"Ari pelan-pelan makannya," ucap wanita paruh baya yang rambutnya dipenuhi uban.
Ari nyengir, "ini enak sekali Bi."
"Yasudah tambah lagi nasinya," ucap wanita itu.
"Jangan, bungkus aja." ucap Ari "yang banyak ya Bi!"
Faya mendelik sebal, "serakah!"
"Biarin, gue kangen banget masakan Bibi." ucap Ari seraya bergelanyut manja di tangan wanita paruh baya itu.
Melihat tingkah Ari, wanita paruh baya itu tersenyum haru. "Den Ari sekarang sudah besar ya,"
Sontak Ari memeluk Bi hana, "Bibi sehat terus ya, biar bisa lihat Ari lebih besar lagi."
Bibi itu pun menangis, air matanya tak bisa terbendung lagi.
"Uu, kacang-kacang, kacang-kacang."
Kedua orang yang tadinya sibuk berpelukan kini tertawa melihat gadis di antara mereka yang tengah memasang wajah sebal.
"Ck. Ganggu aja lo!" desis Ari pada Faya.
"Gitu ya kalian, kalau udah ketemu pasti lupain anak terbuang ini."
"Hush!" ucap Bi Hana dan Ari seraya bersamaan.
"Ngomong apa sih lo Fay?"
Bi hana menggeleng, "Faya nggak boleh ngomong gitu lagi."
"Kan Faya bener Bibi," rengek Faya "Ibu pergi entah kemana, bapak juga gatau siapa." ucap Faya polos.
Bi hana terdiam, Apalagi yang bisa dia katakan. Jika Faya kecil yang bilang seperi itu. Mungkin Bi Hana akan mengatakan alasan-alasan murahan. Namun sekarang? Tentu saja Faya sudah mengerti.
Dan Ari, seketika wajahnya menegang. Ada yang berbeda dari raut wajah cowok itu. Guratan-guratan khawatir tampak di wajah cokelatnya.
"Untungnya Faya punya Bibi, Paman dan Ari," ucap Faya seraya tersenyum "cuma kalian bertiga yang Faya punya di dunia ini, makanya Faya sedih banget waktu Ari nggak nganggep Faya."
"Maaf,"
"Uda Faya maafin Ari, tapi jgn di ulang lagi"
"Janji!" ucap Ari seraya membentuk tangannya berbentuk huruf v.
Faya tersenyum melihat tingkah Ari "kekanak-kanakan,"
Ari tertawa, "Biarin."
"Sudah-sudah! ayo cepat makan, Ari cepat pulang udah mau sore."
Ari pun mengangguk, "ayeaye captein!"
~Kekasih Halal~
Rumah besar itu sepi. Tak ada orang selain Ari di sini. Hanya ada beberapa pembantu yang biasanya membersihkan rumah dan membuatkannya makanan. Setelah mandi dan mengganti seragam menjadi baju santai, Ari kembali pergi dari rumah. Sudah sejak lama hidup cowok itu begitu, lupa esensi rumah sebenarnya. Lupa betapa hangatnya suasanan rumah sebenarnya. Yang Ari tau, rumah adalah tempat untuk tidur dan berganti pakaian.
Dengan mobil nya Ari membelah kemacetan kota. Tiga puluh menit, mobil itu berhenti di sebuah klinik yang tak seberapa besar.
"Tumben sore ke sini?" sapa Mbak Rey, suster penjaga administrasi yang kini tengah berdiri dengan senyuman manisnya.
"Iya Mbak, pengen aja."
"Bundamu hari ini tidak mau makan,"
"Sedari tadi kerjaannya ngelamun terus, sepertinya suasana hatinya sedang buruk. Kamu harus hati-hati," pesan Mbak Rei.
Ari mengangguk mengerti, "Ari masuk dulu ya Mbak."
Dalam hati Ari ia sedikit tidak nyaman dengan ucapan Mbak Rei. Bagaimana bisa dia harus hati-hati apabila bertemu Ibunya? Ibu yang melahirkan Ari tentu saja tidak akan menyakitinya sekalipun keadaan Ibunya sekarang berbeda.
"Bunda," ucap Ari riang. "Eoh~ Miska?"
Di hadapan Ari kini tengah terpaparkan adegan, Miska tengah menyuapi Bundanya.
"Halo Ar," ucap Miska tak kala riangnya "kata Mama Bunda lo nggak mau makan, jadi gue ke sini dan see..dia mau makan."
"Sini biar gue aja," ucap Ari seraya meraih nampan yang ada di hadapan Miska. "Makasih ya Mis."
Miska mengangguk dan tersenyum.
"Bunda ini Ari," sapa Ari pada wanita cantik yang kini duduk di sebelahnya. Tatapan wanita itu kosong, tangannya sibuk memeluk boneka beruang bewarna pink dan sesekali tawa kecilnya terdengar.
Sakit sekali melihat Bunda nya seperti itu, ingin rasanya Ari menangis dan memarahi siapapun yang membuat Bunda nya menjadi seperti itu. Namun tak bisa, dia harus tetap kuat dan bertahan dengan sabar. Karena hanya dialah yang ada di sisi Bunda nya sekarang.
Setelah menyuapi Bunda nya, seperti biasa Ari akan menceritakan sebuah cerita hingga bunda nya tertidur. Kini Zahrana sudah tertidur. Ari bergegas untuk pulang karena hari sudah malam.
~Kekasih Halal~
Pagi datang dengan mendung. Matahari tidak bersinar dengan leluasaa, karena ada awan yang menutupi sosoknya. Namun hal itu tak menjadi alasan penting untuk bermalas-malasan. Semua siswa berangkat ke sekolah dengan semangat. Apalagi Faya, gadis itu sangat bersemangat datang ke sekolah.
Setiba di kelas, suasana kelas sudah ramai. Hanya beberapa orang yang belum datang, termasuk Ari. Dan Faya melihat Gema tengah sibuk membaca buku. Cowok itu terlihat tampan sekali, apalagi sekarang kulit bersihnya terkena sinar matahari. Membuatnya terlihat sangat.. Tampan. Seketika Faya pun tersadar, apa yang baru saja ia pikirkan? Kalimat istighfar pun kini ia ucapkan.
Tiba-tiba suasana kelas menjadi ramai. Segerombolan anak kelas satu datang dan kini mengerubungi bangku Gema.
"Kak Gema, ini dariku.."
"Kak Gema, ini ada bekal untuk kak Gema!"
"Kak Gema jaga kesehatan ya, sekarang lagi rawan penyakit."
Gema pun tersenyum manis, bingkisan bingkisan itu kini berada di tangan Gema "bel masuk akan berbunyi, sebaiknya kalian kembali ke kelas, dan terima kasih banyak ya adek-adek cantik."
Mendengar hal itu Faya ingin sekali muntah. Sikap manis Gema itu pasti hanya akting. Dan Faya juga tak habis pikir kenapa adik kelas itu menyukai Gema. Memang apa bagusnya Gema? Oke dia memang tampan, tapi tampan saja tak cukup kan? Apa gunanya tampan jika suka berpura-pura? Bisa Faya pastikan jika senyum manis Gema sekarang hanya topeng untuk menutupi senyum jahatnya.
Eh, kenapa Faya jadi negatif thingking ke Gema?
Ketika Faya sibuk dengan pikirannya, guru PLH-bu Ani datang. Faya baru sadar jika semua warga kelas sudah datang semua, termasuk Ari. Yang kini tengah tertawa dengan teman-temannya.
"Anak-anak kita bentuk kelompok, satu kelompok delapan orang. Kita akan lakukan bercocok tanam di kebun."
"Yaaa..."
"Becek bu..."
"Hujan Bu,"
"Tidak ada penolakan, Ibu tunggu di kebun. Ketua kelas, kamu bentuk komplok."
"Siap Bu!" ucap Vano tegas.
Setelah Bu Ani keluar kelas, semua siswa kembali heboh. Ada yang berteriak-teriak ada juga yang ngedumel dalam hati karena benci keluar kelas di saat keadaan langit mendung.
Setelah membutuhkan waktu yang lama, akhirnya Vano bisa menjalankan tugasnya. Sekarang sudah ada lima kelompok yang terbentuk.
Faya satu kelompok dengan Gema. Dan itu membuatnya sedikit kesal. Apalagi sikap Gema yang seperti tidak mengenalnya. Tidak menyapa dan tidak tersenyum. Faya heran, Gema seperti bunglon. Berubah-ubah.
"Fay, lo ambil peralatannya yah. Gue sama anak-anak langsung ke tkp, okeh?" ucap Agus sang ketua kelompok.
Faya mengangguk pasrah. Sekalipun tau ini sebenarnya tugas kelompok yang di kerjakan bersama-sama tapi malah dilimpahkan hanya pada dia, Faya tetap pasrah. Karena hanya itulah yang dapat ia lakukan. Sejak awal memang begini kan? Faya adalah anak buangan.
"Nggak bisa gitu dong Gus, kan kita satu tim," ucap Gema tiba-tiba. Dia baru saja datang.
"Udahlah Gema, biar si Faya yang ngambil. Kita kan enak tinggal nunggu di kebun. Ayo ke kebun!" ucap Agus seraya memeluk bahu Gema.
"Nggak, gue mau ngelaksanain tanggung jawab." ucap Gema tegas.
Cowok itupun berjalan menuju ruang penyimpanan. Menyusul Faya yang sudah pergi ke tempat penyimpanan terlebih dahulu.
Kini Gema dan Faya jalan beriringan. Di tangan Faya ada pupuk kompos, bibit, sekrop kecil dan ember. Dan ditangan Gema ada selang air, pemotong rumput dan cangkul. Semua itu adalah peralatan untuk berkebun.
Tak ada yang memulai percakapan, keduanya sama-sama sibuk dengan pikirannya masing-masing. Hingga...
"Lo udah nggak papa Fay?"
Faya mengangguk, "alhamdulillah."
"Jangan sakit lagi, nyusahin orang tau nggak!"
"Iyaaa" jawab Faya malas.
"Kemarin pulang bareng siapa?"
"Gendis."
"Nggak bareng Ari?"
"Eh-" Faya menatap selidik Gema. Jika sudah tau kenapa bertanya?
"Jujur aja, gue ngga marah kok."
"Lo marah juga nggak berhak."
"Gue emang nggak berhak, tapi berkewajiban untuk marah!"
"Ha? Maksudnya?"
"Kenapa lo nolak ajakan pulang gue dan malah pulang bareng Ari?"
"Suka-suka gue dong."
"Ari itu siapa lo sih?"
"Ari sahabat gue."
"Terus gue siapa lo?"
"Lo sakit ya Gem?" ucap Faya heran "mau gue anter ke uks? Atau ke rumah sakit jiwa?"
Gema hanya terdiam, bibirnya kini mengerucut.
"Dasar Papaya!" ucapnya seraya berjalan mendahului Faya.
"Elu bunglon!" ucap Faya tak kala ketus.
Tbc!