Sanya memejamkan mata lama belum berani keluar dari mobilnya. Rasanya ia tidak sanggup bertemu Ardika setelah apa yang terjadi semalam. Suasana malam itu, lembutnya bibir itu, dan syahdu yang menyelinap tanpa izin… semuanya kembali memenuhi kepalanya. “Ciuman pertamaku… sudah hilang, sudah,” rengeknya kecil, membenamkan wajah di balik setir sembari menutupi pipi yang memanas. Baru saja ia menarik napas untuk menenangkan diri, kaca mobilnya diketuk. Sanya tersentak, menoleh melihat Ardika berdiri di samping, menatapnya datar seperti biasa. Alih-alih keluar, Sanya hanya menurunkan kaca sedikit. “Ngapain kamu di sini?” tanya Ardika. “Sa—saya….” Sanya menelan salivanya saat pandangannya terpeleset ke bibir Ardika. Bayangan malam itu menyerbu begitu saja. “Harusnya kamu sudah di meja kerja

