PROLOG
Pagi itu begitu cerah,matahari begitu gagah menampakkan cahayanya yang berkemilau.Suara desir angin bersahutan dengan indahnya kicauan burung yang beterbangan kesana kemari.Menambah syahdu suasana Asrama tentara di pinggiran kota yang sengaja didesain asri agar para tentara merasa nyaman melaksanakan kegiatan.
Seakan tak mau kalah dengan Matahari yang sudah terbit sejak fajar hari,para prajurit gagah sudah terbangun dari istirahat malam dan bersiap untuk berlatih.Hari ini adalah jadwal pelatihan bela diri,dimana prajurit yang memilih kegiatan ini akan mengikutinya.Tak terkecuali Randy Adiwira,pemuda gagah bertubuh atletis yang sudah bergabung menjadi tentara sejak 5 tahun lalu.Randy yang kini menginjak umur 27 tahun itu pun tak mau kalah memperlihatkan keahlian bela dirinya.Gelar sabuk hitam sudah ia raih,namun bukan berarti ia cepat puas bahkan tak henti terus berlatih untuk mengasah ketangkasan.
Hari itu,Total 3 Ronde sudah ia menangkan saat diduelkan dengan seniornya sesama pemegang sabuk hitam.Semua orang yang menyaksikan bertepuk tangan dan memberikan ucapan selamat,termasuk sersan Rai sang teman duel.
"Kau sudah gila,Randy.Aku yang sudah memegang sabuk hitam lebih dulu darimu saja bisa kau kalahkan dengan telak.Aku menyerah padamu.." ucap Sersan Rai yang juga sahabat dekat Randy.
"Tidak,bang Rai.Ini hanya kebetulan dan keberuntungan ku saja.Akupun merasa kesulitan jika harus berhadapan denganmu.Kau mampu menangkis semua gerakanku tiap saat.." Jawab Randy merendah.
"Haha kau bisa saja.Baiklah kali ini aku mengaku kalah.Tapi lain kali aku akan mengalahkan mu.." Gurau Rai sembari menepuk pundak Randy.
*prok prok prok*
terdengar suara tepuk tangan dari salah satu sisi aula tempat mereka berlatih.
"Wahai kedua sahabatku,kalian sungguh luar biasa.Tidak kusangka kalian begitu hebat saat berduel tadi.." Ujar Miki Prasetya,salah satu prajurit muda yang juga bersahabat dekat dengan Randy dan Rai.Ia lalu menghampiri keduanya.
"Kau melihat pertandingan kita tadi? tumben sekali.." tukas Rai terkejut melihat keberadaan Miki,si pemilik alis tebal itu.
"Seperti yang kalian tahu,aku memang kurang menyukai bela diri yang bagiku terlalu keras.." Jawabnya jujur.
"Iya,aku tahu.Kau lebih menyukai kegiatan yang memerlukan konsentrasi tinggi dan ketelitian dalam menentukan target seperti menembak.Miki si penembak paling jitu seantero Asrama Cakra buana ini.Miki yang selalu dipuji oleh kolonel Sanders karna tembakannya selalu tepat sasaran.." Puji Randy."Namun sayang, tembakannya selalu meleset jika berhubungan dengan seorang wanita,hahahaha..." lanjutnya diiringi gelak tawa yang cukup keras dari Rai.
Miki yang semula sudah kegeeran mendengar pujian dari Randy, seketika merasa kesal karna ujung kalimat Randy begitu menyebalkan.
"s****n,kau!" gerutunya.
"Hahahaha,sudah sudah.Perutku sakit terus-terusan tertawa.Sekarang sudah hampir pukul 9, saatnya kita bersiap untuk pergi ke kantor.Ayo!" ajak Rai beranjak pergi diikuti oleh keduanya.
*****
Bagi seorang Randy Adiwira,menjadi prajurit bukan hanya sekedar profesi.Lebih dari itu,ini ada cita-cita dan jiwa yang sudah berada dalam dirinya sejak masa kecil.Lengkap dengan seragam kebanggaan,menjadi bagian abdi negara adalah cita-citanya sejak kecil.Oleh karna itu,adalah suatu kebanggaan terbesar dalam hidupnya bisa menjadi bagian aparat kenegaraan ini.Meskipun masih terbilang baru,ia bangga telah membuktikan kepada dunia terutama kedua orangtuanya,bahwa ia mampu mengikuti tes seleksi menjadi aparat negara 100% karna hasil kerja kerasnya.
Ayah Randy sebenarnya tidak menyetujui Randy aparat negara karna resiko keselamatan yang begitu besar dan memintanya menjadi meneruskan bisnis properti Ayahnya.Namun Randy bersikeras ingin mengabdi pada Negara.
"Oke,Randy.Saatnya bertempur dengan kejamnya peperangan dalam kehidupan!" ucapnya bangga depan cermin.