggak bisa Bi," ucap Gema.
Bibi hana pun mengerutkan dahinya, sementara Faya yang tadinya tengah berjalan menuju kedalam rumah pun menghentikan langkahnya, "kenapa?" Ucap gadis itu dengan suara tegas.
"Udah ada janji lain," jawab Gema dengan wajah tak berdosa.
"Janji sama siapa?" Tanya Faya dengan nada straktis, mirip sekali dengan para polisi yang tengah mengintrogasi para tersangka.
"Anak organisasi,"
"Ngapain?"
"Mau ada rapat,"
"Rapat apaan? Ini kan hari minggu,"
"lo kenapa sih?"
"Ada siapa aja?"
"Lo kenapa sih Fay?"
"Nggak papa," ucap Faya, gadis itu pun melangkahkan kakinya cepat menuju kamar mandi.
Melihat tingkah Faya, Gema pun hanya menghernyit heran. Dia pun menatap Bibi hana, seolah memintai jawaban kenapa Faya bersikap seperti itu padanya.
Bibi Hana pun tersenyum, "udah abaikan Faya, kamu ambil wudhu di depan aja sana,"
Sekalipun masih bingung dengan sikap Faya, Gema menurut, dia pun menuju pancuran air yang ada di halaman rumah. Guna mengambil wudhu.
Sementara itu di kamar mandi, Faya mengumpat kesal pada dirinya sendiri. Kenapa sekarang Faya mirip istri yang mau ditinggal pergi suaminya sih, rempong tanya ini, itu.
Tbc
Xoxo, muffnr