Bab 34 : Kekasih Ardika

1190 Kata

“Saya? Kekasih Bapak?” Sanya memberanikan diri bertanya, tak peduli jika setelah ini ia dimaki atau disambar kalimat tajam. Lelaki itu tidak boleh selalu ambigu begini. “Hm. Kan sudah saya bilang semalam. Kamu nggak dengar?” “Sandiwaranya kan sudah selesai, Pak,” balas Sanya. Ardika mengangkat wajah, menatap Sanya. “Siapa yang bersandiwara? Kamu itu polosnya nggak kelewatan. Nggak terobati. Kalau nggak sama saya, habis kamu dimakan buaya-buaya darat itu. Jadi kekasih saya sajalah. Kamu nggak ruginya di kamu. Saya juga nggak ada kurangnya.” Sanya ternganga, tak percaya. Ia memang belum pernah diminta menjadi kekasih oleh siapa pun—bersama Yuji tidak ada juga adegan seperti ini, tahu-tahu bertunang saja. Namun, yang ia bayangkan dari novel dan film selalu penuh romantika—bukan… ultimatum

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN