bc

BUKAN PELAKOR, BUKAN p*****r

book_age18+
0
IKUTI
1K
BACA
love-triangle
family
HE
opposites attract
friends to lovers
curse
arrogant
single mother
drama
tragedy
sweet
bxg
lighthearted
serious
kicking
bold
city
office/work place
cheating
enimies to lovers
affair
friends with benefits
polygamy
like
intro-logo
Uraian

Jangan terlalu sombong jadi perempuan. Lihat, harga dirimu semudah ini saya rusak." Abhi Wirasatya.

~

"Harga diri saya tidak terbatas pada selaput itu, saya tidak rusak hanya karena stigma momen pertama yang kamu agungkan." Naomi Abeline.

Follow sebelum baca.

Tinggalkan jejak dan komentar ya, dear ♡

chap-preview
Pratinjau gratis
1
Alert! Adult Content! Sepasang tangan mungil mencengkram ujung bantal dengan sangat erat. Jemarinya sampai memutih, dia berusaha melampiaskan rasa sakit yang mendera. Suaranya lirih, tak sanggup lagi untuk berteriak. Sudah hampir tiga puluh menit dia berusaha melawan, tapi tak ada yang berubah. Teriakan demi teriakan dia lontarkan, berharap orang-orang di luar sana bisa menolongnya. Sampai akhirnya, pita suaranya terasa panas. Dia kesulitan berbicara dengan normal. Pria mabuk yang menguasai tubuhnya sejak tadi nampak tersenyum puas. Api gairah masih membara di wajah pria itu. Wajah pasrah perempuan di bawah kungkungannya membuat hasrat pria itu semakin menggebu-gebu. Seolah dunia telah berhasil dia taklukkan. Area pangkal paha perempuan itu terasa ngilu, sejak tadi dipaksa menekuk dalam berbagai posisi yang dia sendiri tidak mengerti. Organ kewanitaannya pun seperti terbakar, panas. Kenapa aktivitas yang sangat disukai orang-orang terasa menyiksa baginya? Tak ada sedikit pun sensasi menyenangkan yang dia rasakan dalam satu jam yang mencekam itu. Perempuan itu memasrahkan segalanya pada waktu, berharap siksaan itu segera berakhir. Dalam sayup-sayup kesadarannya, dia merasakan cengkeraman pria itu semakin kuat, gerakannya semakin cepat hingga akhirnya cairan hangat terasa menyembur di bawah sana. Pria itu tersenyum puas, menyaksikan bagaimana keperkasaannya telah menaklukkan perempuan yang sangat dia benci. Keduanya terlelap dengan tubuh lelah, namun pria itu mendekap erat tubuh perempuan di sampingnya. Dia menang. Sepanjang malam yang dingin, keduanya terlelap begitu nyenyaknya. Pagi hari menyambut, pria itu terbangun lebih dulu. Dia menatap wajah manis dalam dekapannya, senyum sinis tersungging begitu saja. Tak berselang lama, perempuan itu juga tersadar. Netra mereka bersitatap, namun tak ada suara. Perempuan itu melepaskan diri dari dekapan pria itu, lalu bergegas memakai kembali pakaiannya. Dia memaksakan diri untuk bergerak meski sekujur tubuhnya pegal dan ngilu tak karuan. Pintu kamar hotel dibuka dengan mudah, dia melangkah pelan namun tegas. Meninggalkan rasa sakit dan penghinaan yang dia rasakan di dalam kamar itu. Perempuan itu bernama Naomi Abeline. Seorang karyawan perusahaan yang parasnya biasa saja, hidupnya pun tak kalah biasa saja. Tak ada yang istimewa dari seorang Naomi. Dia menjalani hidup dengan baik, tidak pernah mencari masalah atau keributan. Dari lobby hotel, Naomi menaiki taksi online yang dia pesan setelah keluar kamar tadi. Naomi mencoba duduk dengan pelan, area kewanitaannya sangat ngilu jika sembarangan bergerak. Setibanya di unit apartemennya, Naomi bergegas membersihkan seluruh tubuhnya. Dia membasuh semua bagian sebersih yang ia mampu. Seluruh pakaian yang dia gunakan tadi dimasukkan ke dalam kresek hitam, termasuk heels baru yang sudah dia tunggu selama dua bulan pre-order. Harganya memang tidak terlalu mahal, namun kala itu Naomi membelinya karena jatuh hati pada desainnya yang sederhana tapi berkelas. Dengan langkah tertatih, Naomi menuruni lift untuk membuang kresek itu ke bak sampah di bawah. "Sialan" geramnya, melampiaskan emosi dengan melempar kresek itu sekuat yang dia mampu. * Keesokan harinya, Naomi harus tetap menjalankan hari seperti biasa. Sudah cukup sehari kemarin dia cuti dadakan, sisa cutinya tidak banyak lagi. Aroma teh semerbak di udara, Naomi menghirup dalam-dalam uap panas di cangkirnya. Pantry masih sangat sepi, karena belum ada karyawan yang datang sepagi ini. Masih pukul enam pagi. Naomi terkesiap, pembatas pantry bergerak. Pertanda ada orang yang datang. Perempuan itu bergegas menghabiskan tehnya yang sudah mulai dingin. Dia terlalu lama melamun. "Duluan, Mbak," ucap Naomi sopan. Perempuan yang sedang menuang kopi instan itu tersenyum sambil mengangguk pelan. Naomi kembali ke kubikelnya, dia harus menyelesaikan banyak pekerjaan yang terbengkalai sejak kemarin. "Gila, dari mana aja lo?" cecar Tasya, rekan kerja Naomi yang langsung menghampiri meja Naomi. Kedua tangan Tasya menggebrak meja, karena Naomi hanya tersenyum seperti orang bodoh. "Jawab ogeb, lo ngilang gitu aja di pesta Pak Chris, sampe encok nih pinggang gue nyariin lo" omel Tasya mendesak Naomi menjawab pertanyaannya. "Lo mabok, mana inget kalau gue pamit duluan" ucap Naomi, bohong. "Tapi lo malah ngilang lagi kemaren, napa lo nggak masuk kerja?" cecar Tasya lagi, penasaran dengan kabar rekannya yang tiba-tiba menghilang dari lane. Ponselnya bahkan tak bisa dihubungi. Naomi menyibak rok sebetisnya, menunjukkan balutan perban di paha. Tasya terbelalak menyaksikannya. "Kenapa lo anjir? Bukannya ngabarin kalau lagi sakit, malah sok ngilang" omel Tasya, benar-benar tak habis pikir dengan kelakuan Naomi. Rok itu diturunkan kembali, karena beberapa karyawan lain mulai melirik ke arah mereka. Suara Tasya memang kelewat cempreng, mengundang perhatian orang lain. "Jatoh dari ojol, hp gue juga retak lcd. Baru kemarin malem diganti" jawab Naomi. Dia tidak bohong. Tadi malam dia nekat memesan ojek online karena suntuk di kamar. Niatnya hanya melepas penat, namun motor mereka malah tertimpa musibah. Ban motor pecah dan mendadak oleng, Naomi terjatuh dan pahanya tergores. Layar ponselnya juga retak. "Sok-sokan banget sih lo balik duluan? Udah gue bilang cowok gue bakal jemput" omel Tasya, ekspresi wajahnya pias membayangkan perih luka Naomi. Naomi memutar bola mata malas. Dia sangat benci diajak ikut bersama Tasya dan pacarnya. "Males gue dengerin lu berdua ribut mulu tiap jumpa. Mending balik sendiri, tentram dan damai" jawab Naomi, tidak sepenuhnya bohong. Malam itu dia sesungguhnya ingin pulang bersama Tasya, memastikan Tasya tak membuat ulah. Gadis itu memang sering memancing keributan jika sedang mabuk. Namun, peristiwa naas itu terlebih dahulu merenggut ketenangan hidup Naomi. "Rama sampe ngomelin gue anjir, dikira gue telantarin lo" ucap Tasya, mencomot permen mint dari box putih di atas meja Naomi. "Kok balik pake ojol sih, Na? Cowok lo beneran ga bisa jemput?" tanya Tasya lagi, duduk di kursi meja sebelah. Jam kerja masih beberapa menit lagi, biarlah dia puas menginterogasi Naomi dulu. "Nggak, katanya lagi dinas luar" jawab Naomi. Kekasihnya memang sedang di luar kota, urusan pekerjaan. "Terus lo gimana baliknya? Tanggung jawab ga tuh ojol?" ujar Tasya, melirik paha Naomi yang sudah kembali tertutup rok. "Iya, ojolnya udah tua, tapi tetep anterin gue ke RS. Padahal kakinya juga keseleo, tapi nggak mau diobati. Katanya biar fokus sama gue aja dulu" jawab Naomi, mengingat kembali wajah pucat ojol paruh baya yang panik melihat Naomi. Malam itu Naomi diobati dengan baik, meski hanya luka gores. Dia bahkan diantar kembali ke apartemen. "Udah ah, kerja sana. Bentar lagi atasan lo nyampe" usir Naomi, mengingat jam kedatangan Pak Chris sudah dekat. Sangat konsisten tiap harinya. Tasya kembali ke kubikelnya, cukup jauh dari meja Naomi. Kepala Naomi masih cukup pusing, dan melihat layar komputer malah membuatnya semakin pening. Saat mengalihkan pandangan sejenak, Naomi melihat seorang pria tersenyum lebar ke arahnya. Naomi bergidik ngeri, sekujur tubuhnya merinding. Namun gadis itu yakin, dia tidak akan kalah. Naomi membalas senyuman pria itu dengan anggukan ramah dan senyum tipis, meski dalam hati tidak sudi.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
19.0K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
191.5K
bc

TERNODA

read
200.3K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.1K
bc

Kali kedua

read
219.5K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
32.5K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
78.8K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook