9. Ga Terima

1823 Kata
. Aku telpon Zein, Aku : “Zein, walaupun kita ga jadi pacaran, pliss jangan tinggalkan aku, hanya kamu yang ngerti kondisiku, hanya kamu yang mengerti keadaanku” Selalu tangisku tak terbendung. Zein : “Iya eng, aku sangat mengerti kondisi kamu, telponlah aku kalo kamu sakit atau sedih, aku akan mendengarkan apapun curhatan kamu. Kamu harus memikirkan cara melepaskan diri dari dia. Kalo kamu memutuskan nikah dengan dia kamu akan menderita seumur hidupmu, kecuali kamu siap menghadapi sifat itu seumur hidupmu.” Aku : “Zein daripada aku menikah dengan dia, aku lebih baik mati saja,” Sambil terisak Zein : “Kamu jangan berfikir seperti itu Eng, yang harus difikirkan bagaimana melepaskan diri dari dia bukan bagaimana mati.” Aku : “Tapi selama aku ada di sini, selama aku masih sekolah aku tidak mungkin bisa lepas dari dia,” Zein : “Betul selama kamu disini kamu tidak akan bisa lepas, nah kamu ada waktu selama sekolah untuk memikirkan cara bagaimana mengambil keputusan dan tindakan setelah selesai sekolah.” Aku : “ Nah itu Zein, aku ga terfikirkan saat ini.” Zein : “ kita fikirkan pelan-pelan ya, jangan dengan emosi,” Aku : “ makasih Zein, sudah dulu yaa, maaf sudah ganggu belajarmu.” Zein : “Jangan lupa hapus riwayat chat dan telpon kita.” Aku : “Oke, lap yu !” Klik. Handphone aku matikan. Karena aku ga mau dengar Zein membalas kata lap yu ku. Walaupun Zein ikut tersakiti, tetapi dia tetep mau denger keluh kesahku. Aku beruntung dipertemukan dengan Zein, tidak terbayangkan kalo tidak ada Zein. “Coba kalo dulu diterima, kita bisa belajar bersama, sudahlah nasibku emang lagi jelek ketemu cowok modelan Deniar,” batinku. ” Ingat Eng ini nasib yang bisa dirubah, belum jadi takdir, hanya kamu yang bisa mengubahnya bukan orang lain,” tekadku Zein selalu ngingatkan harus tenang jangan di hadapi dengan emosi, walau selalu tersulut emosiku tetapi aku lebih banyaknya menahan diri. Aku terus2an ingat pada artikel yang di baca tadi di perpustakaan, rasanya sudah ga bisa berfikir harus gimana menghadapinya. Mulai sekarang aku harus lebih tertutup pada setiap orang. Karena belum ketahuan siapa pengkhianat yang di bayar Deniar untuk memberikan info aktivitas di sekolah dan di sekitar rumah. Sekarang aku harus mencurigai semua orang dikelas kecuali zein. Siapapun bisa jadi mata-matanya termasuk sahabatku Airin. **** "Eng, ibuku nyuruh kamu skarang ke rumah, ngundang makan siang sambil membicarakan lamaran,” bilang Deniar ketika jemput sekolah, ”Ga kerasa kan sekolahmu tinggal 3 bulan lagi.” “Kenapa mendadak gini sih Aa, besok ada pemantapan untuk UN,” “Kamu tuh bukan disuruh nyawah tapi diajak makan, paling dirumahmu kamu hanya makan tempe sama asin doang. Ibu sudah masak yang mahal buatmu, gayamu nolak,” sungut Deniar. “Aaaa…. Aku nolak bukan sok balaga tapi aku banyak tugas. Aa janji ga akan ganggu sekolahku,” “Untuk apa mikirin nilai tinggi, ujung-ujungnya ngangkang di ranjang doang,” bentaknya. Aku diam. “Alasanmu sekolah dan sekolah ga mau mikirin hubungan kita, ga mau mikirin acara kita. Cuma ngobrol doang, dengerin doang susah amat, ga juga disuruh ngeluarin duit.” “kan sudah perjanjian selama sekolah yang dipentingkan sekolah, Aa sudah setuju bukan !” balasku,” aku ingin segala pembicaraan soal nikah setelah aku selesai UN.” “BULSHITTTT !!!” bentaknya lagi,” Kita harus nikah pas seminggu setelah UN.” Tangannya sambil cengkram daguku. Dengan keras. “TIDAKKK, paling cepat aku nikah setelah nerima ijazah. Sebelum itu aku menolak. TIDAK ADA PERNIKAHAN SEBELUM KELUAR IJAZAH,” tantangku, entah darimana aku punya keberanian melawan, “kalau kamu maksa lebih baik aku bunuh diri !!!!” Deniar diam, lalu, "maaf Eng, aku sangat takut kamu ninggalin aku !” “Ibu nyuruh aku ke mini market beli sesuatu.” Sambil membelokan mobilnya ke tempat parkiran, kamu tunggu di mobil saja yaa.” Aku mengangguk. Setelah Deniar masuk aku baru sadar tenggorokanku kering, aku haus. Aku buka pintu mobil melangkah menuju pintu mini market. Bertepatan dengan pintu dibuka ada yang mau keluar, BRUUUK “ Aduuuh!!” aku kaget. Ternyata sodara jauh dari apihku, Yanuar, ”Eeeeeng, gimana kabarmu lama ga ketemu?” sambil merangkul. Yanuar cukup dekat karena satu club ekskul waktu di SLTP. Duuuh Deniar liat bisa kiamat. Dia lagi dikasir. Beneran dia liat pas aku dirangkul karena denger yg teriak nyebut namaku. Dan untungnya Yanuar juga terburu-buru ditunggu temennya di motor. Deniar langsung menyeretku masuk mobil. “Dasar perempuan murahan, dipeluk cowok diem saja. Kamu berani depan aku dipeluk.” “Dia itu sodara apih dan temenku jg di SLTP aku sendiri juga kaget,” bantahku. “Kalo kamu tidak murahan, cowok itu gak akan berani meluk-meluk kamu,” sambil menjambak rambutku, ”Kamu tuh beruntung aku mau nikahin kamu yang murahan, malah balaga nunda lamaranku.” Aku hanya bisa meringis. Aku tak bergeming, rasanya nangis saja sudah tidak bisa. Aku bener-bener berusaha berwajah poker face, karena kalau aku menangis dia semakin merasa menang semakin menggila menghinaku. Aku sudah sangat hapal. Tak lama kemudian sampe di rumah Deniar. “Bu gimana makan nya sudah siap ? kasihan eng sudah kelaparan nih.” “Sudah sayang, hayu duduk,” Tatyana menyahut. Deniar menarik kursi nyuruh aku duduk, dia ambilkan piring dituangkan nasi dan lauk pauk buatku, ”mau aku suapin princessku ?” Tatyana tersenyum, ”Deniar memang selalu berlebihan perhatiannya ke orang yang disayang.” Setelah selesai makan sambil ngobrol soal kebutuhan lamaran, Deniar duduk sebelahku sambil ngelus-ngelus tanganku mesra, tanpa sungkan depan ibunya, kadang curi cium pipi. “Nanti untuk bawaan seserahan Eng sama Deniar saja berdua yang belanja, kan harus selera Eng biar kepake, ga mubazir,” Tatyana mengingatkan. “Bu…, Eng ingin belanja dan segala sesuatu untuk pernikahan setelah selesai UN saja,” bantahku. “tidak bisa sayangku, harus dicicil dari sekarang diurusnya, nanti beberapa bulan ke depan keluargaku akan melamarmu. Iya kan Bu ?” Deniar menimpali. Tatyana mengangguk. “Bu saya tidak bisa mikir apa-apa, menghadapi UN dan test-test nyari kampus untuk kuliah memerlukan konsentrasi lebih,” ujarku. Deniar mengeratkan jarinya di tanganku. Aku tau itu kode tanda penolakan. Tidak boleh dibantah. Begitulah sehari-hari aku menghadapi seorang Deniar si psychopath. Walaupun sekarang sudah tau kelainan yang ada pada Deniar, tetep hati ini tidak bisa nerima, ketika bertemu aku sulit sekali bersikap ramah berpura-pura, karena aku sudah sangat terbiasa bersikap lugas apa adanya, kalo hati lagi berseri ya wajah ikut berseri, hati lagi ga mood ya wajah pasti ditekuk, ga bisa bangetlah untuk pura-pura baik. Mulai saat ini aku tidak boleh memperlihatkan permusuhan, harus sedikit ramah minimal ber-Poker Face. “Eng kita nonton yuk !! sudah lama looh kita ga jalan berdua malam-malam, kamu selalu beralasan belajar. Sekarang kan malam minggu kamu harus refresing sekali-kali. Nanti jam tujuh aku jemput ya sayangku.” katanya sambil duduk nyender di kursi ruang tamuku. Jari tangannya meremas remas jariku untuk minta persetujuan. “Nggak ah aku kan ga suka nonton bioskop, enakan selonjoran sambil ngemil, badanku pegel-pegel, tadi di sekolah ada kerja bakti bersihkan semua sekolah soalnya akan ada penilaian untuk lomba sekolah terbersih. Semua murid di suruh kerja bakti,” “Knapa enggak bilang atuuh, aku pijitin deh,” ujarnya. “Nggak banget deh dipijit kamu, enak saja pegang-pegang badanku. Nanti bukan mijit badanku malah grepe-grepe kemana-mana… ogaaahhh..,” balasku. “Hahaha…. Kenapa sih kamu jual mahal banget padahal sebentar lagi kan jadi istriku dicium saja kamu teriak teriak nolaknya.” Sungutnya. “ihhh ngaku-ngaku, kapan lagi kita ada komitmen pacaran, Selama ini kita bareng saja kamu yang maksa.” “Selama pihak pertama yang ngaku pacaran, dan pihak kedua belum merasa pacaran ga ada namanya kontak body, oke !” aku merasa menang. “Ya sudah aku panggilkan tukang pijit yaa, tetanggaku ada tukang pijit langganan keluargaku, kata ibuku sih top banget mijitnya, aku sih ga pernah nyoba kebayang geli dipijit tuh,” Deniar bilang sambil telpon ibunya untuk minta tolong supir ibunya jemput tukang pijit dan langsung dibawa ke rumahku. Deniar itu kalo gak ada masalah, ga terusik keinginan atau hatinya , mooodnya baik, dia memperlakukan aku dengan manis, aku berusaha selalu ada orang di sekitarku ketika ada Deniar karena dia menahan diri untuk tidak kasar. “Tapi nanti malam harus mau nemenin aku nonton, pokoknya malam ini aku mau nonton sama kamu.” “Iyaaaaa….,” teriaku sewot. Duuh andai cowok itu yang aku cinta, meleleh hati ini atas perhatiannya, tapi untuk seorang Deniar hanya untuk menutupi kekejamannya, dia bukan kasar fisik saja tapi kasar secara psikis. Saat ini pukul satu siang hari Jumat jadi Deniar biasa bolos kerja sedangkan aku baru saja pulang dijemputnya. Biasa kalo bolos dia banyak disisiku kadang seharian dirumahku kadang ngajak aku juga seharian di rumahnya dia, jadi akhirnya cukup dekat juga dengan keluarganya. Deniar sangat pintar menutupi sifat jeleknya jadi di depan orang-orang seperti dia yang mengalah yang selalu mau diperintah perintah. Terlihatnya seperti cowok idaman mertua, karena begitu perhatian nya pada keluargaku. Aku berkali kali bilang ke keluarga gimana kasarnya seorang Deniar, Amih tetep ga percaya, karena setahu Amih akulah yang ga cinta jadi berusaha menghindar mencari alasan. Yang selalu misuh-misuh. Gimana coba menjelaskan ke Amih yang sudah kepincut pada perhatiannya. = = = = = Ga lama kemudian tukang pijit diantar supir ibunya datang. “Eng nih Bi Ratmi yang mau mijit kamu nih,” “Eh den Deniar, siapa yang mau di pijit bibi den,” ucap bi Ratmi. “Pacarku Bi, tunggu ya bi. Eng nya lagi bawa tiker untuk alas pijit,” Deniar sambil nyuruh Bi Ratmi duduk. ”Kalo minyak pijitnya kan bi ratmi suka bawa sendiri ya.” “Iya Den, ini minyak nya kan bibi bikin sendiri dicampur dari berbagai ramuan,”kata Bi Ratmi. “Sebelumnya aku ga pernah di pijit Bi, tapi ingin nyoba juga sih. Jangan sakit ya Bi pijit eenak saja ya,” Cicitku sambil gelar tiker kemudian tengkurap kepala menghadap bantal. “Kalo pijit enak sama aku saja pasti kamu merem melek menikmatinya,” Deniar sambil pindah duduk di sebelah kepalaku dia langsung ngelus ngelus kepalaku. “Hahaha,…. Si aden pinteran jawabnya, ”kata Bi Ratmi langsung beraksi awalnya mijit kaki naik terus ke betis ke paha terus b****g. “Aduuh neng…. Ya Tuhan neng badan neng bagus bangeeet… sudah mulus bentuknya bagus kuning langsat si neng,” teriak bi Ratmi. ”jarang-jarang looh kulit seperti neng ini bibi saja yang perempuan seneng liatnya apalagi laki laki neng tuh liat den Deniar sampai ga berkedip. Waduuuuw… aku ga inget kalau dipijit tuh pasti dibuka buka yaa…. Auuuh ahhh rejeki si Aa ini mah. Ga terima, ga terimaaaa…. nih badanku di liat liat si j*****m ini. Jadi tontonan gratis. “Iya Bi bagus banget ya badan Eng, saya saja ga nyangka looh baru liat sekarang, jadi ingin cepet nikah saja jadinya,” Deniar jawab suaranya agak bergetar ***Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN