Bab 1

967 Kata
Tidak ada yang tau kapan ajal datang, memisahkan antara mati dan hidup. Devan Arsein Fedroit, pria tampan CEO perusahaan ternama, tubuhnya kini terbaring di atas ranjang rumah sakit, dia tergeletak lemah disana, tubuhnya dengan jiwanya telah terpisah. Dia koma saat ini, nyawanya menjelajahi setiap jalan, sedang tubuhnya kini digenggam oleh tunangannya, Alisa. Sejak kasus korupsi dan transaksi n*****a terungkap, Devan terpojok dan tidak ada bukti satupun yang bisa menguatkan dirinya tidak bersalah, justru semua bukti mengarah kepadanya, kini hanya Alisa yang setia menggenggam tangan Devan meski dengan mata tertutup. Masih ada sisa harta Devan yang Alisa incar, setidaknya tabungan dan mansion Devan tidak disita oleh pihak kepolisian, karena tubuh Devan yang masih koma, kasusnya dihentikan sementara. Devan dengan seksama membaca laporan perusahaan, isu bahwa dirinya telah terlibat transaksi n*****a membuat saham Arsein Corp turun drastis. Belum lagi ada kasus korupsi dewan direksi yang membuat kepalanya semakin pusing. Bagaimana bisa tersebar foto dia sedang bersama sahabatnya yang sedang mabuk, beberapa sabu dan obat-obatan berjajar disana, namun Devan tidak sama sekali menyentuhnya. Devan memilih memijat kepalanya dan bersandar pada kursi besar, beberapa jam yang lalu ayah dan ibunya menganggap dia bukan anak mereka lagi, padahal kasus itu masih isu, bahkan ayah Devan mengancam untuk mencabut warisan perusahaannya dari Devan, hanya satu orang masih setia untuk Devan, tunangannya Alisa, seorang model kelas atas yang memiliki wajah cantik dan tubuh molek. “Sayang, ini coba kau minum tehnya.” Alisa memberikan secangkir teh yang tanpa Devan ketahui, teh itu telah dicampur oleh g***a, dengan wajah sumringah Devan mengecup kening Alisa dan menerima teh itu. Hari ini hari pemeriksaan Devan, sudah pasti di positif menggunakan n*****a karena teh pemberian Alisa, hancur sudah hidup Devan, dia akan ditangkap oleh pihak kepolisian. Dia mencoba melarikan diri menyetir dengan kecepatan penuh dan sebuah truck besar menabraknya hingga membuatnya koma. Di rumah sakit ini. Handphone Alisa berdering, dia mendapat telepon dari notaris. Tentu saja model cantik ini telah mempersiapkan sesuatu yang akan mengejutkan Devan. Dia sesekali menatap Devan, calon suaminya yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Harta yang selalu di pikiran Alisa, tidak ada di dunia ini namanya cinta bagi Alisa. “Ya? Bagaimana? Apa aku akan mendapat warisan Arsein Grup sebagai calon istri Devan?” tanya Alisa pada notaris, Alfred. “Tidak bisa, hanya rumah mansion utama yang kau dapatkan, karena Devan hanya memberikanmu itu.” Alisa mendesah kesal, dia tak lagi mendapatkan harta Devan, tak tau kemana perginya rasa cinta dan ketulusan Alisa dulu, dia telah terbuai duniawi. Harta yang berkelimpah memanjakan Alisa hingga dia lupa diri. Apalagi dia seorang model terkenal semakin banyak harta yang dia dapatkan, dia semakin tidak puas. Bahkan dia juga menganggap Devan sudah tidak bisa lagi menjadi sumber ATM berjalan, karena kini lelaki tampan kaya raya itu terbaring di rumah sakit. Satu-satunya yang dapat membuat Devan hanyalah alat bantu pernapasan oksigen dari rumah sakit, jika saja infus dan alat itu dicabut, dokter mengatakan tidak ada lagi nyawa Devan. Alisa bangkit dari duduknya, dia mungkin sudah gila, menganggap Devan tak lagi berguna sebagai mesin penghasil uang untuknya, incaran dia beralih pada Alex, rekan bisnis Devan yang tak kalah kaya. Alisa membungkus tangannya dengan sarung tangan lalu membekap Devan dengan bantal tidurnya. Antara hidup dan mati, Devan merasakan sesuatu yang berbeda darinya, dia melihat jalanan yang sangat ramai namun dia tidak dapat mengajak satu orangpun berbicara dengannya. Bahkan dia bisa menembus pintu, satu hal yang melekat di otaknya, dia mungkin sudah mati. Cahaya putih menembus awan dan dengan cepat turun ke bumi. Devan terkesiap dan terkejut melihat sosok yang bersinar, tak jelas wajahnya. “Si-siapa kamu?” tanya Devan takut, di dekatnya membuat sekujur tubuhnya bergetar ketakutan, entah auranya sangat kuat. “Halo, Devan Arsein Fedroit, manusia berusia 27 tahun. Aku bertugas menjemput nyawamu untuk kembali kepadaNya, kamu harus ikut denganku.” “Tu-tunggu dulu! Aku mau ke? Alam barzah?” tanya Devan tak percaya dia benar-benar mati sekarang. “Sangat cerdas! Ayo ikut aku!” ucap malaikat pencabut nyawa. “Tidak! Aku tidak mau mati sekarang, tolong katakan padaku, aku harus apa agar bisa hidup kembali?” tanya Devan. Mati dan hidup tidak bisa dinegosiasi, tapi hidup Devan begitu sengsara, sejak kecil dia dipaksa bekerja keras oleh ayah dan ibunya, dia juga memiliki kakak yang begitu membencinya karena berhasil mendapatkan waris dari ayahnya, belum lagi kini dia terseret kasus korupsi dan n*****a. Parahnya lagi, kekasihnya yang kini mencoba membunuhnya. “Kau mau negosiasi? Manusia, sungguh kamu tidak bisa negosisasi, ayo ikut aku.” Malaikat maju mendekat, namun Devan juga berjalan mundur. “Tolong, setidaknya aku harus bahagia terlebih dahulu.” Devan memohon dengan tatapan memelas. “Baiklah. Gunakan ini.” Malaikat memberikan cincin dengan batu merah. “Aku beri waktu 5 menit untuk menemukan jodohmu, artinya sekitar 100 hari di bumi. Jika kamu berhasil menemukannya, kamu akan hidup kembali untuk waktu yang lebih lama, tercatat umurmu akan mati di usia 80 seharusnya, jika saja kamu sekarang tidak dibunuh oleh tunanganmu.” “Apa? Jadi? Aku mati karena dibunuh tunanganku sendiri? Alisa?” tanya Devan, dia menerima cincin pemberian malaikat dan menggunakannya. “Ikut aku.” Malaikat meraih tangan Devan dan membawa nyawa Devan ke rumah sakit–tempat dia terbaring saat koma. Devan membulatkan matanya saat melihat Alisa yang membekap tubuhnya dengan bantal. Hatinya seketika seperti dihunus pedang tajam, dia tidak menyangka penghiatan yang sungguh kejam, Alisa sungguh tidak memiliki hati nurani. “Astaga! Apa yang kamu lakukan Alisa?” Devan berkaca-kaca, cintanya yang tulus selama ini sia-sia, rupanya Alisa tidak mencintainya. Alisa melempar bantal Devan saat monitor detak jantung tidak lagi bergerak dan segera mengendap-endap keluar rumah sakit. “Lihat kan? Kelakuan tunanganmu? Sekarang kembalilah ke tubuhmu Devan, memang begini takdirmu, tapi karena melihat catatan sipil kematian, seharusnya kamu masih hidup di dunia selama 53 tahun lagi. Jadi aku berhak memberimu kesempatan, nikmati hidupmu dan kau harus bahagia, oh ya kasus korupsi dan n*****a, kau harus menyelesaikannya sendiri. Ingat, kamu harus menemukan jodohmu dalam waktu 100 hari di dunia, itu artinya tanggal  08 November 2020 kamu harus sudah menemukan jodohmu, jika kamu di dekatnya, lampu cincin itu akan menyala.” Devan mengangguk mengerti, malaikat lalu mendorongnya masuk ke dalam tubuhnya. Dia hidup kembali. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN