Kepalaku bertumpu pada meja. Sudah beberapa menit, tetapi aku betah dengan posisi ini tanpa peduli dengan teguran Lia. Rasanya, saat sakit begini, aku langsung mau pisah dari Mas Aiden. Demi apa pun, sakit kali ini hampir, atau bahkan lebih dari saat mengetahui perselingkuhan mereka pertama kalinya. Aku menghela napas panjang, kemudian mengembuskannya dengan kasar. Kepala aku tegakkan, tapi tetap melihat ke bawah, ke keyboard. Bukan itu fokusku. Rasanya blank, tetapi suara Rhea selalu terngiang. Saat dia menjilat bibirnya, seolah menghinaku. Dengan sengajanya menunjukkan bahwa ia memiliki kuasa penuh pada Mas Aiden dibandingkan diriku. Sial! Sial! Aku ingin berpisah, tapi tidak bisa. Keduanya belum merasakan sakitku. Setidaknya, salah satu dari mereka, atau bagusnya mereka berdua mende

