“Kenapa kamu di sini?” tanya Ardika membuat Sanya terperanjat. “Sa… saya… mau pinjam… charger,” kata Sanya terbata, mengangkat benda itu sebagai pembelaan. Jantung Sanya berdetak tak karuan. Bukan hanya karena kemunculan Ardika yang tiba-tiba, melainkan karena pemandangan di hadapannya. Lelaki itu hanya mengenakan handuk yang melilit pinggangnya. Bulir air masih jatuh dari rambut dan dadanya membuat Sanya menelan ludah dengan susah payah. “Sudah dapat yang kamu cari?” tanya Ardika. “Su… sudah,” jawab Sanya pelan. Ardika mengerutkan kening karena Sanya tak kunjung beranjak, justru berdiri mematung seakan pikirannya melayang ke tempat lain. Bayangan kalung itu kembali mengusik Sanya. Kalung itu… sungguh menakutkan. Apakah itu milik Ardika? Jika memang milik Ardika, mengapa rasanya begitu
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


