Bab 4

989 Kata
"Duduk!" perintah Fedoit, ayah Devan. Devan menetralkan emosinya, dia tidak boleh meledak menghadapi api emosi yang memuncak di kepala ayahnya. Dia sangat tahu jika ayahnya ini seseorang yang emosional. Parahnya lagi yang membuat Devan marah dan kecewa adalah ayahnya tidak pernah mempercayai dirinya. Segala kalimat apapun berujung membuat Devan selalu terpojok. Dia sudah tau momen ini pasti akan terjadi di hidup Devan.  "Masih berani menunjukkan muka?" ucap Fredoit.  Devan hanya bisa diam dan menunduk, tidak berani membantah ayahnya. Bagaimanapun juga ayahnya adalah penguasa tertinggi. Pemilik Fredoit Group, perusahaan besar pengelola tambang dan tekstil. Devan hanyalah semut kecil pekerja di bagian tekstil. Meski posisinya adalah CEO, tapi dibalik itu semua, ayahnya selalu menyetir keadaan. Devan anak kedua yang selalu mengalah, dia melirik sekilas kakaknya, Ervan Arsein F. Dengan tampang congkaknya kakaknya tersenyum miring melihat adiknya yang sebentar lagi akan dikuliti oleh ayahnya. Devan sangat tau kebencian kakaknya semakin dalam ketika ayahnya hanya memilih Devan sebagai pemilik Fredoit Corp selanjutnya. “Perbuatanmu, apa masih pantas disebut sebagai keturunan Fredoit?” ucap ayahnya sinis. Devan tersenyum kecil, ucapan tajam dari ayahnya ini hanyalah sebagai gertakan untuknya. “Maaf, aku dijebak.” “Bagaimana bisa kamu bergaul dengan orang-orang sampah?” balas ayahnya. “Ayah, mereka itu teman sekolahku. Apa aku tidak boleh berteman dengan mereka?” “CUKUP! JANGAN PANGGIL AKU AYAH LAGI, PERBUATANMU MEMBUAT SAHAM KITA TURUN!” bentak Fredoit kepada anaknya. Dia melemparkan surat bersampul map batik kepada Devan dan menyuruhnya menandatanganinya. “Baik, jika ini kemauan ayah.” Devan menandatangai surat penyerahan hak waris kepada kakaknya. “Keluar, kamu bukanlah keluarga Fredoit.” “Sayang, jangan seperti itu. Dia itu anak kamu.” Liana ibu Devan mencoba melerai suaminya. Tapi semua sia-sia. “Anakku? Bukankah dia hasil perselingkuhanmu? Devan bukan darah dagingku.” Mendengar hal itu lagi yang belasan tahun lamanya dia kubur, dia menghadapi ucapan ini lagi. Dia menyadari bahwa hasil kerja kerja kerasnya sejak kecil adalah sia-sia. Pada akhirnya Ervan yang memang pantas mendapatkan semua harta ayahnya. Devan tidak bisa mengelak lagi. Dia lelah hidup menjadi Devan yang tidak bebas penuh dikekang. Lain halnya dengan kakaknya yang tidak pernah dipaksa dan dibentak oleh ayahnya. Masih ingat betul kenangan yang melekat di kepala Devan, saat kakaknya mendapatkan nilai buruk. Ayahnya begitu sabar dan tidak memaksa kakaknya untuk mendapatkan nilai terbaik. Lain halnya dengan Devan, dia dipukul dengan rotan, dia dikurung. Ibunya hanya bisa pasrah, apapun yang dilakukan ibunya tidak akan berpengaruh padanya. Ibunya hanyalah wanita yang memikirkan harta. Tak peduli siksaan kepada Devan. Rumah ini bagai neraka untuk Devan, dia tidak menyalahkan siapapun, dia tidak menyimpan dendam. Dibebaskan dari rumah ini membuat Devan tersenyum bahagia meski tanpa keluarga. “Terimakasih, aku sangat senang kalian sudah baik merawatku sejak kecil. Ayah, aku meminta maaf atas semua kesalahanku. Ibu aku meminta maaf karena aku bukan anak yang Ibu harapkan. Kak Ervan, maaf aku telah merebut posisimu yang seharusnya. Aku tidak akan menginjakkan kaki disini lagi. Aku akan hidup seorang diri. Kalian akan aku anggap tiada. Percayalah, meski kalian membenciku, tapi aku sangat menyayangi kalian. Satu kesalahanku akan merusak semua kebaikan. Aku tau aku salah. Aku akan pergi karena sudah tidak lagi berguna.” Semua tertegun atas ucapan Devan, ibunya memeluk Devan, tapi pelukan itu tak mampu menggerakkan hatinya untuk tetap berada di keluarga ini. Semua hancur, kenangan indah dan buruk semasa kecilnya akan Devan hapus. Mulai dari sekarang Devan tidak akan lagi ada di keluarga Fredoit. Dia tidak akan mau mengusik keluarga ini. Dalam hati Ervan dia sangat bahagia adiknya tidak lagi di rumah dan memilih meninggalkan keluarga ini, dia adalah satu-satunya pewaris Fredoit Group. Ervan selalu iri dengan Devan karena kasih sayang ibunya yang hanya untuk Devan. “Pergilah, dan jangan kembali,” bisik Ervan. Devan mengangguk dan berpamitan. Sayangnya kepergian Devan memang harapan mereka semua, jebakan Ervan berhasil. Semua penuduhan kasus korupsi dan n*****a adalah perbuatan Ervan. Dia berhasil. Devan keluar dari mansion ini. Tidak ada satu pun yang mengantar Devan keluar rumah. Hatinya sakit, kepergiannya terasa begitu menyedihkan, orang yang dia sayangi sama sekali tidak mencegahnya. Devan masuk ke dalam mobilnya dan menyandarkan kepalanya ke setir mobil. Abigail menyerngit melihat Devan, dia tau pasti Devan sangat terluka. “Maaf. Aku tidak bisa membantu apapun.” Abigail mengusap pundak Devan. “Aku sekarang bingung harus berterimakasih atau marah denganmu. Kenapa aku hidup lagi? Jika aku mengikuti takdir, mungkin aku tidak akan merasakan sakit seperti ini. Keluargaku tidak ada satu pun yang mencegah kepergianku. Mereka semua membenciku.” Mata Devan berkaca-kaca ingin menangis tapi sebelum Devan menjatuhkan air mata, Abigail tertawa keras. “HAHAHAHAHA!!” Devan lalu menatap Abigail aneh, apa yang lucu? “Tidak ada yang lucu, tertawalah saat sedih. Tak masalah.” Devan menatap Abigail aneh, dia lalu menyalakan mobilnya dan menuju apartemennya. Kasus Devan telah selesai terungkap, dia ingin beristirahat sejenak dan berdamai dengan pikirannya. Beban pikirannya satu-persatu telah terangkat. Devan berendam air hangat dan memejamkan matanya. Aroma bunga mawar membuatnya bangun. Abigail sudah duduk di samping bathubnya. “ASTAGA! Dasar m***m!” pekik Devan. Abigail tertawa karena ucapan Devan. Abigail lalu menaburkan beberapa macam bunga harum untuk Devan mandi. “Yaampun, apa ini semua?” tanya Devan kesal. Abigail tertawa kecil. Dia masih menaburkan bunga-bunga. Bahkan tubuh Devan kini dipenuhi bunga tujuh rupa. “Ini untuk menghilangkan segala kesialanmu Dev!” ucap Malaikat itu. Devan menampakkan wajah geramnya. Dan hendak menyiram Abigail, tapi Abigail sudah berlari lebih dulu keluar kamar mandi. “DASAR JAHIL!” teriak Devan. Aroma bunga-bunga itu memang menenangkan, melepaskan segala penat Devan. Melupakan rasa sakitnya selama ini, termasuk sakitnya pengkhianatan tunangannya. Devan memejamkan matanya, dia mengingat kembali hari dimana Alisa membunuhnya di rumah sakit. Tak mengira semua itu akan terjadi. Beruntungnya dia telah dibukakan matanya, dia bisa melihat dengan jelas bagaimana Alisa melakukan itu semua. Hanya karena harta dan tahta. “Dev! Apa kamu yakin tidak mau mencari jodohmu? Besok waktumu tinggal 98 hari,” ucap Abigail di balik pintu kamar mandi. Devan membuka matanya, lalu bangkit dan mengeringkan tubuhnya. “Ya, baiklah. Aku akan menyiapkan diri.” Devan melihat kembali cincin merah yang dia gunakan, hanya dia yang bisa melihat siapa belahan jiwanya. Devan beranjak ke kamar dan mengenakan pakaian rapinya, tak lupa dia menyemprotkan parfum. Malam ini dia akan berkelana mencari jodohnya. Seseorang mengetuk pintu apartemen Devan, dia mengintip di layar, Alisa datang dengan make up menor dan pakaian seksinya. Devan sempat tergoda sejenak, tapi dia menyadarkan diri bahwa Alisa seorang pembunuh.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN