Bab 2

1131 Kata
Devan terduduk di ranjang rumah sakit, dia memijat kepalanya pelan. Rasanya pening dan seperti mimpi. Devan merasa semua ini tidak nyata, dia bisa hidup kembali. Tapi Devan melihat cincinya, cincin batu merah, persis seperti pemberian malaikat, mau tidak mau Devan harus percaya bahwa memang hidupnya bisa kembali. Tubuhnya terasa sangat sehat dan bugar seperti terlahir kembali seusai tidur panjang. “Kalau saja, aku dinyatakan positif menggunakan n*****a, seharusnya ada seseorang yang menjebakku.” Devan berpikir sejenak, mencari tau pelaku dibalik semua ini, pikirannya terbayang oleh Alisa, tunangannya. Sebulan lagi harusnya mereka menikah. Tapi Devan telah menyaksikan semua keburukan Alisa, Devan memilih untuk memutuskan hubungannya dengan Alisa. Jelas saja, siapa yang mau menikah dengan perempuan ular yang tega membunuh tunangannya sendiri, Devan tak menyangka Alisa begitu kejam dan menakutkan. Cepat atau lambat Devan harus bisa melepaskan Alisa meski cinta mereka telah lama terjalin. “Ah! Teh!” Seketika Devan mengingat teh pemberian dari Alisa, dia sempat melihat Alisa membubuhkan sesuatu dalam tehnya, namun dia tak tau pasti apa bubuk di dalam teh itu. Devan segera melepas peralatan rumah sakit. Namun seorang suster masuk dan mencegahnya. “Maaf, bapak tidak boleh seperti ini, bapak harus ijin dulu, terlebih lagi ada dua polisi yang menjaga bapak di depan.” Suster itu mencegah lengan Devan untuk mencabut infusnya. “Baiklah, panggilkan dokter kemari.” Devan menghela napas, dia baru ingat bahwa dia tersangka, hanya saja penyelidikannya ditunda karena dia mengalami kecelakaan dan koma. Devan mengambil handphonenya dari nakas, dia melihat tanggal, rupanya sudah sepuluh hari sejak kejadian dia kecelakaan, selama itu di tertidur. Tak lama seorang dokter perempuan datang membawa stetoskopnya dan buku catatannya. Dia agak terkejut dengan kondisi Devan yang terlihat sehat bugar, bahkan wajahnya tidak terlihat pucat atau lemas. “Selamat siang bapak Devan.” Gladys, dokter itu tersenyum kepada Devan, tak menyangka jika pasiennya akan kembali sehat, padahal nyawa Devan hanya tergantung pada alat infus. “Siang dokter,” balas Devan. Sekilas dia melihat cincinnya, tidak berwarna. Dia mengambil kesimpulan, bukan Gladys jodohnya. “Baik, akan saya periksa dulu ya pak, bagaimana perasaan anda hari ini? Saya sangat takjub anda bisa melewati masa koma. Bahkan saya hampir menyerah dan pasrah.” Gladys mendekat dan memeriksa tubuh Devan, dia menempelkan stetoskop kepada Devan. “Ini sebuah Mukjizat! Anda selamat dari kritis. Selamat ya bapak Devan. Hanya saja, saya meminta anda untuk tetap beristirahat disini selama tiga hari. Untuk memastikan keadaan anda benar-benar pulih.” “Dok, bagaimana jika saya kontrol saja? Saya janji akan datang untuk kontrol setiap hari, karena banyak yang harus saya urus, saya mohon dokter.” Devan memasang wajah memelas. Tapi sang dokter sebenarnya tidak yakin apakah bisa melakukan hal ini. Karena Devan tidak mungkin hanya berdiam diri di rumah sakit, sedangkan kondisi perusahaannya terancam parah. Apalagi nama baiknya telah tersebar sebagai pengguna n*****a. Secepatnya dia harus bangkit dan membersihkan namanya. Sayangnya tidak ada yang berpihak kepadanya. Tunangannya Alisa saja sudah berbuat tindakan kriminal kepadanya, hal yang menyakitkan bagi Devan. Cinta tulusnya terbuang begitu saja. Dia tak bisa menjadi calon suami Alisa. Tapi, untuk apa dia lama-lama bersedih menangisi Alisa? Sedangkan dia tahu rencana busuk Alisa. “Tapi, benar ya. Anda harus kontrol setiap hari, karena saya belum memeriksa keadaan anda sepenuhnya.” Dokter akhirnya mengijinkan Devan pulang. Tindakan yang berisiko, tapi dokter juga tahu Devan seorang tersangka, apalagi kabar gosipnya telah merebak luas bahwa dia adalah seorang pecandu n*****a. Sebagai dokter Gladys pasti kahwatir kepada keadaan Devan. “Siap dok, pasti,” jawab Devan. Tak lama suster mendapatkan perintah untuk melepas infus Devan dan dia sekarang boleh pulang bersama dua polisi yang mengawalnya. Devan dibawa ke pengadilan untuk diadili terkait buktinya bahwa dia seorang pecandu n*****a.  "Saya ingin memberikan bukti bahwa saya dijebak." Devan kali ini membuka suara, tak mau seperti kerbau dicucuk apalagi kelakuan Alisa yang seperti wanita ular. Beruntungnya malaikat telah menunjukkan kebusukannya. Devan memberikan rekaman cctv ruang kerjanya bahwa dia diberikan teh oleh Alisa. Pihak penyidang segera menyuruh tim penyelidik dan menggeledah kantor Devan. Saat itu juga, Devan bebas sebagai tersangka. Hanya tinggal satu kasus yang belum bisa ia selesaikan, kasus korupsinya. Hari sudah malam, pukul 1 dini hari, tapi Devan masih berkutat dengan laptobnya. Dia menganalisa laporan keuangan tiap tahun dan memeriksa per transaksinya. Kepalanya seketika pening, dia memilih untuk bersandar dan memejamkan mata sejenak. Gerak gerik Devan selama ini diawasi oleh malaikat, karena nyawanya adalah tanggung jawab malaikat saat ini. "Kasihan kamu, hidupmu menderita." Malaikat itu berubah menjadi manusia dan membantu menyelesaikan tugas Devan diam-diam. Dia tersenyum ketika pelakunya sudah dia temukan. Malaikat itu lalu mengcopy dokumen dan mengirimkannya ke pihak pengadilan. Hari ini akhirnya sang malaikat memutuskan menjadi manusia, dia sangat ingin mengawasi gerak-gerik Devan dari dekat. Dia mengubah nama dan identitasnya menjadi Abigail. Malaikat pencabut nyawa itu adalah utusan Dewa Hades. Abigail membeli apartemen satu atap dengan Devan. Dia dengan mudah melakukan manipulasi pada ingatan manusia. Setidaknya untuk membuat dia mudah hidup berdampingan dengan Devan. Abigail tidak berkelamin, seperti malaikat pada umumnya, tapi karena dia di bumi, dia harus memilih, laki-laki atau perempuan. Agar lebih dekat dengan Devan, dia memilih menjadi laki-laki. Abigail tidak tidur ataupun makan, tidak lapar dan bernafsu. Matahari mulai muncul, Abigail telah menyusun rencana agar dekat dengan Devan. Lelaki tampan yang dituduh sebagai koruptor itu bangun dari tidurnya dan merapikan berkas yang telah dia kerjakan. Saatnya dia pergi ke pengadilan, dengan cepat dia mandi dan bersiap diri. "Ehm, selamat pagi." Abigail mencoba tersenyum kepada Devan yang kini mereka berada di lift apartemen. "Ah, iya selamat pagi." Devan melemparkan senyum hangat. Wajahnya terlihat lelah karena belum berhasil menemukan siapa pelaku korupsi. "Tak ingat aku?" tanya Abigail sambil tertawa. "Maaf, tapi aku sedang buru-buru, beri aku nomor telponmu, aku akan menghubungimu." Devan tersenyum dan dia menerima kartu nama Abigail. Abigail baru saja selangkah keluar dari apartemen, tapi beberapa wanita menatapnya tanpa berkedip. Tampan, gagah dan memiliki garis rahang yang tegas. Idaman semua wanita. "Astaga, siapa dia? Tampan sekali." Seorang wanita dengan temannya berbisik, tentu saja Abigail dapat mendengarnya, dia bisa mendengar pikiran manusia. Abigail berjalan melewati trotoar, dia baru ingat satu hal, belum memiliki ponsel seperti kebanyakan manusia dan juga mobil. Dia melihat mobil Devan yang baru saja keluar apartemen, dengan cepat dia berlari mengejarnya, kalau saja dia berubah menjadi malaikat sekarang, pasti dia bisa datang ke pengadilan dengan hitungan detik. Tapi rupanya Abigail lebih memilih untuk menikmati menjadi manusia. Berjalan menggunakan kaki. "Hei! Tunggu!" teriak Abigail, napasnya memburu, jantungnya terasa sakit. Padahal dia tidak pernah merasakan sakit sebelumnya. Ternyata begini menjadi manusia. Mudah lelah. Terbatas kekuatannya. Devan melihat dari spion Abigal yang berlari. Terpaksa dia meminggirkan mobilnya. Dia membuka kaca mobilnya. "Ada apa?" tanya Devan, dia tidak merasa curiga sedikitpun kepada Abigail, karena wajahnya terlihat tampan dan meyakinkan. "Ah, aku mau menumpang, aku lelah berjalan, tolong biarkan aku ikut." Abigail membuka gagang pintu mobil dan masuk ke dalamnya. Mengatur napasnya yang tersengal. "Namamu siapa? Tinggal dalam satu apartemen denganku?" tanya Devan. "Abigail." "Nama yang bagus, mengingatkanku pada nama malaikat, ah siapa ya.. Abadon." Abigail menelan salivanya, dia terkejut atas ucapan Devan. Memang benar nama aslinya Abadon, malaikat pencabut nyawa utusan Dewa Hades. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN