Faya masih tidak percaya. Orang yang menjadi imam tadi adalah Gema. Gadis itu kini menatap Gema penuh selidik. Ada banyak sekali pertanyaan yang muncul di otaknya.
Kenapa bacaan al quran Gema fasih sekali? Apa Gema lulusan pondok pesantren? Atau dia memang jago ngaji? Ah, sulit dipercaya. Cowok macem Gema yang petakilan dan hitz bisa punya sisi sereligius ini.
Itulah serentetan pertanyaan Faya. Ia ingin sekali menanyakan serentetan pertanyaan itu. Namun, apa urusan Faya bertanya seperti itu. Nanti malah buat Gema gr, enak saja. Faya tidak akan memuji cowok bunglon itu. Sekalipun semua orang memuji Gema, Faya tidak akan memuji. Tidak akan.
"Subhanallah Gema, suara kamu indah sekali.." ucap Hana seraya memecahkan keheningan "seperti imam-imam makkah!"
"Iya Bi, Gendis juga kaget, berasa ada di surga, eh ternyata masih di dunia" ucap Gendis seraya tersenyum "suara lo mirip malaikat."
"Apa Ari bilang, Gema memang top!" ucap Ari seraya merangkul sahabatnya.
Mendengar hal itu, Gema tersenyum kecil. "Sudah-sudah, ayo kita ke sekolah. Nanti telat ikut tarawihnya."
Mereka berempat pun berangkat ke sekolah. Untungnya jarak rumah Faya dan sekolah tidaklah jauh. Tidak sampai tiga puluh menit, mereka sudah sampai di sekolah.
"Fay nanti pulang gue anter," ucap Ari ketika mereka sudah turun dari mobil.
"Nggak usah, Ar. Nanti lo kemaleman lagi pulangnya."
"Nggak, pokoknya nanti gue anter! Oke?"
"Yaudah deh, kalau maksa." ucap Faya seraya tersenyum.
Senyumnya hilang tat kala,
"Oh jadi nanti kamu mau nganterin Faya?" itu suara Miska. Dia datang entah dari mana.
Seketika Faya pun tertunduk, gadis itu menggigit bibir bawahnya. Mampus, Miska pasti marah besar.
"Jangan takut Fay, nggak papa kok!" ucap Miska seraya tersenyum licik "gue ijinin, tapi lo harus sadar lo itu anak p*****r! Inget lo tuh an-"
"PANAAS!" teriak Gema memotong ucapan Miska "gue kepanasan masak!"
"Lo kepanasan juga kan Fay ndis? Yuk kita ke musolah aja, kayaknya di sana adem deh."
Faya dan Gendis pun menurut. Mereka berdua mengikuti Gema menuju musolah.
Sementara Miska hanya bisa menahan Amarah. Untung saja itu Gema, jika bukan Gema, Miska pasti akan memarahi habis-habisan orang yang beraninya memotong ucapannya.
"Ayo kita ke musolah!" ucap Ari
Miska pun meredam amarah, gadis itu berubah menjadi gadis manja di hadapan Ari. "Sayang, kangen..kamu kemana aja sih?"
Ari masih terdiam.
"Oh ya, kamu tadi buka dimana? Bunda kamu nyariin tuh."
"Bunda nggak papa kan?"
"Tadi sempet histeris, tapi Mama udah nyuntikkin cairan apa gitu aku nggak tau, jadi Tante Zahrana bisa tenang lagi.
Kamu buka puasa dimana? Kok nggak dijawab sih? Eoh..kamu buka di rumah Faya ya?
Tante Zahrana pasti seneng banget, kalau tau kamu uda nerima kenyataan kalau Faya itu-"
"Lo tau?" ucap Ari kaget.
"Kemarin Mama cerita, habisnya Bunda kamu sering nyebut nama Faya. Jadi aku tanya ke Mama. Terus Mama cerita deh." jawab Miska dengan air muka ceria "kamu kok nggak bilang dari dulu sih? Coba aja kalau kamu bilang, pasti aku nggak ngelarang kalau kamu deket-deket Faya."
"Lo tau Faya adik gue, tapi kenapa lo masih suka ngebully Faya?" ucap Ari seraya menatap tajam Miska.
"Karena gue emang nggak suka sama Faya." jawab Miska denga tersenyum miris.
"kalo lo masih aja suka ngebully Faya, mendingan kita putus aja deh!"
"Kita itu senasip kali Ar, keluarga kita jadi korban dari kebusukan Ibu nya Faya. Seharusnya lo nggak nerima ini semua. Seharusnya lo benci Faya sama kayak gue,"
"Tapi lo malah? Ah, gue nggak pernah paham sama jalan pikiran lo!"
"Dan apa kata lo tadi? Putus? Dengan senang hati gue mau. Toh selama ini cuma gue yang mertahanin hubungan ini. Lo kira nggak capek? Gue capek!"
Miska pun berlari meninggalkan Ari yang mematung. Masih terngiang ucapan Miska yang membuatnya kaget. Jadi keluarga Miska hancur karena ibunya Faya? Oleh sebab itulah Miska sangat membenci Faya.
Ari mengusap wajahnya frustasi. Dia mengkhawatirkan Faya, Faya pasti akan sedih jika tau bagaimana Ibu nya sebenarnya.
-o-
Suasana musolah ramai. Semua orang sibuk membicarakan siapa imam yang memilki suara merdu itu. Apalagi di bilik perempuan, banyak sekali yang sibuk menerka siapakah imam misterius yang telah mengimami sholat tarawih mereka. Banyak yang berpendapat jika itu Ali, ketua rohis Aksara. Namun ada juga yang berpendapat jika itu adalah salah satu guru bukan siswa Aksara. Semuanya penasaran. Hingga akhirnya, sang Imam pun berdiri di mimbar dan memberikan ceramah.
"Assalamu'alaikum wr wb.." ucap Gema dengan wajah tenang.
"Wah ternyata Gema.."
"Serius itu Gema?"
"Subhanallah Gema.."
"Gema aku pada muu!!"
Dan bukannya menjawab salam, bilik perempuan malah semakin riuh saat melihat siapa ternyata sang Imam.
Beda dengan Faya, gadis itu mendengus kesal "suka banget sih tebar pesona! Tuh..tuh..pakek senyum-senyum segala lagi. Emang yah, namanya bunglon mah berubah-ubah! Topengnya banyak!!"
"Fay ada apa sih?" ucap Gendis "Gema keren ya?"
"Nggak! Apanya yang keren, bunglon kek gitu lu bilang keren? Keren dari hongkong!"
Gendis menatap Faya heran, kenapa Faya malah marah-marah.
"Mohon tenang teman-teman," ucap Gema dengan suara keras. seketika musolah pun menjadi tenang. Semua orang terdiam, menunggu Gema mengucapkan sesuatu.
"Alhamdulillah, ramadhan sudah di depan mata. Pesan saya pada kalian adalah untuk selalu fastabikul khoirot, berlomba-lomba dalam hal kebaikan. Karena di bulan ini semua kebaikan pahalanya dilipat gandakan.."
"Jika ada teman yang membaca al qurannya satu hari satu juz, kita jangan mau kalah. Kita harus mengalahkannya dengan satu hari dua juz atau tiga juz.."
"Jika ada teman kita yang selalu tahajud, kita jangan mau kalah. Kita juga harus selalu tahajud.."
"Itulah yang dinamakan berlomba-lomba dalam kebaikan. Jangan mau kalah, kita harus menang hingga hari kemenangan itu tiba."
"Sekian, tausiyah amburadul saya. Hem. Oke gue tau gue emang nggak bakat beginiian. Tapi, ini udah amanah. Jadi mau nggak mau." ucap Gema dengan senyum canggungnya. Seketika musolah pun riuh oleh gelak tawa.
"Besok jangan kapok lagi ya, jadi ma'mum gue. Wassalamu'alaikim wr. Wb."
Kini semua peserta tarawih pulang dengan topik pembicaraan yang sama, yakni Gema. Sama halnya dengan Gendis. Sejak perjalanan menuju parkiran dia sudah mengoceh seberapa kerennya Gema. Namun sayangnya lawan bicaranya tidak memilki respon yang baik. Hanya mengangguk, senyum kecut dan mengendikkan bahu. Siapa lagi kalau bukan Faya. Gadis itu kesal karena banyak sekali yang membicarakan Gema.
Dan kini objek pembicaraan Gendis sudah di depan mata. Gema kini sudah berada di depan mobil Ari. Menunggu si pemilik mobil yang belum muncul batang hidungnya.
"Gema!!" teriak Gendis histeris.
Gema yang melihat sikap Gendis pun terheran, "lo kenapa?"
"Duhh, lo emang top banget dahhh!" ucap Gendis seraya mengacungkan dua jempol "suara lo kece parah!"
Gema hanya mengangguk dan tersenyum. Kini matanya beralih menatap Faya yang terlihat cuek dan biasa-biasa saja. Kenapa cewek itu? Batin Gema.
"Tapi nih ya, aneh nya dari sekian banyak orang yang muji lo. Cuma ni orang nih, yang kayaknya nggak terpesona." ucap Gendis seraya menyindir Faya.
"Apaan sih Ndis!" ucap Faya sebal "gue nggak terpesona karena suara Gema emang biasa-biasa aja!"
Gendis menatap Faya tak terima. Ingin sekali Gendis menyangkal ucapan Faya, namun tak jadi karena..
"Wah, sudah nunggu lama ya? Maap-maap." ucap Ari seraya membuka mobil "ayo kita pulang.."
Sementara Gema, dia hanya tersenyum melihat tingkah Faya. Lucu, pikirnya.
Tbc!!