Smart phone itu berdering sangat keras ketika Faya hendak merebahkan dirinya di kasur. Gadis itu pun melirik jam yang ada di nakas, sudah hampir pukul sebelas malam dan siapa yang menelponnya malam-malam seperti ini. Dengan malas, Faya pun meraih smart phone yang berada di meja belajarnya.
Dahi Faya semakin mengkerut ketika melihat nama siapa yang tertera di layar ponselnya. Ada apa Ari menelponnya malam-malam? Tidak biasanya. Dengan satu gerakan, sambungan telepon itu pun tersambung.
"Halo Ari, ada apa?" ucap Faya seraya merebahkan dirinya di kasur.
"Assalamualaikum, Fay"
"Eh, belum salam ya," Faya nyengir "walaikumsalam."
"Salam emang nggak wajib, tapi mendoakan sesama muslim itu penting Faya,"
"Iya Ari, kamu bawel yaa sekarang," ucap seraya mengerucutkan bibirnya.
"Bukannya bawel, i just wanna give u information Faya."
"Gue tau, tapi kenapa nih lo telpon gue?"
"Oh, telpon adik sendiri harus ada alasannya ya?"
"Ciye, adik," tawa Faya pun pecah memenuhi ruangan.
"Kenapa ketawa? Ada yang lucu emang?"
"Nggak sih, but aneh aja gue dengernya"
"Dasar adik durhaka,"
"Lo udah makan?"
"Udah, tadi makan sama Haru,"
"Ciye, sekarang makannya sama Haru terus,"
"Iya kan adanya Haru, coba lo ada di sini pasti gue makan sama lo,"
"Alasan!"
"Oh ya, lo sama Gema gimana? Gue denger dari Bibi, lo sama dia udah gutuan,"
"Gituan apaan sih? Ambigu lo Ar!"
"Hahaha, udah lamaran maksud gue,"
"Iya gitu deh, tadi gue sama dia sama Bibi juga ke pusara Ibu,"
"Wuiihh, makin ajib aja kalian."
"Hmmmm"
"Tapi lo seneng kan?"
"Nggak,"
"Kenapa nggak?"
"Ya gitu deeh,"
"Jangan bohongi hati sendiri,"
"Nggak,"
"Bohong itu dosa!"
"Apa sihh"
"Etdah, gue kebelet nih,"
"Kebelet apaan lo!"
"Kebelet pup,"
"Jijjik ya udah cepet ke kamar mandi,"
"Gue tutup ya!"
"Iya udah cepet tutup,"
"Oh ya, lo dapat salam dari Papa,"
"Papa?"
"Papa udah kembali Fay, dia pengen ketemu lo,"
".."
"Gue tutup ya Fay, sial--"
TUT
Tanpa berpikir panjang, Faya pun menyudahi telpon dari Ari. Gadis itu seketika termenung. Papa, satu kata yang juga jarang Faya ucapkan selain Ibu. Dulu Faya kira dia tidak akan menyebut dua kata itu. Karena kata Bibi Hana, Papa dan Ibunya sudah tiada. Namun nyatanya, takdir berkata lain. Faya punya Papa, gilanya lagi Papanya adalah orang yang sama dengan Papa Ari.
Om Tio yang dulu selalu membelikannya tas baru, baju baru atau bahkan boneka baru adalah papanya. Kenyataan yang tak terduga, namun mau tak mau Faya harus menerima itu semua. Faya harus bertemu Papa nya, sekalipun dalam hatinya dia tidak siap. Namun itu semua hanya masalah waktu, cepat atau lambat Faya pasti akan bertemu. Jadi tidak ada gunanya menghindar. Dengan ucapan bismillah, Faya pun mengetikkan beberapa kata dan nengirimkannya pada Ari.
Bilang ke papa, Faya jg pgn ktmu. kpn ke sini?
Setelah mengirimkan pesan itu, Faya pun tertidur dengan perasaan yang lega, karena sepotong kehidupannya yang sempat hilang akan kembali. Dan dia harus bahagia.
Ketika Faya sudah terlelap dalam tidurnya, di sebuah diskotik yang cukup terkenal di kota terdapat Gema. Lelaki itu berada di tengah-tengah orang-orang yang tengah meliak-liukkan tubuhnya. Dia tidak ikut menari, dia juga tidak minum, yang dilakukan Gema hanya melihat Seira yang tengah berada di bawah sadar minuman beralkohol itu.
"Gema, lo kenapa diem aja?" Ucap Seira dengan tangan yang mengelanyut manja di bahu Gema.
"Ayo pulang!" ucap Gema dengan tegas.
Seira hanya tertawa, dan kembali menggerakkan tubuhnya ketika musik kembali terdengar. Menandakan jika gadis itu enggan beranjak dari tempat itu.
"SEIRAA AYO PULANG!" Suara musik yang semakin keras, membuat Gema semakin berteriak.
"NGGAK!!" Tolak Seira dengan suara tak kala keras "gue masih pengen di sini!"
Tanpa pikir panjang, Gema menarik tangan Seira dengan kuat. Membuat tubuh Seira limbung dan mau tak mau mengikuti kemana Gema pergi.
"Gue nggak mau pulang," rancau Seira seraya berusaha melepaskan genggaman Gema. Namun sia-sia, tangan Gema terlalu kuat.
"Gemaaaa!!! Lepasiiiin" rengek gadis itu. Gema acuh, dia tidak akan melepaskan tangan Seira sebelum mereka keluar dari tempat terkutuk itu.
"Lo kenapa sih Gema masih ikut campur urusan gue? Kenapa lo nggak urusin aja calon istri loh yang sholehah itu? Haa? Kenapa ha???"
"Kenapa lo harus nerima perjodohan gila itu? Kenapa Gema? Kenapa?" Dan di akhir ucapannya, Seira terisak. Dia menangis cukup keras.
"DAN KENAPA GUE JUGA HAMIL? KENAPAAAAA???"
Langkah kaki Gema terhenti, tepat di pintu masuk diskotik itu. Telinga Gema masih berfungsi dengan baik, tidak mungkin jika Gema salah dengar atau tidak mendengar teriakan Seira itu.
"Gue hamil Gema, hiks" tangis Seira pecah.
"Gue hamil Gema!" Ulang Seira.
"Nggak mungkin," suara Gema bergetar. Kenyataan macam apa ini? Umpat Gema dalam hati "lo bercanda kan?"
"Gue serius, gue ham-hamil," air mata Seira sudah mengucur deras, membuat Gema semakin tidak tahan melihatnya.
"Kita pulang, gue yakin lo lagi nggak sadar," Gema pun berjalan ke area parkiran, diikuti Seira di belakangnya.
"Gue emang ngga sadar Gema, tapi gue beneran hamil!" Tandas Seira ketika mereka berdua sudah memasuki mobil.
Gema menatap lurus ke depan, tangannya menggenggam erat stir mobil seolah menyalurkan amarahnya, "anak siapa?"
Seira terdiam. Membuat Gema semakin meradang.
"GUE TANYA LO HAMIL ANAK SIAPA SEIRAAA!"
tidak malah menjawab, Seira hanya tertunduk dan menangis sesenggukan.
"JAWAB GUE RA!" teriak Gema lagi. Amarahnya sudah benar-benar memuncak.
"Gu-e nggak ta-tau ini an-anak si-apa," ucap Seira pelan dengan terbata, tak lupa pula dengan air mata yang membanjiri pipinya.
Urat marah Gema pun semakin menegang, "apa lo bilang?"
"Gue nggak sadar Gema, gue nggak tau gue tidur sama siapa malam itu,"
BUG!
Gema memukul setir mobilnya itu dengan kuat. Kenapa Seira tidak bisa menjaga dirinya sendiri?
"Gue mau aborsi,"
"Jangan gila!"
"Lo mau liat gue diusir sama bokap nyokap? Nggak ada jalan lain, selain aborsi" Ucap Seira seraya menarik rambutnya, seolah menyalurkan rasa gregetan dalam hatinya "gue emang bodoh!"
"Kita akan cari Ayahnya," ucap Gema.
Mendengar hal itu Seira menggeleng kuat, "nggak akan ketemu, yang datang ke diskotik bukan cuma satu dua orang gema,"
"Tapi lo pasti ingat orangnya kan?"
"Nggak gue lupa," jawab Seira yang membuat Gema semakin frustasi.
"Lo nggak boleh bunuh anak itu Ra,"
"Tapi gue nggak bisa hadapin ini sendirian!"
Mendengar hal itu, sontak saja Gema menarik Seira kedalam pelukannya, "lo nggak sendirian, ada gue di sini"
Tangis Seira pun pecah, menyesali segala perbuatannya. Termasuk meninggalkan Gema kala itu. Andai saja dia tidak memutuskan Gema, mungkin sekarang lelaki itu masih miliknya.
"gue sayang lo Gema," bisik Seira dengan suara pelan. Namun masih terdengar jelas di telinga Gema. Dan lelaki itu pun hanya mengangguk, dan mengelus rambut Seira tanpa mengucapkan apapun. Mulutnya terkunci, layaknya hatinya.
**
Pagi adalah dimana semua kegiatan bermula. Seperti layaknya Faya, pagi sekali gadis itu sudah menunggu bis di halte dekat rumahnya. Dia tidak boleh telat, karena mata kuliah pagi ini sangat berarti bagi kelangsungan perkuliahannya.
Ketika Faya sudah khawatir dan cemas tentang bisnya yang tidak kunjung datang, bak peri Raina menghampiri gadis itu, memberikan tumpangan.
"Faya!" Teriak Raina dari dalam mobilnya.
Faya menoleh, gadis itu terpekik senang melihat sahabatnya sudah ada di depannya, "Naaa!!"
"Ayoo masuk!"
Dengan cepat, Faya pun memasuki mobil Reina, "kok lo nggak bilang sih kalau lewat sini? Tau gitu gue minta jemput di rumah,"
"Helo!! Gue udah line lo ya! Udah gue telpon juga tapi nggak aktif," ucap Reina tak terima.
Faya pun meringis tanpa dosa, "oh ya gue lupa, hp gue mati!"
"Ishh, lo mah eror bener, kenapa mati?"
"Minta adik kayaknya, tapi perasaan kemarin malem baik-baik aja," ucap Faya seraya mengambil ponsel dari dalam tasnya.
"Kasiaaannnn, tapi gue siap kok nganter beli hape baru,"
"Nggak perlu ampek beli baru juga sih, nanti siangan juga udah pulih,"
"Hape s***p!"
"Udah sana fokus nyetirrr!!" Ucap Faya yang membuat Reina berhenti menggoceh.
Hanya beberapa menit, suasana mobil menjadi sunyi. Karena di detik ini, Reina kembali membuka mulutnya.
"Oh ya lo denger gosip baru nggak Fay?"
Faya menggeleng, "gue nggak denger dan nggak mau denger!"
"Selalu gitu," ucap Reina dengan bibir yang mengerucut sebal.
"Dosa Raina!"
"Ini masalah Gema, ketua angakatan kita yang hits itu,"
Faya memutar bola matanya, "kenapa lagi dia?"
"Kabarnya, Gema semalem datang ke diskotik!!"
Yang awalnya mendengar ucapan Raina dengan malas, Faya kini menjadi sedikit menegang, "apa?"
"Iya Gema kemarin malam datang ke diskotik bareng Seira," ucap Raina seraya mengangguk meyakinkan "coba deh lo cek di i********: Seira, kayaknya tuh anak uplod photo deh,"
"Gue nggak peduli," ucap Faya seraya menatap ke luar jendela. Hatinya entah kenapa menjadi sakit.
"Yee, elu mah nggak pernah seru kalau diajak ngegosip! Huu,"
"Diem deh NA!" Bentak Faya yang membuat Raina benar-benar terdiam di sepanjang perjalan.
Setiba di kampus, Faya pun menuju ke kelas. Dia tidak bersama Raina, hanya sendiri. Tadi Raina pamit datang telat, katanya ada urusan mendadak di organisasinya. Dan Ketika Faya sampai di lantai tiga, lantai dimana kelasnya berada, lengan baju Faya tertarik, membuat gadis itu terperanjat kaget.
Dan betapa terkejutnya ternyata orang yang menarik baju Faya itu adalah Gema. Gadis itu sempat mengerjapkan matanya beberapa kali, memastikan kebenaran makhluk yang ada di hadapannya itu.
"Ini gue Fay," ucap Gema dengan senyum kecil di bibirnya.
"Gue kira hantu," saut Faya yang semakin membuat Gema terkikik geli.
"Hp lo kemana?" Tanya Gema.
"Kenapa?"
"Kok mati?"
"Gatau," ucap Faya cuek.
"ntar jalan yuk?" Ajak Gema tiba-tiba, sontak saja Faya menatap lelaki itu dengan tatapan tak percaya.
"Gue ada kelas,"
"Ntar sorean," ucap Gema.
"Nggak bisa," Faya membuang wajahnya. Gadis itu teringat tentang ucapan Raina tadi pagi, "kenapa nggak jalan aja sama Seira?"
"Gue maunya jalan sama lo Fay,"
"Gue nggak mau Gema!!" Ucap Faya dengan wajah memerah menahan amarah.
"Lo kenapa sih?"
"Awas minggir, gue udah telat!" Bentak Faya yang membuat Gema mau tak mau mundur dari posisinya. Lelaki itu hanya terdiam, membiarkan Faya pergi meninggalkannya sendiri.
Tbc!
Xoxo, muffnr