"Ada yang tau siapa manusia terkuat di bumi?" ucap lelaki berumur yang kini berdiri di mimbar.
Masjid seketika riuh. Semua siswa sibuk menerka siapa manusia terkuat dibumi.
"Hulk, pak!" celetuk siswa laki-laki.
Mendengar jawaban siswa laki-laki itu, semua orang tertawa. Termasuk Pak Kholid, "bukan."
"Pasti Superman Pak!" kali ini dari kubu siswa perempuan.
Pak kholid menjawab dengan senyuman yang tak hilang di wajahnya "bukan,"
"Lalu siapa Pak?"
"Manusia terkuat di bumi adalah orang yang pintar mengendalikan amarahnya,"
"Nabi saw pernah bertanya pada sahabatnya. Siapa kah yang kalian anggap perkasa? Lalu para sahabat menjawab, orang-orang yang tidak bisa dikalahkan oleh siapapun. Kemudian Nabi saw bersabda; bukan itu, tetapi orang-orang yang dapat mengendalikan dirinya pada saat marah."
"Tentu saja tidak mudah untuk mengendalikan amarah, bapak tau betul. Karena Bapak juga sering marah pada kalian. Namun, jika kita marah ada banyak sekali kerugian yang kita dapat. Pertama, marah bukan solusi. Marah justru menjadi awal dari masalah,"
"Marah adalah jembatan pecahnya tali persaudaraan. Adanya tawuran itu juga karena marah, adanya permusuhan itu juga karena marah."
"Nabi Muhammad bersabda; La taghdob walakal jannah, jangan marah maka bagimu surga. Jadi, akan lebih baik jika kita tidak suka marah-marah ya anak-anak." ucap Pak Kholid.
Pagi ini adalah hari pertama puasa ramadhan. Oleh sebab itu di Aksara diadakan pengajian sebagai perwujudan penyambutan datangnya bulan kemenangan. Tidak sampai dari separuh yang mengikuti pengajian, karena di Aksara muslim memang tidak menjadi mayoritas. Ada banyak juga siswa yang beragama kristen dan hindu.
Namun hal itu tidak membuat Aksara mati gaya dalam event-event islam. Buktinya, minggu ini akan ada serangkaian acara serambi ramadhan yang diikuti siswa Aksara yang beragama islam.
Pertama, pengajian pembuka ramadhan yang diadakan hari ini. Kedua, buka bersama beserta tarawih yang di adakan setiap hari hingga malam ke tujuh belas. Dan yang terakhir malam puncak, yakni pada malam nuzulul Qur'an. Pada malam itu akan diadakan khatmil qur'an dan pengajian.
Acara serambi ramadhan memang tidak wajib, namun antusias siswa patut di acungi jempol. Banyak sekali yang ikut, buktinya pagi ini. Musolah dan pelatarannya dipenuhi siswa yang tak malas pergi ke sekolah sekalipun libur.
"Fay, nanti lo buka di sini kan?" ucap Gendis seraya merapikan mukena. Mereka baru saja melaksanakan sholat dhuha dan hajat.
"Kayaknya nggak deh, soalnya kalau gue buka di sini kasihan Bibi Hana buka sendiri di rumah."
Wajah ceria Gendis menjadi murung, "yaaaa..ngga seru kalau ngga ada lo."
"Maaf ya,"
Seketika ada lampu yang bercahaya di atas kepala Gendis, dia memiliki ide cemerlang.
"Gimana kalau gue buka di rumah lo? terus habis itu kita ke sekolah ikut sholat tarawih?"
Faya menatap Gendis heran, kenapa gadis ini ngebet sekali tarawih di sekolah? Ada apa? Apa ada yang spesial?
"Hmm..lo pengen banget ya tarawih di sekolah?"
"Iya, Fay. Soalnya yah, kalau disekolah itu gue bisa khusyuk. Lagian nih, seusai tarawih pasti ada tausiyah. Jadi itung-itunglah nambah ilmu," ucap Gendis dengan menggebu-nggebu.
"Oke deh, nanti gue minta ijin Bibi dulu. Kalau boleh ya okelah."
"Yeee.." sorak Gendis.
"Yaudah yuk, pulang! Mau bobok nih," ucap Faya yang dihadiahi jitakan oleh gendis.
"Aw.."
"Tidur emang ibadah Fay, tapi bukankah lebih baik jika membaca Al-quran? Apalagi ini masih pagi." ucap Gendis.
Faya menngelus kepalanya yang dijitak Gendis, "iya iya gue tau."
"Jangan cuma tau Fay, tapi kerjakan! Jadikan ilmu yang kau dapat menjadi manfaat untuk dirimu."
"Siap bu boss!" saut Faya dengan suara lantang.
Mereka berdua pun keluar dari musolah. Acara sudah selesai namun suasana musolah masih ramai. Banyak siswa yang menyibukkan diri dengan Al-quran. Subhanallah, benar memang jika pintu surga terbuka jika bulan ramadhan. Lihatlah Faya bisa mencium aroma surga di sini.
Sementara di serambi musolah bagian barat, ada segerombolan para cowok yang tengah berdiskusi. Ada Vano, Rizal, Dado, Gema dan Ari. Sekalipun mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing, tapi diskusi bisa berjalan lancar.
Vano sibuk dengan proposal yang harus ia tanda tangani, secara dia adalah ketua osis yang tentunya bertanggung jawab dalam masalah kegiatan di sekolah. Termasuk serambi ramadhan ini. Di samping Vano ada Dado. Cowok itu sibuk dengan Psp ditangannya. Sejak pagi, dia sudah berdalih jika psp adalah waktu yang ampuh untuk membunuh waktu. Oleh sebab itu, selepas pengajian tangannya tak pernah lepas dari psp hitam itu.
Di samping Dado ada Rizal. Cowok berambut klimis itu kini tengah sibuk meneliti satu persatu cewek yang masih tersisa di musollah. Katanya siapa tau dengan begini dia bisa menemukan jodoh. Di samping Rizal ada Gema yang tengah khusyuk menatap layar smartphone. Cowok itu tengah stalking akun-akun makanan.
Dan yang terakhir ada Ari. Cowok itu tengah melamun.
"Nanti siapa yang buka bersama di sini?" ucap Dado.
"Gue pastinya," ucap Vano "gema lo juga harus ikut ya!"
Gema yang tadinya sibuk dengan smartphone kini menatap Vano penuh selidik. "kenapa gue harus ikut?"
"Gausa pura-pura nggak tau, ya! Nanti siapa lagi kalo bukan lo yang jadi Imam pas tarawih?"
"Yaelah, males bgt gue Van."
"Kan lo udah di kasih mandat pak Kholid, gimana sih"
"Ck. Ahhh kesalahan!" teriak Gema seraya mengacak rambut nya gusar.
"Apanya yang kesalahan sih Gem?" kini Rizal ikut adil, "ini kesempatan lo buat cari perhatian para cewek."
Dado pun menimpuk Rizal dengan pspnya, "Gema ngga kayak lo!"
Rizal meringis "sakit curut!"
"Makan tuh sakit!" ucap Dado dengan senyuman iblisnya "Ar lo ikut?"
Ari yang tadinya melamun pun menoleh ke arah Dado, "apa?"
"Ck. Makanya jangan ngelamun!" ucap Dado kesal "lo ada apa sih? Masalah? Apa lagi pms?"
"Gue nggak papa kok," ucap Ari seraya tersenyum.
"Yaelah fake smile mu Ar, berbie aja kalah." cibir Rizal yang mendapatkan tatapan garang dari Ari.
"Ingat, lataghdob walakal jannah.." ucap Rizal seraya menirukan ucapan pak Kholid.
"Emang ngerti artinya?" tanya Vano.
"Jangan marah, maka bagimu surga."
"Tumben pinter!" cibir Dado.
"Gue emang pinter, emang lo udang!"
"Gue udang, lo ketek udang!"
"Ketek udang tapi lo doyan!"
"t*i lu!"
"Astaghfirullah, kalian ini puasa tapi mulutnya nggak dijaga.." tiba-tiba Pak kholid datang, alhasil kelima cowok itu tersenyum kikuk.
"Hehe Dado tuh Pak," ucap Rizal.
Dado yang dituduh pun hanya mengepalkan tangan seraya menatap Rizal sebal.
"Vano, persiapan nanti malam beres kan?" ucap Pak kholid.
"Insya Allah sudah beres Pak," ucap Vano dengan senyum lebar khasnya "tapi, ada satu masalah Pak."
"Apa itu Vano?"
"Gema kayaknya nggak ikhlas jadi imam buat tarawih nanti Pak." ucap Vano seraya menyindir Gema.
Gema yang tadinya masih sibuk melihat-lihat photo makanan di i********: pun menoleh ke arah Vano, "eh..nggak Pak, saya ikhlas kok."
Pak kholid pun tersenyum, "Hanya kamu yang Bapak andalkan Gema, jika saja Bapak tidak memiliki kewajiban khusus dirumah, Bapak lebih senang tarawih dengan kalian."
"I..iya, Pak" ucap Gema.
"Ya sudah, Bapak pamit. Ingat, puasa tidak hanya menahan lapar dan dahaga. Tapi juga menahan lisan, mata dan perbuatan."
"Siap Pak," ucap kelima murid itu dengan serempak.
Ketika Pak Kholid sudah masuk kembali ke dalam musolah, kelima murid itu pun memutuskan untuk bergegas pulang.
"Ar lo nanti ikut buka di sini nggak?"
"Nggak."
-o-
Dapur sederhana itu kini dipenuhi tiga perempuan yang tengah sibuk memasak. Ada Faya, Gendis dan Bibi Hana. Mereka tengah menyiapkan makanan untuk berbuka puasa.
Tiba-tiba bel pintu berbunyi.
"Biar Bibi yang buka ," ucap Hana.
Hana pun pergi menuju ruang tamu. Sementara Gendis dan Faya masih sibuk dengan masakannya. Mereka tengah membuat kue kering untuk takjil.
"Ada Ari Fay," ucap Hana yang membuat Faya tersenyum senang.
Sontak saja Faya pun pergi menuju ruang tamu. Menyisahkan Gendis yang binggung sendiri.
"Ariiii" sorak Faya, senyumnya terhenti saat melihat "Gema? Lo ngapain disini?"
Gema yang ditanya pun hanya menjawab datar, "main."
Faya pun mendadak naik darah, melihat perubahan mood Faya. Ari pun mengerti "gue bawa lompiah pisang coklat kesukaan lo nih."
Mata Faya pun berbinar, "masya Allah, maka nikmat Tuhan manakah yang engkau dustakan. Makasih banyak Ariii" ucap Faya kemudian kembali lagi ke dapur dengan bersenandung ria.
Melihat tingkah Faya, Hanna hanya menggelengkan kepala "Kamu buka puasa di ini kan Ar?"
"Iya Bibi," ucap Ari "Ari bawa temen nggak papa kan? Kenalin ini Gema, sahabat Ari."
"Wah Nak Gema ganteng sekali," ucap Hana "pasti banyak yang suka. Saya bibi nya Ari sama Faya."
Gema yang mendengar ucapan Bi Hana pun manatap Ari penuh tanya. Ari hanya tersenyum ringan melihat wajah binggung Gema.
"Yasudah, ayo masuk. Sebentar lagi, akan memasuki waktu buka."
Mereka bertiga pun menuju meja makan. Disana ada Faya dan Gendis yang sibuk menyiapkan makanan.
Gendis yang baru menyadari jika ada Ari dan Gema pun sangat terkejut.
"Nanti gue jelasin," bisik Faya pada Gendis. Gendis pun mengangguk paham.
"Gendis buka di sini juga?" ucap Ari.
"Iya, Ar."
"Kok nggak ikut di sekolah?"
"Nggak, tapi nanti gue sama Faya ikut tarawih di sekolah."
"Oh, kebetulan sekali. Gue sama Gema juga gitu." ucap Ari seraya tersenyum.
Gendis pun hanya mengangguk canggung. Dia sedikit heran dengan sikap Ari. Tidak biasanya cowok itu banyak omong dan senyum.
Sementara itu, Faya dan Gema hanya terdiam. Mereka sibuk saling melotot satu sama lain.
Setelah membatalkan puasa, mereka pun melaksanakan sholat maghrib di musolah rumah. Sekalipun rumah Bibi Hana sangat sederrhana, tapi di dalamnya sudah tersedia musolah yang lumayan besar.
"Ari kamu jadi Imam ya," pintah Hana.
Ari pun menggeleng kuat, "Gema Bi yang jadi imam."
"Kenapa nggak kamu?" ucap Hana.
"Syarat menjadi Imam adalah bacaan al-qurannya lancar dan tajwidnya benar. Ari masih belum sebaik Gema dalam hal itu, Bibi."
"Bilang aja males," ucap Gema seraya menatap Ari sebal.
Ari pun hanya tertawa.
"Ya sudah ayo cepat kita sholat, "
Sementara Faya hanya menatap tak percaya. Gema menjadi Imam ? Yang benar saja? Setau Faya, Gema tidak sehebat itu.
Tbc