8. Zein Selalu Dibelakangku

1288 Kata
Ketika sampe rumah, aku langsung berbaring gelisah memikirkan strategi untuk menghadapi Deniar, harus sangat hati-hati. “aaaahhhh… otaku gak bisa mikir nih harus ke siapa minta saran… ke Airin ?... nggak...." Mulai mencurigai Airin tapi gak bisa nuduh sembarangan karena memang gak ada buktinya, sekarang memang sudah jarang main selain sibuk belajar juga kan semua orang tau Deniar melarang aku main dengan orang lain. Tring tiba-tiba otakku bersinar dikit, knapa ga curhat ke Zein saja yang sedikit mengerti kondisi Deniar karena sudah baca artikel yang ada di majalah yang dia berikan ke aku. Aku mendial nomor nya Zein, tuuut…. Tuuut….tuuut panggilan ketiga baru diangkat. "Ada apa Eng telpon?" jawab Zein "Ma… makasih kamu telah menunjukan artikel itu, se….se….semua ciri yang dituliskan artikel tersebut ada di diri Deniar……….. huhuhuhu…. ," Aku tidak bisa berkata-kata lagi hanya menangis tersedu-sedu. "Ya masih…. Huhuhu," aku jawab sambil terisak Aku tidak bisa berkata-kata lagi hanya menangis tersedu-sedu. "Sabar dulu… tenang dulu… Eng masih denger kan ?" “Eng menghadapi orang seperti Deniar harus dengan kepala dingin dan tenang tidak bisa dengan emosi gak akan selesai masalahnya, kalo bisa datangin psikolog bagaimana untuk menghadapi orang seperti itu,” ucap Zein walau pelan aku mendengarnya dengan jelas. “Bagaimana aku bisa ke psikolog ke luar teras saja dia akan tau Zein, Deniar membayar orang-orang yang ada akses denganku, saya curiga Agus juga di sogok sama Deniar.” “iya Eng saat ini hanya bisa tenang dulu sabar dulu menghadapinya ya, kamu jangan mengungkit penyakit ini ke Deniar, cari dulu info sebanyak-banyaknya siapa tau ketemu solusinya.” "Makasih ya Zein atas info dan saran nya, tapi mohon jangan ada yang tau temen-temen kita takut bocor, karena apapun yg aku lakukan di kelas Deniar tau jadi tolong yaa Zein sekali lagi, jangan ada yang tau. Oke makasiih daaaghhh." klik…terdengar Zein menutup sambungan handphone nya. Aku simpen handphone di nakas sebelah tempat tidur, terdengar handphone bunyi ketika dilihat ternyata Deniar telpon. “heyy… kamu ditelpon dari tadi sibuk terus, teleponan sama siapa lama begitu. Pasti sama cowok yaa sampai lupa ga balas pesan-pesanku.” Aku berpikir keras dan harus cepat jawab dari pada Deniar curiga. “ Ng… ng… nggak… aku barusan telpon sepupuku nanya tentang sekolah mau diterusin dimana ngajak bareng di kampus yang sama ya sekalian juga jadi ngobrol yang lain juga akhirnya,” “Jangan mimpi bisa kuliah kalau kamu masih genit ke cowok lirik sana lirik sini.” Klik sambungan handphone mati. Gubrak aku melemparkan badan ke kasur dengan kasar saking keselnya padahal dia sudah janji akan membolehkan aku kuliah. Cepet-cepet aku menghapus riwayat telpon dan pesan di handphone karena Deniar sering SIDAK membuka dan meneliti siapa saja yang aku telpon dan pesan yang masuk. Aku langsung nelpon sepupuku berbasa basi ngajak ngobrol ga puguh hanya supaya ada Riwayat telpon saja. Segitunya kan yang namanya Deniar !! **** Tak salah Zein jeli karena dia dikelas juara kelas dan bercita-cita ingin jadi psikolog atau dokter. Rasa sesal di dalam hati telah menolak seorang Zein. Aku merasa tidak selalu niat baik hasilnya baik. Seperti aku menolak Zein karena ga mau pacaran dulu, malah ketemu seorang psychopath. Mungkin kalo aku nerima Zein aku sekarang lagi bahagia. Ya Tuhan rencana apa yang Allah berikan padaku. Apa menolak Zein suatu kesalahan ? *** Aku masih kirim pesan atau telpon waktunya selalu tetap sekitar jam 3 dini hari selain jam itu aku ga berani takut ketahuan, sedang aku tau persis jam belajarnya Zein dimulai jam 2 malam. Setelah komunikasi pesan atau riwayat telpon langsung di hapus, bahaya kalo ketahuan, dipastikan akan neror Zein. Kalo diluar jam bangun aku kapok nelpon orang, karena kalo aku nelpon tetiba Deniar telpon nada sibuk, caci maki akan keluar. Daripda bikin marah lebih baik menghindar. Jadi hanya telpon-telpon yang bisa memperkuat alibi saja yang aku terima. Karena ada bukti riwayat telpon. Segitunya kan menghadapi seorang Deniar !! Selama dua bulan setelah “pacaran” dengan Deniar memang komunikasi dengan Zein sempat terputus, akhirnya aku memberanikan diri menceritakan segalanya padanya. Setelah tau sifat Deniar, akhirnya hanya kepada Zein aku berani curhat, dan Zein memahaminya. Aku telpon Zein, “Zein, walaupun kita ga jadi pacaran, pliss jangan tinggalkan aku, hanya kamu yang ngerti kondisiku, hanya kamu yang mengerti keadaanku” Selalu tangisku tak terbendung. “Iya Eng, aku sangat mengerti kondisi kamu, telponlah aku kalo kamu sakit atau sedih, aku akan mendengarkan apapun curhatan kamu. Kamu harus memikirkan cara melepaskan diri dari dia. Kalo kamu memutuskan nikah dengan dia kamu akan menderita seumur hidupmu, kecuali kamu siap menghadapi sifat itu seumur hidupmu.” “Zein daripada aku menikah dengan dia, aku lebih baik mati saja,” Sambil terisak. "Kamu jangan berfikir seperti itu Eng, yang harus difikirkan bagaimana melepaskan diri dari dia bukan bagaimana mati.” “Tapi selama aku ada di sini, selama aku masih sekolah aku tidak mungkin bisa lepas dari dia,” Lelah rasa hati ini. Zein : “Betul selama kamu disini kamu tidak akan bisa lepas, nah kamu ada waktu selama sekolah untuk memikirkan cara bagaimana mengambil keputusan dan tindakan setelah selesai sekolah.” Aku : “ Nah itu Zein, aku ga terfikirkan saat ini.” Zein : “ kita fikirkan pelan-pelan ya, jangan dengan emosi,” Aku : “ makasih Zein, sudah dulu yaa, maaf sudah ganggu belajarmu.” Zein : “Jangan lupa hapus riwayat chat dan telpon kita.” Aku : “Oke, lap yu !” Klik. Handphone aku matikan. Karena aku ga mau dengar Zein membalas kata lap yu ku. Walaupun Zein ikut tersakiti, tetapi dia tetep mau denger keluh kesahku. Aku beruntung dipertemukan dengan Zein, tidak terbayangkan kalo tidak ada Zein. “Coba kalo dulu diterima, kita bisa belajar bersama, sudahlah nasibku emang lagi jelek ketemu cowok modelan Deniar,” batinku. ” Ingat Eng ini nasib yang bisa dirubah, belum jadi takdir, hanya kamu yang bisa mengubahnya bukan orang lain,” tekadku Zein selalu ngingatkan harus tenang jangan di hadapi dengan emosi, walau selalu tersulut emosiku tetapi aku lebih banyaknya menahan diri. Aku terus2an ingat pada artikel yang di baca tadi di perpustakaan, rasanya sudah ga bisa berfikir harus gimana menghadapinya. Mulai sekarang aku harus lebih tertutup pada setiap orang. Karena belum ketahuan siapa pengkhianat yang di bayar Deniar untuk memberikan info aktivitas di sekolah dan di sekitar rumah. Sekarang aku harus mencurigai semua orang dikelas kecuali zein. Siapapun bisa jadi mata-matanya termasuk sahabatku Airin. Tak salah Zein jeli karena dia dikelas juara kelas dan bercita-cita ingin jadi psikolog atau dokter. Rasa sesal di dalam hati telah menolak seorang Zein. Aku merasa tidak selalu niat baik hasilnya baik. Seperti aku menolak Zein karena ga mau pacaran dulu, malah ketemu seorang psychopath. Mungkin kalo aku nerima Zein aku sekarang lagi bahagia. Ya Tuhan rencana apa yang Allah berikan padaku. Apa menolak Zein suatu kesalahan ? Aku masih kirim pesan atau telpon waktunya selalu tetap sekitar jam 3 dini hari selain jam itu aku ga berani takut ketahuan, sedang aku tau persis jam belajarnya Zein dimulai jam 2 malam. Setelah komunikasi pesan atau riwayat telpon langsung di hapus, bahaya kalo ketahuan, dipastikan akan neror Zein. Kalau diluar jam bangun aku kapok nelpon orang, karena kalo aku nelpon tetiba Deniar telpon nada sibuk, caci maki akan keluar. Daripda bikin marah lebih baik menghindar. Jadi hanya telpon-telpon yang bisa memperkuat alibi saja yang aku terima. Karena ada bukti riwayat telpon. Segitunya kan menghadapi seorang Deniar !! Selama dua bulan setelah “pacaran” dengan Deniar memang komunikasi dengan Zein sempat terputus, akhirnya aku memberanikan diri menceritakan segalanya padanya. Setelah tau sifat Deniar, akhirnya hanya kepada Zein aku berani curhat, dan Zein memahaminya. *** TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN