“Franz, aku harus menemani Abby terapi hari ini. Ini terapi pertamanya di rumah sakit.”
“Tetapi kenapa aku merasa kau ingin mendekati tunangannya itu ya?”
“Jangan berpikiran macam-macam! Ini sudah tugasku sebagai perawatnya.”
“Dulu, kau tidak pernah menemaniku terapi. Jangan beralasan!”
Kimmy mengembuskan napas kasar sambil memijit pelipisnya. “Oke, aku ke sana nanti siang.” Ia bahkan bisa merasakan senyum kemenangan Franz di ujung sana.
“Ich liebe dich.”
Kimmy hanya mendengkus dan menutup ponselnya. s**t! Franz b******k!
“Kau mau ke mana?”
Pertanyaan itu membuat Kimmy terlonjak. “Sejak kapan kau di sana?”
“Kau mau ke mana?” tanya Damian lagi tanpa menjawab pertanyaan Kimmy.
“Ke rumah temanku.”
Damian menatapnya curiga. “Aku antar!”
“Tidak usah. Kau kan harus menemani Abs terapi.”
“Sudah ada Devandra. Aku antar. Jangan menolak!” Damian menepuk pelan dahi Kimmy dan meninggalkannya.
Kimmy memberengut kesal. Pria itu benar-benar pemaksa sejati!
“Kau kenapa?”
“Kau sudah bangun?”
“Ada apa?” Abby tidak mengindahkan pertanyaan Kimmy.
“Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja.”
“Kau yakin? Wajahmu tidak terlihat baik-baik saja.”
Kimmy mengembuskan napas lelah dan tersenyum hambar. Abby tidak bertanya lebih jauh lagi dan hanya mengusap bahu Kimmy lembut.
“Kau sudah siap untuk terapimu?”
“Tidak pernah sesiap ini.”
Kimmy tersenyum dan menggenggam tangan Abby. “Aku bahagia untukmu. Devandra benar-benar membawa efek positif untukmu. Aku yakin kau akan sembuh dengan cepat.”
“Apa kau yakin?”
“Tentu. Kau selalu gembira sejak Kak Andra datang.
Hati yang gembira adalah obat dan itu akan mempercepat proses kesembuhanmu.”
Abby memandang mata biru Kimmy. “Bisa kau panggilkan Devandra?”
Kimmy bangkit dan menunduk layaknya pelayan hingga membuat Abby tertawa.
“Herr Alexander.” Kimmy memanggil pria tampan yang sedang duduk di taman belakang itu.
“Ya?” jawab pria itu sambil tersenyum.
“Abby sudah bangun. Dia ingin bertemu Anda.”
Devandra tersenyum dan bangkit dari duduknya. Kimmy bisa melihat matanya penuh cinta. Ah...mereka benar-benar pasangan yang serasi. Kimmy mendesah. Andai saja dia dan Franz saling mencintai, dia pasti tidak akan iri pada Abby dan Devandra.
****
“Kenapa lagi?”
“Damian! Bisa tidak sih tidak mengagetkanku terus!” Kimmy memukul bahu Damian hingga membuat pria itu tertawa.
“Kau sendiri yang terlalu banyak melamun gadis ceroboh!”
Entah sejak kapan, menggoda Kimmy terasa menyenangkan baginya. Mungkin karena Abby sekarang di monopoli sahabatnya, jadi Damian tidak punya bahan keisengan seperti biasanya.
Damian memang menolak niat Abby untuk menjodohkannya dengan Kimmy. Akan tetapi, entah kenapa dia tidak bisa menjauh dari gadis itu. Seolah ada sesuatu yang menariknya untuk selalu dekat dengan gadis itu. Damian juga tidak mengerti apa itu. Apalagi kemarin saat-saat Dave mendekati Kimmy, ada sedikit rasa tidak rela di sana.
Tidak, dia tidak jatuh cinta pada gadis itu. Hanya saja, Damian sendiri tidak bisa menjelaskan rasa apa itu yang ada di hatinya. Rasanya tidak seperti apa yang dia rasakan pada Abby selama ini. Dan jujur saja, hatinya masih milik Abby walaupun cinta itu terlarang untuknya.
“Jangan berpikir kau bisa menciumnya di rumah ini, Devandra Jonathan Alexander!!” teriak Damian saat melihat Andra hampir saja mencium bibir Abby.
“Kapan sih kau tidak menggangguku!!” gerutunya dengan sebal.
Damian tersenyum sinis dan mencium kening Abby. “Dokter Rachel sudah menunggu. Kau siap?” tanyanya kemudian yang disambut anggukan kepala Abby. “Tetapi aku tidak bisa menemanimu. Aku harus mengantar Kimmy ke suatu tempat.”
Mata Abby berbinar ceria mendengarnya. “Kencankahhh??”
“Tidak seperti itu, Sugar. Jangan berpikiran aneh-aneh,” Damian menjentik dahi Abby dengan jarinya. “An, kau temani adikku sampai selesai ya?”
Mereka menatap Devandra dan saling berpandangan. Pria itu terlihat melamun.
“An...Woooiii! Back to earth!!”
Devandra mengerjapkan matanya kaget. Abby tertawa geli sedangkan Damian mengerucutkan bibirnya. Devandra menyeringai tanpa dosa ke arah mereka berdua.
“Abbyyyyy!!” teriakan itu terdengar dari ruang keluarga saat mereka keluar kamar.
“Dreeewww!!” pekik Abby riang dan Andrew, adik Damian, menubruknya lalu memeluknya erat.
“Aku ada bisnis di sini. Satu minggu.”
“Dr...dre...dreeww... sess...ssaakk,” ucap Abby terbata.
“Drew!! Kau bisa membunuhnyaa!!” teriak Devandra dan Damian bersamaan. Devandra langsung menjauhkan Andrew dari tubuh Abby.
“Apa-apaan kau ini. Aku kan merindukannya.” Andrew kembali merangkul bahu Abby.
“Kau membuatnya sesak napas, bodoh!” Damian memukul pelan kepala adiknya.
Andrew hanya menyeringai ke arah kakak tertuanya itu. “Kalian mau pergi?”
“Ya, Abby akan terapi hari ini di rumah sakit,” jawab Damian.
“Aku ingin menemanimu. Akan tetapi aku mengantuk sekali, Baby.” Andrew menguap beberapa kali.
“Astaga kau menyetir sendiri dari Prancis, Drew??” teriak Abby kaget. Andrew mengangguk sambil nyengir memperlihatkan deretan gigi putihnya. “Kau gila, Drewwww!”
“Stop, Baby, jangan jadi drama queen seperti Mom.”
“Andrew Anthony Schiffer, I can hear youuu!!” teriak Mandy dari taman belakang.
Andrew menutup mulutnya dan berlari ke kamarnya sebelum Mom muncul dan mencincangnya.
Segera setelah Abby dan Devandra berangkat, Damian meraih kunci mobilnya.
“Ayo aku antar kau ke rumah temanmu itu.”
“Ngg...Kau tidak ke kantor?”
“Ini hari sabtu, Bodoh!” lagi Damian menjentik dahi Kimmy. “Di mana rumahnya?”
“Heilmann Strasse.”
Damian mengerutkan alisnya.
“Bavaria? Kau naik apa jika ke sana?”
“Fernbus atau kereta.”
Damian menggeleng-gelengkan kepalanya. “Jika temanmu itu yang butuh, kenapa bukan dia yang menemuimu? Dia pasti punya mobil kan? Tidak harus naik kendaraan umum sepertimu?”
Kimmy hanya tersenyum kecut. Damian menangkap ada yang tidak beres di sana.
“Sebenarnya siapa yang akan kau temui itu?”
“Teman, aku sudah bilang kan.”
“Teman? Apa dia orang yang sama yang memanggilmu Sayang waktu itu?”
Kimmy hanya menunduk memainkan jemarinya.
“Aku anggap diammu sebagai ya. Jadi siapa dia? Pacarmu?”
“Damian...please.”
Mereka berkendara dalam diam. Pikiran Damian berkecamuk tentang siapa yang akan Kimmy temui sekarang. Apa benar gadis ini akan menemui pacarnya?
“Hei gadis bodoh! Bangun,” Damian menepuk-nepuk pipi Kimmy yang tertidur.
“Ennghh,” Kimmy membuka matanya dan mengerjap. “Ah, maaf aku tertidur.”
“Di mana rumahnya?”
Kimmy menunjuk jalan membelok di depan mereka. Mobil Damian berhenti di depan rumah mewah bergaya Mediterania di hook.
“Terima kasih.”
“Siapa yang akan mengantarmu pulang?” tanya Damian sebelum Kimmy turun.
“Dia akan mengantarku.”
“Kau yakin?”
Kimmy mengangguk dan segera keluar sebelum Damian bertanya lebih jauh lagi. Damian memperhatikan saat Kimmy memencet bel rumah itu dan bercakap-cakap dengan satpam yang membuka pagar. Tampaknya memang Kimmy sering kemari karena dia terlihat akrab dengan satpam itu.
Akan tetapi. dia harus tahu keluarga siapa yang tinggal di rumah itu. Damian meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.
“Javier...aku butuh bantuanmu.”
********
Kimmy melangkah memasuki halaman rumah besar itu. Kakinya beranjak ke jalan kecil menuju belakang rumah, tidak ke pintu depan seperti biasanya. Rumah itu sebenarnya sangat asri dengan banyak pepohonan dan bunga-bunga yang tumbuh di sana. Seandainya dia mencintai Franz, dia akan dengan senang hati tinggal di sini.
Kimmy terus melangkah hingga dia melihat pemandangan itu. Mata Kimmy melebar. Kedua tangan menutup mulutnya.
“Franz!!!!” teriaknya marah.
Franz menoleh ke arahnya dan melotot. Kimmy berderap marah ke arahnya. Berdiri tepat di depan Franz yang baru saja keluar dari kolam renang.
“Jadi kau berbohong selama ini??” teriak Kimmy emosi.
Franz tersenyum sinis dan melangkah santai mengambil handuknya. “Lalu kau mau apa? Mau menuntutku?”
“Aku ingin menyudahi pertunangan bodoh ini!!”
Franz yang tadi terlihat santai langsung menenang. Tangannya yang memegang handuk mengepal hingga jari-jarinya memutih. Dia mendekati Kimmy dan meraih lengan Kimmy dengan kasar.
“Aku akan membunuhmu jika kau berani melakukan itu!!” Matanya menatap tajam ke arah Kimmy yang balas menatapnya tanpa ketakutan seperti biasanya.
“Lebih baik aku mati daripada menjadi istri seorang iblis sepertimu!!”
Tangan Franz refleks menampar pipi kiri Kimmy hingga meninggalkan bekas merah di sana.
“Kimmy...Lieble...maafkan aku,” ucap Franz dengan panik.
Kimmy memegang pipinya sambil mundur selangkah saat Franz mendekatinya.
“Kau b******k!! Aku tidak sudi bertunangan denganmu lagi!!” Kimmy berlari sambil menangis. Sakit. Dibohongi selama satu tahun oleh laki-laki itu. b******k!!
Damian melihat Kimmy berlari keluar rumah besar itu sambil menangis. Dia tergesa keluar dari mobilnya.
“Kimmy ada apa?” tanya Damian panik sambil memegang kedua bahu Kimmy.
“Bawa aku pergi dari sini,” ucap Kimmy dengan berlinangan air mata.
Damian mengangguk dan membawa Kimmy ke mobilnya. Tepat saat itu, seorang pria muda berlari mengejar mereka.
“Damian, ceppaattt!!” Teriak Kimmy panik.
Damian melesatkan mobilnya sebelum pria itu mendekat. “Sebenarnya ada apa? Pipimu kenapa? Laki -laki tadi siapa?”
Kimmy menghela napas kasar. “Dia...tunanganku.”