Makin ke sini makin dalam pelecehan-pelecehan yang Deniar lakukan, selain aku sendiri yang dihina, kadang kakakku dan ibuku.
Suatu ketika, waktunya pulang sekolah seperti biasa sambil melangkah ke gerbang, temen2 cowok sangat biasa saling becanda sambil ledek. Hal yang sangat wajar menurut anak-remaja.
Tapi tidak menurut Deniar.
Saat itu kebetulan beriringan dengan temen cowok beda kelas karena kenal ya biasa saja becanda, tiba-tiba ada temen cowokku meluk dari belakang.
“Eng gue kangen banget sama looh, kelasku di belakang jadi ga pernah ketemu, sumpah kangen banget sama lo, nanti sabtu gue main ya ke rumah lu,” Azka dengan santuy nya tanpa
dosa memelukku dari belakang.
.
Tangannya langsung aku lepas sambil berbisik, “pacarku lihat, bisa-bisa aku dibunuh.” Sambil melihat ke depan, Deniar sudah ada disana menatap garang.
“Haaah, emang pacarmu monster apa zombie,” Azka malah teriak nyengajain.
Sampe depan Deniar, aku langsung dibanting suruh duduk. Dia muterin mobil masuk dengan membanting pintu sebelahnya jg. Giginya gemeletuk nahan marah.
“jadi kamu seperti itu tiap harinya, peluk2 di depan banyak orang. Gimana di tempat sepi hah !” bentak Deniar,
“Bagaimana aku bisa melarang orang, itu kan spontan karena dia temen deket lg kelas satu,”
“Kalau kamu ga murahan orang ga akan berani seperti itu,” matanya nyalang, tangannya mencengkram paha sangat kuat, aku meringis bener-bener sakit.
“Aa tangannya lepas, sakit sekali,”
“Sakit? Hahaha, untuk cewek murahan sepertimu harusnya aku kurung kamu semalaman di WC tau !!” dia nsambil meninju-ninju badanku.
“Kalau aku murahan, kenapa ga kamu buang saja, cari cewek yang terhormat yang bisa kamu hargai,” Teriakku
“Enak saja kamu bilang, aku sudah mengeluarkan banyak uang untuk kebutuhanmu, tiba-tiba aku buang ? TIDAK…., aku mengeluarkan uang ada yang harus kamu ganti, “ hardiknya.
“Tetehmu ditinggal cowok juga pasti ga bener dulunya, tapi aku laki-laki yang bertanggung jawab ga akan ninggalin kamu,”
“Aku tau sekali Tetehku baik, tapi cowoknya yang ga bener,”
“kamu ga usah nutupin, semua orang juga tau tetehmu hamil duluan sekolahnya ga selesai,”
Dia makin mengghina.
“itu karena Tetehku ketemu cowok seperti kamu tauuuu,” aku sudah ga terisak lagi tapi jerit-jerit saking keselnya.
“Kenapa kamu tidak bisa dibilangin, jauhi temen-temen cowokmu tidak perlu becanda-becanda dengan mereka,” geramnya.
Gustiiii……. kalo gini mah atuh sudah masuk pesantren putri saja atau sekolah keputrian saja sekalian. Yang ga ada cowoknya.
Aku ngusap-ngusap paha yang tadi dicengkram dengan sangat kuat, meringis kesakitan.
Deniar melihat, tangannya membuka rok sekolahku, ternyata pahaku sudah merah sekali, biasanya besoknya membiru. Dia panik, “kamu sakit yaa, maafkan yaa, aku begini karena aku sangat mencintaimu, aku tidak mau kamu direbut orang lain, kamu harus mengerti maksudku
bukan ingin nyakitin kamu.”
Selalu begitu.
Aku sudah terbiasa memar-memar. Kadang di pinggang, di pundak, di paha seringnya.
Tetapi kalau sudah melakukan kekerasan, dia akan memperlakukanku dengan sangat baik.
Berulang, berulang…. Entah sampai dimana batas kekuatanku untuk tetap bertahan.
***
Semua temen-temenku menjauh dari aku terutama cowok. Hanya bener-bener seperlunya ngobrol denganku. Awalnya aku tidak mengerti kenapa, ada salah apa sampai semua memperlakukan aku begini.
Pelan-pelan aku menyadarinya, apapun yang aku lakukan di kelas Deniar tau, saya sampe mikir siapa yang memberi info pada Deniar, karena saya ngobrol atau becanda dengan siapapun
terutama mahluk cowok pasti ada pesan masuk , kamu ngobrol sama si A ya.
Kamu becanda ketawa-ketawa sama si B ya.
Dan siap-siap pulangnya pasti kena intimidasi lagi.
Apalagi ngobrol dengan Zein, dia bisa-bisa datang ke sekolah ngambil paksa aku. Karena pernah kejadian seperti itu. Dia bilang ke security dan guru, minta ijin bilangnya karena ada keperluan keluarga.
Temen sekelasku pun semua tau gimana posesifnya Deniar, siapapun yang terlihat ngobrol denganku pasti ditegur langsung dilarang ngajak ngobrol aku. Deniar akan mendatangi rumah cowok yang ngajak ngobrol aku. Pastinya keluar sumpah serapah menghinaku.
Aku jadi ingat omongan Deniar.
“Eng, kamu macam-macam duduk berdekatan ato ngobrol dengan cowok dimanapun, disekolah sekalipun nantinya akan aku sakitin cowok itu, Jangan kamu sepelekan ucapanku,” ancamnya.
Hanya pada Airin saja aku bisa curhat.
“Rin aku jadi ga nyaman gini ya di kelas semua cowok menjauhiku seperti aku tuh virus gitu ya, secara dikelas kita kebetulan ceweknya cuma enam orang sedang cowoknya tiga puluh orang, jadi kerasa banget ketika ada yang berubah.” Keluhk.
“Sabar saja Eng kan bentar lagi juga sekolah selesai ga bakal sering ketemu juga sama mereka,” nasihat Airin.
“Nanti kan kamu akan hidup enak setelah nikah, Deniar begitu memanjakanmu. Kamu sudah tidak perlu teman-teman lagi kan Deniar selalu ada untuk kamu,”
“Tapi tetep saja ga enak Rin, masa mau berpisah malah kesan nya permusuhan gini,” timpalku
“ lagian hidup kan bukan dengan Deniar saja, manusia tetep perlu sosialisasi dengan banyak manusia lain.”
“Rin…. Aq ga ngerti kok Aa tau apa yang dikerjakan aku dikelas dengan siapa aku interaksi, aku curiga ada orang yang di bayar Aa. Kok tega sekali ya Rin, nusuk teman sendiri. Bukan kamu kan Rin ?” rintihku.
Rasanya sedih semua orang melihat dari sisi perhatian Deniar saja padaku termasuk keluargaku yang selalu bilang mau nyari yang seperti apalagi kalo seorang Deniar masih dianggap kurang, tidak melihat bagaimana Deniar mengintimidasiku, tapi emang orang lain kan tidak tau juga semua sikap dan perlakuan Deniar padaku.
Sekolah tinggal tiga bulan lagi, dan sudah tersebar aku akan menikah setelah ujian,
bagaimanapun aku membantah, semua tidak percaya.
Hari ini di sekolah setelah jam istirahat tidak ada guru yang ngajar karena gurunya sakit, hanya ngasih tugas saja pada murid-murid. Aku ingat butuh buku tambahan untuk belajar menghadapi ujian nasional.
Aku melirik Airin,” Rin, antar ke perpustakaan dong.”
Dia nolak,” Urang bolak balik ke perpus juga ga bisa ngalahin kamu lah nilai,
percumaaahhh,” dia ngerjain tugas yang belum diselesaikan untuk mata pelajaran akhir nanti.
"Kamu mah ka perpus tehmikir na nilai doang, banyak hal lain di dapat tau,” sungutku.
Sebenarnya aku sebel sama kebiasaan Airin suka mepet-mepet ngerjain tugas, karena kebiasaanku bertolak belakang dengan dia. Aku ngerjain tugas selalu diawal karena ga tau didepan nya pas waktu harus dibagikan kita ada suatu masalah seperti sakit atau ada keperluan
mendadak, malah nanti jadinya ga bisa ngumpulin tugas.
Akhirnya aku melenggang sendiri ke perpustakaan, langsung menuju rak tempat buku yang kucari, setelah kudapat aku nyari kursi dipojok yang kosong, aku duduk ga liat keadaan sekitar.
Tiba-tiba, pluk ada majalah menimpa buku yang sedang aku baca, aku kaget melihat Zein yang memandangku kemudian,”Baca majalah itu semua, nanti kamu akan tau dan fikirkan untuk
menghadapinya jangan korbankan dirimu dengan pria seperti Dia.” Setelah berucap Zein cepat-cepat berlalu.
Buru-buru aku membuka majalah yang tadi dilempar Zein, lembar perlembar aku buka perlahan satu-satu…
Ada satu judul artikel yang membuatku tertarik untuk membacanya “CIRI-CIRI SEORANG PSYCHOPATH”
Hatiku langsung luruh begitu selesai membacanya rasanya ingin jerit-jerit guling-guling koprol, menghadapi kenyataan diriku ada dalam genggaman seorang psychopath.
Tapi aku harus tenang menghadapi orang yang sakit jiwa, tidak bisa dengan sarkastik harus dengan kepala dingin.
Ketika sampe rumah, aku langsung berbaring gelisah memikirkan strategi untuk menghadapi Deniar, harus sangat hati-hati.
“aaaahhhh… otaku ga bisa mikir nih harus ke siapa aku minta saran… ke Airin ?... nggak...."
***TBC