Aiden belum mengetuk pintu, tetapi penghalang tersebut sudah terbuka dan menampilkan sosok Ayya dengan wajah cemberutnya. Tubuhnya kian berisi di usia 3 bulan kehamilan. “Kirain kamu nggak datang lagi,” sungut Ayya setengah kesal. Namun, senyumnya kemudian terbit di antara wajah tembamnya. “Ayo berangkat!” “Aku belum sarapan, Sayang.” Aiden tetap diam di tempat ketika Ayya hendak menariknya. Aya mengembuskan napasnya kasar, kemudian menuntun tangan suaminya memasuki rumah, ke area ruang makan. Tidak lupa menyajikan makanan. “Bapak sama Ibu ke mana? Kenapa sepi?” tanya Aiden, dengan kepala celingak-celinguk ke sekitar. Takut, jika ia kelepasan melakukan sesuatu lebih pada Ayya, dan Bapak tiba-tiba saja muncul. “Ke pasar tadi.” Ayya duduk di depan Aiden diam, dengan kedua tangan ter
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


