Bab 3

1062 Kata
Mereka kini di pengadilan, keduanya siap menjalankan sidang untuk menentukan siapa pelaku sebenarnya, Abigail memilih pamit dan menunggu diluar. Dia tau bahwa pelakunya adalah Ester, perempuan licik yang bekerja sebagai sekertaris Devan. Dia tidak mungkin memberikan saksi karena dia sendiri yang menerima transfer rekening klien dan mengambilnya untuk biaya pengobatan orang tuanya. Meski bukan untuk hal yang buruk, tapi tetap saja hal itu bukanlah perbuatan terpuji. Devan harus bertanggung jawab semuanya terkait dengan korupsi ini. Bukti yang diberikan Devan memang sudah kuat dan semua bukti mengarah kepada sekertarisnya, Ester.  Sesungguhnya Devan lelah karena ini semua, kadang dia berpikir mungkin kematian akan lebih tenang dan menyenangkan. Namun nama baiknya tercoreng, itu yang pasti menghantuinya setiap saat. Di ruangan ini, dia melihat cincin yang ia kenakan, tidak menyala. Sudah pasti artinya jodohnya tidak ada di sini. Dengan berat hati Devan menghela napas, dia ingin hidupnya lebih panjang untuk membuktikan kepada Diego—kakak laki-laki Devan jika dia adalah adik yang bisa dihandalkan. Awalnya ayahnya selalu percaya kepada Devan untuk menyerahkan sepenuhnya perusahaan kepadanya, tapi sayangnya Devan selalu sial dan dijebak oleh rekan kerja bahkan kekasihnya sendiri. Hakim keluar dan membawa beberapa berkas milik Devan, cuaca di Eropa saat ini summer, harusnya banyak orang berlibur dan menikmati musim panas bersama wangi bunga matahari. Sayangnya Devan malah harus sibuk mengurus kasusnya. "Mr. Devan Arsein." Hakim menatap lurus Devan lalu membaca berkasnya kembali. Pengacara Devan—Ryan sedang bersiap menjawab segala pertanyaan dan memberikan bukti yang jelas. Bukti transaksi Ester dan lain sebagainya, tidak cukup hanya hari ini saja Devan datang, tapi mungkin bisa berpuluh kali dia akan diundang untuk disidang. Devan sendiri sampai jengah dan kesal kepada hakim, ucapannya seolah mendukung keponakannya sendiri—Ester. Abigail menunggu diluar sembari menunggu Ester datang, dia beniat untuk memanipulasi ingatannya dan membuat gadis itu mengakui kesalahannya di depan pengadilan. Hampir satu jam telah berlalu namun Ester belum juga datang, Abigail mengambil inisiatif untuk pergi ke tempat Ester. Dia bukan lagi malaikat yang bisa menghilang semaunya, dia masih menjadi manusia, dia bisa menggunakan kekuatannya hanya jika tidak pada kerumunan orang yang jumlahnya terlalu banyak. Dia akhirnya berlari jauh menuju tempat Ester. Abigail masih belum memiliki kendaraan apapun. Dia hanya bisa tau dimana Ester saat ini. Rupanya dia sedang terduduk lemah di depan batu nisan ayahnya. Uang yang dia korupsi digunakan untuk pengobatan ayahnya, sayangnya uang itu tidak bisa menyelamatkan ayahnya, satu-satunya keluarga yang Ester punya saat ini telah meninggalkan dia. Abigail melihatnya ikut teriris hatinya, dia lalu membeli bunga dan meletakkan di batu nisan ayah Ester. "Ka-kamu siapa?" Ester mengusap matanya karena menangis dan menatap pria tampan di sampingnya, sangat tampan hingga membuat Ester tak berkedip. "Harusnya kamu tau, uang hasil korupsi tidak akan bisa menyelamatkan ayahmu. Nyawa adalah berlian. Jika berlian kamu jaga dengan tangan kotor, maka berlian itu tidak lagi bersinar." Ester kembali menangis dan menatap nisan ayahnya, berulangkali kata maaf terucap dari bibir Ester. Tapi percuma, ayahnya sudah lagi tidak mendengarnya, selama 8 tahun ayahnya bertahan hidup, selama itu dia berusaha bertahan dari penyakit yang dideritanya. Demi putri tersayangnya Ester Anelin. Gadis itu memeluk nisan dan tak mau melepasnya. Abigail menepuk pundak Ester mencoba menenangkannya. "Sudah ayahmu tersenyum dan bangga melihatmu." Abigail melihat arwah ayah Ester yang dibawa oleh malaikat maut lainnya, dan tersenyum, begitu juga dengan Abigail. Membalas senyumnya. "Maaf Ayah, maaf ...," ucap Ester menangis. "Ayo kita ke pengadilan," ajak Abigail. Ester mengangguk pasrah, dia mengira Abigail mungkin petugas pengadilan yang diutus untuk membawanya pergi, kasihan. Hidup Ester sekarang sendirian, dia tak memiliki siapapun. Memang sudah risiko yang dia ambil sejak awal. Tidakan sekecil apapun pasti memiliki risiko. Ester mencoba kuat dan tegar, hidupnya sebatang kara dan dia harus terima jika dihukum mati ataupun dipenjara seumur hidup. Dia pantas menerimanya. Mata Ester bertemu dengan Devan, dia tak berani menatapnya, Ester hanya menunduk merasa bersalah. Dia mengakui semua kelakuannya di depan para hakim. "Iya betul, me-memang saya pelakunya." Ester mengucapkan dengan tangis air mata yang tak henti. "Apa yang saudari Ester lakukan dengan uang itu? Lalu siapa saja yang sudah anda suap?" tanya hakim. "Sa-saya menggunakan uang itu untuk biaya berobat saya. Maaf, maaf pak Devan, maafkan saya." Hakim menghela napas dan mencatat semua pernyataan Ester. Devan terkejut jika sekertarisnya menggunakan uangnya untuk biaya ayah Ester. "Apa bisa kasus ini ditutup?" tanya Devan. Ester pasti memang sedang kesulitan finansial dan membutuhkan uang untuk biaya berobat ayahnya. Devan juga pernah mendengar jika ayah Ester sakit keras. "Baik, atas permintaan bapak Devan, kasus ini saya tutup." Tok Tok Tok. Hakim mengetuk palu diatas mejanya, Ester dinyatakan bebas dari kasus korupsi. "Sudah, tak apa Ester. Ini pertama dan terakhirnya aku melihat wajahmu, uruslah ayahmu yang sedang sakit," ucap Devan. "Tidak Pak, bunuh saja saya! Saya pantas dibunuh! Ayah saya sudah meninggal, saya tidak memiliki siapapun disini," ucap Ester dengan suara bergetar. Dia begitu ketakutan jika Devan marah kepadanya. Devan seseorang yang baik, tapi sayangnya kebaikan itu disalahgunakan oleh Ester. Semua media dan wartawan bersiap di depan pintu, mereka menunggu Devan keluar dari pintu pengadilan itu. Dan benar saja, begitu dia keluar, puluhan wartawan menyerbunya dengan beberapa pertanyaan. "Bagimana pak? Apa benar anda bersalah?" "Bagaimana bisa seorang Arsein melakukan tindakan korupsi?" "Pak ... jawab Pak!" Beberapa wartawan merundunginya, namun Devan hanya mengulas senyum dan berjalan masuk ke dalam mobilnya. Dia lalu menghela napas dan menutup pintunya. Betapa terkejutnya dia Abigail sudah ada di bangku penumpang samping pengemudi. "Yaampun! Bagaimana bisa kamu di dalam mobil? Kapan masuk?" tanya Devan terkejut. "Dari tadi saya di dalam sini Pak." Abigail tersenyum. Tak lama handphone Devan berdering, tertera nama ayahnya disana, seketika air wajahnya berubah. Ayahnya—Halsey pasti tidak terima dengan keputusan Devan menutup begitu saja kasus korupsi yang dilakukan Ester. Ayahnya termasuk orang yang tidak biaa mengampuni kesalahan siapapun. "Kau tau kenapa aku menelpon? Datang ke mansion sekarang." Mendengar suara ayahnya yang geram membuat Devan mengacak rambutnya frustasi. Dia harus mau menerima pecutan ataupun pukulian dari ayahnya. "Ya." Klik telepon dimatikan dan Devan melajukan mobilnya ke mansion. Entah kenapa Abigail ada di sampingnya, tapi Devan tidak merasa dia benar-benar ada. "Entah kenapa aku melihatmu seperti hantu, kau terlalu tampan jadi manusia," ucap Devan. Abigail tertawa keras atas ucapan Devan. "Jangan bilang, karena kau dibunuh oleh tunanganmu kau jadi berpindah haluan menyukaiku?" Devan tertegun mendengar ucapan Abigail, dia seketika mengerem mendadak mobilnya dan menoleh menatap Abigail. "Kau?" "Ma-malaikat itu?" tanya Devan. Otakknya masih dapat mengingat jelas jika satu-satunya yang tau jika Alisa membunuhnya hanyalah malaikat itu. "Ya, aku disini hadir untuk mengingatkanmu, waktumu tinggal 99 hari lagi." Devan menatapnya tak percaya, apa benar dia bisa menemukan jodohnya 99 hari lagi? Wanita di dunia ini bahkan jumlahnya miliyaran. Siapakah salah satu diantaranya?    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN